
...πππ...
Visha menghubungi Galang dan memintanya menyempatkan waktu untuk berkunjung ke rumah. Ia harus membicarakan tawaran Rocky dengan Galang.
"Menurut Ibu, itu kesempatan yang bagus, Nduk," ujar Karina saat Visha menunggu Galang di teras rumah.
Visha sudah lebih dulu menceritakan tawaran Rocky pada Karina. Ia harus mendapat saran dari orang-orang terdekatnya.
"Begitukah menurut Ibu?"
"Anggap saja ini untuk pengalamanmu. Aku rasa Nak Galang pasti akan setuju."
Tak lama mobil Galang memasuki halaman rumah. Visha berdiri menyambut kedatangan Galang.
"Kau sampai menungguku di depan rumah, pasti ada hal penting yang ingin kau bicarakan." Tebak Galang.
"Iya, Mas. Aku ... "
"Aku sudah tahu. Rocky sudah bercerita padaku."
"Eh?"
Pria itu? Kenapa dia lancang sekali bicara pada Mas Galang sebelum aku?
"Aku rasa itu ide yang bagus."
"Tapi, Mas ... "
"Kau akan mendapatkan pengalaman bekerja. Dan aku rasa, sudah saatnya kau melanjutkan kuliahmu. Bagaimana? Kau bisa kuliah sambil bekerja di perusahaan Rocky."
Ya Tuhan!!! Kenapa Mas Galang bicara begini? Dan kenapa juga harus perusahaan Rocky? Bukankah ada banyak perusahaan konstruksi di kota ini?
"Bagaimana dengan katering?" tanya Visha.
"Tenang saja, Nduk. Ibu bisa mencari karyawan lain untuk menggantikanmu. Ibu tidak mau kau melepas pendidikanmu hanya karena bertanggung jawab soal katering." Karina ikut dalam pembicaraan Galang dan Visha.
Aku merasa kalah sekarang! Apa boleh buat! Aku harus menerima tawaran Rocky.
"Bersiaplah! Mulai besok kau akan jadi karyawan RAB Cons." Ucap Galang.
"Heh? Secepat itu? Tapi aku ... aku tidak punya baju kantor, Mas."
"Tenang saja! Aku sudah membelikan beberapa untukmu. Cobalah, jika tidak cukup bisa ditukar dengan ukuranmu."
Visha merasa tak enak hati dengan Galang.
"Terima kasih banyak, Mas. Mas Galang tidak perlu melakukan ini untukku."
...***...
Keesokan harinya, Visha bersiap berangkat ke kantor barunya. Ia memilih kemeja putih lengan panjang dan rok hitam selutut yang dibelikan Galang. Ukurannya agak kebesaran karena postur tubuh Visha yang kecil dengan tinggi hanya 160 cm.
"Kau cantik sekali, Nduk."
"Cantik apanya? Lihat ini! Kemejanya terlalu besar."
"Kalau begitu ganti dengan lainnya. Nak Galang tidak tahu ukuranmu ya? Bukankah kalian sudah lama bersama, masa dia tidak paham ukuranmu?"
"Ibu! Itu karena aku tidak pernah memakai baju kerja. Dia pasti bingung mencari ukuranku, dan hanya mengira-ngira saja."
"Ya sudah. Nanti ibu belikan baju yang sesuai ukuranmu."
"Ibu! Tidak perlu. Aku bisa membelinya sendiri. Ya ampun! Sudah jam segini! Aku bisa dimarahi Rocky kalau sampai terlambat. Aku pergi dulu ya, Bu."
"Nduk, kamu tidak merias wajahmu dulu?!" Seru Karina yang tak didengar oleh Visha karena ia sudah pergi keluar rumah.
Visha mengendarai sepeda motornya menuju kantor Brahms Corp. Ia memarkirkan motornya di deretan parkiran motor.
Dari jauh, Rocky melihat Visha yang nampak berlari kecil menuju lift. Ia tersenyum kecil melihat Visha setuju untuk bekerja padanya.
Visha tiba di lantai 13 dan disambut oleh karyawan disana.
"Pagi, Mbak Visha. Akhirnya Mbak benar-benar menerima tawaran Pak Rocky." Sapa Eman.
"I-iya." Jawab Visha kikuk.
__ADS_1
Tak lama seorang pria dengan langkah tegapnya memasuki kantor RAB Cons. Dia adalah Rocky.
Semua karyawan menyalami Rocky termasuk juga Visha. Rocky melihat Visha ikut menunduk melalui ekor matanya.
"Selamat pagi, Pak!"
"Selamat pagi semuanya."
Rocky memasuki ruangannya bersama Donny.
Visha menghela nafas kasar.
"Mbak Visha, meja mbak Visha ada disini ya." Ucap Eman menunjuk sebuah meja dan kursi di deretan paling depan.
"Hah? Kenapa disini?" protes Visha.
"Pak Rocky yang memintanya."
"Apa?!" Seru Visha. Namun ia pasrah dan tak bisa menawar.
Ia menatap sinis Rocky yang sedang berbincang dengan Donny.
Dasar pria aneh! Kenapa menempatkanku di meja paling depan? Malas sekali aku harus melihat wajahmu dengan jelas.
...***...
Pukul dua belas siang,
Semua karyawan RAB Cons sedang memanfaatkan waktu istirahat mereka dengan makan siang bersama di rooftop.
Visha masih sibuk dengan menggambar desain untuk panti asuhan.
Rocky yang akan memasuki ruang kantor terhenti sejenak dan memperhatikan Visha dari ambang pintu.
Beberapa kali Visha berusaha menggulung kemejanya yang kebesaran. Rocky merasa risih melihatnya.
"Hei karyawan magang!!!" Ucap Rocky dengan keras hingga membuat Visha terkejut.
Visha mendelik ke arah Rocky dan menatapnya kesal. Ia tak menghiraukan Rocky dan terus bekerja.
Visha tetap asyik dengan pekerjaannya.
Rocky makin kesal, dan akhirnya menghampiri Visha.
Rocky menggebrak meja kerja Visha. Membuat Visha mendongakkan kepalanya.
Visha terkejut karena wajah Rocky tepat didepan wajahnya. Visha membulatkan matanya. Sejenak mata mereka bertemu dan saling menatap.
Jarak mereka terlalu dekat hingga membuat jantung Visha berdegup tak beraturan.
Visha segera memundurkan tubuhnya. "Ada apa bapak memanggil saya?" Tanya Visha dengan menunduk.
"Kau tuli, huh?"
"Tidak. Saya sedang bekerja, jadi bapak tolong jangan ganggu saya."
"Ini waktunya istirahat. Jadi gunakan waktumu dengan baik. Makanlah dulu lalu lanjutkan pekerjaanmu."
"Saya belum lapar."
"Tubuhmu kurus begitu. Kau harus banyak makan. Cepat makan!"
Rocky menarik tangan Visha dan membawanya menuju ke ruang kerjanya.
"Lepaskan!"
"Diamlah! Saya bosmu disini! Dan kau harus menuruti perintahku." Titah Rocky.
Visha hanya bisa diam.
"Duduk!" perintah Rocky.
Visha duduk di sofa empuk di ruang itu.
Rocky membawa dua kotak nasi box dari Karina Catering.
__ADS_1
"Temani saya makan!"
"Heh?!"
Apa-apaan dia?! Makan sendiri 'kan juga bisa. Kenapa aku harus menemaninya?
Mau tak mau Visha ikut makan bersama Rocky. Ia menyantap makan siangnya dengan wajah yang tak senang.
Tidak apa, Visha. Kau boleh membenciku sekarang. Tapi nanti, kau juga akan mulai menyukaiku.
Rocky tersenyum menyeringai sambil tetap menyantap makan siangnya.
Usai makan siang, Rocky kembali menarik tangan Visha dan membawanya ke suatu tempat.
Pikiran Visha sudah diisi dengan pikiran negatif. Ia takut jika Rocky memaksakan kehendaknya dengan mencium bibirnya lagi.
Visha makin was-was ketika Rocky membawanya memasuki lift. Visha merapat ke dinding lift.
Rocky hanya tersenyum geli melihat Visha yang ketakutan.
"Kau jangan takut! Aku tidak akan berbuat jahat padamu."
Visha tak menanggapi ucapan Rocky.
Hingga akhirnya pintu lift terbuka. Mereka turun di lantai satu Brahms Corp. Visha mengerutkan keningnya.
Rocky memanggil seorang supervisor di store lantai satu. Rocky membisikkan sesuatu ke telinga supervisor itu.
Lalu si supervisor bernama Maya membawa Visha ke sebuah etalase penuh dengan koleksi baju-baju kantor.
Rocky nampak memilih beberapa potong baju dan ia lemparkan pada Visha.
"Cobalah!!"
"Tapi, Pak ... "
"Karyawan magang!!! Kau ini cerewet sekali! Saya bilang coba ya coba! Susah sekali bicara denganmu! Atau perlu saya bungkam mulutmu agar tidak selalu protes?"
"Ah, tidak perlu, Pak. Hahahaha. Baiklah, saya akan mencobanya."
Visha masuk ke ruang ganti dengan kaki yang dihentakkan.
Rocky terkekeh melihat tingkah Visha.
Harus diancam dulu baru kau mau menurut, huh? Dasar!!!
Tak lama Visha keluar dari ruang ganti. Ia memakai setelan blazer warna krem dengan celana panjang. Visha terlihat anggun.
Rocky tersenyum puas dengan hasil karyanya. Rocky mendekati Visha dan memandanginya.
"Apa lagi sekarang?" Tanya Visha panik dan memundurkan tubuhnya.
"Ssstt!!! Diamlah!" Rocky meraih rambut Visha yang dikuncir ala ekor kuda dan melepas karet rambutnya.
Rocky menata rambut bergelombang Visha dan membiarkannya tergerai.
"Begini baru bagus."
Visha merasa risih dengan perlakuan Rocky. Ia terus menunduk malu.
"Ayo ikut! Kita perlu merias wajahmu!"
"Heh?"
...πππ...
tobe continued,,,,,
*Kisah cinta segitiga yg rumit akan dimulai. Atau sepertinya.... malah bukan hanya segitiga, tapi segiempat dan bahkan segilima π₯π₯π π
stay tuned terus ya kak...
jangan lupa tinggalkan jejakπΎπΎ
terima kasihπ
__ADS_1