
...ššš...
Donny tiba di panti asuhan dan langsung di sambut Visha yang berwajah panik.
"Don, tolong Mas Bian! Dia mengalami sakit kepala hebat karena mengingat sesuatu."
"Kalau begitu ayo kita bawa ke rumah sakit."
Di tengah kesakitan yang hebat pun, Bian masih sadar. "Tolong bawa aku ke klinik dokter Fahri saja!" lirih Bian.
"Baiklah. Ayo Don cepat!!"
Visha membantu Bian masuk kedalam mobil Donny. Visha berpamitan dengan Ibu Nur terlebih dahulu.
Sesampainya di klinik dokter Fahri, Bian dibawa ke ruang IGD untuk diperiksa.
Sementara Visha dan Donny menunggu dengan harap-harap cemas.
"Sebenarnya ada apa, Visha? Kenapa bos Rocky sampai kesakitan begitu."
"Aku juga tidak tahu. Sepertinya ia memaksakan mengingat sesuatu makanya sampai kesakitan begitu."
"Apa yang kalian lakukan di panti asuhan?"
"Kami hanya berkunjung. Tapi tadi, kami bertemu dengan seorang kakek yang mengenali wajah Bian. Dan ternyata benar jika kakek itu adalah..."
Belum sempat Visha memberitahu Donny, seorang perawat menghampiri mereka dan mengatakan jika Bian sudah dibawa ke ruang perawatan.
Visha dan Donny segera menuju kamar Bian. Bian masih memejamkan mata, sepertinya dokter memberinya obat pereda nyeri.
Tak lama dokter Fahri mendatangi ruang rawat Bian. Visha segera bertanya tentang keadaan suaminya itu.
"Bagaimana keadaan suami saya, dok?"
"Pasien dalam kondisi baik. Hanya saja pasien terlalu keras mengingat tentang memori masa lalunya hingga membuat sakit kepala hebat."
Visha mengangguk paham. "Tapi sekarang suami saya baik-baik saja 'kan, dok?"
"Iya, pasien dalam keadaan baik. Jika sudah merasa baik, pasien bisa pulang. Kalau begitu saya permisi." pamit dokter Fahri.
"Iya, dok. Sekali lagi terima kasih."
Bian mulai membuka mata dan mengerjapkannya. Visha segera duduk di samping tempat tidur Bian.
"Mas... Kau baik-baik saja?"
"Iya. Kau jangan khawatir. Aku hanya tiba-tiba ingat memori masa laluku tentang kecelakaan malam itu."
Visha dan Donny saling pandang.
"Aku ingat jika seorang pria berusaha menolongku ketika mobil terguling. Pria itu berhasil mengeluarkan aku dari mobil, namun dia... Sepertinya dia mengalami luka yang lebih parah dariku."
Visha dan Donny masih diam dan mendengarkan.
"Ternyata benar. Pria itu adalah Biantara Adiguna. Dia adalah pemilik wajahku ini. Dan dia adalah putra dari kakek Adi yang kita temui tadi, Visha."
"Bos yakin?" tanya Donny memastikan.
"Yakin, Don. Itu berarti jasad yang selama ini terkubur atas namaku adalah Biantara. Tolong kau periksa jasad itu, Don. Meski sudah tiga tahun berlalu dan kemungkinan jasadnya juga sudah rusak, tapi... Jika firasatku benar, kakek Adi adalah ayah dari Bian, maka kita bisa melakukan tes DNA dengan sisa-sisa jasad Biantara. Tolong kau lakukan semua secara diam-diam, Don!"
"Bos tenang saja. Aku akan melaksanakan tugas ini dengan baik."
"Lalu bagaimana dengan Jemmy? Apa kau sudah menemukan jejaknya?"
"Soal Jemmy... Dia... sekarang berjualan mie ayam, bos."
"Hah? Yang benar saja! Mantan asisten CEO Brahms Corp berjualan mie ayam? Apa tidak salah?"
"Menurut info yang kudapat, itu tidak mungkin salah."
"Baiklah, besok kita temui dia. Aku tidak sabar ingin segera menemukan papa dan mama..."
.
__ADS_1
.
.
Keesokan harinya, Bian dan Visha bersiap menemui Jemmy. Bian berharap jika bisa mendapat sedikit informasi dari Jemmy mengenai keberadaan papa dan mamanya.
Donny sudah lebih dulu datang di sebuah kedai mie ayam yang cukup besar. Tidak seperti kedai mie ayam pada umumnya, kedai milik Jemmy lebih mirip sebuah resto.
Bian dan Visha masuk kedalam kedai dan menyapa Jemmy. Donny mempersilahkan Bian dan Visha untuk duduk.
Jemmy terlihat mengerutkan dahinya kala melihat kebersamaan Bian dan Visha. Setahunya Bian adalah suami Sania.
"Jemmy, kau harus membantuku. Kau pasti tahu keberadaan Papa dan mamaku." Bian bicara tanpa berbasa-basi.
"Maksudmu?"
"Bos, sebaiknya tunjukkan bukti-buktinya dulu. Baru Jemmy akan mengerti."
Bian memberikan berkas-berkas mengenai dirinya.
Awalnya Jemmy nampak ragu untuk membaca berkas-berkas yang disodorkan Bian. Namun akhirnya ia membacanya juga.
Jemmy sangat terkejut setelah membaca berkas itu. "Jadi... Kau adalah Rocky? Bagaimana bisa?"
"Itulah yang sedang kuselidiki. Tapi sekarang aku menemui masalah baru karena Papa dan mama tiba-tiba menghilang."
"Apa?!" Jemmy kaget.
"Kemungkinan Kak Galang yang melakukan ini semua. Apa ada hal yang kau ingat sebelum Kak Galang memecatmu?" tanya Bian dengan wajah seriusnya.
"Hmm, apa ya? Aku memang mendapat kompensasi yang bagus karena bersedia mengundurkan diri dari Brahms Corp. Maaf aku tidak bisa bertahan untuk tetap bekerja karena aku... Memikirkan keselamatan kedua orang tuaku. Dan memang benar, sikap Pak Galang sedikit berubah. Tidak seperti Pak Galang yang kukenal dulu. Aku takut jika aku tidak menuruti keinginannya, dia akan mencelakai orang tuaku." Cerita Jemmy.
"Lalu... Apa kau mendengar sesuatu yang berhubungan dengan pemindahan Papa atau menghilangnya Mama?"
"Aku tidak begitu ingat jelas, tapi... Aku sempat mendengar tentang Magnolia. Iya, Pak Galang menyebutkan tentang sebuah tempat bernama Magnolia."
Bian dan Visha saling pandang.
"Coba kau cari tahu tentang tempat bernama Magnolia, Don."
Sementara Visha, ia mendekati Jemmy dan memesan tiga porsi mie ayam untuknya dan juga untuk Bian dan Donny. Visha ikut memperhatikan cara Jemmy membuat mie ayam.
"Jadi, kau belajar memasak secara otodidak?" tanya Visha penasaran.
"Ya begitulah. Aku harus memutar otak agar aku tetap mendapatkan uang. Pak Galang memang memberiku uang pensiun cukup banyak, makanya aku lebih baik memutuskan untuk berbisnis di dunia kuliner saja agar pundi-pundi rupiah tetap mengalir meski aku tak bekerja kantoran lagi."
"Hmm, begitu. Menurutmu apa alasan Mas Galang memecatmu? Apa karena kau adalah orang kepercayaan Papa Leonard?"
"Entahlah. Mungkin juga begitu. Umm, Visha. Meski sedikit terlambat, aku... Aku ingin meminta maaf..."
"Maaf untuk apa?"
"Dulu aku sempat memandang rendah dirimu. Aku pikir kau hanya gadis yang ingin mempermainkan hati pria kaya dan memanfaatkan uangnya saja. Tapi ternyata, kau memang benar setia. Bagaimana kau bisa tetap mengenali Rocky meski ia sudah berganti wajah?"
"Oh soal itu. Lupakan saja! Itu adalah masa lalu. Aku bertemu lagi dengannya saat dia masih menjadi Bian. Dan aku tidak pernah menyangka jika dia adalah Rocky. Begitulah misteri cinta. Sangat aneh."
Tiba-tiba ponsel Visha berdering. Sebuah panggilan video dari Keisya.
"Sebentar ya, Jemm. Aku angkat telepon dulu." Visha berjalan agak menjauh dari Jemmy, karena sudah pasti Keisya akan berteriak kencang.
"Halo, mbak..." sapa Visha dengan melambaikan tangannya.
"Visha!!! Yang benar saja! Kenapa kau tidak memberitahuku jika kau sudah pindah?"
Sesuai dugaan Visha, Keisya akan bicara dengan nada yang cukup tinggi.
"Maaf, mbak. Ini serba mendadak. Mbak tahu dari mana jika aku pindah?"
"Orang suruhan ayahmu datang ke rumah kos dan membereskan kamarmu."
"Maaf!!! Sekali lagi maaf!!"
"Jadi kau sudah menikah dengan Bian?"
__ADS_1
Visha tersenyum penuh arti. "Iya, mbak. Maaf juga aku tidak memberitahumu. Semua benar serba mendadak."
"Baiklah, aku ikut bahagia dengan pernikahanmu. Nanti jika kau adakan resepsi, kau harus janji akan mengundangku!!"
"Iya, mbak. Setelah urusan kami selesai mungkin kami akan adakan resepsi. Mbak jangan khawatir, aku pasti akan mengundang Mbak."
"Ya sudah, kalau begitu. Sampai berjumpa lagi. Kalau ada waktu main-mainlah ke Semarang."
"Pasti mbak."
Panggilan berakhir. Visha kembali mendatangi Jemmy yang sedang meracik mie ayam.
"Jemm!!! Bagaimana sudah jadi belum?"
Jemmy hanya terdiam. Sepertinya dia melamun.
"Jemm!!! Halo!!!" Visha menyenggol lengan Jemmy dan membuatnya tersadar.
"Eh? Ada apa?"
"Mie ayamnya sudah siap belum? Aku sudah lapar, hehe."
"Ah, sebentar lagi. Kau tunggulah di mejamu."
"Hmm, baiklah."
Visha kembali ke mejanya. Sedang Jemmy melanjutkan lamunannya. Ia merasa tidak asing dengan suara yang baru saja menelepon Visha.
Itu seperti suara seseorang yang kukenal... Apa kutanyakan saja pada Visha? Tapi... Nanti Visha menganggapku seperti orang aneh. Aaah sudahlah, mungkin hanya kebetulan suaranya mirip.
Setelah bermonolog dalam hati, Jemmy pun kembali menyelesaikan pesanan mie ayam Visha.
.
.
.
-Apartemen-
"Mas, sudah malam, istirahatlah dulu!" Lerai Visha karena sedari pulang dari tempat Jemmy, Bian tak berhenti menatap laptopnya dan terus mencari tahu tentang Magnolia.
"Sebentar lagi, sayang. Kalau kau mengantuk, tidurlah lebih dulu..."
Visha memutar bola matanya. "Mas sudah menghubungi Sania jika mas tidak akan pulang malam ini?"
"Kurasa aku tidak perlu menghubunginya."
"Kenapa? Jika Sania curiga bagaimana? Mas harus tetap memberi perhatian padanya, karena yang publik tahu istri mas adalah Sania."
"Kau ini cerewet sekali! Bisa diam tidak? Lagipula mana ada seorang istri meminta suaminya menemui wanita lain?! Kau ada-ada saja!!" Ucap Bian dengan nada tinggi.
Baru kali ini Bian membentak Visha. Dan itu membuat Visha sedih, lalu memutuskan untuk berlari keluar dari kamar. Visha menutup pintu dengan cukup keras.
Bian yang melihat tingkah Visha hanya bisa mengacak rambutnya frustasi.
"Ah, dasar wanita! Begitu saja marah!"
Visha berlari kecil keluar dari apartemen Bian. Ia menyeka air mata yang tiba-tiba mengalir ke pipinya.
Visha berjalan menuju lift dan entah ingin kemana. Visha menekan angka 1.
Saat keluar dari lift, secara tak sengaja sepasang mata menangkap sosok Visha yang terlihat terburu-buru keluar dari lobi apartemen.
"Visha? Apa yang dia lakukan disini?" gumam orang itu menatap ke arah Visha.
...ššš...
bersambung,,,
Hai hai šš jangan lupa mampir juga ke story author yg lain ya, ada "The Broken Leaf" yg masih ongoing dan "99 Cinta Untukmu" yg sudah tamat.
*Jangan lupa tinggalkan jejak kalian utk Bian dan Visha (Bisha š¬š¬) Karena kalian adalah semangatku šššŖšŖ
__ADS_1
*Itu kira2 siapa ya orang yang memergoki Visha? Berikan pendapat kalian gaess šš
...~Thank You~...