
Saat keluar dari lift, secara tak sengaja sepasang mata menangkap sosok Visha yang terlihat terburu-buru keluar dari lobi apartemen.
"Visha? Apa yang dia lakukan disini?" gumam orang itu menatap ke arah Visha.
Ia begitu penasaran hingga ingin mengikuti kemana langkah Visha pergi. Namun langkahnya terhenti karena seseorang memanggilnya.
"Pak Galang, sudah ditunggu oleh klien di lantai 3, Pak." ucap asistennya yang tak lain adalah Ari.
"Ah, baiklah. Ayo segera kesana." Galang berjalan ke arah lift dan menuju ke lantai 3.
Visha mematung di depan lobi apartemen dan tidak tahu akan kemana. Tiba-tiba perutnya berbunyi, seperti meronta meminta di isi makanan.
"Hmm, sepertinya dulu di depan sini ada yang jual nasi goreng jowo." Visha mengedarkan pandangannya. Dan benar saja, ia melihat di seberang jalan ada warung tenda yang berjualan nasi goreng.
Visha menyeberang jalan lalu masuk kedalam tenda itu. "Pak, nasi goreng mawut satu ya." ucap Visha.
"Oh, iya mbak." jawab si penjual.
"Untung saja aku membawa dompet. Disaat marah pun, wanita harus tetap menggunakan logika." gumam Visha.
"Ponsel? Ah aku lupa membawanya. Tapi biarkan saja. Jadi saat Mas Bian mencariku, dia tidak bisa menghubungiku." gumam Visha lagi.
"Permisi, mbak. Mbak Visha 'kan ya?" tanya bapak penjual nasi goreng.
"Eh?"
"Mbak Visha yang dulu bekerja di klab Miracle disitu. Benar 'kan?"
"Hah? I-iya, pak. Bapak masih ingat dengan saya?" Visha menggaruk tengkuknya.
"Iya, 'kan dulu mbak sering kesini. Wah, sekarang mbak tambah cantik ya. Dan sepertinya mbak tinggal di apartemen itu ya?"
"Eh?"
"Tadi bapak lihat mbak keluar dari apartemen mewah itu. Pasti mbak tinggal disitu."
Visha hanya nyengir kuda. Ia tak mau si bapak ini terlalu banyak bertanya. Ditambah lagi, tatapan orang-orang di warung tenda itu juga terlihat berbeda padanya.
Visha melahap habis nasi goreng dalam piring. Tentu saja ia kelaparan, sedari siang hanya memakan mie ayam di kedai Jemmy dan belum memakan apapun lagi. Visha memutuskan memesankan untuk Bian juga. Karena ia juga belum makan setelah makan mie ayam.
Visha berpamitan pada pak penjual nasgor dan berjalan kembali ke apartemen. Saat melewati lobi, dirinya dikejutkan dengan seseorang yang tiba-tiba berdiri didepannya.
"Visha! Aku tidak menyangka akan bertemu denganmu disini..."
Visha membulatkan mata. "Ma-Mas Galang?" Visha terbata menyapa Galang.
"Apa yang kau lakukan disini? Apa kau tinggal disini?"
"Heh? Aku... Aku..." Visha memutar otaknya agar memberi jawaban yang masuk akal pada Galang.
__ADS_1
Sementara itu, Bian kelimpungan mencari Visha. Hingga akhirnya ia mendapati Visha sedang berbincang dengan Galang. Bian mencari cara agar Visha bisa lepas dari Galang, karena sepertinya Visha sedang kebingungan.
Bian memanggil seorang cleaning service dan membisikkan sesuatu pada pemuda itu. Pemuda itu mengangguk dan segera melancarkan aksi yang diperintahkan Bian.
"Mbak Visha... Mbak sudah di tunggu sama Pak Rudi." ucap si pemuda.
"Hah? Pak Rudi?" Visha nampak berpikir sejenak. "Oh iya, Pak Rudi. Mas Galang, maaf ya, aku harus pergi." pamit Visha pada Galang dan dijawab dengan anggukan olehnya.
Visha mengikuti langkah si pemuda cleaning service tadi. Namun tiba-tiba tangannya di cekal oleh seseorang yang merapatkan tubuhnya ke dinding.
"Sssstt!!! Diamlah!"
"Mas Bian? Apa yang Mas lakukan disini?"
Bian menatap Visha sedikit kesal. "Apa lagi? Tentu saja menyelamatkanmu dari Kak Galang. Oh ya, Mas. Ini sebagai tanda terima kasih." Bian memberikan uang lembaran seratus ribu pada pemuda cleaning service tersebut.
Visha masih terlihat kesal pada Bian. Ia menyilangkan tangannya ke depan dada.
"Apa kau akan merajuk sepanjang malam? Dasar wanita! Begini saja marah! Lihat akibatnya saat kau marah. Kau malah bertemu dengan Kak Galang dan hampir saja ia mengetahui hubungan kita."
"Kok Mas malah menyalahkan aku sih? Ini semua gara-gara Mas, tahu tidak? Jika Mas menuruti nasihatku dan segera beristirahat aku tidak akan sampai keluar kamar dan bertemu Mas Galang. Lagipula dokter menyuruhmu untuk jaga kesehatan. Kau malah tidak mengindahkan nasihat dokter. Aku tidak akan mengurusmu jika kau sakit karena ulahmu sendiri." Balas Visha tak mau kalah, lalu pergi meninggalkan Bian.
Bian hanya bisa menggelengkan kepala. "Dasar wanita! Para pria tidak akan pernah menang berdebat dengan kalian. Sebaiknya aku mengalah saja!" Bian menghela nafas lalu menyusul langkah Visha.
Sampai di kamar apartemen, Visha menuju ke balkon dan mengatur nafasnya yang masih kesal pada suaminya.
Bian menghampiri Visha dan memeluknya dari belakang. "Sayang... Maafkan aku. Aku tahu aku salah. Sudah ya, jangan marah lagi. Aku tidak tahan bertengkar denganmu."
Visha masih terdiam. Namun dalam hati, ia juga kasihan saat melihat suaminya memohon padanya. Ia menghela nafas lalu melepaskan tangan Bian.
"Baiklah. Aku memaafkanmu. Sekarang makanlah dulu. Aku membawakanmu nasi goreng. Sejak siang tadi kau belum makan apapun lagi. Hanya makan mie ayam Jemmy."
"Oke, sayang. Terima kasih sudah memaafkanku." Bian mencubit pelan pipi Visha lalu berjalan menuju meja makan.
Esok paginya sebelum berangkat ke kantor, Bian mampir ke rumah Sania untuk menyapa Alisa. Gadis kecil yang menggemaskan itu selalu membuatnya rindu.
Sania tersenyum lega karena kehadiran Alisa bisa menahan agar Bian selalu disisinya. Keputusannya untuk menjadikan Rocky sebagai ayah Alisa tidaklah salah, meski jalan yang ia tempuh adalah salah.
"Sayang... Kau sudah sarapan?" tanya Sania berusaha menarik perhatian Bian.
"Sudah." jawab Bian datar.
Sania tak menanyakan hal lain lagi. Entah kenapa Bian merasa kesal karena tak ada raut wajah curiga pada Sania yang mendapati suaminya tidak pulang ke rumah. Jika istri pada umumnya pasti akan mengomel karena suaminya tak pulang ke rumah, atau mungkin sekedar bertanya dimana suaminya menginap semalam. Tapi Sania tidak melakukan itu.
Bian menuju ruang kerjanya dan mengambil beberapa berkas. Bian kembali melewati Sania yang sedang menyiapkan bekal makan untuk Alisa dan dirinya.
"Ini, bawalah! Untuk bekal makan siangmu. Aku tahu kau sibuk. Makan makanan rumah lebih sehat dari pada makan siang di luar."
"Apa buahnya untuk pencuci mulut?" tanya Bian.
__ADS_1
"Aku bawakan jeruk untukmu."
"Kenapa bukan pisang?"
"Eh?"
"Pisang bagus untuk kesehatan. Benar 'kan?"
"Bee, ada apa denganmu? Kenapa kau terlihat tidak baik?"
"Iya, aku sedang tidak baik." Bian menatap Sania dengan tatapan aneh.
Apa benar kau adalah Sania yang kukenal dulu? Apakah benar kau adalah Sania yang pernah kucintai?
"Bee, ada apa? Kau bisa bicara denganku jika kau punya masalah. Bukankah kita pasangan?" Sania mendekati Bian dan mengelus dada bidang Bian yang tertutup kemeja dan jas.
Sania menatap Bian dalam jarak pandang yang cukup dekat. Sania mengelus wajah Bian yang ditumbuhi rambut-rambut halus yang membuatnya nampak seksi di mata Sania.
CUP
Sebuah kecupan mendarat di bibir Bian. Bian tak menolak dan hanya diam.
Sementara itu di apartemen Bian,
PRANG!
Sebuah piring tiba-tiba lolos dari tangan Visha saat sedang mencuci piring.
"Ya Tuhan! Apa aku melamun? Ada apa ini? Kenapa perasaanku tidak enak begini." Visha memegangi dadanya.
Ia segera mengambil sapu dan membersihkan pecahan piring yang berserakan di lantai.
Sania masih bermain dengan bibir Bian karena tak ada penolakan darinya seperti sebelum ini.
Bian yang mulai terbawa hasrat lelakinya, akhirnya tersadar lalu mendorong tubuh Sania dengan kasar.
"Maaf... Aku harus segera pergi ke kantor." Bian berlalu dari hadapan Sania.
Sementara itu, Sania tersenyum puas sambil mengusap bibirnya.
"Kau lihat saja, Bee. Aku pasti bisa mendapatkanmu. Kau masih tetap sama dengan Rocky yang dulu, yang suka bermain-main dengan wanita. Aku tahu itu..." Seringai Sania dengan puas.
bersambung,
Hai hai šš jangan lupa mampir juga ke story author yg lain ya, ada "The Broken Leaf" yg masih ongoing dan "99 Cinta Untukmu" yg sudah tamat šš
*Duh, Bian, jiwa playboy nya mulai bergejolak lagi nih šµšµ
*Jangan lupa tinggalkan jejak kalian utk Bian dan Visha (Bisha š¬š¬) Karena kalian adalah semangatku šššŖšŖ
__ADS_1