
...ššš...
*Flashback*
-Malam kecelakaan Rocky-
Mobil yang ditumpangi Rocky menghindar saat ada seseorang yang ingin menyeberang jalan, dan mobil mengalami oleng lalu terbalik. Orang yang hampir tertabrak oleh mobil Rocky, segera menghampiri dan berusaha menolong Rocky keluar dari kursi kemudi.
"Tuan, kau tidak apa-apa? Maaf jika tadi saya menyeberang tak melihat jika ada mobil tuan melintas. Ayo saya bantu!"
Rocky akhirnya bisa keluar dari dalam mobil. Ia sempat memperingatkan orang yang menolongnya untuk segera pergi menjauh dari mobilnya. Rocky melihat tangki bensin mobilnya yang sudah bocor. Dan nahas, orang yang menolong Rocky entah bagaimana ia tersangkut dan tak bisa menyelamatkan diri saat mobil Rocky meledak.
Tubuh Rocky yang tak jauh dari sana pun ikut terluka. Namun orang yang menolongnya mengalami luka bakar yang cukup parah.
Orang-orang yang melintas jalan itu segera memberi pertolongan dan membawanya ke rumah sakit terdekat.
Ketika tiba di rumah sakit, ponsel Rocky di sakunya terus berbunyi. Perawat yang menangani Rocky meraih ponselnya dan mengangkat panggilan dari Sania.
Sania segera menuju ke rumah sakit dan bertanya pada beberapa perawat yang sedang sibuk menangani kecelakaan Rocky.
Seorang perawat memberikan dua dompet pasien pada Sania karena perawat itu mengira Sania mengenal kedua orang itu.
Saat Sania diminta untuk memeriksa tentang identitas pasien, Sania cukup bingung. Karena ternyata wajah mereka mengalami luka bakar karena mobil yang meledak tadi.
Namun Sania masih bisa mengenali Rocky dari jam tangan yang di pakainya. Itu jam tangan edisi terbatas yang Sania tak tahu jika Visha yang memilihkannya.
Saat ia akan memberitahu perihal identitas yang mana Rocky dan pasien lainnya yang diketahui bernama Biantara, Sania terhenti kala mendengar dokter mengucap tentang pesan terakhir Rocky yang ingin mendonorkan jantungnya untuk Ali.
"Tidak!! Tidak bisa kubiarkan!" seru Sania dalam hati.
Ia segera menghubungi Galang yang dengan cepat tiba di rumah sakit. Mereka berdiskusi dengan cukup serius. Mereka harus mengambil keputusan saat itu juga karena Ali juga menunggu donor jantung untuknya.
"Galang, kau harus membantuku! Aku tidak bisa membiarkan Rocky memberikan jantungnya pada anak Visha!"
"Kau ingin melakukan apa?" tanya Galang ikut frustasi.
"Kita harus menukar identitas mereka!" ide itu terlintas begitu saja di pikiran Sania.
"Apa kau sudah tidak waras?!" Galang masih berusaha menolak.
__ADS_1
"Dengar, ini adalah kesempatan bagus untuk kita, Galang. Kulihat orang yang bernama Biantara itu lukanya cukup parah dan luka bakar di wajahnya juga parah. Ia tidak akan dikenali meski kita menukar identitasnya."
Galang mengusap wajahnya kasar. Sania terus memohon padanya.
"Jika Bian dinyatakan meninggal sebagai Rocky, maka... Kau lah yang akan menjadi pewaris Brahms Corp selanjutnya. Dan aku? Anak yang sedang kukandung akhirnya bisa memiliki Rocky sebagai ayahnya." bujuk Sania dengan senyum seringainya.
Galang mulai berpikir sejenak. Ia pun akhirnya menyetujui ide gila Sania.
Sania segera menemui perawat dan mengatakan jika Bian adalah Rocky. Ia bahkan memakaikan jam tangan Rocky di tangan Biantara. Memang benar, nyawa Biantara hampir tak tertolong karena luka yang cukup parah.
Dengan menyuap beberapa orang di rumah sakit, Sania berhasil membawa Rocky keluar dari sana. Galang memintanya untuk datang ke klinik Magnolia. Proses operasi plastik Rocky menjadi Bian akan di lakukan disana.
Setelah operasi berhasil, Sania dengan dibantu beberapa orang suruhannya, membawa Rocky yang masih tak sadarkan pergi ke Surabaya tanpa sepengetahuan Galang. Namun seberapapun Sania menutupi semuanya, Galang lebih cerdik darinya. Galang berhasil menemukan Sania di Surabaya. Beberapa kali Galang sempat menjenguk keadaan adiknya itu.
.
.
.
*Flashback*
Hari itu, Sania dengan sedikit memaksa akhirnya menemui Galang di kantornya. Yah seperti biasa, Sania selalu mengeluh soal Biantara yang mulai berubah setelah bekerja sama dengan Zayn. Sania curiga jika ini ada hubungannya dengan pertemuan Bian dengan Visha.
Galang yang tidak ingin ikut campur urusan mereka lagi, meminta Sania agar menyelesaikan apa yang sudah dimulainya sendiri.
Namun Sania selalu mengancam Galang jika ia akan membeberkan semua kejahatan Galang di depan Leonard.
Hingga di hari itu, Leonard mendengar percakapan Galang dan Sania, lalu membuat sakit jantungnya kambuh.
Galang panik begitu juga Sania.
"Kalian!!! Jadi kalian bersekongkol untuk membunuh Rocky? Tega sekali kalian!"
"Pa, bukan begitu. Dengarkan dulu penjelasan Galang." Galang berusaha menenangkan Leonard yang memegangi dadanya. Rasanya sesak sekali.
Dan akhirnya tubuh Leonard ambruk dan tak sadarkan diri. Mau tak mau Galang harus mengambil langkah yang salah lagi.
Ia membuat Leonard agar terus tak sadarkan diri di rumah sakit agar semua kejahatannya dan Sania tidak terbongkar.
__ADS_1
Lalu tentang Elena, Galang memberitahukan semua kejahatannya pada mama tirinya itu. Yang akhirnya membuat Elena histeris dan depresi. Galang sempat memasukkan Elena ke rumah sakit jiwa. Namun agar lebih bisa mengontrol kedua orang tuanya, Galang memindahkan Elena ke klinik Magnolia bersama Leonard.
*
*
*
"Jadi, klinik ini di buat atas nama Kak Galang?" tanya Rocky saat berbincang dengan Jemmy di halaman klinik Magnolia yang kini sudah di tutup dan diberi garis polisi.
"Iya, benar. Pak Galang membangun klinik ini rencananya memang untuk pusat rehabilitasi pasien pengidap penyakit kanker. Sepertinya ia ingin menolonh orang-orang yang memiliki penyakit yang sama dengan ibu Pak Galang." jelas Jemmy.
"Tapi... kenapa tempat ini menjadi klinik yang seakan tertutup dan melakukan praktek ilegal?"
"Benar. Karena terhambat ijin dari pemerintah, akhirnya oknum-oknum dokter menggunakan klinik ini untuk tempat aborsi para wanita yang hamil di luar nikah. Terbukti dengan banyaknya mayat janin yang dikubur di halaman belakang klinik ini. Pak Galang tahu soal itu. Karena ia juga yang menyetujui tentang praktek aborsi ini."
Visha menggeleng tidak percaya. Ia makin mengeratkan pelukannya ke lengan Rocky.
"Ditambah klinik ini jauh dari kota dan pemukiman penduduk. Sangat menggiurkan untuk praktek-praktek ilegal seperti itu." tambah Jemmy.
"Lalu, lahan ini kini menjadi milikku?" tanya Rocky.
"Iya, begitulah."
"Sayang, kira-kira kita akan membuat tempat ini menjadi apa?" Rocky menoleh ke arah Visha yang berdiri disampingnya.
"Karena tempat ini sudah terkenal sebagai klinik, bagaimana jika kita tetap melanjutkan apa yang ingin Mas Galang cita-citakan. Kita jadikan tempat ini sebagai tempat rehabilitasi untuk pemulihan para penyintas kanker, depresi, dan pengguna obat-obat terlarang. Bagaimana menurutmu?"
"Sayang, idemu sangat bagus. Mari kita lakukan! Jemmy, tolong kau urus perijinannya ya. Kali ini tempat ini harus dijadikan tempat yang bermanfaat."
Rocky memeluk Visha makin erat dan mencium puncak kepala Visha dengan penuh rasa cinta.
...ššš...
#bersambung...
Berikan dukungan kalian selalu yak untuk mamak šš
karena kalian adalah mataharikuuu ššš
__ADS_1