Labuhan Cinta Sang Playboy

Labuhan Cinta Sang Playboy
S2 - Mengumpulkan Bukti dan Sekutu


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


Bian mengepalkan tangan dengan berpikir keras memikirkan cara agar bisa kembali ke posisinya sebagai Rocky Abraham.


Aku harus mencari orang yang bisa kupercaya. Tapi siapa? Reza? Tidak, tidak. Dia adalah orang kepercayaan Sania. Aku tidak bisa meminta tolong padanya.


Sudah satu minggu sejak ia melakukan beberapa tes DNA dirinya dan juga tes pada Alisa. Ia masih merasa ragu jika Alisa adalah putri kandungnya. Ia ingat jika Sania pernah menikah dengan Yogi yang menjadi rivalnya. Dan saat itu Sania hamil namun ingin menggugurkannya.


Bian masih tak yakin apakah Sania mempertahankan bayinya atau menggugurkannya. Karena setelah itu ia mengalami kecelakaan.


Bian alias Rocky benar-benar sudah mengingat semuanya. Ia ingat jika Sania pernah memintanya agar menjadi ayah dari bayinya. Namun ia tolak dengan halus.


Apa karena ini Sania sampai berbuat sejauh ini? Tapi kenapa sampai merubah wajahku agar tak ada yang mengenaliku? Lalu, jasad siapa yang dikubur menggantikanku? Apa kau membunuh seseorang, Sania?


Bian mengacak rambutnya frustasi. Ia merasa sendirian sekarang. Ingin bicara dengan siapa tak akan ada yang mempercayainya. Itu pasti.


Dalam kegundahannya, ia mengingat satu nama.


Donny? Dia adalah sahabatku. Dia pasti bisa percaya dengan ceritaku. Dia pasti percaya jika aku adalah Rocky.


Sejenak Bian sangat gembira mengetahui jika ia memiliki sahabat dekat seperti Donny.


Tapi... Bagaimana caraku memberitahu padanya? Tidak mungkin dia akan langsung percaya jika aku adalah Rocky.


Bian kembali frustasi di kamar apartemennya. Ia berteriak kencang di balkon apartemennya. Ia mendengar jika ada yang menekan bel apartemennya. Ia menuju ke pintu dan melihat dari CCTV pintu kamarnya.


Seorang kurir kepercayaannya membawa sebuah surat untuknya. Bian membuka pintu.


"Ini pak, hasilnya sudah keluar." ucap si kurir.


"Terima kasih. Kau boleh pergi."


"Saya permisi."


Bian menutup pintu dan duduk di sofa empuk miliknya. Ia membuka isi surat yang dikirim dari laboratorium rumah sakit.


Bian menghela nafas sebelum membaca isi hasil tes DNA miliknya. Bian mengepal kuat saat mengetahui hasil tes dirinya dan Alisa.


"Arrrgghhhh!!! Brengsek kau, Sania!!!"


Bian mengumpat dengan keras. Hatinya sudah tak mampu lagi menahan amarah yang sudah mencapai ubun-ubun.


Bagaimana bisa kau melakukan ini padaku? Alisa bukanlah anakku! Dia pasti anak Yogi.


Setelah banyak mengumpat dan menumpahkan kekesalannya, Bian pun kembali tenang dan kembali ke rumahnya.


Bagaimanapun juga ia harus memainkan perannya dengan apik di depan Sania. Ia harus membongkar kebusukan Sania suatu saat nanti.

__ADS_1


Dengan siapa kau bekerja Sania? Kau tidak mungkin melakukan ini sendiri, bukan? Kau adalah wanita baik hati dan sabar. Kenapa kau berubah menjadi wanita jahat seperti ini? Kau tega membuat Visha menderita selama bertahun-tahun dan juga Ali... Kau tega membuat anakku menjadi anak yatim.


Bian hanya bisa terus membatin sambil memandangi Sania yang sudah terlelap. Selama beberapa hari ini, ia sengaja pulang larut malam karena tak mau bertemu Sania secara langsung.


Bian lalu beranjak ke kamar Alisa. Dipandanginya gadis kecil yang tak berdosa itu dengan dalam. Bian membelai rambut Alisa pelan. Diciumnya bocah kecil itu yang terlelap dengan damai.


Meski kau bukan putri kandungku, aku akan tetap menyayangimu seperti putriku sendiri. Kau jangan khawatir. Kau tidak akan kehilangan kasih sayang dari papamu ini...


...β€’β€’β€’β€’β€’...


-Kantor RAB Cons-


Donny menerima sebuah paket dari seorang kurir. Ia melihat sekilas kotak yang ada di tangannya.


"Tidak ada nama pengirimnya..." gumam Donny.


Karena penasaran, Donny pun membuka kotak itu. Betapa terkejutnya ia ketika melihat apa isi didalam kotak itu.


"Ini 'kan...." Donny mengambil sebuah foto didalam kotak itu.


Itu adalah foto dirinya dan Rocky saat masih SMA dulu. Ada sebuah catatan di dalam kotak itu.


"Datanglah ke apartemen Prince Town lantai 20 kamar 2001. Kode kuncinya adalah tanggal lahir sahabatmu, Rocky Abraham. Kau akan tahu jika sahabatmu belumlah meninggal..."


Tangan Donny gemetar membaca isi pesan di kertas itu. Ia mengusap wajahnya kasar.


"Apa ini? Apa ada orang yang ingin bermain-main dengan orang mati? Kenapa mereka menggunakan orang mati untuk mengerjaiku?" Donny berjalan mondar mandir tak tenang.


Donny menghubungi pihak apartemen Prince Town untuk mendapat jawaban. Sepengetahuannya, apartemen itu sudah lama kosong dan belum ada pembeli karena di jual dengan harga sangat tinggi.


Donny makin terkejut karena pihak apartemen mengatakan jika kamar apartemen yang ia maksud memang sudah dibeli oleh seseorang berinisal RAB.


Donny makin tak mengerti dengan situasi ini. Itu adalah inisial nama Rocky yang juga menjadi nama perusahaan yang kini ia pimpin.


Maka dengan berat hati dan rasa penasaran yang tinggi pula, Donny akhirnya datang ke apartemen Prince Town lantai 20 kamar 2001.


Dengan sedikit keraguan, Donny menekan kode kunci dengan angka tanggal lahir Rocky. 1704.


KLINTONG!


Pintu apartemen terbuka. Donny mulai masuk ke dalam kamar apartemen yang nampak tak berubah. Hanya beberapa perabotan yang nampak baru menandakan jika kamar ini sudah berpenghuni manusia.


"Kau sudah datang rupanya..."


Donny terkesiap kala mendengar suara seseorang yang berjalan keluar dari kamar.


Donny membelalakkan mata. "Pak Biantara?"

__ADS_1


Bian tersenyum ke arah Donny. "Mari silahkan duduk!" Bian mempersilahkan Donny menuju ke arah sofa yang terlihat baru.


"Jadi, bapak yang membeli apartemen milik Bos Rocky? Kenapa bapak menggunakan kode tanggal lahir Bos Rocky? Apa maksudnya dengan mengirim paket misterius pada saya?"


Bian tersenyum. Seperti biasa, ia melihat Donny yang cerewet tak berhenti bicara.


"Kau tidak berubah sama sekali. Selalu saja cerewet dalam segala situasi."


"Apa maksud bapak? Kenapa bapak bicara begini pada saya?"


"Donny... Maaf jika aku membuatmu terkejut, tapi... aku bukanlah Biantara. Aku adalah sahabatmu, Rocky Abraham."


"Hah? Jangan bercanda, pak! Kenapa bapak memanfaatkan orang yang sudah meninggal untuk mengambil kesempatan?"


Bian menyerahkan sebuah map pada Donny. "Baca dan pahami semuanya! Aku melakukan ini karena aku percaya padamu. Dan hanya kau saja yang bisa membantuku untuk kembali sebagai Rocky."


Donny makin tak mengerti dengan keadaan ini. Ia mulai membaca lembar demi lembar yang ada di dalam map.


"Apa ini, pak?" Tanya Donny dengan ekspresi terkejutnya.


"Aku adalah Rocky, Don. Aku temanmu." ucap Bian dengan mata memerah.


"Tapi... bagaimana bisa? Wajah kalian jelas berbeda."


"Itulah yang harus kucari tahu. Aku ingin meminta bantuanmu."


"Jika kau benar-benar Bos Rocky bukan hanya dari pernyataan selembar kertas, buktikan padaku!"


"Aku... ingin minta maaf padamu soal Inka. Dulu kau menyukainya tapi aku merebutnya dan menjadikannya sebagai kekasihku."


Donny pun luluh. Kenyataan tentang dirinya yang menyukai Inka hanya Rocky saja yang tahu. Dan itu membuktikan jika Bian adalah benar Rocky, sahabatnya.


"Bos Rocky!!!"


Donny menghambur memeluk Bian dan tak terasa dua sahabat itu meneteskan air matanya.


...🍁🍁🍁...


tobe continued,,,,


.


.


.


*Jangan lupa tekan jempol πŸ‘ karena kalian adalah semangatku😍😍

__ADS_1


*berikan komen ttg part ini juga boleh banget😬😬


...~terima kasih~...


__ADS_2