Labuhan Cinta Sang Playboy

Labuhan Cinta Sang Playboy
Forced Kiss


__ADS_3

...šŸšŸšŸ...


Pagi itu Rocky duduk bersantai di meja kerjanya. Masih terngiang di ingatannya saat kemarin ia bersama Visha menghabiskan waktu bersama di panti asuhan.


Rocky mulai bersimpati pada Visha yang secara tiba-tiba menceritakan kisah hidupnya.


.


.


.


*Flashback*


"Sepertinya kau sangat menyukai anak-anak." ucap Visha yang kini duduk bersama Rocky di padang rumput taman panti asuhan.


"Iya. Aku sangat menyukai anak-anak. Aku ingin kembali menjadi anak-anak."


Visha terkekeh kecil. Rocky terpesona dengan senyum tipis di bibir Visha.


"Jadi kau tidak ingin jadi orang dewasa?" tanya Visha lagi.


"Iya. Kira-kira begitu. Lihat saja mereka! Mereka hidup tanpa ada beban. Mereka bisa tersenyum tanpa harus memikirkan apa yang akan terjadi pada dunia di hari esok."


"Kau benar. Aku juga ingin bisa seperti itu."


Mendadak Visha menundukkan wajahnya.


"Kau sendiri? Apa yang membuatmu menjadi relawan di panti jompo? Kau bahkan tidak memberitahu hal ini pada Kak Galang. Bagaimana jika Kak Galang kecewa kau menyembunyikan hal ini darinya?"


"Mas Galang bukan orang seperti itu. Dia akan mengerti kenapa aku tidak menceritakan hal ini. Dia sudah disibukkan dengan pekerjaannya. Aku tidak ingin menambah bebannya."


"Kau bukan beban, Visha. Bukankah sepasang kekasih harus saling berbagi?"


Visha menatap dalam ke mata Rocky. Mereka duduk berdampingan dengan pandangan saling beradu.


"Aku ... aku menjadi relawan disini karena ... "


"Jika kau tidak bisa menceritakannya, aku tidak memaksa. Semua orang memiliki rahasia, 'kan?"


"Kau sudah menyelidiki tentang diriku, jadi kau pasti sudah tahu jika aku pergi dari rumah dan meninggalkan orang tuaku. Aku bekerja sukarela disini, sebagai ganti aku meninggalkan orang tuaku. Aku tak sempat merawat mereka. Maka dari itu ... aku memutuskan untuk jadi relawan disini."


"Apa Kak Galang tahu tentang orang tuamu?"


"Iya, dia tahu. Tapi dia tidak pernah bertanya lebih lanjut padaku. Kami menghargai privasi masing-masing."


Rocky terdiam mendengarkan cerita Visha.


.


.


.


"Astaga!!!" pekik Rocky yang melihat Donny sudah berada tepat didepan wajahnya.


"Harusnya aku yang terkejut. Akhir-akhir ini Bos bersikap sangat aneh. Apa Bos mulai tidak waras karena proyek perusahaan kita selalu gagal?"


Rocky bersiap memukul Donny dengan map yang ada di depannya.


"Dasar kau! Lancang sekali bicara begitu padaku! Cepat katakan, ada perlu apa kau masuk ke ruanganku?"

__ADS_1


"Bos tidak lupa 'kan kalau hari ini ada meeting dengan klien baru kita. Semoga meeting kali ini berjalan dengan lancar."


"Iya, aku sama sekali tidak lupa. Sebaiknya kau keluar dan kembali bekerja!"


"Baik, Bos. Kalau begitu aku permisi!"


...***...


Visha menyusun kotak makan yang akan ia bawa ke lantai 11 kantor Brahms Corp kedalam troli.


Senyum diwajahnya tak berhenti mengembang kala mengingat obrolannya dengan Rocky sore kemarin.


Ternyata Rocky tidak seperti yang kukira. Dia orang yang hangat dan terkadang bertingkah aneh.


Visha terkekeh sendiri saat mengingat kenangannya bersama Rocky.


"Mbak? Mbak Visha kenapa?" tanya Edo yang mendapati Visha senyum-senyum sendiri.


"Eh? Tidak ada apa-apa, Edo. Aku hanya bersemangat saja." dalih Visha.


Edo tak melanjutkan perbincangan mereka karena Visha harus segera mengantar makanan menaiki lift.


Sesampainya di lantai 13, Visha tak mendapati sosok Rocky yang biasanya duduk manis di meja kerjanya. Visha mengerutkan kening.


Visha ingin memberikan sesuatu pada Rocky. Karena orang yang dia cari tak ada ditempat, Visha mendorong troli kosongnya kembali ke lantai dasar. Visha menyembunyikan satu kotak bungkusan yang tadinya akan ia berikan pada Rocky.


Saat Visha sedang berjalan menuju ke mobil, tiba-tiba tubuhnya di cengkeram erat oleh seseorang yang membawanya masuk ke dalam pantry lantai dasar.


Visha tak bisa mengelak karena orang itu langsung membekap bibir Visha dengan bibirnya.


Visha meronta minta dilepaskan. Namun orang itu makin mencium dalam bibir Visha hingga ia kesulitan bernafas.


Karena mengetahui nafas Visha mulai tersengal, orang itu melepaskan ciumannya.


"Dasar brengsek!!! Berani sekali kau menciumku!!"


PLAAAKKKKK


Sebuah tamparan mengenai pipi kiri orang itu yang tak lain adalah Rocky.


"Apa yang kau lakukan, Rocky?! Kau sungguh tidak waras!!"


Tamparan dari Visha tak membuat Rocky tersadar, tapi justru membuatnya semakin brutal. Ia menghampiri Visha dan mendorong tubuh Visha ke dinding, lalu diraihnya kembali bibir Visha secara paksa.


Visha memukul tubuh Rocky, namun sepertinya tenaga Visha tak sebanding dengan besarnya tubuh Rocky. Visha tak tahu kenapa Rocky tega melakukan hal ini padanya.


Ditengah kepasrahannya menerima ciuman dari Rocky, Visha hanya bisa menangis. Ia menangis dalam diam.


.


.


.


"Rocky!!! Halo!!! Pak Rocky!!!" Visha melambaikan tangannya didepan wajah Rocky.


Rocky yang akhirnya tersadar dari lamunannya. Ia terkejut melihat Visha yang berdiri di depannya.


"Ya Tuhan!!! Apa yang sudah kulakukan? Bagaimana bisa aku membayangkan jika aku merebut paksa ciuman dari Visha?" gumam Rocky dalam hati.


Rocky menggeleng-gelengkan kepalanya. Alhasil, Visha harus menyadarkan Rocky kembali dari lamunannya.

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Visha.


"Eh? A-aku? Aku tidak melakukan apapun, hahaha." jawab Rocky dengan memaksakan senyumnya.


"Aku mencarimu di kantor, tapi kau tidak ada. Aku ingin memberikan ini untukmu."


Visha memberikan satu kotak salad buah untuk Rocky.


"Waktu kita terjebak didalam lift, kau sepertinya sangat menyukai salad buatanku. Kami hanya membuat salad satu kali dalam sebulan. Karena hari ini adalah harinya, jadi kubuatkan dua kotak sekaligus untukmu. Yang satu sudah kutaruh di ruang kerjamu."


"Benarkah? Terima kasih banyak, Visha."


Visha mengangguk dan berpamitan pada Rocky. Rockypun berjalan kembali menuju kantornya.


Saat tiba di mobil, Visha merogoh sakunya dan tak mendapati ponselnya disana.


"Edo, apa kau melihat ponselku?"


"Tidak. Bukankah ada di saku?"


"Tidak ada."


"Coba ingat dimana terakhir kali Mbak Visha memakai ponsel."


Visha mencoba mengingat kembali rentetan peristiwa beberapa menit yang lalu.


"Ya ampun! Sepertinya tertinggal di kamar mandi lantai 13. Kalau begitu kau tunggu disini. Aku akan kesana mengambilnya."


Visha berlari kecil ke arah lift. Saat pintu lift terbuka, Visha segera masuk dan menekan angka 13 pada tombol lift.


Toilet lantai 13 tidak dipakai oleh banyak karyawan, semoga saja ponselku masih ada disana. Batin Visha.


Visha berlari ke toilet dan melihat ponselnya ada di atas wastafel. Akhirnya Visha bisa bernafas lega karena sudah kembali menemukan ponselnya.


Visha berjalan keluar dari toilet dan melihat kantor RAB Cons nampak tak seperti biasa. Terdengar suara seorang karyawan yang berteriak panik.


Visha memutuskan untuk mendekat karena ia ingin tahu apa yang sedang terjadi disana.


Betapa terkejutnya Visha saat melihat Rocky tak sadarkan diri dan tergeletak di lantai.


"Apa yang terjadi, Donny?" tanya Visha panik.


"Sepertinya alergi yang diderita Bos Rocky kambuh."


"Apa? Memang dia alergi apa?"


Donny berpikir sejenak. Ia menatap ke arah kotak salad yang baru saja dimakan Rocky.


"Apa kau menambahkan buah pisang kedalam salad buah ini?" tanya Donny dengan menunjukkan kotak salad pada Visha.


"I-iya." jawab Visha ragu.


"Ini gawat!!! Bos Rocky alergi dengan buah pisang!" teriak Donny.


"Apa?!" pekik Visha bersama dengan beberapa karyawan.


"Cepat bantu aku! Kita harus segera membawanya ke rumah sakit!"


...šŸšŸšŸ...


tobe continued,,,

__ADS_1


*Maap yah, kalau adegan kiss antara Rocky dan Visha hanya ada dalam khayalan Rocky saja, hehehehe.


__ADS_2