
...πππ...
Donny berjalan dengan bersiul menuju lantai 13. Ia akan menuju lift. Namun langkahnya terhenti secara tiba-tiba.
"Tunggu!!! Itu 'kan... Sania? Apa yang dia lakukan disini?" gumam Donny kala melihat Sania baru saja keluar dari ruang CEO.
"Hmmm, ah sudahlah. Dia dan Galang 'kan sudah berteman sejak lama. Mungkin dia hanya mengunjunginya. Lagi pula kasihan juga Sania. Dia akan di tinggal menikah oleh suami palsunya. Ckckck. Cinta memang aneh." Donny geleng-geleng kepala lalu melanjutkan langkahnya tanpa menaruh curiga sedikitpun.
Sementara itu, di sebuah lorong sepi, Siska menutup mulutnya tak percaya akan apa yang baru saja ia dengar. Tangannya bergetar dan keringat dingin mulai muncul di pelipisnya.
Apa benar yang kudengar tadi? Jadi, yang mencelakai Pak Leon adalah Pak Galang dan Bu Sania? Bagaimana bisa?
Siska menggeleng cepat tak percaya.
Pak Galang yang dulu kukenal, sudah berubah. Dia terlihat sangat menyeramkan tadi. Ya Tuhan! Bagaimana ini? Apa aku harus menyimpan rapat-rapat rahasia ini? Atau... aku harus menceritakannya pada seseorang? Tapi siapa?
Siska memeluk tubuhnya sendiri. Ia menenangkan diri dan mengatur nafasnya.
Tidak! Aku harus merahasiakan semua ini. Jika Pak Galang tahu aku sudah mendengar percakapannya dengan Bu Sania, bisa saja dia mencelakaiku. Kau harus kuat, Siska. Kau harus bersikap biasa di depan Pak Galang.
Setelah mengatur nafasnya, Siska kembali ke ruang kerjanya.
.
.
.
Akhir pekan pun tiba, Visha bersiap untuk pulang kampung ke rumahnya bersama Bian. Ia membawa beberapa barang untuk oleh-oleh ayah ibunya. Mereka akan pergi menaiki mobil.
"Bapak sudah membawa barang-barang bapak?" tanya Visha.
"Sayang, bisakah kau memanggilku dengan panggilan yang lebih romantis?"
Visha tertawa kecil. "Bapak lucu sekali!" Visha mengelus rambut Bian.
"Ish, kau ini!"
"Akan kupikirkan sebuah panggilan yang bagus."
"Ya sudah, harus yang bagus ya! Kau sudah membawa semua barangmu? Ayo kita berangkat!"
Mereka pun mulai berkendara. Selama perjalanan, Visha bercerita tentang ayah dan ibunya. Bian mendengar dengan sangat antusias. Selama ini dia belum pernah bertemu dengan orang tua Visha.
Ada raut penyesalan di wajah Bian. Jika saja mereka tahu bahwa Bian adalah orang yang pernah membawa luka pada putri mereka, apa yang akan mereka lakukan padanya? Apa mereka akan tetap mengijinkan putri mereka menikahi orang yang sudah menyakitinya?
"Bapak kenapa? Kenapa wajahnya begitu?" tanya Visha karena melihat raut wajah Bian berubah murung.
"Tidak. Aku hanya berpikir... Seandainya mereka tahu jika aku adalah orang yang telah menyakitimu beberapa tahun silam, apa mereka akan tetap menerimaku?"
"Hei, kenapa bapak bicara begitu? Orang tuaku bahkan menerima dengan tangan terbuka Mama Elena dan Papa Leonard, tentu saja mereka akan menerimamu. Apalagi bapak adalah Rocky."
"Tapi aku belum bisa mengatakan yang sebenarnya bahwa aku adalah Rocky."
"Iya aku tahu. Bapak harus menyelesaikan semuanya dulu 'kan?"
"Iya. Terima kasih karena mau mengerti." Bian meraih tangan Visha lalu mengecupnya.
Visha menatap pria di sampingnya itu. Ada rasa bahagia luar biasa yang ia rasakan dalam hatinya.
Semoga saja kebahagiaan ini tidak akan cepat berlalu. Rocky... Aku mencintaimu. Selalu mencintaimu...
"Kenapa senyum-senyum?" tanya Bian yang melihat Visha tersenyum aneh ketika menatapnya.
"Tidak ada."
"Apa aku terlalu tampan?"
"Dih, dasar bapak narsis!"
"Berhenti menggodaku atau aku akan menghentikan mobilnya dan aku akan melahapmu!"
"Apaan sih? Aku tidak menggoda bapak!"
Bian benar-benar melakukan apa yang diucapkannya. Dia menghentikan mobilnya di tepi jalan tol yang sepi. Dia menatap Visha dengan penuh cinta.
__ADS_1
"Bapak mau apa?" Visha terlihat curiga dengan apa yang akan dilakukan Bian.
"Bapak!!!" Pekik Visha yang tak dihiraukan oleh Bian yang langsung menarik tubuh Visha dalam dekapannya. Seperti biasa ia meraih bibir Visha dan membelainya lembut.
Visha mendorong tubuh Bian pelan. Lalu menatap kedua matanya.
"Aku mencintaimu, Visha..."
Visha tersenyum. "Iya, aku tahu..."
"Jawaban macam apa itu?"
"Sudah cepat jalankan mobilnya! Hari sudah mulai gelap jika kita tidak bergegas. Ini hari jumat, biasanya jalanan padat karena banyak yang pulang kampung dan mendekati akhir pekan." ucap Visha sedikit kesal.
Sekitar dua jam perjalanan, akhirnya mereka tiba di kediaman Visha. Rumah dengan halaman yang cukup luas dan dipenuhi beberapa pohon mangga khas rumah pedesaan. Mereka berdua disambut oleh Yanti, ibu Visha.
"Ibu..." Visha mencium punggung tangan ibunya.
"Bagaimana perjalanannya?" tanya Yanti.
"Lancar, Bu." jawab Visha.
Visha yang sudah memberitahu lebih dulu pada ibunya jika ia akan datang bersama Bian, disambut gembira oleh Yanti dan juga Ali.
Bian yang baru pertama kali melihat Ali yang mulai tumbuh dewasa merasa sangat bahagia dan terharu. Hampir saja ia meneteskan air matanya, namun segera ia mengerjapkan matanya untuk menetralkan hati.
Visha memperkenalkan Bian pada ibunya. Yanti tersenyum gembira melihat putrinya membawa seorang pria yang diakuinya sebagai pria spesial, seperti martabak saja.
"Bapak mana, Bu?" tanya Visha.
"Bapak sedang rapat bersama Pak RT. Mungkin sebentar lagi pulang. Mari masuk Nak Bian."
"Iya, Bu." jawab Bian.
Bian merasa gugup. Visha mengelus lengan Bian, dan menenangkannya.
"Kalian membersihkan diri dulu saja, setelah itu makan malam bersama. Visha, antarkan Nak Bian ke kamar tamu."
"Iya, Bu. Ayo, Pak!"
Visha meraih tangan Bian yang ternyata sangat dingin. "Bapak kenapa? Sakit?"
"Bapak gugup? Tenang saja, ibu orangnya baik kok. Dan bapakku... Dia juga tidak galak."
"Ini pertama kalinya aku bertemu calon mertua..." Bian menggaruk tengkuknya.
"Iya, tidak apa. Santai saja. Tarik nafas lalu hembuskan. Kalau begitu bapak sebaiknya mandi dulu, nanti aku tunggu di ruang tengah ya."
Usai membersihkan diri, Bian keluar dari kamarnya dan mencari Visha. Ternyata di depan kamar Bian, Ali sudah menunggunya.
"Ali?"
"Om sudah tahu namaku?"
"Iya, mama kamu sering cerita tentangmu."
"Apa Om menyukai mama?"
"Eh?"
"Mama tidak pernah dekat dengan lelaki, tapi tiba-tiba Om datang kesini."
Bian tertawa kecil. Ali seperti pengawal untuk Mamanya. Bian bersyukur karena putranya tumbuh dengan baik.
"Boleh Om memelukmu?"
"Boleh saja."
Bian sedikit menundukkan badannya agar sejajar dengan Ali. Bian memeluk erat putranya itu.
Visha terharu melihat pemandangan itu di depannya. Bian pasti sangat merindukan putranya selama ini.
"Dengar, Ali. Om sangat mencintai Mama kamu. Apa Om boleh menikahi Mamamu?"
Ali menatap Bian dengan tajam. "Om serius?"
__ADS_1
Ali memang akan berusia 10 tahun, namun cara berpikirnya sangatlah dewasa.
"Jadi, Ali akan memiliki Papa?" tanya Ali dengan mengerutkan dahi.
"Iya. Om akan jadi Papa Ali."
"Hmm, akan kupikirkan."
"Heh?" Bian merasa terkejut karena anak seusia Ali bisa bersikap dewasa.
"Kita bertarung game dulu, bagaimana?" tantang Ali.
"Oke, siapa takut!"
Ali dan Bian menuju ruang tengah dan duduk bersebelahan. Mereka memainkan game balap mobil.
Mereka bermain sambil berseru gembira hingga memancing keingintahuan Visha dan Yanti.
"Mereka langsung akrab, Nduk. Sudah, jangan lama-lama pacarannya, langsung nikah saja."
"Ibu! Apa sih?" Visha tertunduk malu.
"Bian terlihat sangat mencintaimu, nduk. Ibu bersyukur karena kamu akhirnya menemukan seseorang yang membuatmu bahagia."
Visha hanya menjawab dengan senyuman.
Tak lama Haryono datang dan mendengar ada keributan dari ruang tengah.
"Ada apa ini? Ramai sekali!"
Haryono bertemu pandang dengan Bian. Bian langsung terdiam.
"Bapak sudah pulang? Pak, kenalkan, ini Mas Bian. Dia..." Visha mengenalkan Bian namun suaranya tercegat oleh Ali yang langsung menyambar.
"Dia adalah calon Papa Ali, Mbah Kung." celetuk Ali.
"Eh?"
Bian saling pandang dengan Visha.
"Sebaiknya kita makan dulu saja, nanti kita bicara lagi." ucap Yanti untuk memecahkan kecanggungan yang terjadi.
Makan malam pun telah usai, kini Bian duduk di ruang tamu di temani Visha. Mereka menunggu Haryono dan Yanti untuk ikut bergabung.
Bian menggerakkan kakinya tanda jika ia merasa gugup.
"Bapak tenang saja! Mereka tidak akan bertanya macam-macam." Visha terus menunjukkan senyumnya agar Bian tenang.
"Visha benar! Bapak tidak akan bertanya macam-macam." Haryono mendengar pembicaraan mereka lalu memposisikan diri duduk didepan Bian.
"Bapak hanya akan bertanya satu macam saja padamu, Nak Bian."
Bian menelan ludah mendengar suara tegas dari Haryono.
"Apa kamu benar-benar serius dengan anak bapak?"
Dengan cepat Bian menjawab. "Tentu! Saya serius dengan putri bapak."
"Lalu jika besok kamu diminta untuk menikahinya, apakah kamu bersedia?"
"Iya, saya sangat bersedia! Bahkan menikah sekarang pun saya siap!" ucap Bian lantang.
"Hah?" Visha dan Yanti melongo tak percaya dengan apa yang sedang dilakukan oleh dua pria yang duduk berhadapan itu.
...πππ...
Bersambung,,,
.
.
Haluuuuh, UP lagi gaess π
*aseeeeekkkk kawin niih, eeeh nikah deng!!!!π π π duh, Bian wez kebelet nikah gaesd ππ
__ADS_1
*Ojo lali jejakmu yoooπ£π£ππitu adalah semangat buatkuhπ
...~matur thank you~...