
...πππ...
Visha terdiam selama perjalanan menuju apartemen Bian. Hari sudah mulai gelap dan lampu-lampu jalanan kota mulai bersinar saling bersahutan.
Bian sesekali melirik ke arah Alisa yang duduk di belakang dengan memeluk boneka beruangnya.
"Papa, kita mau kemana?" tanya Alisa dengan polosnya.
"Kita akan ke rumah papa, sayang." jawab Bian.
"Apa rumah papa pindah?" tanya Alisa lagi.
"Hmmm, tidak sayang. Untuk sementara Alisa tinggal bersama papa dan mama Visha."
"Sampai mama pulang?"
Bian nampak melirik Visha yang hanya diam tak berniat membantu menjawab pertanyaan Alisa.
"Iya, sampai mama Sania kembali." jawab Bian menutup semua pertanyaan Alisa.
Sesampainya di apartemen, Visha langsung membersihkan diri lalu berkutat di dapur. Sementara Bian masih asyik bermain dengan putri kecilnya. Bian yang merasa ada rasa cemburu dari tatapan Visha segera menghampiri Visha di dapur.
"Sayang... Kenapa kau terus diam? Apa kau masih marah padaku?" tanya Bian dengan memeluk Visha dari belakang.
"Pergilah! Aku sedang memasak! Jangan mengganggu!" jawab Visha ketus.
"Hmm, baiklah. Tapi aku benar-benar tidak bisa melihat wajah marahmu itu terus menerus. Aku sangat tertekan, Visha..."
Bian membalik tubuh Visha agar mereka saling berhadapan.
"Tersenyumlah! Aku sudah kehilangan senyummu beberapa hari ini. Aku tidak bisa kehilangan senyum itu lagi!" Bian mencoba merayu Visha.
Bian mengangkat dagu Visha. Dan nampaklah bibir Visha yang ditarik sedikit menampakkan sebuah senyuman yang dipaksakan.
"Setelah ini senyummu harus lebih lebar." Bian segera menarik tubuh Visha lebih dekat dengan satu tangannya dan tangan yang lainnya meraih tengkuk Visha lalu memiringkan wajahnya agar bisa meraih bibir Visha.
Oke! Cara ini bisa mendamaikan hati wanita yang sedang marah. Visha mulai terbuai dengan ciuman yang diberikan Bian. Visha melingkarkan kedua tangannya ke leher Bian, dan makin membuat ciuman itu menjadi lebih bergairah.
Sementara tangan Bian kini malah bergerilya masuk ke dalam kaos Visha mencari sesuatu yang menjadi kesukaannya.
__ADS_1
"Papa!" Suara merdu Alisa menghentikan aktifitas mereka. Sepertinya mereka lupa jika ada anak dibawah umur di apartemen mereka.
Visha segera mendorong tubuh Bian menjauh. Ia merapikan penampilannya dan kembali fokus memasak. Beruntung ia belum menyalakan kompor. Api kompor belum menyala namun api gairah telah menyala lebih dulu, haha.
Bian segera menghampiri Alisa dan memposisikan dirinya agar sejajar dengan Alisa.
"Ada apa, sayang?" tanya Bian lembut dengan mengelus rambut Alisa.
"Alisa ingin makan es krim."
"Oh oke! Ayo kita beli!" Bian segera menggendong tubuh Alisa kecil lalu keluar dari kamar.
Visha hanya bisa menghela nafas melihat kepergian Bian bersama Alisa. Ia merutuki dirinya sendiri yang dengan mudah di rayu Bian.
"Huh! Kenapa aku selalu terpesona olehnya? Harusnya aku lebih lama lagi marah padanya. Agar dia tahu jika apa yang dilakukannya adalah salah. Dia salah sudah membawa Alisa kesini!" gumam Visha sedikit kesal.
.
.
.
Dari kejauhan, Bian datang bersama Alisa, membuat kedua orang tua Visha mengerutkan keningnya.
"Anak itu siapa, Nduk? tanya Yanti.
"Nanti saja aku ceritakan pada ibu." jawab Visha malas.
Haryono tidak bertanya apapun, karena ia tahu apa yang sedang terjadi disini. Dan ia juga pernah melihat gadis kecil itu di koran beberapa waktu lalu.
Bian memesankan keluarga Visha sebuah kamar di Royale Hotel karena ia tak mungkin membawa mereka ke rumah keluarga Abraham. Ia beluk resmi menjadi Rocky, jadi ia tak akan berbuat seenaknya sebelum hukum memutuskannya.
Ali terlihat menyukai Alisa dan mereka bermain bersama. Visha justru tidak suka melihat kedekatan mereka.
"Sayang, aku harus mengurus beberapa pekerjaan. Jika kau butuh sesuatu hubungi Reza saja ya." pamit Bian dengan mengecup puncak kepala Visha.
Visha nampak menarik lengan Bian.
"Ada apa lagi?" tanya Bian.
__ADS_1
"Jangan lupa hubungi Yogi. Kita perlu bertemu dengannya." ucap Visha dengan tegas. Bian tahu jika istrinya ini masih cemburu dan belum sepenuhnya memaafkannya.
"Iya, sayang. Jangan khawatir." Dengan secepat kilat Bian mencium bibir Visha. Dan membuat wajah Visha memerah karena malu ketahuan ayah dan ibunya.
Yanti mendekati putrinya. "Dia sangat mencintai kamu, nduk. Ibu senang ternyata cinta kalian tidak berubah meski di terpa berbagai badai."
"Ibu..." Visha memeluk ibunya.
"Anak itu... adalah anak Sania? Wanita yang sudah menyakiti kalian?" tanya Yanti.
Visha mengangguk. "Ibu sudah tahu?"
"Bapak yang memberitahu ibumu." Haryono ikut menimpali.
"Kasihan ya anak sekecil itu harus ikut menanggung dosa yang dilakukan orang tuanya. Ibu sih tidak keberatan jika Bian ingin mengadopsinya."
"Ibu!!!" protes Visha.
"Nduk, kamu juga seorang ibu. Kamu pasti tahu jika seorang ibu tidak akan tega menyakiti anak kecil, meski itu bukan darah daging mereka sendiri." jelas Yanti.
"Biarkan Visha dan Bian yang memutuskan masalah ini, bu. Kita jangan ikut campur." lerai Haryono.
Visha hanya diam mendengar wejangan dari ibu dan bapaknya. Dilihatnya Alisa sangatlah cantik dan menggemaskan. Dalam hati ia juga menyukai gadis kecil itu. Namun rasa cemburunya rasanya lebih besar dibanding rasa iba padanya.
Entah kenapa melihat Alisa seperti melihat Sania yang seakan menjadi saingan baginya untuk mendapat cinta dari Bian.
...πππ...
#bersambung...
Jangan lupa tinggalkan jejak kalianπ£π£πππ 'Coz you are my sunshine ββ
Hai hai, Mamak punya story baru nih di NT, judulnya RaKhania. Masih baru banget dan masih anget π¬π¬π¬
Silahkan mampir dan kepoin yaak. Klik favorit aja dulu biar kalo ada UP bisa langsung baca ππ
Terima kasih π
__ADS_1