Labuhan Cinta Sang Playboy

Labuhan Cinta Sang Playboy
Makin Curiga


__ADS_3

...šŸšŸšŸ...


Visha memandangi wajah putranya yang sedang tertidur lelap. Visha tetap terjaga untuk menjaga Ali.


Masih pukul sembilan malam, ketika Ali terbangun dan melihat mamanya ada disampingnya.


"Mama..."


"Sayang, kau terbangun? Kau sudah merasa lebih baik?"


"Iya, Ma. Maafkan Ali karena membuat Mama cemas."


"Tidak, sayang. Lain kali kau harus hati-hati, jangan makan sembarang makanan ya!"


"Iya Ma, maaf. Ali hanya mencicipi sedikit es krim milik Om Galang. Rasanya enak. Kenapa Ali tidak boleh makan pisang, Ma? Padahal rasanya sangat enak. Ibu guru bilang, buah pisang banyak manfaatnya."


"Sayang..."


"Apa Ali tidak bisa sembuh, Ma?"


Visha bingung harus menjawab apa.


"Salah satu cara untuk menyembuhkannya adalah dengan menghindarinya. Mulai sekarang, Ali harus dengarkan apa kata Mama dan Nenek ya."


"Iya, Ma."


"Ya sudah, kembalilah tidur. Ini masih malam."


Ali kembali memejamkan matanya. Visha mencium puncak kepala putranya.


...***...


"Dimana Visha?"


"Mbak Visha bilang dia akan datang terlambat, Pak!"


"Apa ada masalah?"


"Putranya sedang sakit."


"Apa? Ali sakit? Sakit apa, Man?" Rocky panik.


"Eh? Mbak Visha tak menjelaskan dengan detil, Pak. Hanya bilang begitu saja."


.


.


.


Pukul sepuluh pagi Visha baru datang ke panti.


"Maaf, saya terlambat."


"Visha... Apa yang terjadi pada Ali?" Rocky tak bisa menyembunyikan kekhawatirannya.


Visha merasa canggung dengan perhatian Rocky. Apalagi ada orang lain disana, yaitu Eman.


"Ali baik-baik saja, Pak. Hanya demam biasa." Visha mencoba menjawab dengan nada santai. Ia tak ingin Eman berpikir macam-macam tentang hubungannya dan Rocky.


"Syukurlah. Tapi kau jangan meremehkan demam. Jika belum sembuh kau harus membawa Ali ke dokter."


"Ah, iya Pak."


Rocky sudah bersikap berlebihan. Pikir Visha.


"Kalau begitu, saya permisi. Saya harus membantu para pekerja." Visha tak mau berlama-lama bersama Rocky dan segera melakukan pekerjaannya.


...***...


"Saya ingin bertemu dengan Galang. Apa dia ada?"


"Ada, Bu. Silahkan masuk."


"Terima kasih."


Sania mendatangi kantor Galang untuk mengajaknya makan siang.

__ADS_1


"Hai, kau sedang sibuk?" Sapa Sania.


"Sania? Ada apa kau datang kesini?"


"Aku ingin mengajakmu makan siang. Apa kau ada waktu?"


"Ada, tapi... Aku sudah ada nasi kotak."


"Ah, aku lupa, perusahaanmu juga memakai jasa katering untuk makan siang. Tapi... tak ada salahnya jika kita makan siang bersama. Kau bawa saja nasi kotak dari katering dan temani aku makan siang, bagaimana?"


Galang berpikir sejenak. Saat masih berhubungan dengan Rocky, Sania selalu bermanja-manja pada Galang. Karena Rocky tak ada bersamanya, alhasil Galanglah yang seperti menggantikan Rocky sebagai kekasihnya. Meskipun begitu, Galang tak pernah mengkhianati kepercayaan yang Rocky berikan padanya.


"Baiklah, aku selesaikan pekerjaanku dulu. Kau tunggulah disana!" Galang menunjuk ke arah sofa di ruangannya.


Sania dan Galang pergi ke kafe dekat kantor Galang. Mereka makan siang bersama dengan Galang yang membawa nasi kotak dari Karina Katering.


Galang heran melihat Sania yang makan dengan lahapnya.


"Apa kau sangat lapar?"


"Pertanyaanmu sama dengan Rocky saat kami makan bersama."


"Aku senang melihatmu baik-baik saja."


Sania menghentikan makannya.


"Aku sudah dengar semuanya. Sekarang kau harus hidup untuk bayi yang ada dalam kandunganmu dan jangan memikirkan yang lain."


"Galang... aku ingin meminta tolong padamu."


"Minta tolong apa?"


"Bujuk Rocky agar dia mau menjadi ayah untuk bayiku."


"Apa?! Yang benar saja!"


"Ini demi kebaikanmu juga."


"Kebaikanku?" Galang mengernyit.


"Apa kau tahu jika mereka bekerja bersama sekarang?"


"Apa kau tahu juga jika selama ini Visha jadi relawan di panti jompo yang sekarang sedang direnovasi?"


"Eh?"


"Jadi kau tidak tahu?"


".............."


"Dan Rocky sering datang ke panti agar bisa bertemu dengan Visha."


"Apa maksudmu?"


"Jika kau tidak percaya padaku, kau buktikan saja sendiri. Kedekatan mereka lebih dari sekedar rekan kerja. Aku bisa merasakannya ketika aku melihat mereka berdua."


".............." Galang tak menanggapi ucapan Sania.


Namun hatinya mulai berkecamuk. Ia mulai merasa jika yang dikatakan Sania bisa saja benar.


Ditambah lagi dengan kunjungan Rocky ke rumah Visha yang tak diketahui olehnya. Tak ada satupun dari mereka berdua yang bicara pada Galang tentang hal itu.


Galang tak mau berpikir buruk tentang tunangannya. Visha yang ia kenal adalah wanita yang baik. Meski di masa lalu ia pernah bekerja di klab malam.


Galang memutuskan untuk mendatangi panti usai selesai bekerja. Ia berniat untuk menjemput Visha.


Dilihatnya Visha telah selesai bekerja namun masih berdiskusi dengan kepala pekerja. Tak ada pemandangan yang aneh dari sosok Visha.


Tapi seketika hati Galang bergejolak ketika melihat adiknya, Rocky menghampiri Visha dan berbincang dengannya.


Memang benar ada yang tak biasa dari tatapan Rocky pada Visha. Perhatian yang diberikan Rocky juga terlihat berlebihan seperti sesekali membelai rambut Visha, mengusap pipinya pelan, dan senyum yang berbeda dari yang biasa Galang lihat.


Galang memutuskan menghampiri mereka berdua.


"Kak Galang?" Rocky nampak terkejut mendapati kakaknya ada disana.


"Kalian sepertinya sangat sibuk."

__ADS_1


"Tidak, Mas. Ini sudah selesai," jawab Visha.


"Kalau begitu, kau bisa pulang sekarang?"


"Tentu saja." Jawab Rocky lantang.


"Baiklah." Galang meraih tangan Visha dan membawanya pergi setelah berpamitan dengan Rocky.


...***...


"Kenapa Mas tidak mengabariku dulu jika akan menjemput?"


"Aku ingin memberimu kejutan."


Visha tertawa kecil.


"Bagaimana? Apa kau senang bekerja disana?"


"Hu'um, aku senang. Aku bisa melakukan hobiku yang sempat tertunda."


"Kalau begitu kau juga harus mendaftar ke universitas. Maksudku agar pendidikanmu bisa kau lanjutkan."


"Eh? Aku... belum memikirkan sampai sejauh itu, Mas."


"Kenapa?"


"Aku harus mengumpulkan uang dulu untuk mendaftar kuliah."


"Tidak perlu khawatir, aku akan mengurus semuanya."


"Tidak, Mas! Jika Mas ingin membiayai kuliahku, aku mohon maaf, akan kutolak dengan halus. Aku tidak mau merepotkanmu terus menerus."


"Memangnya kenapa? Kau adalah calon istriku."


"Tapi tetap saja, statusku masih calon istri. Orang-orang pasti mengira aku menikahimu hanya karena hartamu."


"Kalau begitu kita menikah saja," ucap Galang enteng.


"Heh?"


"Kita percepat saja rencana pernikahan kita. Bagaimana?"


"A-apa?!"


"Aku akan atur waktu agar kita bisa menemui Papa dan Mama. Tidak ada alasan lagi bagiku untuk menunda mengenalkanmu pada mereka."


"Tapi, Mas... "


"Kenapa? Kau takut mereka tidak menyukaimu?"


Visha mengangguk pelan.


"Papaku adalah tipe orang tua modern. Aku yakin dia bukan tipe Papa yang suka menjodohkan anak-anaknya. Apalagi demi ekspansi bisnis semata."


"Mas..."


"Jangan memikirkan apapun dan pikirkan saja tentang kita."


Setelah perbincangan yang cukup serius beberapa saat lalu. Kini mereka berdua hanya diliputi kesunyian bersama.


Hingga akhirnya mobil Galang telah sampai di halaman rumah Visha.


Ali menyambut kedatangan Visha dan Galang.


"Kau sudah sembuh, Nak?" Tanya Galang sambil menggendong tubuh Ali ke atas.


"Iya, Om. Aku sudah sembuh."


Visha tersenyum melihat kedekatan Ali dan Galang. Mereka memang sangat dekat layaknya ayah dan anak.


Ya Tuhan... Apa memang sudah saatnya aku mengambil keputusan? Aku harus tetap memilih Mas Galang, karena dialah yang Ali butuhkan.


...šŸšŸšŸ...


tobe continued,,,,


Dont forget leave like šŸ‘, comment, and vote.šŸ’žšŸ’ž

__ADS_1


Thank U šŸ™


__ADS_2