Labuhan Cinta Sang Playboy

Labuhan Cinta Sang Playboy
Buku Harian Navisha - 02


__ADS_3

WARNING!!! 18+


Harap pembaca bijak menyikapi dalam memilih bahan bacaan šŸ˜€šŸ™


.


.


.


...šŸšŸšŸ...


-Satu Malam Bersamanya-


Hari-hari yang kujalani makin bersemangat setelah bertemu dengannya. Meski dia tak mengenalku, dan aku juga tak pernah mengenalnya secara langsung. Namun entah kenapa sejak melihatnya membuatku jadi giat bekerja.


Tiap malam dia benar selalu datang ke klab tempatku bekerja. Dia selalu menampakkan wajah sedihnya. Entah seberapa dalam cintanya pada wanita itu. Hingga membuatnya sampai patah hati begitu.


Di suatu malam, aku melihatnya sedang terduduk lemas di depan klab saat aku pulang bekerja.


Aku menghampirinya yang sepertinya sudah tidak sadarkan diri. Aku mencoba bicara dengannya meski ia tak bisa meresponku.


Aku bertanya dia tinggal dimana. Karena biasanya saat dia mabuk, sudah ada pria yang membawanya pergi dari klab.


Namun malam ini sepertinya tak ada yang membawanya pulang. Aku kasihan padanya. Mungkin jika aku tidak ingat ayah dan ibu di rumah, aku pasti akan sangat frustasi sepertinya.


Apa jangan-jangan dia dikhianati juga sepertiku? Pantas saja rasanya sangat menyakitkan jika mengingat hal itu.


Sekali lagi aku bertanya dia tinggal dimana. Mungkin aku bisa membantunya. Dia menunjuk sebuah bangunan besar di sebelah tempatku bekerja.


Sepertinya itu sebuah apartemen. Aku coba mengkonfirmasi padanya. Ternyata benar. Dia tinggal disana. Aku memapahnya menuju kesana. Aku tidak tahu dia tinggal di lantai berapa.


Dengan perasaan sungkan aku ambil dompetnya. Dan aku melihat sebuah kartu untuk membuka pintu kamar apartemen.


Aku mengantarnya menuju kamarnya. Entah dapat keberanian dari mana aku malah melepaskan sepatu dan jas yang melekat pada tubuhnya.


Aku merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Dan sebaiknya aku harus segera pergi. Pikirku saat itu.


Saat hendak pergi, tanganku diraih olehnya. Aku sangat terkejut. Dia menggumamkan nama seseorang.


Sepertinya nama wanita yang sudah membuatnya patah hati. Aku mencoba melepas tangannya namun malah tubuhku terjerembab ke tempat tidur.


Nafasku sudah tak beraturan lagi sekarang. Aku bertanya apa yang akan dia lakukan saat dia tiba-tiba sudah berada diatasku.


Dia tak menjawab dan terus meracau menyebut nama wanita itu. Sania. Itulah yang dia panggil saat dia dengan setengah sadarnya menjelajahi tubuhku.


Aku mengerjapkan mataku. Dan aku ingin berteriak. Namun aku tak mampu karena dia terus membungkamku dengan bibirnya. Dia memainkan bibirku dengan lembut. Entah kenapa aku mulai terbuai.


Air mata tak terasa luruh dari mataku. Aku memintanya untuk berhenti. Namun ia pasti tak mendengar. Kesadarannya sudah tak terkontrol lagi.

__ADS_1


Aku hanya bisa meremas sprei dan menggigit bibir bawahku merasakan ada sesuatu yang masuk dibawah sana.


Aku menutup mataku tak percaya jika aku harus menyerahkan mahkotaku pada orang yang bahkan tak tahu namaku.


Aku menangis dalam diam. Namun perlakuannya padaku membuatku berhenti menangis. Dengan suara lembutnya dia berkata jika aku hanya akan jadi miliknya saja. Entah itu ia ucapkan dengan sadar atau tidak. Tapi aku sangat terbuai dengan setiap sentuhannya.


Hingga aku tak merasakan lagi sakit yang mendera tubuhku. Dia memperlakukanku dengan sangat lembut. Aku merasakan rasa yang tak biasa terhadapnya. Dan malam itu aku terlelap dalam dekapannya karena aku terlalu lelah.


Esok pagi, aku terbangun dengan melihatnya yang tertidur di sampingku. Aku menyadari apa yang sudah kulakukan adalah sebuah kesalahan.


Aku beranjak pergi dari tempat tidur dan menuju kamar mandi. Aku menangis disana.


Aku sadar itu adalah sebuah kesalahan yang amat besar. Namun semua sudah terjadi. Aku tak bisa mengulang waktu.


Aku segera merapikan tasku dan aku bergegas pergi dari kamarnya.


...šŸšŸšŸ...


-Dua Garis Biru-


Malam itu aku berangkat dengan perasaan malu dan sungkan. Aku takut bertemu dengannya. Yah meskipun dia sama sekali tak mengenalku, dan aku yakin dia tak akan ingat dengan kejadian semalam.


Namun ternyata harapanku salah. Dia tak datang malam itu. Dan juga malam-malam setelahnya. Aku merasa sangat kecewa.


Bukan salahnya jika ia tak datang. Karena dia memang melakukannya setengah sadar.


Aku lah yang salah karena seakan menyerahkan semua padanya.


Mencarinya pun rasanya percuma. Untuk apa? Dia bahkan tidak tahu tentang perbuatannya.


Hari itu, aku merasa tak enak badan, tak seperti biasanya. Aku hanya berpikir jika aku hanya kelelahan saja.


Aku tetap berangkat kerja seperti biasa. Namun Erna ternyata melihat ada yang berbeda denganku. Ia memintaku pulang dan beristirahat.


Aku memaksakan diri hingga shift kerjaku berakhir.


Keesokan harinya saat bangun tidur, aku merasa mual yang teramat sangat. Aku hanya memuntahkan sedikit cairan.


Pikiranku makin berkecamuk. Tidak mungkin aku hamil!!! Aku hanya melakukannya sekali. Aku menggelengkan kepala dengan cepat.


Tapi aku tak mau terus-terusan beramsumsi tanpa adanya bukti yang jelas. Aku pergi ke apotek dan membeli alat tes kehamilan.


Semoga saja perasaanku salah. Namun nyatanya takdir berkata lain. Ada dua garis disana. Aku menangis seakan tak percaya. Bagaimana aku bisa menghadapi ayah dan ibu?


Aku terus merutuki diriku sendiri. Dan hari itu juga ternyata ayah memintaku untuk kembali ke rumah.


Yah, mungkin ini adalah saatnya aku harus mengubur dalam-dalam cita-citaku menjadi seorang arsitek. Aku harus bertanggung jawab atas apa yang sudah kulakukan.


Aku memutuskan tidak lanjut kuliah dan pulang ke rumah orang tuaku.

__ADS_1


...šŸšŸšŸ...


-Pergi dari Rumah-


Aku memutuskan pulang ke rumah dan tidak melanjutkan kuliahku. Aku mencoba menjelaskan dengan hati-hati kenapa aku tak mau lanjut kuliah. Aku beralasan jika aku tak mau menambah beban orang tuaku.


Mereka pun mengerti. Aku mencoba membantu bisnis ayahku dari nol. Aku ikut mengelola bisnis kain batik.


Dan hari itu, disaat bisnis kami mulai stabil kembali. Juragan Sugih datang dan menagih hutang kami.


Aku tak percaya jika hutang orang tuaku bukannya berkurang malah bertambah karena sistem bunga yang memberatkan. Aku yang tak terima saat itu berani menantang juragan Sugih.


Hari-hariku kuhabiskan untuk menata bisnis ayah dari awal. Hingga bulan kedua aku di rumah, ibu mulai curiga padaku yang sering mual muntah di pagi hari.


Ibu memintaku untuk berkata jujur, namun bibirku tetap rapat. Hingga akhirnya ibu membawaku ke bidan desa dan bidan itu mengatakan yang selama ini ibuku curigai.


Ibu menangis pilu mendengar kehamilanku. Putri yang dibanggakan kini sudah mencoreng nama keluarga. Aku bersimpuh di kaki ibuku dan memohon maaf.


Dan apa yang disembunyikan oleh ibu akhirnya diketahui juga oleh ayah. Ayah sangat murka. Dia memintaku untuk menggugurkan bayiku. Tapi aku tidak mau. Aku sudah berbuat dosa, aku tidak mau menambah dosa.


Hingga kesepakatan antara ayah dan Juragan Sugih pun terjadi. Juragan Sugih bersedia menghapus hutang ayahku jika aku mau menikah dengannya.


Dengan tegas aku menolak. Aku tidak mau menikah dengannya. Dia sudah punya tiga istri, dan aku akan dijadikan istri ke empat. Aku tidak mau.


Ayah meyakinkanku jika hidupku akan terjamin jika menikah dengannya. Dan anakku akan dianggap sebagai anak dari Juragan Sugih.


Tidak! Aku tidak bisa melakukan itu.


Dan akhirnya pada malam itu, aku memutuskan untuk pergi dari rumah dan menuju ke kota Semarang.


...šŸšŸšŸ...


.


.


^^^tobe continued^^^


.


.


Sudah tahu kan, dari mana datangnya Ali? 😁😁


Mungkin itu sebabnya kita tidak dianjurkan utk meminum minuman keras ya gaess.


Karena selain bikin lupa diri, juga bikin lupa rasanya...šŸ™ŠšŸ™Š


Jangan lupa kasih jempol kalian šŸ‘šŸ˜ššŸ˜š

__ADS_1


...Thank you šŸ’žšŸ’ž...


__ADS_2