Labuhan Cinta Sang Playboy

Labuhan Cinta Sang Playboy
Kegundahan Rocky


__ADS_3

...šŸšŸšŸ...


Pukul delapan pagi, Visha masih bersiap di depan meja riasnya. Visha belajar untuk merias wajahnya setelah semalam Galang melamarnya. Visha ingin tampil berbeda dihadapan semua orang.


Visha ingin orang-orang juga ikut bahagia seperti dirinya.


"Mbak, sudah ditunggu Ibu di dapur." ucap Rara menginterupsi Visha yang sedang memoles wajahnya.


"Iya, Ra. Aku akan segera kesana."


Visha tidak melanjutkan riasan wajahnya dan hanya memakai sedikit pewarna bibir. Kesibukannya tak memungkinkan untuk berlama-lama di depan cermin seperti layaknya para wanita muda lainnya. Visha menuju dapur dan menghabiskan waktu disana hingga tiba waktu pengantaran pesanan makanan.


.


.


.


Siang itu, Visha mengantar makanan ke gedung Brahms Corp lebih awal dari biasanya. Usai menuju lantai 11, Visha menunju ke store lantai 1. Ia melihat-lihat beberapa produk kosmetik keluaran Brahms Corp.


Visha bingung harus membeli apa saja. Ia tak mahir dalam urusan begini. Visha terkagum-kagum betapa banyak peralatan merias wajah yang digunakan para wanita modern seperti sekarang ini.


Berada di sebuah tempat yang penuh dengan serba serbi wanita, membuat Visha mulai terbuai. Ia ingin memiliki barang-barang disana.


"Mbak Visha?" seorang sales promotion girl atau SPG kosmetik mengenali Visha.


"Eh?" Visha terkejut karena ada yang mengenalinya.


"Mbak Visha sedang mencari apa?" tanya si SPG bernama Lia.


"Aku----mencari beberapa produk riasan wajah yang cocok untuk kulitku."


"Mbak Visha sudah cantik, tidak perlu memakai banyak riasan. Kalau begitu, akan kupilihkan warna natural saja."


"Terima kasih, Lia."


Sambil menunggu memilihkan produk untuknya, Visha melihat-lihat produk lainnya yang ada disana. Ia mengambil satu produk parfum dan mengendusnya.


Tanpa Visha sadari, sepasang mata tengah memperhatikannya. Sepasang mata itu adalah milik Rocky yang sedang berdiri mematung menatap Visha.


Rocky semakin intens menatap Visha. Ia masih mengingat dengan jelas saat semalam kakaknya meneleponnya dengan suara yang sangat bahagia.


"Rocky, baru saja aku mengutarakan keinginanku untuk meminang Navisha. Dan kau tahu, dia menerima lamaranku. Dia bersedia menikah denganku, Rock!!"


Kak Galang terdengar sangat bahagia semalam. Namun entah mengapa, hatiku malah kacau begini? Apa yang sebenarnya terjadi denganku?


...***...


Rocky berjalan gontai keluar dari kantornya menuju ke tempat parkir basement. Ia tak ingin segera pulang ke apartemennya sore ini.


Rocky melajukan mobilnya membelah jalanan kota yang padat. Pikirannya melayang memikirkan sesuatu.


Rocky memutuskan untuk pergi ke panti asuhan.


Mungkin dengan menemui Sania aku akan bisa melupakan tentang kegundahan hatiku.

__ADS_1


Pukul lima sore, Rocky tiba di panti asuhan. Ia mencari sosok Sania yang biasanya sedang bermain bersama anak-anak panti.


Namun disana ia tak mendapati seorangpun di taman depan panti. Rocky malah mendengar suara seorang perempuan yang sedang berteriak.


"Nenek!!! Jangan kesana!!"


Rocky menoleh ke sumber suara.


"Itu kan----?" gumam Rocky sambil terus menatap perempuan yang sedang memapah seorang nenek tua.


"Pak Rocky!!!" panggil seseorang yang bernama Ibu Nur, pengurus panti.


"Eh, Ibu." sapa Rocky.


"Pak Rocky mencari Bu Sania?"


"Iya, Bu."


"Sayang sekali, hari ini Bu Sania tidak datang kemari. Sepertinya beliau sedang ada urusan."


"Oh, begitu ya. Oh ya, Bu. Wanita itu siapa?" tanya Rocky dengan menunjuk ke arah kawasan panti jompo.


"Oh itu? Itu adalah relawan disini. Namanya Navisha. Sudah sekitar tiga bulan dia menjadi relawan disini. Dia datang setiap sore hari. Ada apa Pak?"


"Tidak. Saya hanya bertanya saja. Kalau begitu saya permisi dulu, Bu."


"Iya, Pak. Hati-hati dijalan."


.


.


Begitu sampai, Rocky menuju ke kamar mandi dan membasahi tubuhnya dengan air yang segar.


Bayangan wajah Navisha tiba-tiba terlintas saat Rocky mengguyur tubuhnya dengan shower.


Rocky membasuh wajahnya.


Sial!!! Kenapa harus wajahnya yang terlintas di otakku? Aku pasti sudah tidak waras. Rutuk Rocky berkali-kali pada dirinya.


...***...


Esok harinya di kantor RAB Cons,


"Bos! Aku sudah dapat informasi lagi tentang Navisha."


"Hmm, lalu?"


"Navisha memiliki orang tua kandung yang tinggal di kota Pekalongan. Kabarnya, sudah enam tahun dia tak pernah pulang. Lalu mengenai suami Navisha----"


"Cukup!" Rocky segera memotong kalimat Donny.


"Ada apa, Bos?"


" Sudahi penyelidikanmu tentang Navisha."

__ADS_1


"Eh? Kenapa Bos?"


"Dia sudah akan jadi kakak iparku. Kak Galang sudah melamarnya, dan mereka akan segera menikah. Aku yakin pilihan Kak Galang adalah yang terbaik. Dia tidak akan memilih sembarang gadis."


Donny tak bisa menolak permintaan Rocky. "Baik, Bos. Aku akan menarik anak buahku untuk tidak menyelidiki Navisha lagi. Aku permisi!" Donny pamit undur dari ruang kantor Rocky.


Rocky mengusap wajahnya. Ia tak bermaksud membela Navisha didepan Donny. Ia hanya tak mau mendengar nama Navisha lagi ditelinganya. Sudah cukup kegundahan hatinya yang disebabkan oleh Navisha. Jika ia mendengar lebih banyak tentang Navisha, ia takut terjadi sesuatu dengan hatinya.


.


.


.


Sore itu seperti biasa Visha datang ke panti jompo untuk menjadi relawan disana. Dengan sabar ia merawat para orang tua yang kadang bertingkah seperti anak kecil.


Visha tak kewalahan menangani mereka, karena ia juga memiliki anak kecil yang suka meminta hal yang kadang tak masuk akal.


Visha mengajak seorang nenek bernama Aminah berjalan santai dihalaman panti. Saat akan masuk kembali ke dalam panti, Visha mendengar suara riuh di kawasan panti asuhan yang terletak di sebelah panti.


Visha melirik ke arah taman panti asuhan yang ternyata ramai dengan anak-anak yang sedang bermain bola.


Mata Visha tiba-tiba tertuju ke sosok seorang pria yang ia kenal.


"Itu kan---? Pak Rocky?" Visha mengerutkan keningnya mendapati sosok Rocky yang nampak akbrab dekat penghuni panti.


Tak sengaja mata Rocky juga mengarah pada Visha yang sedang menatapnya dari kejauhan.


Mata mereka beradu. Namun, secepat kilat Visha mengalihkan pandangannya ke nenek Aminah yang sedang bersamanya.


Apa yang dia lakukan disini? Batin Visha mencoba menelaah tentang keberadaan Rocky di panti asuhan.


Usai mengantar nenek Aminah, Visha keluar dari panti dan melihat Rocky sedang duduk di bangku taman panti.


Visha memberanikan diri menghampiri Rocky. "Apa yang bapak lakukan disini?"


Rocky nampak sedang mengatur nafasnya. "Boleh aku minta segelas air?" pinta Rocky.


Visha mengangguk dan kembali masuk ke dalam panti. Beberapa menit kemudian, Visha kembali dengan membawa segelas air.


Visha memberikannya pada Rocky.


"Terima kasih." Dengan sekali teguk air didalam gelas telah berpindah ke tenggorokan Rocky.


"Aah, segarnya." ucap Rocky sambil mengembalikan gelas pada Visha.


"Bapak belum jawab pertanyaan saya. Apa yang bapak lakukan disini? Apa bapak mengikuti saya?"


Rocky tertawa kecil. "Jangan besar kepala! Aku kesini untuk bertemu anak-anak panti. Kau sendiri? Kenapa ada disini?"


"Saya jadi relawan disini."


Rocky hanya bisa ber 'oh' ria.


...šŸšŸšŸ...

__ADS_1


tobe continued.....


__ADS_2