
...πππ...
Rocky sampai di apartemennya dengan hati yang patah. Langkah gontainya membuat orang-orang yang melihatnya mengerutkan dahi heran. Tidak biasanya Rocky tak bersemangat.
Rocky sampai di depan kamar apartemennya. Ia ragu apakah akan masuk atau tidak. Ia memikirkan banyak hal. Ia ingin melepas hal yang mengganggu hatinya.
Ia memutar badan dan kembali turun menggunakan lift. Ia berjalan ke sebuah tempat yang dekat dengan apartemennya.
Miracle Club, disinilah Rocky berada. Ia memesan wine dan meneguknya dengan sekali teguk. Sudah lama ia tak minum. Namun malam ini, ia mematahkan janji yang ia buat sendiri pada dirinya.
"Sudah lama tak datang kesini, Mas Rocky," sapa si bartender.
"Hmm." Rocky hanya menjawab dengan berdehem.
Rocky meletakkan gelasnya di atas meja, yang artinya ia meminta untuk menambah minumannya.
Si bartender, bernama Roni dengan sigap segera menuang wine kedalam gelas Rocky. Rocky mengerjap merasakan wine yang melewati kerongkongannya.
Hingga satu jam telah berlalu, dan Rocky ambruk tak sadarkan diri.
Donny yang mendapat telepon dari si bartender segera datang ke tempat Rocky.
"Bos? Apa yang terjadi?" Donny memapah tubuh Rocky keluar klab.
Donny segera membawa Rocky ke kamar apartemennya dan merebahkan tubuhnya ke ranjang.
"Ada apa denganmu, Bos? Kenapa tiba-tiba mabuk seperti ini?"
Donny hendak melangkah pergi. Namun terhenti ketika mendengar Rocky mulai meracau.
"Visha..."
DEG. Donny terkejut mendengar bosnya menyebut nama Visha. Ia mendekati tubuh Rocky dan menajamkan pendengarannya.
"Visha... Aku mencintaimu..."
Donny menutup mulutnya dengan tangan.
Apa aku tidak salah dengar? Bos Rocky menyukai Visha? Bagaimana bisa? Visha adalah tunangan kakaknya.
Donny menggaruk kepalanya. Ia mengingat semua tingkah Rocky beberapa waktu ini. Banyak keanehan disana.
Jadi semua ini karena Visha?
Donny menarik nafas kasar. Sekali lagi ia melihat Rocky kacau karena wanita. Dulu Sania, kini Visha. Bagaimana bisa mantan playboy seperti Rocky bisa kacau dalam sehari hanya karena wanita? Donny masih belum bisa menemukan jawabannya.
Donny yang akan pergi dari kamar Rocky mengurungkan niatnya. Ia akan menginap untuk menemani Rocky. Ia merasa iba dengan bosnya itu.
.
.
.
Keesokan harinya,
"Astaga!" Rocky terkejut mendapati tubuh Donny yang tertidur pulas di atas sofanya.
Rocky menendang kaki Donny agar bangun. "Don! Bangun!"
Donny mulai membuka matanya dan mendapati Rocky sedang berdiri berkacak pinggang didepannya.
"Eh, Bos! Selamat pagi, Bos," sapa Donny tanpa dosa.
"Apa yang kau lakukan dikamarku?" Tanya Rocky.
"Apa bos lupa? Semalam bos mabuk berat, dan aku yang membawa bos kemari," jelas Donny.
Rocky mencoba mengingat apa yang terjadi semalam. Hanya kepingan kecil saja yang ia ingat.
"Lalu kenapa kau sampai menginap disini? Apa kata orang jika melihat dua pria didalam satu kamar?"
__ADS_1
"Memangnya kenapa? Kita 'kan sudah sering melakukannya, hahaha."
"Sembarangan!!!" Rocky mengepalkan tinjunya.
"Aku khawatir dengan bos, karena semalam bos mengigau menyebut nama Visha."
DEG.
Rocky panik. Bahkan di alam bawah sadarnya pun ia masih mengingat Visha.
"A-apa yang aku katakan soal Visha?" Tanya Rocky gugup.
Donny menatap Rocky iba. "Bos bilang bos mencintainya."
Rocky membulatkan matanya. Bahkan mengigau pun ia mengakui perasaannya pada Visha.
"Bos... Apa benar bos mencintai Visha?"
Rocky memilih diam.
Dan diamnya Rocky membuat Donny paham jika dugaannya memang benar.
"Bersiaplah! Kita harus pergi ke kantor."
Itulah kalimat terakhir Rocky sebelum akhirnya ia menghilang dibalik pintu kamar mandi.
...π...
Proyek pembangunan ulang panti asuhan sudah hampir selesai dan akan berganti ke gedung sebelah yaitu gedung panti jompo.
Visha meneliti cetak biru yang sudah ia buat. Ia tersenyum puas. Dalam senyumnya ia berharap dan berdoa.
Jika aku tidak bisa mewujudkan mimpi orang tuaku, paling tidak aku berusaha untuk mewujudkan impian orang-orang jompo disini.
Visha kembali berdiskusi dengan kepala pekerja. Kemudian kembali ke gedung panti asuhan. Ia akan mendekor ulang kamar anak-anak panti.
"Mbak..." Suara Eman memanggil Visha.
"Aku dengar Mbak Visha mau menikah minggu depan."
Visha terdiam, lalu menjawab.
"Iya," jawab Visha singkat diiringi senyum yang dipaksakan.
"Kalau begitu Mbak harus mengambil cuti."
"Eh?"
"Bicarakan saja dengan Pak Rocky. Aku yakin beliau mengijinkan. Lagipula Pak Rocky 'kan calon adik ipar Mbak Visha."
"Ah, iya. Terima kasih, Mas Eman."
Visha menghela nafas. Entah kenapa matanya mulai berembun.
Satu minggu lagi. Iya, satu minggu lagi. Maka aku harus bisa bahagia.
.
.
.
Visha menemui Rocky di ruang kerjanya. Rocky nampak sedang sibuk di depan layar komputernya.
"Maaf, Pak. Bisa saya minta waktu bapak sebentar?"
"Hmm." Rocky tak menatap Visha dan tetap fokus ke layar didepannya.
"Ada yang ingin saya sampaikan kepada bapak."
"Hmm."
__ADS_1
Apa yang sebenarnya dia kerjakan? Kenapa sedikit pun tak menoleh ke arahku?
"Saya ingin mengundurkan diri."
Barulah Rocky menghentikan pekerjaannya dan menatap Visha.
"Maaf, jika ini mendadak. Ini surat pengunduran diri saya." Visha meletakkan sebuah amplop ke meja Rocky.
Rocky menarik nafas kasar. "Karena akan menikah?"
"Eh?"
"Kau mengundurkan diri karena akan menikah?"
"I-iya, Pak."
"Baiklah. Saya terima surat pengunduran dirimu. Kau boleh keluar!" Rocky kembali ke pekerjaannya.
"Eh?"
"Apa ada lagi yang ingin kau sampaikan?"
Hanya begitu saja? Hanya segitu saja dia meresponnya? Batin Visha mengharap sesuatu yang lebih.
"Ti-tidak ada, Pak. Kalau begitu saya permisi."
Visha membalikkan badannya dan melangkah keluar dari ruangan Rocky.
Rocky melihat punggung Visha menjauh. Ia mengumpat dalam hati dan segera bangkit dari kursi kerjanya.
Rocky meraih tangan Visha dan memeluk tubuh Visha. Visha terkejut dengan sikap Rocky yang tiba-tiba memeluknya. Namun Visha tak menolak.
Terdengar suara isak tangis ketika tubuh Visha berada dalam dekapan Rocky. Visha menangis. Rocky mengeratkan pelukannya.
Di ruang yang hanya ada mereka berdua saja ini, Rocky berani mengekspresikan perasaannya.
Rocky pun ikut menangis dalam diam. Dia tak menyangka jika kisah cintanya akan berakhir bahkan sebelum dimulai.
Rocky melepaskan pelukannya dan menghapus air mata Visha dengan jarinya. Dilihatnya lekat wajah Visha yang sembab.
"Bolehkah aku...?" Suara Rocky tercekat.
Visha balik menatap Rocky yang hendak mengatakan sesuatu.
Dalam sisa-sisa tangisannya, Visha mengangguk.
Rocky meraih wajah Visha yang sedari tadi ia bingkai dengan tangannya semakin dekat. Visha sedikit berjinjit agar bisa mensejajari posisi Rocky. Visha berpegang pada tangan Rocky yang melingkari wajahnya.
Dan tak lama bibir mereka bertemu. Sebuah ciuman panjang terjadi. Dan kali ini Visha membalas ciuman Rocky.
Sepasang mata yang melihat pemandangan didepannya mengerjap beberapa kali. Ia tak percaya dengan apa yang ia lihat.
Bos Rocky? Dan Visha? Mereka...berciuman...?
Donny menutup mulutnya dan mengatur nafasnya yang terasa terengah. Ia segera bersembunyi di balik sebuah dinding ketika melihat Visha berlari meninggalkan Rocky dengan air mata yang berderai.
Donny melirik ke arah bosnya yang juga sedang memukul dinding. Mata bosnya itu merah, pertanda jika ia juga menangis seperti Visha.
Donny merasa dadanya ikut sesak.
Sungguh kisah cinta yang tragis. Mereka saling mencintai tapi tak bisa bersama. Batin Donny.
Dan tak terasa mata Donnypun berair. Dengan cepat ia menyeka air matanya. Ternyata kisah cinta bosnya berhasil membuat Donny menangis.
...πππ...
tobe continued,,,
#hedeehh nyesek againπππ
jangan lupa tinggalkan jejakπ£π£
__ADS_1
thank you