
...ššš...
Donny dan Eman memapah tubuh Rocky menuju ke tempat parkir. Rocky belum sepenuhnya tak sadarkan diri. Ia masih bisa mengenali sekelilingnya.
"Visha ... " lirih Rocky yang melirik ke arah Visha yang sedang panik.
Sesampainya di mobil, tubuh Rocky yang hendak di baringkan kedalam mobil tiba-tiba meronta dan malah memegangi tangan Visha.
Karena tak kuasa menolak, Visha ikut masuk kedalam mobil dan menemani Rocky.
Suhu tubuh Rocky mulai naik. Ia mulai mengalami demam. Tangan Rocky menggenggam erat tangan Visha. Visha membaringkan kepala Rocky diatas pangkuannya.
Visha memegang kening Rocky yang demam. Bercak ruam kemerahan mulai terlihat di sekujur tubuhnya.
Visha sangat menyesal karena sudah menyebabkan alergi Rocky kambuh. Ia berdo'a dalam hati semoga Rocky baik-baik saja.
Di rumah sakit, Rocky langsung ditangani oleh para dokter. Visha dan Donny menunggu di depan ruang IGD.
Donny mengusap wajahnya. Ia berusaha tetap tenang meski sebenarnya hatinya panik.
"Maafkan aku ... " ucap Visha.
"Tidak apa-apa. Kau tidak mengetahui jika Bos Rocky memiliki alergi. Kau tenang saja! Ini hanya berlangsung selama satu hari jika dia segera ditangani."
Beberapa menit berlalu. Mereka masih setia menunggu di depan ruang IGD, namun belum ada perawat yang mengabari mereka perihal kondisi Rocky.
Visha menelepon Edo dan memintanya untuk segera mengantar pesanan ke kantor Galang.
Donny teringat jika siang ini Rocky sudah memiliki janji dengan klien baru.
"Oh ya, apa aku bisa meminta tolong?" ucap Donny.
"Minta tolong apa?"
"Tolong jaga Bos Rocky. Aku harus pergi menggantikan dia untuk menemui klien baru."
Visha berpikir sejenak. Menolak rasanya tak enak hati.
"Umm, ya sudah. Aku akan menjaga Pak Rocky. Lagipula, ini semua terjadi karena kesalahanku." Visha menjawab dengan menunduk.
"Jangan terus menyalahkan dirimu. Ini hanya kecelakaan. Kalau begitu, aku pergi dulu. Tolong jaga Bos Rocky."
Sepeninggal Donny, seorang perawat meneriakkan sesuatu.
"Keluarga Rocky Abraham!"
Visha tersentak dan segera menghampiri si perawat.
"Iya, saya!" jawab Visha.
"Pasien sudah dipindahkan ke ruang rawat VVIP. Saya akan tunjukkan ruangannya."
"Eh?" Visha terkejut.
Ruang rawat VVIP? Yang benar saja? Apa aku harus membayar tagihannya juga? Donny sudah pergi. Apa yang harus kulakukan?
Sesampainya di sebuah ruang kamar yang bertuliskan VVIP, si perawat berpamitan dengan Visha.
Daripada Visha terus bertanya-tanya dalam hati, lebih baik ia tanyakan langsung pada si perawat.
"Permisi!"
"Ada apa Nona?"
"Mmm, bagaimana dengan pengurusan administrasi pasien? Apa saya ... "
__ADS_1
"Oh, Nona tenang saja. Pak Rocky adalah anggota tetap di rumah sakit ini. Jadi, tidak perlu mengurus administrasi." jelas si perawat.
"Oh, begitu." Visha menganggukkan kepala tanda mengerti.
"Saya permisi, Nona." pamit si perawat.
Anggota tetap katanya? Apa dia sering sakit hingga harus menjadi anggota di rumah sakit ini?
Visha terus bertanya bingung dalam hati. Namun ia tak memikirkan lebih lanjut karena ia harus melihat bagaimana kondisi Rocky.
Dengan pelan Visha membuka pintu kamar, dan melihat Rocky sedang terbaring di ranjang rumah sakit dengan mata terpejam.
"Sepertinya dia sedang tertidur." gumam Visha.
Visha mendekati ranjang Rocky dan duduk di samping ranjang. Visha menatap Rocky dengan iba.
Tiba-tiba Rocky membuka mata dan membuat Visha cukup kaget.
"Eh? Kau sudah bangun? Aku akan menghubungi Mas Galang."
"Jangan!" ucap Rocky lirih dengan meraih tangan Visha yang memegang ponsel.
"Kenapa? Bukankah sebaiknya kita menghubungi keluargamu?"
"Aku bilang jangan! Aku tidak mau membuat Kak Galang khawatir. Dia pasti sangat sibuk. Aku tidak mau menggangu pekerjaannya."
Visha tak bisa menolak permintaan Rocky. Ia memasukkan ponselnya kedalam tas.
"Tolong temani aku!"
"Eh?"
"Jangan pergi! Tetaplah disini! Aku tidak mau sendirian." pinta Rocky dengan kesadaran yang hampir hilang.
Dokter memberinya obat agar bisa tertidur dan menurunkan demamnya.
Lagi-lagi Visha tak kuasa menolak. Ia membiarkan Rocky tertidur dengan menggenggam tangannya.
Setelah dirasa Rocky telah pulas tertidur, Visha melepaskan tangannya dari genggaman Rocky.
Visha merasakan kantuk yang mulai menyerang dan akhirnya ia ikut memasuki alam mimipi di sebelah ranjang Rocky.
...***...
Sudah sekitar dua jam Rocky tertidur. Ia mulai membuka mata dan mendapati dirinya ada di kamar rumah sakit. Sedari tadi ia masih belum sadar jika dirinya terbaring di rumah sakit.
Rocky mengedarkan pandangan ke seluruh kamar dan terkejut mendapati Visha tengah tertidur di sebelah ranjangnya dengan pulas.
Rocky tersenyum kecil melihat Visha tidur dalam kedamaian. Ia mencoba mengingat bagaimana Visha ada bersamanya.
Dan ia ingat jika ia meminta Visha untuk tidak meninggalkannya. Dan ternyata Visha melakukan itu.
Rocky berterimakasih dalam hati. Ia mengangkat tangannya seraya ingin membelai lembut rambut Visha.
Namun ia urungkan karena ia mendengar suara dua orang sedang berbincang di depan kamarnya. Itu adalah kakaknya dan seorang dokter.
"Bagaimana kondisinya, Dokter?"
"Kami sudah memberi obat penurun demam dan juga untuk alerginya."
Visha yang sedang berada di alam mimipi, sayup-sayup mendengar suara seseorang. Namun ia masih enggan untuk membuka mata.
Hingga akhirnya Visha menyadari jika suara yang ia dengar adalah suara Galang. Secepat kilat Visha terbangun dan merapikan rambut dan bajunya.
Sementara Rocky, ia segera memejamkan matanya kembali agar Visha tak curiga.
__ADS_1
"Mas Galang? Dia sudah tiba? Siapa yang memberitahunya?"gumam Visha.
Visha segera meraih tasnya dan menghampiri Galang yang sedang menjabat tangan sang dokter. Dokter itu berpamitan pada Galang.
"Mas?" sapa Visha.
"Visha, bagaimana kondisi Rocky?"
"Dia masih tertidur. Siapa yang memberitahumu jika Rocky ada di rumah sakit?"
"Aku!" sebuah suara menghampiri mereka berdua. Itu adalah Donny.
"Visha, terima kasih karena sudah menemani Rocky." ujar Galang.
"Mas, aku benar-benar minta maaf. Karena aku ... "
"Sudahlah. Rocky sudah ditangani oleh dokter terbaik. Kau jangan cemas. Oh ya, Donny. Kalau begitu aku titip Rocky padamu. Aku akan mengantar Visha pulang. Dia pasti lelah sudah menjaga Rocky sejak tadi."
"Iya, Pak. Bapak jangan khawatir."
"Jika terjadi sesuatu, segera menghubungiku!"
"Baik, Pak."
"Ayo, Visha!" Galang meraih bahu Visha dan memeluknya.
Mereka berjalan beriringan. Sesekali Visha menunjukkan senyum terbaiknya pada Galang.
...***...
Donny masuk ke dalam kamar dan menghampiri ranjang Rocky.
Dilihatnya Rocky yang masih terpejam tiba-tiba membuka matanya.
"Astaga! Bos?! Kau membuatku kaget!! Bos sudah bangun?"
"Mereka sudah pergi?"
"Iya."
"Kenapa kau menghubungi Kak Galang?"
"Tentu saja dia harus tahu, Bos. Dia adalah kakak Bos dan dia sangat peduli pada Bos."
"Tapi aku tidak suka ... "
"Heh? Tidak suka? Tidak suka bagaimana, Bos?"
"Ah, sudahlah! Kau keluar saja! Saat ini aku sedang ingin sendiri."
"Bos?" Donny mengerutkan dahinya.
"Keluar!!!" Ulang Rocky dengan nada cukup tinggi.
"Baik, Bos." Donny merasa takut dengan amarah Rocky dan segera melarikan diri dari ruangan itu.
"Ada apa dengannya?" lirih Donny setelah keluar dari kamar Rocky.
Rocky mulai memposisikan dirinya untuk duduk. Kondisinya sudah mulai membaik setelah tidur selama beberapa jam.
Namun hatinya tak bertambah baik. Ada rasa sesak disana kala melihat kakaknya membawa Visha pergi.
Ada apa denganku? Kenapa perasaanku jadi seperti ini? Tidak mungkin!!! Tidak mungkin aku merasakan sesuatu pada Visha!! Dia adalah calon kakak iparku!
...ššš...
__ADS_1
----------tobe continued----------