
...🍁🍁🍁...
Ari dan Siska segera menuju ke ruangan Galang begitu tahu atasannya itu berteriak dan membanting barang-barang di ruang kerjanya.
"Pak! Hentikan!!" Ari mencoba mencegah Galang namun percuma. Emosi Galang tak bisa ditahan lagi.
Ari dan Siska membiarkan Galang seperti itu sampai dirinya kelelahan dan berhenti dengan sendirinya.
Siska yang merasa sedih melihat orang yang dicintainya menderita segera menuju keluar kantor. Ia akan menemui seseorang.
"Ini pasti karena Visha. Dasar wanita jahat! Bisa-bisanya dia membuat Galang menderita seperti itu!!" gumam Siska sambil melangkah cepat menuju ke ruangan Rita.
"Rita! Beritahu padaku dimana alamat Karina Catering!!" Teriak Siska.
"Mbak Siska? Ada apa, Mbak?" Rita terkejut melihat Siska yang berteriak di ruangannya.
"Jangan banyak tanya! Cepat berikan saja!"
.
.
.
Visha menatap putranya yang sedang asyik bermain PSP pemberian Rocky. Air matanya tiba-tiba kembali menetes kala mengingat kejadian semalam.
Ia sangat ingin tahu bagaimana kabar Galang sekarang. Namun Galang pasti tidak akan mengangkat panggilan darinya.
Kamu harus kuat, Visha. Demi Ali. Kamu sudah berjuang bertahun-tahun untuk Ali. Maka jangan menyerah sekarang.
Visha menyemangati dirinya sendiri. Ia keluar dari kamar Ali dan menahan tangisnya duduk di bangku depan kamar.
Drrrtttt drrrrttttt drrrrtttt
Ponsel Visha bergetar. Panggilan masuk dari Karina. Visha mengangkatnya.
"Halo, Mbak. Ini Rara."
"Rara? Ada apa menelepon dengan nomor Ibu?"
"Mbak, gawat!! Ada seorang wanita mengamuk di depan rumah. Dia mencari Mbak Visha. Dia sepertinya sangat marah. Apa Mbak bisa datang kesini?"
"Hah? Ya sudah, aku kesana sekarang. Aku akan menitipkan Ali pada perawat dulu."
Visha segera berlari ke ruang perawat. Setelahnya ia berlari keluar rumah sakit dan memanggil ojek.
...***...
Visha mendapati Siska tengah mengamuk di depan rumahnya.
"Hentikan, Mbak! Apa yang Mbak Siska lakukan di rumahku?"
"Oh, bagus yah. Ini rumahmu? Rumah yang diberikan Galang, bukan? Kau benar-benar keterlaluan, Visha."
PLAAAKKK!
Satu tamparan berhasil mendarat di pipi Visha.
"Apa kau tahu apa yang terjadi pada Galang sekarang? Dia sekarat, Visha!!!"
Visha hanya diam mendapat tamparan dari Siska. Mungkin ia memang pantas untuk mendapatkannya. Visha hanya memegangi pipinya yang terasa panas. Matanya sudah berkaca-kaca melihat kondisi Siska yang juga ikut terpuruk.
Kini Visha tahu jika Siska mencintai Galang. Makanya dia selalu menekan Visha agar berkata jujur pada Galang.
Setelah mengeluarkan semua kekesalannya, Siska terduduk lemas tak berdaya.
Visha membawanya masuk ke dalam rumah. Ia memberinya segelas air putih.
"Aku akan menghubungi Ari dan memintanya menjemput Mbak Siska."
.
.
__ADS_1
.
"Pak..." Ari menghampiri Galang yang terduduk lesu bersandar pada dinding.
"Bukankah hari ini adalah hari ulang tahun Pak Leon? Bapak ingin memberi kado apa? Biar saya yang belikan."
Galang menatap jauh ke depan. Tatapannya kosong.
Ponsel Ari berdering, dilihatnya pada layar ponselnya, tertera nama Visha disana. Ari segera menjauh dari Galang.
Ari memutuskan meninggalkan Galang sendiri dulu untuk menenangkan diri. Ia segera bergegas menuju ke rumah Visha.
"Siska?! Kenapa kau juga membuat ulah?" gumam Ari dengan mengepalkan tangan.
...***...
Siang hari ketika semua kekacauan sudah mereda, Visha kembali ke rumah sakit. Ia mampir ke ruang perawat dan mengucapkan terima kasih sambil membawa beberapa bingkisan untuk mereka.
Visha kembali melangkah ke kamar rawat Ali. Visha terkejut karena mendapati Rocky sudah ada dikamar Ali. Rocky yang melihat kedatangan Visha segera menghampirinya.
Visha menunjukkan senyum terbaiknya agar Rocky tak curiga.
"Kenapa datang kesini?" tanya Visha.
"Ada hal yang ingin kulakukan."
"Eh?"
"Hari ini Papa ulang tahun, aku ingin memberikannya kado, tapi aku tidak tahu harus membeli apa. Kau bisa menemaniku memilih kado untuk Papa?"
"Hah? Aku? Aku tidak tahu selera orang kaya."
"Haha, kau ini. Aku sudah tahu akan membeli apa, hanya bingung modelnya saja. Ayo ikut denganku!" Rocky segera menarik tangan Visha.
"Ali bagaimana?"
"Aku sudah meminta perawat menjaganya."
"Apa?"
"Pilihkan satu untuk Papa," ucap Rocky.
"Aku?" Visha menunjuk dirinya dengan jarinya.
"Iya. Kau suka pria memakai jam tangan yang mana?"
Visha nampak berpikir sejenak. "Yang ini?" tunjuk Visha ke salah satu jam tangan yang bermodel simpel.
"Oke. Mas, tolong dibungkus ya."
"Baik, Tuan Rocky."
Visha lagi-lagi dibuat takjub. Bahkan penjaga toko mengenal Rocky.
"Pilihkan satu untukku!" perintah Rocky lagi.
"Eh?"
Visha menggaruk tengkuknya, kemudian memandangi satu persatu jam tangan yang ada di etalase kaca.
Rocky tersenyum kecil mengamati Visha yang dalam mode serius.
"Bagaimana kalau yang ini?"
"Baiklah, bungkus saja Mas."
"Ish, kau lihat dulu dong! Jangan langsung dibungkus."
"Aku percaya dengan pilihanmu." jawab Rocky dengan terus memandangi wajah Visha. Sepertinya ia sudah benar-benar dibuat cinta mati oleh wanita ini.
Setelah dari toko arloji, mereka menuju ke toko perhiasan.
"Mau apa kesini?" tanya Visha bingung.
__ADS_1
"Aku akan memberi hadiah juga untuk Mama. Ayo masuk!"
Visha terpana dengan semua perhiasan yang bertahta berlian itu.
"Wah, ini pasti sangat mahal." gumam Visha.
"Pilihkan cincin untuk Mama."
Visha mengangguk dan melihat-lihat cincin yang ada di etalase. "Mamamu suka dengan kemewahan 'kan?"
"Ya begitulah."
"Kalau begitu... Bagaimana kalau yang ini saja?"
Visha memilih cincin dengan berlian besar di tengahnya.
"Pilihanmu bagus juga!" Rocky mengacak rambut Visha pelan.
"Umm, Rocky. Apa nanti malam Mas Galang juga datang di acara ulang tahun Papamu?"
"Tentu saja. Dia anak sulung, dia harus memberi contoh yang baik dong!"
Visha mengangguk pelan.
"Ada apa? Kak Galang masih belum bisa dihubungi?"
Visha mendadak murung.
"Hei, ada apa?" Rocky mengangkat dagu Visha.
"Aku... aku dan Mas Galang... Kami... sudah berpisah."
Rocky membulatkan mata sempurna. Rocky melirik jari manis Visha yang kini sudah tak memakai cincin pertunangannya.
"Aku punya sesuatu untukmu!" seru Rocky.
Seorang penjaga toko memberikan sebuah kotak pada Rocky.
"Bukalah!" Titah Rocky ketika sudah menyerahkan kotak itu pada Visha
"Apa ini?" Visha mengerutkan dahi.
Visha menutup mulutnya. "Ini....?"
"Hadiah dariku." jawab Rocky diiringi senyum.
"Aku pakaikan ya!"
Itu adalah sebuah kalung berliontin bulat bertahta berlian dan di belakangnya tertulis inisial R dan V.
"Cantik!" puji Rocky.
"Terima kasih," balas Visha.
"Bukan kamu, tapi kalungnya." Rocky terkekeh.
Visha mengerucutkan bibirnya.
Rocky tiba-tiba memeluknya. "Terima kasih, Visha."
"Rocky, apa yang kau lakukan? Ini di tempat umum." Visha mendorong tubuh Rocky menjauh. Namun dengan cepat Rocky kembali meraih tubuh Visha dalam dekapannya.
Para penjaga toko sampai dibuat senyum-senyum sendiri melihat adegan romantis didepan mereka.
Dan tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang sedari tadi memperhatikan gerak gerik mereka.
Orang itu mendengus kesal. "Pantas saja Pak Galang sampai kacau begitu. Tega sekali mereka melakukan ini pada Pak Galang..." gumam pria itu lirih kemudian berlalu.
...🍁🍁🍁...
bersambung,,,
😖😖😖aku tak tahu harus berkomentar apa...
__ADS_1
tapi kuharap kalian tetap berkomentar 😄😄