
...πππ...
Visha keluar dari toilet dan bertemu dengan Zayn. Visha hanya berlalu tanpa melihat ke arah Zayn.
Zayn merasa ada yang aneh dengan sikap Visha setelah kemarin ia bilang pulang ke rumahnya.
Sampai di ruang kerjanya, Visha berusaha berkonsentrasi dan mengerjakan pekerjaannya dengan baik.
Tiba-tiba ponselnya berdering. Sebuah pesan yang dikirim oleh Ali untuknya. Ali mengirim foto dirinya sedang bersama kakek dan neneknya.
Tak terasa air mata Visha mengalir. Ia merasa bersalah karena beberapa hari ini ia hanya memikirkan dirinya sendiri. Ia segera menghapus air matanya.
Mama sudah janji akan hidup hanya untukmu. Maafkan mama jika akhir-akhir ini mama tidak memikirkanmu dan hanya memikirkan perasaan mama sendiri.
Visha mencium foto Ali yang ada di ponselnya. Bocah sembilan tahun itu adalah kekuatan tersendiri untuk Visha. Ia tak akan mampu menghadapi semua cobaan dalam hidupnya jika tak ada Ali yang datang menyinari gelapnya kehidupannya selama ini.
Mama janji, mama tidak akan memikirkan apapun selain kamu, nak. Mama mencintaimu, anakku...
...~ ~ ~...
Beberapa hari berlalu, dan Visha kembali berkutat dengan pekerjaannya lalu bercanda gurau bersama Lala saat jam istirahat.
"Pak Zayn kemana, La? Kok tidak kelihatan?"
"Pak Zayn pergi ke Jakarta, katanya ada pengangkatan CEO baru Brahms Corp. Sekalian menjenguk Pak Bian yang kemarin sempat sakit."
"Eh?" Visha membulatkan mata.
CEO Brahms Corp yang baru? Apa Mas Galang ditunjuk untuk menggantikan Papa Leonard? Tapi kenapa tiba-tiba? Ah, sudahlah. Itu bukan lagi urusanku.
Visha melanjutkan makan siangnya bersama Lala.
Acara pelantikan CEO baru Brahms Corp disiarkan langsung di televisi lokal yang bisa kita lihat melalui aplikasi Utub.
Ternyata benar dugaan Visha jika Galang di lantik menjadi CEO baru menggantikan Leonard. Visha ikut bertepuk tangan atas keberhasilan Galang.
Selama ini Visha tahu jika Galang memang bekerja keras untuk dapat kepercayaan dari Papanya agar meneruskan Brahms Corp.
Saat sedang menonton pelantikan Galang bersama teman-teman kantornya, ponsel Visha berdering.
Elena menghubungi Visha.
"Halo, Ma. Bagaimana kabar Mama?"
"Halo Visha, mama baik. Kamu sendiri?"
"Visha juga baik, Ma."
"Apa kau melihat acara pelantikan Galang hari ini?"
"Iya, Ma. Ini Visha sedang menontonnya bersama teman-teman kantor. Pak Zayn juga ikut datang kesana."
"Kenapa kau tidak ikut datang kesini?"
"Heh?"
"Mama kira kamu ikut kesini juga."
"Aku punya banyak pekerjaan disini."
"Kalau begitu, akhir pekan saja kamu datang kesini ya!"
"Eh?"
"Mama menyiapkan pesta kecil-kecilan untuk Galang. Mama rasa kamu perlu datang untuk mengucapkan selamat pada Galang "
"Tapi, Ma..."
"Tidak ada tapi... Mama sudah pesankan tiket pesawat untuk kamu. Datanglah kesini. Kamu boleh membawa Ali atau temanmu."
Visha menggaruk tengkuknya. "Baiklah, Ma. Visha akan usahakan datang."
Setelah panggilan berakhir, Visha menerima pesan dari Elena yang isinya adalah pembelian tiket secara online yang diberikan Elena untuk Visha.
Visha hanya bisa menghela nafas. Lala menghampirinya.
"Ada apa?"
__ADS_1
"La, kau mau ikut denganku akhir pekan ini?"
"Eh? Ikut kemana?"
"Ke pestanya orang-orang kaya, hehehe. Siapa tahu kau dapat gebetan disana."
"Enak saja! Aku sudah bertunangan, Sha."
"Halah masih status tunangan, belum menikah 'kan. Anggap saja jalan-jalan sebelum kau menikah." bujuk Visha.
"Baiklah. Aku akan ikut." jawab Lala dengan tersenyum.
...~~~~...
Acara pesta perayaan kejutan untuk Galang dari Elena pun di gelar di Royale Hotel dengan sangat mewah. Visha ingat jika Elena menyebutkan jika ia hanya menyiapkan pesta kecil-kecilan. Tapi apa ini? Pestanya diadakan di hotel bintang lima. Visha merasa tertipu. Visha datang bersama Lala dengan gaun yang dikirimkan Elena untuknya.
Visha dan Lala nampak bingung melihat sekeliling. Tak ada yang mereka kenal, kecuali...
"Pak Zayn!" Lala memanggil Zayn.
"Lala? Visha? Kalian kok bisa ada disini?"
"Iya, pak. Visha yang mengajakku." jawab Lala.
"Oh. Begitu." Zayn nampak memandangi Visha. Ia sudah tahu jika Elena pasti mengundang Visha ke pesta ini.
"Kau cantik sekali, Visha." puji Zayn. Lala hanya tersenyum melihat bosnya memuji Visha. Lala gemas dengan mereka berdua yang tidak segera meresmikan hubungan mereka.
"Terima kasih, pak." jawab Visha singkat.
Acara pun dimulai, Galang bersama Elena dan Leonard mengucapkan terima kasih kepada para tamu undangan yang hadir. Mereka mempersilahkan para tamu untuk menikmati hidangan yang sudah tersedia.
"Gila, Sha. Ini sih real pestanya sultan." Lala tak henti berdecak kagum.
Visha memutar bola matanya. "Kau harus berterimakasih padaku, huh!"
"Tentu saja, Visha sayang..."
Galang mendapatkan ucapan selamat dari para tamu yang datang. Namun Visha masih belum memberi selamat pada Galang.
"Eh? Tidak, pak. Aku..."
"Kenapa? Kau masih canggung menghadapi Galang? Aku akan menemanimu..." Zayn meraih tangan Visha dan menautkannya di lengan kirinya.
Visha dan Zayn berjalan menghampiri Galang.
Zayn mengulurkan tangan memberi selamat pada Galang.
"Selamat atas keberhasilannya Pak Galang." ucap Zayn.
"Ah, terima kasih." Galang menatap ke arah Visha yang hanya menundukkan kepala.
"Visha? Apa kau tidak memberiku selamat juga?"
"Eh? Umm, selamat atas keberhasilannya." ucap Visha terbata.
Usai memberi selamat, Zayn segera membawa Visha pergi dari keramaian pesta. Saat mereka berjalan melewati beberapa orang, sepasang mata terus memperhatikan Visha bersama Zayn.
"Itu 'kan... Visha? Kenapa dia bisa ada disini?" ucap seorang wanita dengan mengarahkan jarinya ke arah Visha.
"Sania! Kau datang?" Galang menyapa Sania.
"Galang! Kenapa Visha ada disini? Apa kau mengundangnya?" Sania panik melihat sosok Visha.
"Mama yang mengundangnya. Dia masih ingin menjodohkanku dengan Visha."
"Heh? Apa? Apa kau masih mencintai dia?"
"Entahlah. Hatiku...."
"Sudahlah, aku tahu kau masih terluka. Tapi... sekarang semua sudah berbeda. Dia pergi bersama siapa tadi?"
"Zayn Ibrahim. Bukankah dia sahabat suamimu, Bian."
"Eh? Zayn? Visha punya hubungan khusus dengan Zayn?"
"Aku tidak tahu. Tapi Visha bekerja di perusahaan milik Zayn."
__ADS_1
"Apa?!" Sania segera pamit pergi pada Galang.
"Ada apa dengannya?" Galang hanya menggeleng pelan.
...~~~~...
Zayn membawa Visha menghirup udara segar di luar ballroom hotel. Ia membawanya ke rooftop hotel yang memiliki pemandangan malam yang indah.
"Aku tahu kamu butuh udara segar untuk bernafas." tutur Zayn.
"Terima kasih, pak. Saya... memang tidak cocok dengan pesta seperti ini..." Visha menunduk.
"Kamu tunggu disini. Aku akan mengambil minuman untukmu."
.
.
.
Sementara itu, Lala mencari keberadaan Visha. Ia berjalan mengitari ruangan dengan mencari-cari sosok Visha diantara kerumunan orang-orang.
"Lala!"
Panggil seseorang dan Lala langsung menoleh.
"Reza? Pak Bian? Kalian ada disini juga?"
"Tentu saja. Kau sendiri? Kenapa ada disini?" tanya Reza.
"Aku datang bersama Visha. Reza, bantu aku untuk mencari Visha."
"Dih, kau ini merepotkan sekali."
Bian yang mendengar nama Visha langsung bergegas pergi dan mencari keberadaan Visha.
Kepalanya terasa berdengung ketika mengingat tentang Visha. Ia berjalan melewati beberapa orang. Entah kenapa kakinya menuju ke luar ruangan dan sampai di rooftop.
Ia melihat sesosok wanita yang sepertinya sedang ia cari. Mendengar langkah kaki yang mendekat, Visha segera berbalik badan,
"Pak Zayn...?"
Mata Visha membulat sempurna ketika melihat Bian yang berjalan ke arahnya.
"Pak Bian? Apa yang bapak lakukan di....mmmmpppphhhhh."
Tanpa persiapan apapun, Visha sangat terkejut saat Bian tiba-tiba mencium bibirnya. Ia meronta agar bisa lepas dari Bian. Namun ia tak sekuat itu melawan tenaga Bian. Yang terjadi malah Bian makin memperdalam ciumannya.
PRANG!!!
Suara pecahan gelas akhirnya membuat Bian tersadar dan segera melepaskan tubuh Visha.
"Brengsek kau!!!" teriak Zayn yang langsung memukuli Bian.
BUGH!
BUGH!
Visha hanya menutup mulutnya saat Zayn memukuli Bian. Ia segera mencegah Zayn agar tidak berbuat lebih brutal.
"Sudah, pak. Hentikan!!!" Visha meraih tangan Zayn.
Bian jatuh tersungkur dengan luka memar di wajahnya.
"Bian!!!" Teriak seorang wanita yang tak lain adalah Sania. Ia segera membantu Bian untuk berdiri.
"Apa yang kamu lakukan padanya, Zayn?" tanya Sania dengan nada marah.
"Kau tanyakan saja pada suamimu itu!!" Zayn meraih tangan Visha dan membawanya pergi dari sana meninggalkan Sania dan Bian yang masih mematung.
...πππ...
...tobe continued,,,,...
...Jangan lupa tinggalkan jempol kalian dan klik favorit cerita iniππ...
...terima kasih ππ...
__ADS_1