
...🍁🍁🍁...
"Ada yang ingin kubicarakan denganmu."
"Ada apa, Nav?"
"Maafkan aku karena aku tidak memberitahu soal Rocky yang pernah datang kemari."
"Tidak apa. Rocky pasti ingin menyelidikimu 'kan?"
"Eh? Darimana kau bisa tahu?"
"Rocky tak bisa menyembunyikan perasaannya. Aku hafal sikapnya. Dia pasti tidak menyukaimu. Makanya dia ... " Galang tak melanjutkan kalimatnya.
"Sudahlah. Yang penting sekarang, Rocky sudah bisa menerimamu 'kan?"
"Eh?"
"Itu artinya kita tinggal berjuang meyakinkan Mama dan Papa."
Visha tersenyum canggung. "Mas... ada hal yang ingin kuungkapkan padamu. Ini tentang ... masa laluku."
Galang menghela nafas.
"Aku ... pernah bekerja di sebuah klab malam."
"............."
"Miracle Club. Kau pasti tahu itu bukan? Itu adalah klab malam langgananmu dan Rocky."
".............."
"Aku mengenal Mbak Siska karena dulu ... kami satu profesi. Aku harap kau bisa memahami posisiku kenapa aku tidak pernah menceritakan hal ini padamu. Aku ... merasa malu jika orang lain harus mengetahui tentang masa laluku. Aku takut orang-orang akan menjauhiku karena aku pernah menjadi pekerja malam."
"................."
"Mas? Kenapa hanya diam?"
"Navisha ... terima kasih karena sudah jujur padaku. Sejak awal, aku tidak pernah mempermasalahkan statusmu yang memiliki satu anak, kenapa aku harus mempermasalahkan masa lalumu yang pernah bekerja di klab malam? Toh semua adalah masa lalu. Dan aku justru merasa bangga padamu."
"Mas..."
"Tidak perlu membahas soal masa lalu lagi. Kita akan menjalani masa depan, bukan masa lalu."
"Terima kasih, Mas." Visha tersenyum lega mendengar jawaban Galang.
...***...
"Dimana Pak Rocky?"
"Sepertinya Pak Rocky ada di dalam panti, Bu."
"Oh, begitu."
"Apa perlu saya panggilkan, Bu?"
"Tidak perlu. Saya akan kesana sendiri saja."
Sania melangkah masuk ke dalam bangunan panti yang sedang di renovasi. Ia mencari Rocky. Kali ini ia tak boleh gagal mengajak Rocky makan siang bersama.
Dilihatnya Rocky sedang berbincang dengan kepala pekerja. Sania tersenyum saat melihat Rocky yang tampak bersemangat memimpin proyek yang ia berikan.
Namun sesaat langkahnya terhenti kala Rocky menghampiri seseorang disana.
"Visha?" ucap batin Sania.
Sania memperhatikan dari jauh apa yang sedang mereka berdua lakukan. Mereka sedang membahas tentang sketsa bangunan. Tapi entah kenapa, atmosfer yang dibawa oleh keduanya sangat berbeda. Mereka terlihat akrab layaknya lebih dari teman.
Sania mendengus sebal. Ia merasa ada yang tak beres dengan hubungan mereka berdua.
Sania mengurungkan niatnya untuk menemui Rocky. Ia berbalik badan dan keluar dari bangunan panti.
"Bu Sania! Sudah bertemu dengan Pak Rocky?" Tanya Eman.
"Tidak. Sepertinya dia sangat sibuk. Aku tidak mau mengganggunya. Kalau begitu, saya permisi."
"Ah iya, Bu." Eman menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
__ADS_1
.
.
.
"Tadi Bu Sania datang kesini." Cerita Eman pada Rocky.
"Oh ya? Kenapa kau tidak bilang padaku?"
"Dia bilang bapak sedang sibuk, dan dia tak mau mengganggu."
"Hmmm, aneh. Tidak biasanya dia bersikap begitu. Aku akan menghubunginya saja. Terima kasih, Eman."
"Sama-sama, Pak."
.
.
.
"Kenapa kau tidak menghubungiku lebih dulu jika datang ke panti?" Rocky akhirnya mengajak Sania bertemu di kafe langganan mereka.
"Aku tidak ingin mengganggumu. Sepertinya kau sangat sibuk."
"Ah, tidak. Jika aku tahu kau datang, aku akan segera meninggalkan pekerjaanku sejenak. Kau yang sudah memberiku proyek ini, jadi aku harus berterimakasih padamu."
"Jadi, kau ingin menemuiku karena aku sudah berjasa untukmu? Begitu?" Sania mulai sarkastik.
"Hei... Kenapa bicara begitu? Kita adalah teman, bukan?"
"Teman? Kau hanya menganggapku sebagai temanmu?"
"Sania... ada apa denganmu? Kau sangat sensitif. Apa karena kau sedang hamil? Oh ya, bagaimana kabar bayimu?"
Sania menghembuskan nafas kasar. "Apa kau benar akan menepati janjimu?"
"Eh?"
"Janji bahwa kau akan bertanggung jawab akan bayiku jika dia lahir nanti. Apa kau tidak ingat?"
"Tidak! Tidak seperti itu, Rocky. Aku ingin... kau benar-benar jadi ayah untuk bayiku."
"Sania!"
"Aku mohon! Aku sudah mengajukan gugatan cerai pada Yogi. Aku akan segera bercerai darinya."
"Sania! Wanita hamil tidak boleh diceraikan. Kau harus menunggu hingga bayimu lahir lebih dulu."
"Aku tidak peduli!!! Aku hanya ingin kau yang jadi ayah dari bayiku!" Air mata Sania sudah mengalir di pipinya.
Rocky mengusap wajahnya kasar. "Maafkan aku pernah berkata begitu padamu. Tapi aku memang ingin menjagamu dan juga anakmu. Tapi bukan berarti aku harus jadi ayah untuk anak itu, bukan?"
"Jadi kau menolaknya? Apa kau menyukai seseorang? Makanya kau tidak mau kembali bersamaku?"
"Bu-bukan begitu. Hanya saja..." Rocky tak mau menambah kesedihan Sania.
"Sebaiknya aku mengantarmu pulang. Kau butuh istirahat."
Rocky memapah Sania menuju mobilnya. Selama perjalanan menuju kediaman orang tua Sania, tak ada percakapan terjadi diantara mereka.
Rocky tak tega melihat Sania begitu putus asa. Tapi ia juga tak bisa jika harus bertanggung jawab untuk jadi ayah dari bayi Sania. Hatinya sudah tertambat pada seorang gadis.
Rocky yang sekarang bukan lagi Rocky yang dulu yang dengan mudahnya mempermainkan hati wanita. Ia akan membuktikan pada dunia jika dirinya telah berubah.
...***...
Sore itu, Visha pulang dari kantor dengan membawa sekantong jajanan untuk Ali. Visha mencari keberadaan Ali di dalam rumah.
"Ali!!! Kau dimana, Nak?" teriak Visha.
"Ali sedang keluar, Mbak." Jawab Rara.
"Keluar? Dengan siapa?"
"Siapa lagi kalau bukan dengan Nak Galang." Kini Karina yang menjawab Visha.
__ADS_1
"Yah, padahal aku sudah membeli banyak es krim cokelat kesukaannya."
"Taruh saja di lemari es dulu. Paling sebentar lagi mereka datang."
Tak lama mobil Galang memasuki halaman rumah.
"Itu mereka!" seru Rara.
Betapa terkejutnya Visha ketika mendapati Galang membawa tubuh Ali dalam gendongannya.
"Mas?! Ada apa dengan Ali?"
"Visha, maafkan aku. Tapi aku rasa, Ali mengalami alergi."
"Eh? Apa? Bagaimana bisa?"
Galang membawa tubuh Ali ke kamar Visha dan membaringkannya. Visha dengan sigap mengambil obat alergi Ali.
Tubuh Ali mulai mengalami demam, dan muncul bercak ruam merah di tubuhnya.
"Sayang... tenanglah! Ada Mama disini!"
"Visha, apa kita tidak perlu membawanya ke dokter?"
"Tidak perlu, Mas. Aku sudah punya obat untuk alerginya. Jadi, tidak perlu ke dokter. Dengan istirahat nanti juga demamnya hilang."
Setelah memasangkan kompres ke kening Ali, dan meminumkan obat padanya, Visha membiarkan putranya itu tertidur.
"Visha, aku benar-benar minta maaf. Aku tidak tahu jika Ali..."
"Sudahlah, Mas. Tidak apa. Jangan terus meminta maaf."
"Kau yakin Ali tak butuh penanganan dokter?"
"Tidak, Mas. Aku bisa mengatasinya. Percayalah!"
"Baiklah. Jika terjadi sesuatu, segera hubungi aku!"
"Iya. Aku janji."
"Aku harus kembali ke kantor. Maaf ya sudah membuatmu panik."
Visha mengangguk. Ia mengantarkan Galang menuju mobilnya dan melambaikan tangan hingga mobil itu tak terlihat lagi.
.
.
Galang mengatur nafasnya yang sempat memburu. Ia begitu panik tadi. Ia bingung kenapa Ali mengalami alergi setelah memakan es krim bersamanya?
Dan sialnya, Galang lupa menanyakan pada Visha tentang alergi Ali.
Galang melirik ke sebelahnya dan terdapat bungkus es krim yang masih tergeletak disana.
Galang menepikan mobilnya. Ia mengambil bungkus es krim yang tadi ia makan.
"Es krim rasa pisang?"Gumam Galang.
Ya, tadi Galang memakan es krim rasa pisang, buah kesukaannya. Sedang Ali memakan es krim rasa cokelat. Tapi secara tak sengaja, Ali meminta sedikit es krim milik Galang. Dan setelah itu Ali mengalami alergi.
Ingatan Galang mencoba menyusun memori yang tadi terjadi.
"Jadi... Ali bisa saja mengalami alergi karena buah pisang?" Tanya Galang pada diri sendiri.
"Kenapa seperti mirip dengan seseorang?"
DEG.
"Rocky!" Galang memijat keningnya pelan.
"Ali mengalami alergi yang sama seperti yang dialami Rocky. Alergi buah pisang!"
...🍁🍁🍁...
tobe continued,,,,
Jangan lupa tinggalkan jejak👣👣
__ADS_1
terima kasih 🙏🙏