Labuhan Cinta Sang Playboy

Labuhan Cinta Sang Playboy
S2 - Sebuah Titik Terang


__ADS_3

...šŸšŸšŸ...


"Ada apa ini?" Bian sudah rapi dengan setelan jasnya dan melihat seperti ada ketegangan diantara Visha dan Reza.


Visha segera mendekati suaminya dan berkata jika tidak ada yang terjadi diantara ia dan Reza.


Bian berpamitan pada Visha, lalu mencium bibir Visha di depan Reza.


Reza hanya mendelik tak percaya jika mantan kekasihnya sekarang menjadi wanita simpanan bosnya.


Reza memalingkan wajah kala melihat adegan yang tak seharusnya ia lihat.


Bian mengelus wajah Visha lalu ia pergi bersama Reza.


Didalam mobil, terjadi kesunyian antara Reza dan Bian. Namun Bian tak mau jika Reza berpikir buruk tentang Visha. Ia akhirnya angkat bicara.


"Kau jangan berpikir buruk tentang Visha. Aku menikahinya dengan sah, dan dia adalah istriku." ucap Bian.


"Eh? Maaf, Pak."


"Aku tahu selama ini kau menjadi orang kepercayaan Sania. Tapi, jika kau masih menyukai pekerjaanmu, maka... Lakukan saja hal yang berkaitan dengan pekerjaanmu dan tidak perlu mencampuri urusan apapun yang tidak berhubungan dengan urusan pekerjaan."


Kalimat Bian membuat Reza menelan salivanya. Ia pun mengangguk seraya mengiyakan apa yang diucapkan Bian.


Aku masih butuh pekerjaan ini. Lebih baik aku tidak mencampuri urusan Pak Bian dan Visha. Biarlah mereka menyelesaikan urusan mereka sendiri. Batin Reza.


.


.


.


Visha menimang-nimang untuk menghubungi Zayn. Ia harus mengundurkan diri dari pekerjaannya. Meski ia merasa tidak enak tapi tetap saja ia sudah memutuskan untuk menemani Bian dan berhenti bekerja.


Tut...


Tut...


Telepon tersambung. Visha masih cemas jika Zayn tidak mau mengangkat panggilan darinya.


"Halo, Visha..."


Visha cukup terkejut karena Zayn ternyata bersedia menerima panggilan darinya.


"Halo, Pak... Maaf jika saya mengganggu."


"Tidak. Ada apa? Kau hari ini tidak masuk kantor?"


"Umm, maaf pak. Saya ingin... mengundurkan diri dari Zayn Building. Maaf jika ini mendadak."


"Jadi kau sudah mengambil keputusan?"


"Eh? Iya, Pak. Saya..."


"Tidak apa. Aku senang karena kau berani mengikuti kata hatimu. Mulai sekarang, berbahagialah."


"I-iya, Pak. Terima kasih karena selama ini bapak sudah baik terhadap saya."


"Jangan sungkan. Mengenai proyek yang sedang kau tangani, akan dilanjutkan oleh adikku, Zalia. Dia sudah selesai menempuh pendidikannya di luar negeri."


"Ah, begitu ya..."


"Sudah dulu ya, Visha. Aku harus rapat dengan klien."


"Ah, iya Pak. Sekali lagi terima kasih."


Tut. Panggilan berakhir.


Visha bisa bernafas lega sekarang. Ternyata Zayn memang berhati baik.


Sore itu Visha sedang menyiapkan camilan sore karena sebentar lagi Bian akan pulang. Tiba-tiba ponsel Visha berdering. Panggilan dari Bian.

__ADS_1


Mata Visha berbinar. "Halo, mas..."


"Sayang, bersiap-siaplah. Lima belas menit lagi aku menjemputmu."


"Eh, mau kemana?"


"Jangan banyak bertanya. Aku akan membawamu ke suatu tempat."


"Hmm, baiklah."


Visha mengganti dress rumahannya dengan dress selutut berwarna biru langit berlengan pendek. Ia menggerai rambutnya dan mengoles sedikit pemerah bibir berwarna nude pink.


Bel apartemen berbunyi. Visha melihat suaminya berdiri di depan pintu dan memandangi dirinya.


"Ayo, mas!" Visha menutup pintu.


Namun Bian masih terdiam mematung. "Kau sangat cantik istriku..."


"Apa sih, mas?" Visha menunduk malu mendengar rayuan Bian.


Bian benar-benar tak bisa menahan hasratnya. Segera ia raih tengkuk. Visha dan mencium bibir Visha lembut.


Visha yang tak siap dengan serangan Bian, memukul dada Bian pelan.


"Mas!!! Ini di tempat umum, jangan begini." Visha mendorong tubuh Bian pelan.


"Kenapa? Kita 'kan pasangan suami istri."


"Tetap saja tidak boleh begini! Jadi pergi atau tidak?"


"Iya, sayang. Ayo!" Bian meraih tangan Visha dan digenggamnya erat.


.


.


.


Tempat itu sudah berubah total, karena renovasi yang dilakukan tiga tahun silam.


"Mas... Kau membawaku kesini?" mata Visha berbinar bahagia.


"Iya, kau tidak sempat melihat pembangunannya, bukan? Karena kau mengundurkan diri. Lalu banyak hal. menimpa kita, dan pembangunan dilanjutkan oleh Donny."


Visha amat bahagia bisa kembali ke tempat itu.


"Tempat ini adalah saksi dimana aku untuk pertama kalinya mengakuimu dalam hatiku. Entah kenapa saat melihatmu menjadi relawan disini, itu menggetarkan hatiku..." cerita Bian.


"Mas..." Visha tak pernah tahu jika Bian menyimpan cerita seperti itu tentang dirinya.


Seorang wanita paruh baya sedang mengawasi anak-anak panti yang sedang bermain.


"Ibu Nur...!" panggil Visha.


Wanita bernama Nur itu memandangi Visha dengan seksama. "Maaf, cari siapa ya?"


"Saya Visha, bu. Saya pernah bekerja sebagai relawan di panti ini. Sekitar tiga tahun lalu..."


"Eh? Visha?" Nur nampak berpikir sejenak.


"Ya ampun!!! Visha! Iya, ibu ingat. Kau nampak berbeda. Kau bertambah cantik sekarang."


"Duh, ibu bisa saja. Bagaimana kabar ibu?"


"Baik. Oh ya, ini siapa?" Nur menunjuk ke arah Bian.


"Saya Bian, saya suami Visha." Bian mengulurkan tangan.


Suami?


Mendengar Bian menekankan kata suami membuat Visha begitu bahagia.

__ADS_1


"Ya sudah, kalian silahkan berkeliling dulu. Ibu harus mengawasi anak-anak."


"Iya, bu."


Visha mengedarkan pandangannya ke semua arah. Semua nampak berbeda.


"Akhirnya panti ini jadi lebih nyaman untuk anak-anak dan juga para lansia. " Ucap Visha.


Tiba-tiba netranya tertuju pada seorang nenek yang sedang duduk sendiri di atas kursi roda.


"Nenek Aminah!!!" Seru Visha lalu berlari ke arah nenek itu.


"Nenek! Nenek masih mengingatku? Aku Visha, Nek."


Bian menggeleng pelan. "Sayang, nenek itu tidak mungkin ingat padamu."


"Hmm, iya benar juga. Syukurlah nenek baik-baik saja. Ayo, Nek aku antar ke kamar ya."


Visha mendorong kursi roda Nenek Aminah masuk ke dalam panti jompo.


Bian berjalan di belakang Visha. Namun terhenti kala seorang pria tua memegangi lengannya sambil. bergumam.


"Bian!! Bian putraku!"


DEG.


Bian dan Visha membulatkan mata mendengar kakek itu menyebutkan nama Bian.


"Bian, ini bapak, nak. Akhirnya kau datang juga! Bapak sudah lama menunggumu."


Kakek itu memeluk lengan Bian dan enggan melepasnya.


Visha mendekati Bian. "Mas... Apa yang terjadi? Jangan-jangan..." Visha tak melanjutkan kalimatnya dan hanya menatap Bian. Begitu pula dengan Bian yang tak mampu berkata apapun.


Karena kasihan melihat kakek itu, maka Bian menemani kakek itu hingga kakek bernama Adi itu terlelap tidur.


Bian melihat sekeliling kamar kakek Adi dan melihat sebuah foto di atas nakas.


Bian mengambil foto itu dan sangat terkejut karena melihat wajahnya sama dengan wajah putra kakek Adi.


Apa ini? Jadi benar jika wajahku adalah wajah Biantara.


Bian mencoba mengingat bagaimana bisa ia berakhir menjadi Bian. Ia mencoba mengingat malam kecelakaan itu.


Bian ingat jika saat mobilnya terguling, ada seseorang yang menghampirinya dan berusaha menolongnya. Orang itu adalah Biantara Adiguna.


Bian memegangi kepalanya, dan berteriak kesakitan. Visha yang mendengar teriakan Bian segera menghampiri Bian begitu juga Ibu Nur.


"Mas!!! Apa yang terjadi?" Visha memegangi tubuh Bian yang hampir terjatuh.


Visha mengambil foto yang ada di tangan Bian dan menutup mulutnya.


"Mas!!! Jadi benar jika wajahmu adalah wajah orang bernama Biantara."


Dalam kesakitannya Bian menganggukkan kepalanya.


"Aaaarrrggghhhh!!!" Bian merintih kesakitan.


"Mas, bertahanlah. Kita pergi ke rumah sakit sekarang ya!"


Visha menghubungi Donny dan memintanya segera datang ke panti asuhan.


...šŸšŸšŸ...


bersambung,,,


Hai hai šŸ‘‹šŸ‘‹ jangan lupa mampir juga ke story author yg lain ya, ada "The Broken Leaf" yg masih ongoing dan "99 Cinta Untukmu" yg sudah tamat.


*Jangan lupa tinggalkan jejak kalian utk Bian dan Visha (Bisha 😬😬)


Karena kalian adalah semangatku šŸ˜ššŸ˜ššŸ’ŖšŸ’Ŗ

__ADS_1


...~Thank You~...


__ADS_2