
...๐๐๐...
Bian datang ke gedung Zayn Building dan langsung berjalan ke ruangan milik Zayn.
Reza yang sedari tadi sudah menunggu Bian, segera bergegas mengikuti langkah Bian.
"Selamat pagi, Pak." sapa Reza.
"Pagi, kau sudah sarapan, Rez?"
"Eh?"
Tumben sekali Pak Bian menanyakan hal receh begini padaku...
"Saya sudah makan tadi, pak. Apa bapak ingin di siapkan sarapan?"
"Tidak, aku sudah sarapan. Meski bukan dengan nasi, hahaha." Bian tertawa geli mengingat ulahnya pada Visha pagi ini.
Reza merasa ada yang aneh dengan bosnya ini.
Tak lama mereka tiba di depan ruangan Zayn. Bian menyapa Lala.
"Selamat pagi, Lala... Apa Zayn ada didalam?"
Lala mengangguk diiringi senyuman manis di wajahnya. "Selamat pagi, Pak Bian. Pak Zayn ada di dalam, pak. Silahkan masuk!"
Bian segera melangkah namun tiba-tiba terhenti. "Kau disini saja, Reza. Aku ingin bicara berdua dengan Zayn."
"Eh? Baik, pak." Reza pun malah mendekati meja kerja Lala, dan sedikit menggodanya.
"Ish, sana kau jauh-jauh dariku..." usir Lala.
"Kenapa? Aku 'kan tidak menggigitmu."
"Cih, dasar menyebalkan! Bagaimana Visha dulu bisa jatuh cinta padamu? Dasar lelaki aneh!"
"Dengar, La. Kau jangan terlalu membenciku. Bisa jadi nanti kau jatuh cinta padaku."
"Dih, sorry ya. Aku sudah bertunangan." Lala menunjukkan jari manisnya ke arah Reza.
"Hahaha, masih belum ada janur kuning melengkung 'kan? Itu artinya kau masih bisa memilih pilihan lain."
"Ya ampun! Lama-lama aku bisa gila jika bersama denganmu. Aku akan ke pantry dan membuat kopi." Lala pun beranjak dari kursinya dan meninggalkan Reza.
Reza menatap Lala yang berjalan menjauh darinya.
Lala manis juga. Dia juga cantik, tapi sayang... dia sangat judes. Tapi over all, menarik. Dia membuatku terpikat...
.
.
.
-Di Ruang Zayn-
Bian memasuki ruangan Zayn dan melihat sahabatnya itu sedang sibuk dengan berkas-berkas di depannya.
"Apa kau sangat sibuk, Zayn?"
"Tidak juga, Bi. Aku hanya tidak suka menunda pekerjaan. Aku justru terkejut saat melihatmu datang kemarin. Bukankah kau tidak ada jadwal kunjungan kemari?"
"Itu benar. Aku sengaja memajukan jadwalnya karena ada yang ingin kukatakan padamu."
__ADS_1
Seketika Zayn beralih fokus menatap Bian. "Soal apa?"
"Bisakah kau mengganti pimpinan proyek ini?"
"Maksudmu? Kau tidak mau Visha yang menangani proyekmu?" Zayn mengernyit heran.
"Begitulah. Tapi, aku ingin dia menangani proyekku yang ada di Jakarta."
Zayn memposisikan dirinya berdiri dan menatap tajam Bian. "Apa maksudmu? Kau ingin membawa Visha ke Jakarta? Apa kau sudah gila? Kau sudah tahu bukan jika aku dan Visha adalah sepasang kekasih. Dan kau masih tak tahu malu ingin mendekatinya?"
"Bukankah kau bilang dia adalah karyawan terbaikmu. Aku hanya ingin yang terbaik yang jadi bagian dari proyekku. Kenapa kau terlihat marah?"
"Kau sengaja melakukan ini bukan? Kau sudah keterlaluan, Bian!" Zayn mengambil ponselnya dan menghubungi Visha, namun ponselnya tak aktif. Lalu menghubungi ruangan Visha namun tak ada yang menjawab.
"Kau mencari Visha?" tanya Bian yang kini terang-terangan akan mengatakan yang sebenarnya.
"Kau!!!" Zayn menghampiri Bian dan menarik dasi Bian.
"Kau jangan begini, Zayn. Kita buktikan saja siapa yang Visha pilih. Kau atau aku?"
Zayn merasa kalah dengan Bian. Bagaimanapun juga Visha pasti akan lebih memilih Bian dari pada dirinya.
Setelah mengucapkan semuanya, Bian berpamitan pada Zayn yang terlihat sangat kesal.
...~ ~ ~...
Siang harinya, Zayn berhasil menghubungi Visha melalui Heru. Zayn meminta Visha agar menemuinya di sebuah resto sekaligus untuk makan siang.
Tak mau kalah dengan Zayn, Bian mengikuti langkah kemana perginya Zayn dengan mobilnya. Kali ini ia menyetir mobil sendiri.
Ternyata Zayn dan Visha bertemu di resto langganan Zayn. Bian hapal suasana resto itu. Ia akan melancarkan aksinya di resto itu. Semoga saja tidak ada halangan.
Visha sudah lebih dulu tiba di sana dan ia menyambut kedatangan Zayn.
"Duduklah, Visha. Kau sudah memesan makanan?"
"Belum, pak. Bapak ingin makan apa? Biar saya pesankan."
"Samakan saja dengan pesananmu."
Visha memanggil pelayan dan memesan dua menu yang sama.
Visha merasa ada yang aneh dengan sikap Zayn.
"Apa terjadi sesuatu di kantor, Pak? Maaf jika tadi saya langsung ke lokasi proyek. Saya..."
"Tidak perlu kau jelaskan. Tidak apa. Kau adalah team leader proyek ini. Jadi kau berhak melakukan yang terbaik untuk proyek ini."
Visha mengangguk paham. Tak lama makanan mereka pun datang. Tak ada yang bicara selama menikmati makan siang mereka. Tadi pagi Visha juga tak sempat sarapan karena terlalu banyak berdebat dengan Bian. Alhasil kali ini ia makan dengan sangat lahap.
Usai makan siang, Zayn mengajak Visha ke suatu tempat. Visha hanya mengangguk dan tak menolak. Masih ada waktu sebelum jam makan siang berakhir.
Bian berdecak kesal karena ternyata Zayn membawa Visha pergi dari resto. Bian pun mengikuti kemana perginya mobil Zayn melaju, dan mulai merasa cemas. Ia takut jika Zayn melakukan sesuatu pada Visha karena kejadian tak mengenakkan pagi tadi.
Ternyata Zayn membawa Visha ke sebuah rooftop sebuah bangunan yang sudah lama terbengkalai.
"Mau apa kita kesini, pak?" tanya Visha dengan perasaan cemas.
"Kau tahu, pagi ini Bian datang menemuiku. Dan dia bilang dia ingin kau bekerja padanya di Jakarta." Zayn bicara tanpa berbasa-basi.
"Hah? Ke Jakarta?"
"Dia ingin kau menangani proyeknya yang ada disana. Apa kau bersedia?"
__ADS_1
"Tunggu, pak! Apa maksudnya ini? Saya tidak mengerti."
"Apa kau mencintai Bian?"
"Heh?"
"Jawab saja, Visha!"
"Jawablah, Visha!" Terdengar suara Bian dari arah tangga menuju rooftop.
"Kalian? Kalian merencanakan ini?" Visha terlihat kesal melihat dua pria yang seperti sedang mengerjainya.
Zayn sudah tahu jika Bian pasti akan mengikutinya. Ia hanya ingin menguji seberapa besar cinta Bian pada Visha.
Bian menghampiri Visha dan memeluk bahunya. "Kami saling mencintai, Zayn..."
"Pak Bian!!" Visha tak suka dengan sikap Bian. Ia segera menepis tangan Bian.
Bian tetap tak tinggal diam. Ia meraih tangan kiri Visha dan mengambil cincin yang ada di jari manisnya. Visha membulatkan mata.
"Ini! Kukembalikan milikmu. Visha tak butuh cincin darimu. Karena dia akan jadi milikku."
Zayn menerima cincin yang pernah ia beri pada Visha. Ia mengepalkan tangannya karena sangat marah, namun ia tak bisa berbuat apa-apa.
"Pak Zayn... Ini tidak seperti yang bapak..."
"Sudahlah, Visha. Aku tahu jika sejak awal kau menerimaku karena terpaksa. Aku pikir aku akan berusaha sekuat tenaga agar bisa membuatmu jatuh hati padaku. Tapi nyatanya... Kau tetap tidak akan menatap ke arahku. Kau hanya menganggapku sebagai atasanmu saja."
"Maaf, Zayn. Tapi aku tidak bisa membohongi dirimu lagi." Bian tampak menampakkan wajah menyesalnya. Visha masih tak percaya jika Bian akan melakukan ini pada sahabatnya sendiri.
"Kalau begitu, kita akhiri saja hubungan kita, Visha. Kau masih boleh bekerja denganku, atau kau akan menerima tawaran kerja dari Bian."
Hanya itu kalimat terakhir yang Zayn ucapkan sebelum akhirnya ia pergi. Visha yang ingin mengejar Zayn segera dicegah oleh Bian.
Visha sangat tak enak hati pada Zayn. Ia merasa kasihan melihat Zayn yang terluka.
"Biarkan dia pergi, Visha. Semakin lama kau menahannya, maka dia akan semakin tersakiti. Jika kau tidak bisa mencintainya kenapa harus menahannya? Dia juga berhak untuk bahagia."
Visha menatap tajam ke arah Bian. "Kau!! Kenapa melakukan ini? Bukankah sudah kubilang aku akan mengurusnya, kau tidak perlu menyakiti Zayn seperti ini." Visha menunjukkan emosinya.
"Inilah kelemahanmu, Visha. Kau tidak akan mampu untuk mengatakan apapun pada Zayn. Kau tidak akan mampu menyakitinya. Sama seperti dulu saat kau bersama Kak Galang."
Visha terdiam. Apa yang diucapkan Bian memang benar. Visha tak akan mampu menyakiti Zayn.
"Kau tidak tega menyakiti mereka tapi kau tega menyakitiku! Tidak dulu, tidak sekarang. Dengan kau bertahan dengannya, kau akan menyakitiku. Dulu pun kau sangat menyakitiku dengan tetap memilih Kak Galang. Apa kau pernah memikirkan tentang itu, Visha? Pernahkah? Apa kau pernah tahu bagaimana sakitnya aku saat kau lebih memilih kakakku yang tidak kau cintai dari pada aku yang kau cintai?"
Visha tertegun mendengar semua isi hati Bian. Sungguh ia sudah menyakiti hati Bian. Tidak dulu, tidak sekarang.
Bian pun berlalu dari tempat itu tanpa melihat ke arah Visha.
...๐๐๐...
bersambung,,,
.
.
*Duh, kok jadi begini si? ๐ต๐ต
*jangan lupa tinggalkan jejak kalian๐ฃkarena itu adalah semangatku๐ช
...~thank you~...
__ADS_1