
...ššš...
Satu bulan yang lalu,
Ibu Karina secara diam-diam mendatangi klinik Dokter Diana agar bisa bicara empat mata. Kekhawatirannya terhadap Visha tidak bisa lagi ia sembunyikan. Ia amat menyayangi Visha, hingga ia ingin Visha dapat hidup bahagia tanpa dihantui bayang-bayang masa lalunya.
"Bagaimana keadaan Visha, Dokter?"
"Visha masih belum mau menceritakan tentang masa lalunya. Tidak apa. Kita lakukan secara perlahan. Berat baginya untuk percaya pada seseorang setelah melalui berbagai cobaan dalam hidupnya."
Sudah beberapa kali Visha datang ke Dokter Diana tanpa didampingi Ibu Karina. Dan ini membuat Ibu Karina penasaran dengan hasil pemeriksaan Visha selama ini.
"Visha memang tertutup sejak dia mengalami banyak hal di masa mudanya. Tapi, apa ada kemungkinan Visha bisa sembuh dari traumanya, Dok?"
"Tentu saja. Saya rasa Visha sudah mengalami beberapa kemajuan. Bu, ada yang ingin saya katakan pada Ibu. Ini semacam---eksperimen."
"Eksperimen?" Karina mengerutkan dahi.
"Ini hanya pendapat saya saja, tapi bila Ibu mau bekerja sama. Kita bisa melakukannya."
"Apa itu, Dokter?"
"Coba pertemukan Visha dengan orang dari masa lalunya. Lalu kita lihat bagaimana reaksi Visha."
"Apa?"
"Jika dugaan saya benar, ada kemungkinan mimpi buruk yang dialami Visha, adalah bukan karena trauma, tapi lebih pada sifat rindu."
"Eh?"
"Saya mohon, Ibu bantu saya."
"Baiklah, Dokter. Akan saya usahakan."
...***...
Masa Sekarang,
Visha membawa troli berisi kotak makan siang milik karyawan Brahms Corp. Hatinya masih tak tenang setelah mendengar penjelasan dari Ibu Karina tentang eksperimen mimpinya.
Namun Visha masih tersenyum seperti biasa di depan banyak orang.
"Permisi, Mbak Maharani."
"Eh, Mbak Visha. Sudah datang ya? Silahkan masuk, Mbak. Saya akan hubungi para Office Boy supaya segera datang kemari dan mengantarkan makan siang kepada para karyawan."
"Iya, Mbak."
"Oh ya, menu hari ini apa, Mbak? Sepertinya wanginya harum sekali. Jadi tidak sabar untuk makan."
"Hari ini menunya adalah gulai ikan kakap, Mbak. Tapi tenang saja, ini adalah menu sehat, dan memiliki gizi seimbang."
"Saya percaya pada Karina Catering. Mbak. Sudah tidak diragukan lagi jika masakan Bu Karina adalah menu makanan sehat."
"Terima kasih karena sudah menggunakan jasa Karina Catering."
Saat Visha sedang berbincang dengan Maharani, dari kejauhan ada sepasang mata yang memperhatikannya namun tak berani mendekat.
__ADS_1
Orang itu menguping pembicaraan Visha dan Maharani.
Apa? Gulai ikan kakap? Itu kan salah satu makanan kesukaanku setelah ayam goreng Wac'D. Hmm? Aku harus cari cara agar bisa memakannya juga. Tapi---? Kenapa gadis itu tidak segera pergi setelah mengantar makanan? Dia malah asyik mengobrol dengan Maharani.
Rocky mengendap-endap melihat pergerakan Visha. Ia masih takut untuk bertatap muka langsung dengan Visha setelah kejadian kuah rendang beberapa waktu lalu.
Beberapa menit kemudian, Visha berpamitan pada Maharani. Ia akan ke tempat pengantaran selanjutnya, yaitu PT. Galang Abadi.
Melihat Visha tak lagi bersama Maharani, secepat kilat Rocky menghampiri Maharani yang sedang bersama para office boy menata kotak makan untuk dibagi ke semua karyawan.
"Ehem!!!" Rocky sengaja menginterupsi Maharani yang sedang mengatur nasi kotak.
"Eh? Pak Rocky? Ada yang bisa dibantu, Pak?"
"Umm, itu--?" Rocky menunjuk ke arah kotak makan yang sedang di bawa oleh Maharani.
"Ada apa, Pak?"
Rocky mendekat pada Maharani dan berbisik. "Masih ada sisa yang bisa kubawa?"
"Eh?" Maharani mengernyitkan dahi.
"Beri aku satu kotak!" Rocky memohon.
"Hah?"
"Dengar, Rani. Ini adalah semacam survei. Survei apakah makanan ini layak atau tidak untuk para karyawan disini."
"Tentu saja ini layak, Pak. Sebelum kita memakai jasa Karina Catering untuk makan siang karyawan, banyak karyawan mengeluh sakit karena pola makan yang salah dan tidak teratur. Akibatnya banyak yang sakit dan akhirnya mereka mengundurkan diri dari perusahaan karena sakit terlalu parah. Tapi setelah kita memakai jasa Karina Catering, karyawan kita jadi lebih sehat dan bugar dalam bekerja."
"Hmm? Tetap saja kita harus mengujinya." Rocky merebut satu kotak nasi dari tangan Maharani dan membawanya pergi.
"Bilang saja kalau mau, Pak! Tidak perlu beralasan survei dan pengujian segala!" gumam Maharani.
.
.
Rocky duduk di meja kerjanya dan menyantap nasi kotak yang ada didepannya dengan lahap. Belum waktunya untuk makan siang namun Rocky makan seperti orang yang kelaparan.
"Ini enak sekali!" gumam Rocky dengan mulut penuh makanan.
Tak butuh waktu lama untuk menghabiskan satu porsi nasi kotak dengan lauk gulai ikan kakap kesukaan Rocky.
Rocky menepuk perutnya yang kekenyangan. Ia merebahkan diri sejenak di kursi kerjanya. Dan tiba-tiba saja terlintas sebuah ide di otaknya.
"Halo, Maharani!!"
Rocky menelepon Maharani.
"Ada apa, Pak Rocky?"
"Besok pesankan juga nasi kotak untuk semua karyawanku."
"Heh?"
"Tidak perlu terkejut begitu. Hanya 25 orang saja. Eh, 26 ditambah denganku. Oke?"
__ADS_1
"I-iya, Pak. Baiklah."
"Terima kasih, Maharani."
Rocky memutus sambungan telepon dan bersorak gembira.
.
.
.
Keesokan harinya, Navisha mengantar pesanan ke Brahms Corp tepat pukul 10.30 pagi. Ia menemui Maharani yang memang ditugaskan untuk mengurus konsumsi karyawan.
"Kemarin saya kabari Ibu Karina kalau pesanannya bertambah. Apa sudah dibuatkan sekalian, Mbak?"
"Sudah, Mbak. Tenang saja."
"Eh, jangan taruh disini, Mbak. Mbak Visha langsung antarkan saja ke lantai 13."
"Lantai 13?"
"Iya, yang 26 itu pesanan lantai 13. Maaf jika Mbak Visha harus mengantarnya sendiri kesana. Karena tidak ada office boy di lantai itu."
"Oh, tidak apa-apa, Mbak. Kalau begitu, saya permisi."
Navisha mendorong troli yang berisi 26 nasi kotak memasuki lift. Butuh 2 lantai lagi untuk mencapai lantai 13.
Visha keluar dari lift dan melihat suasana di lantai 13 sangatlah sepi. Visha tercengang karena tak mendapati satu orangpun di lantai itu.
Visha menelan ludah sambil terus mendorong troli.
Apa benar ini tempatnya? Kenapa sepi sekali? Kemana semua orang yang bekerja di lantai ini?
Visha menuju ke sebuah ruangan kantor yang tembus pandang karena berlapis kaca bening. Visha berdiri di depan ruangan yang bertuliskan RAB Cons.
"RAB Cons? Apa benar ini tempatnya? Tapi kenapa tak ada orang?" gumam Visha.
Visha mulai memasuki ruangan itu.
"Permisi!!! Saya dari Karina Catering mau mengantar pesanan makan siang."
Hening. Tak ada jawaban.
Visha mulai takut dengan keadaan yang sunyi ini. Ia menata nasi kotak di sebuah meja di ruangan itu.
Dari kejauhan Rocky berjalan sambil bersiul dengan gembira. Ia menghentikan langkahnya ketika melihat Visha ada di ruangan RAB Cons.
Astaga!!! Apa yang dilakukan gadis itu?
Rocky melihat Visha sedang menata kotak nasi di meja. Ia tersenyum gembira.
Ah, benar juga. Mulai hari ini karyawan RAB Cons juga akan mendapat jatah makan siang seperti yang lain.
Setelah menata semua kotak nasi, Visha segera pergi dari ruangan itu. Bulu kuduknya mulai merinding berada disana sendirian.
Rocky yang menyembunyikan dirinya di balik tembok, mengerutkan dahi melihat tingkah aneh Visha.
__ADS_1
...ššš...