Labuhan Cinta Sang Playboy

Labuhan Cinta Sang Playboy
S2 - Penjelasan Bian tentang Rocky


__ADS_3

...šŸšŸšŸ...


Setelah beberapa hari menahan rasa rindu terhadap suaminya, akhirnya Visha bisa bernafas lega karena hari ini ia akan pulang ke rumah, begitu juga dengan Bian yang berjanji akan menghabiskan akhir pekan bersama Visha dan Ali.


Ada rasa tak biasa yang dilihat Zayn ketika menatap Visha dengan senyum mengembangnya. Ia mungkin tak bisa mendapat hati Visha, tapi melihat kebahagiaan terpancar di wajah Visha, itu juga sebuah kebahagiaan tersendiri untuknya. Senyum yang tak pernah ia lihat selama tiga tahun mengenal Visha.


Zayn menghampiri Visha yang sedang menunggu ojek online nya datang.


"Sebaiknya kau menerima tawaran Bian. Kulihat kau tidak bisa berjauhan dengannya."


Visha merasa malu dengan kalimat Zayn. "Apa semua itu nampak jelas di wajah saya, Pak?"


"Haha, kau sudah tahu masih bertanya. Visha, kau sudah berjuang selama ini, jadi... Kau berhak untuk bahagia. Jika bersama Bian bisa membuatmu bahagia, maka lakukanlah."


"Heis, nanti bapak akan kehilangan saya loh. Saya adalah pegawai terbaik bapak, benar 'kan?"


"Haha, kau ini. Jika kebahagiaan pegawaiku lebih penting dari apapun, maka aku tidak akan menghalanginya."


Visha menatap Zayn dengan terharu. "Bapak adalah orang baik. Saya yakin bapak akan menemukan wanita yang baik pula."


"Terima kasih atas do'anya. Eh, itu sepertinya abang ojolmu datang. Hati-hati ya. Salam untuk Bian."


Visha mengangguk lalu naik ke atas motor abang ojol.


.


.


.


Bian harus mencari alasan yang tepat untuk bisa menemui Visha. Kemarin ia sudah menggunakan pekerjaan sebagai alasan. Tidak mungkin ia kembali menggunakan alasan itu. Sania akan curiga padanya jika ia terus-terusan pergi ke luar kota.


Namun rasa rindu dihatinya tak bisa ia pendam lagi. Sudah seminggu mereka terpisah jarak dan waktu.


"Ini tidak bisa dibiarkan. Aku harus membujuk Visha agar mau ikut bersamaku dan tinggal disini." gumam Bian.


Disaat hatinya sedang tak menentu, tiba-tiba ponselnya berdering. Visha menghubunginya.


Wajah Bian berubah pucat saat mendengar kata demi kata yang Visha ucapkan. Ia tak bisa menunda lagi kepergiannya. Malam itu juga Bian menuju ke kota Pekalongan.


Berkali-kali Sania menghubungi Bian saat ia tengah berada di kereta, namun tak satupun panggilan Sania yang Bian angkat. Ia memutuskan mematikan ponselnya.


Sekitar pukul tiga pagi, Bian tiba di rumah Visha dan keadaan rumah sudah sepi. Bian mengetuk pintu dan keluarlah Haryono membukakan pintu untuk Bian.


Bian segera meraih tangan Haryono dan mencium punggung tangannya. Haryono nampak tak bersahabat dengan Bian. Bian tahu apa alasannya.


"Sebaiknya kau istirahat dulu saja, Nak. Besok baru kita bicara." ucap Haryono.


Bian hanya menganggukkan kepala. Lalu ia menuju ke kamar Visha. Dilihatnya Visha sudah terlelap. Bian membersihkan diri lalu berbaring di samping Visha. Tubuhnya juga amat lelah. Ia pun ikut menuju alam mimpi.


Keesokan harinya, Visha terbangun dan melihat tubuh suaminya ada disampingnya. Visha tersenyum lega. Ia pun memeluk tubuh Bian yang masih terlelap.


Mendapat pelukan hangat dari Visha, Bian segera membuka mata. Ia tersenyum karena Istrinya lebih dulu memeluknya.


"Apa kau sangat merindukanku?" tanya Bian sambil menguap.


Visha mengangguk. "Apa kau sudah siap, Mas?"


"Tentu saja aku selalu siap!" Bian tersenyum penuh semangat.

__ADS_1


"Hish, bukan siap yang itu!! Tapi siap menghadapi bapakku."


"Haha, itu. Tentu saja aku siap. Lagi pula kenapa koran lokal sampai memasang foto keluargaku segala?! Yang akan membangun bisnis disini adalah aku, kenapa harus memakai foto Sania dan Alisa juga."


"Sudahlah, tidak ada gunanya marah-marah tidak jelas. Sebaiknya kita bersiap lalu menghadap bapak. Bapak terlihat sangat marah saat melihat berita di koran itu."


Bian menghela nafas kasar. "Baiklah. Kita akan hadapi bersama!"


.


.


Bian, Visha, Yanti dan Haryono. berkumpul di ruang tamu. Sementara Ali, Yanti lebih dulu mengungsikannya ke rumah tetangga. Tidak akan baik bagi Ali jika mengetahui kenyataan pahit mengenai orang tuanya.


"Silahkan kamu jelaskan tentang artikel yang ada di koran itu. Itu adalah fotomu bersama istri dan anakmu?" Haryono memulai dengan nada bicara yang masih tenang.


"Benar, Pak. Itu adalah foto saya, tapi... Sania bukanlah istri saya."


"Heh? Apa maksud Nak Bian? Apa kamu tidak mengakui anak dan istrimu?" tanya Yanti.


"Bukan seperti itu, Bu. Tapi, alangkah baiknya jika bapak bisa membaca berkas-berkas yang saya bawa ini terlebih dahulu." Bian menyerahkan sebuah amplop pada Haryono.


Haryono mulai membuka amplop itu dan membaca isinya. Ia mengerutkan keningnya ketika membaca tiap detil yang ada di dokumen itu.


Haryono kembali menatap Bian. "Apa maksudnya ini?"


"Seperti yang tertulis disana. Disana menyatakan jika saya adalah... Rocky."


Yanti menutup mulutnya tak percaya. Sementara Haryono hanya diam tak menanggapi.


"Apa maksud Nak Bian?" Yanti masih tidak mengerti.


"Lalu pernikahanmu dengan wanita di foto itu, bagaimana?"


"Ibu bisa baca di berkas-berkas itu. Saya tidak pernah menikah dengan Sania. Dan semua berkas yang ia gunakan selama ini adalah palsu."


"Pak... Bagaimana ini? Kenapa jadi begini?" Yanti melihat ke arah suaminya yang masih terdiam.


"Saya bahkan melakukan tes DNA dengan Ali, kalau-kalau bapak meragukan saya."


"Dan terbukti benar jika Ali adalah anak saya, Rocky Abraham." lanjut Bian.


"Ibu masih bingung dengan semua ini, Nduk. Kok ada yang tega melakukan ini pada kalian?"


"Maka dari itu, saya sedang menyelidiki siapa pelaku yang sudah melakukan ini pada kami."


"Lalu bagaimana dengan orang tuamu? Apa mereka tahu jika kau masih hidup?" Akhirnya Haryono mengeluarkan suara juga.


Bian menggeleng. "Papa dan Mama tidak tahu jika saya masih hidup. Sementara yang tahu hanya Visha dan Donny. Lalu sekarang, bapak dan ibu juga tahu."


Haryono menatap ke arah menantunya itu. Ia melihat kejujuran di mata Bian.


"Jadi, inikah mungkin alasannya kenapa kau tidak bisa melupakan Nak Rocky. Itu karena kau tahu jika ia akan kembali suatu saat nanti." ucap Yanti dengan berkaca-kaca.


"Entahlah, Bu. Visha hanya merasa, jika jiwa Rocky selalu hidup menemani Visha." Balas Visha.


"Jadi, sekarang apa rencana kalian?" tanya Haryono.


"Saya masih mencari dalang dari semua ini."

__ADS_1


"Apa kau curiga pada istri palsumu?"


"Ada kemungkinan jika Sania terlibat. Saya harus mengumpulkan bukti agar lebih kuat."


Visha meraih tangan Bian dan menggenggamnya erat. "Kita akan menghadapi ini bersama."


Bian mengangguk. "Terima kasih, istriku..."


Saat masih asyik berbincang, ponsel Bian berdering. Panggilan dari Donny.


Bian agak menjauh dari ruang tamu. Raut wajah Bian berubah serius dan menegang. Visha yang melihat gelagat aneh pada suaminya, segera menghampiri Bian.


"Ada apa, mas?" tanya Visha ketika panggilan telah berakhir.


"Kak Galang... Memindahkan papa ke rumah sakit lain."


"Lalu? Apa masalahnya?"


"Tidak ada yang tahu kemana Kak Galang membawa papa... Lalu mama... Dia juga menghilang..."


"Apa?!" Visha berseru cukup kencang sehingga membuat Yanti dan Haryono penasaran.


"Ada apa, Nduk?" tanya Yanti.


Visha tak menjawab pertanyaan Yanti dan malah menatap Bian yang terus terdiam.


"Mas... Apa mungkin... Mas Galang ada hubungannya dengan semua ini?" Visha berucap dengan sangat hati-hati karena takut Bian tersinggung.


Wajah Bian menyiratkan banyak hal yang tak bisa Visha baca.


"Mas... Kau baik-baik saja?"


"Iya, aku baik. Visha, aku harus segera mencari Papa dan juga mama. Firasatku mengatakan jika ini bukanlah hal baik."


Visha mengangguk setuju. "Apa perlu aku temani?"


"Untuk saat ini jangan dulu. Tapi... Aku berharap kau bisa ikut pindah bersamaku. Tolong pikirkanlah!"


"Tidak, Mas. Aku tidak perlu memikirkannya. Aku akan ikut denganmu. Aku tidak bisa membiarkanmu sendirian menghadapi ini."


"Terima kasih, Visha. Ayo kita bersiap! "


Visha menjelaskan dengan singkat situasi yang sedang mereka hadapi saat ini. Orang tua Visha paham dan mengijinkan Visha untuk ikut tinggal bersama Bian.


Kak Galang... Jika benar kau yang sudah melakukan ini semua padaku dan Visha... Maka aku tidak akan memaafkanmu, meski kau adalah kakakku...


...šŸšŸšŸ...


bersambung,,,


.


.


*Huft!!! mulai tegang!!! 😩😩


*jangan lupa tinggalkan jejak cinta kalian šŸ‘£šŸ‘šŸ’


...~Thank You~...

__ADS_1


__ADS_2