
...ššš...
-7 Bulan yang Lalu-
Rocky yang begitu bahagia mendengar kehamilan Visha, kini lebih perhatian pada istrinya itu. Bahkan terkesan berlebihan menurut Visha. Mungkin karena ia ingin menebus kesalahannya di masa lalu yang tak sempat mendampingi kala Visha hamil Ali.
Diperlakukan bak seorang putri yang selalu ditemani kemanapun dan harus berhati-hati, takut terjadi sesuatu dengan bayinya, katanya, Visha menganggap itu sudah berlebihan.
"Mas, aku sudah pernah hamil. Jadi aku tahu aku harus bagaimana. Jangan terlalu berlebihan. Aku baik-baik saja." ucap Visha membingkai wajah suaminya.
"Benarkah?"
"Pergilah bekerja! Jangan terus menemaniku di rumah. Lagi pula ada anak-anak. Dan juga Mama."
"Hmm baiklah, tapi besok saja ya aku ke kantor. Entah kenapa rasanya aku ingin selalu bersamamu..."
Rocky segera meraih tengkuk Visha lalu mencium bibirnya. Sebuah ciuman panjang dan berirama dengan pagutan dari kedua insan yang dimabuk cinta.
Visha terengah dan mendorong dada Rocky pelan. "Mas... Sudah ya! Nanti kalau anak-anak lihat bagaimana?"
Rocky lupa ia belum mengunci pintu kamar. Ia segera berlari ke arah pintu dan menguncinya.
Rocky kembali meraih bibir Visha dan menjelajahi manisnya bibir istrinya itu. Tangannya mulai bergerilya kemana-mana. Visha yang juga mulai bergairah hanya pasrah menerima perlakuan Rocky.
"Mas, berhenti!" Visha menghentikan Rocky ketika tangannya mulai bergerak ke bawah.
"Bukankah dokter Thania bilang kita jangan melakukannya dulu? Itu cukup beresiko untuk bayi kita."
__ADS_1
Rocky berdecak kesal. "Ck, benar juga. Jadi, berapa lama aku harus menahannya?" ucap Rocky lesu.
"Nanti kita konsultasikan dengan dokter Thania saja. Sayang... Jangan marah ya. Bukannya aku tak ingin, tapi ini untuk kebaikan bayi kita." Vishe mengelus lembut punggung Rocky.
Rocky segera beranjak dari tempat tidur dan berjalan keluar. Ia menemui anak-anaknya dan bermain bersama mereka agar melupakan hasratnya tadi.
.
.
.
.
"Undangan pernikahan? Jadi mereka jadi juga menikah?" Visha membulatkan mata.
"Jodoh memang tidak tertebak ya. Dulu aku sempat mengatakan pada Donny untuk mendekati sekretaris Kak Galang, eh dia malah mendekatinya secara serius. Itu bagus kan artinya?"
"Sayang, jangan marah! Itu kan dulu. Sekarang aku hanya mencintai satu wanita saja."
"Ah, gombal!!!" Visha meninggalkan Rocky.
"Biarkan saja! Wanita hamil memang lebih sensitif." ujar Elena yang mendengar perdebatan antara anak dan menantunya.
"Kau harus lebih sabar menghadapinya." Elena menepuk pelan bahu Rocky.
Rocky pun mengangguk tanda mengerti.
__ADS_1
.
.
.
.
Rocky dan Visha datang ke gedung pernikahan Donny dan Siska. Pernikahan mereka di adakan secara sederhana dan tak mengundang banyak tamu. Semacam private party yang sengaja di gelar hanya untuk keluarga dan teman terdekat saja.
Donny menyalami para tamu undangan yang datang dengan senyum lebar di bibirnya. Rocky terus menggoda Donny yang memang tak pernah memiliki satu orang kekasihpun.
"Don, kau jangan menunda memiliki momongan. Segera cetak kan gol sebanyak-banyaknya agar nanti anak kita bisa tumbuh besar bersama." Goda Rocky.
"Bos tenang saja! Aku pasti akan mencetak gol dengan sempurna. Gini-gini aku tidak kalah denganmu, bos!" bisik Donny ke telinga Rocky.
Dan membuat Rocky tertawa keras. Visha menatap tajam ke arah Rocky.
"Apa yang kalian bicarakan, Mas?" selidik Visha.
"Tidak ada. Hanya mengajarkan sedikit jurus agar ia bisa mencetak gol dengan sempurna dan membuat perut Siska menjadi buncit sepertimu..."
Visha mengerucutkan bibirnya dan mencubit perut Rocky, dan membuat Rocky sedikit berteriak karena cubitan Visha.
...ššš...
Haaaii, extra part hadir ššš
__ADS_1
jangan lupa tinggalkan jejak kalian š£š£š£
thank you ššš