
...ššš...
Malam harinya, Rocky sudah diperbolehkan pulang oleh dokter. Donny mengantarkan Rocky ke apartemennya.
Selama perjalanan, Rocky hanya diam. Donny sesekali melirik ke arah Rocky melalui kaca spion.
"Bos! Apa bos ingin makan sesuatu?" tanya Donny untuk memecah keheningan.
"Tidak! Aku tidak lapar. Antarkan saja dengan cepat ke apartemen. Aku hanya ingin beristirahat."
"Baiklah.
Tak lama mereka tiba di depan lobi apartemen. Rocky turun dari mobil diikuti Donny.
"Apa ada lagi yang Bos butuhkan?"
"Tidak ada. Kau pulanglah! Kau pasti lelah menggantikanku menemui klien. Kita bahas besok saja di kantor."
"Baik, Bos. Kalau begitu, aku permisi!"
Donny berlalu dari hadapan Rocky. Rocky berjalan menuju lift. Ia berdiri di depan lift menunggu pintu lift terbuka.
Ingatannya tentang lift langsung tertuju pada Visha. Bagaimana tidak? Pertemuan pertama mereka adalah di depan pintu lift dan Rocky harus ketumpahan kuah rendang yang dibawa Visha.
Rocky mengumpat. Kenapa disaat seperti ini otaknya hanya di penuhi oleh Visha?
Pintu lift akhirnya terbuka. Rocky menekan angka 20, dimana kamar apartemennya berada. Didalam lift, kembali Rocky mengingat tentang kejadian lift rusak dan ia terjebak bersama Visha disana.
Rocky mengumpati dirinya yang tak bisa mengeluarkan Visha dari otaknya.
Sesampainya di kamar apartemennya, Rocky berganti baju dan merebahkan tubuhnya ke ranjang.
Ia berusaha memejamkan mata. Namun yang dirasakannya hanyalah kegelisahan yang menggelayuti hati.
Rocky berguling ke kiri dan kanan mencari posisi yang enak untuk tidur.
"Ah, sial!!! Kenapa aku selalu memikirkan tentang dia?!"
Rocky mengacak rambutnya. "Dia tidak seperti gadis lainnya yang pernah bekerja di klab malam. Dia ... sangat mengganggu pikiranku." gumam Rocky memegangi kepalanya.
...š...
Sore hari itu, Rocky duduk di bangku taman panti asuhan. Anak-anak panti mengajaknya bermain bola, namun Rocky bergeming dan hanya menatap mereka.
Entah apa yang ada dipikirannya. Ia bersikeras ingin mengeluarkan Visha dari pikirannya. Namun ia malah datang ke tempat dimana Visha juga ada disana.
Dari tempatnya berdiri, Visha bisa melihat Rocky duduk sendiri di bangku taman.
Visha yang merasa belum meminta maaf dengan benar, segera menghampiri Rocky.
"Hai, bagaimana kabarmu? Kau sudah baik-baik saja?" tanya Visha masih dengan posisi berdiri.
"Aku baik." jawab Rocky singkat tanpa memandang Visha.
"Aku minta maaf, karena aku ... "
"Tidak perlu meminta maaf. Aku sudah memakluminya." ucap Rocky sinis.
Visha mengerutkan dahi. "Ada apa dengannya?" tanya Visha dalam hati.
Tiba-tiba seorang wanita menghampiri Rocky dan Visha. Ia adalah Sania.
__ADS_1
"Rocky! Apa yang terjadi denganmu? Kenapa wajahmu penuh dengan bekas ruam merah?" tanpa berbasa-basi Sania memegang wajah Rocky.
"Sania? Kau datang?" balas Rocky dengan melepaskan tangan Sania dari wajahnya.
"Pasti alergimu kambuh ya? Bagaimana bisa? Kau baik-baik saja?" tanya Sania tetap tidak melihat jika ada sosok Visha disana.
"Aku baik-baik saja. Kemarin aku sudah dirawat di rumah sakit."
"Syukurlah. Kau harus lebih hati-hati dalam memilih makanan."
"Siapa wanita ini? Dia terlihat sangat dekat dengan Rocky." Batin Visha bertanya-tanya.
"Oh ya, Sania. Perkenalkan, ini adalah Visha. Dia adalah tunangan Kak Galang." dan akhirnya Rocky memperkenalkan Visha pada Sania.
"Eh? Benarkah?" Sania cukup terkejut.
"Jadi ini adalah Bu Sania? Ibu Nur sering bercerita tentang Anda." ucap Visha.
"Kau tidak perlu memanggilku dengan panggilan 'Bu'. Justru aku yang harus memanggilmu kakak jika nanti kau menikah dengan Galang. Akhirnya aku bisa bertemu denganmu. Galang pernah bercerita tentangmu."
"Eh?" Visha kebingungan dengan situasi ini.
"Kami bertiga berteman. Kira-kira sudah bertahun-tahun yang lalu." jelas Sania.
"Oh." jawab Visha dengan tersenyum.
"Sania, ayo kita pergi dari sini." ajak Rocky tiba-tiba.
Sania tak bisa menolak karena tangannya di tarik oleh Rocky. Sania berpamitan pada Visha.
Visha hanya menatap bingung kepergian mereka berdua.
...š...
"Bagaimana kabarmu? Kau tidak pernah datang ke panti. Apa terjadi sesuatu?" tanya Rocky memecah keheningan.
"Aku baik-baik saja. Aku hanya sedikit sibuk."
"Kau terlihat kurus. Apa kau makan dengan baik?"
Sania terkekeh mendengar pertanyaan Rocky.
"Bagaimana kalau kita pergi makan?" tawar Rocky.
"Boleh."
"Kak Galang bilang resto di Royale Hotel makanannya sangat enak. Bagaimana kalau kita kesana?"
DEG. Sania terkejut dengan ajakan Rocky.
"Tidak! Jangan disana! Kita ... makan di tempat lain saja." tolak Sania dengan gugup.
Royale Hotel menyimpan kenangan pahit untuk Sania. Ia tak ingin datang kesana lagi meskipun dengan orang yang berbeda.
"Baiklah. Lalu kita akan makan dimana?"
"Bagaimana kalau di kafe biasa tempat kita makan." usul Sania.
"Oke! Kita kesana!"
Sania bisa bernafas lega. Ia mengembangkan senyumnya pada Rocky agar tak dicurigai terjadi sesuatu dengannya.
__ADS_1
.
.
.
Sesampainya di kafe langganan mereka saat masih jadi sepasang kekasih, mereka duduk berhadapan.
"Suasananya masih sama seperti dulu." ujar Rocky.
"Iya. Kita seperti berada di masa lalu." jawab Sania.
Seorang pelayan menghampiri mereka dengan membawa buku menu.
"Apa kau masih ingat menu favoritku disini?" tanya Sania.
"Umm, apa ya?" Rocky nampak berpikir.
"Cobalah mengingat!"
"Pasta? Kau sangat menyukai pasta. Benar 'kan?"
"Kau benar. Kau masih mengingatnya."
"Mas, kami pesan dua pasta dan dua lemon tea hangat." ucap Rocky pada si pelayan.
"Baik, mohon ditunggu. Pesanan akan segera datang." si pelayan berpamitan setelah mencatat pesanan Rocky dan Sania.
"Oh ya, jadi kau sudah kenal baik dengan calon istri Galang?" tanya Sania kembali membahas Visha.
Rocky malas membicarakan Visha. Tapi ia tak mau jika Sania curiga.
"Kak Galang mengenalkannya padaku beberapa waktu lalu."
"Oh. Lalu apa yang dia lakukan di panti? Aku belum sempat bertanya padanya dan kau sudah membawaku pergi."
"Dia relawan disana." Rocky menjawab dengan singkat.
"Oh. Sepertinya dia gadis yang baik. Galang tidak salah pilih. Aku harus mengucapkan selamat padanya."
Rocky tak menanggapi ucapan Sania. Sania memainkan ponselnya dan menghubungi seseorang.
Rocky yang melihat Sania menelepon seseorang, segera bertanya padanya.
"Kau menghubungi siapa?"
"Galang. Aku akan mengucapkan selamat padanya."
Dengan cepat Rocky merebut ponsel Sania. Dan itu membuat Sania bingung dengan sikap Rocky.
"Ada apa denganmu?" tanya Sania mengernyitkan dahi.
"Tidak apa. Hanya saja ... kita sedang bersama. Jadi jangan menghubungi siapapun saat kita sedang bersama." ucap Rocky beralasan.
"Oh, begitu. Baiklah. Aku tidak akan menghubunginya." Sania merebut kembali ponselnya dari tangan Rocky dan memasukkannya kedalam tas.
"SIAL!! Seharusnya aku tidak mengenalkan Visha pada Sania. Bisa runyam urusannya jika Kak Galang tahu Visha jadi relawan di panti jompo." umpat Rocky dalam hati.
Kemudian pesanan mereka berduapun datang. Tak ada lagi percakapan diantara mereka. Hanya suaran sendok dan piring yang berdenting disela kegiatan makan mereka.
...ššš...
__ADS_1
-------tobe continued------
*Nah lho!!! Rocky masih peduli pada Visha meski ia ingin menjauh dari Visha. Apakah Rocky bisa benar-benar menjauh dari Visha?