Labuhan Cinta Sang Playboy

Labuhan Cinta Sang Playboy
S2 - Murka Seorang Bian


__ADS_3

...šŸšŸšŸ...


Entah kenapa hari itu, Galang merasa tidak fokus dalam bekerja. Ingatannya tiba-tiba terfokus pada dirinya yang sudah memberitahu Sania jika Visha ada di kota ini.


Ia pun mulai cemas. Sania adalah wanita yang nekat. Bisa saja ia melakukan sesuatu yang membahayakan Visha.


Akhirnya Galang memutuskan untuk pergi ke apartemen Prince Town untuk memantau apakah Sania datang menemui Visha atau tidak.


Dan benar saja, saat Galang tiba disana, kejadian tak mengenakkan sedang terjadi di depan matanya dan orang-orang yang ada disana.


Galang segera berjalan menuju Visha dan Sania yang sedang adu argumen.


"Hentikan! Kau benar-benar keterlaluan!"


Visha yang sudah menutup matanya segera membuka mata dan melihat Galang memegangi tangan Sania.


"Mas Galang!" seru Visha.


Galang segera menjatuhkan tangan Sania kasar. Lalu dengan cepat meraih tubuh Visha dan dibawanya pergi dari lobi apartemen.


Galang membawa Visha ke sebuah kafe di dekat apartemen.


"Kau baik-baik saja? Apa Sania melukaimu?" tanya Galang sambil memeriksa keadaan Visha.


"Ah, tidak, Mas. Aku baik-baik saja." jawab Visha canggung.


"Dia adalah wanita yang nekat. Kau harus berhati-hati dengannya."


"Iya, Mas. Tapi... Apa yang Mas Galang lakukan disini?"


"Ah, aku...." Galang harus mencari alasan yang bagus.


"Sudahlah, Mas. Yang jelas aku sangat berterimakasih pada Mas Galang karena sudah menolongku."


"Jangan sungkan padaku. Tapi, Visha... Apa benar kau sekarang tinggal di apartemen itu?"


"Eh?"


"Jadi kau sudah berhenti bekerja pada Zayn?"


Sepertinya tidak menguntungkan bagi Visha ditolong oleh Galang. Visha harus memutar otak untuk memberi alasan yang bagus agar Galang tidak curiga berlebihan.


"Mas... Bisa tidak kita jangan membahas soal itu?" Visha mencoba mencari celah untuk mengelak dengan wajah yang dibuat sememelas mungkin.


"Ya sudah. Jangan dimasukkan hati ya. Sebaiknya lain kali kau harus hati-hati. Kalau begitu aku permisi dulu ya. Aku masih ada pekerjaan."


Visha mengangguk dan Galang pun meninggalkan Visha.


Visha menatap kepergian Galang dengan berjuta pertanyaan.


Apa mungkin orang sebaik itu mampu melakukan kejahatan sebesar ini? Pasti ada seseorang di balik semua ini. Gumam Visha dalam hati.

__ADS_1


Setelah merasa dirinya tenang, Visha kembali ke apartemen dan berusaha tidak peduli dengan apa yang baru saja terjadi.


Visha berjalan cepat melewati lobi dan menuju lift. Nampak beberapa orang berbisik saat ia berjalan cepat dan masuk ke dalam lift.


Visha menghela nafas saat sendirian didalam lift. Ia merasa jika keputusannya untuk pindah menemani Bian adalah hal berat untuk dilakukan.


Mungkin saja kemarin ia tak berpikir dengan jernih hingga dengan gegabah memutuskan pindah.


Jika tahu akan begini, tidak seharusnya aku buru-buru pindah kemari. Tapi... Melihat reaksi Sania tadi, tak menutup kemungkinan jika dia bisa saja berbuat nekat dan melakukan segala cara untuk mendapatkan Rocky. Bahkan dia sudah mengubah wajah Rocky menjadi Bian agar ia bisa memilikinya. Ya Tuhan! Apa aku sanggup menghadapi semua ini?


TING


Pintu lift terbuka. Visha segera keluar dan menuju kamarnya. Seharian ini ia akan berada di kamar dan tak ingin pergi kemanapun.


.


.


.


Sore itu, Bian sengaja pulang lebih awal karena ingin memberi kejutan untuk Visha. Bian mampir ke sebuah toko bunga dan membeli sebuket bunga mawar merah untuk Visha.


Begitu sampai di depan apartemen, langkah Bian terhenti karena bertemu dengan petugas cleaning service yang kemarin ia mintai tolong.


"Eh, Mas Edi. Lagi giliran tugas Mas?" tanya Bian menyapa.


"Iya, Pak. Umm, begini Pak."


"Sebelumnya saya minta maaf pada bapak. Karena tadi...."


"Tadi apa, Mas?"


"Tadi... terjadi sedikit keributan disini. Tadi ada seorang wanita yang meminta saya untuk memberikan sebuah pesan ke kamar 2001. Awalnya saya tidak curiga karena saya pikir itu pesan biasa. Tapi ternyata..."


Bian sudah memasang raut wajah seriusnya.


"Ternyata kamar 2001 itu milik bapak ya? Dan yang menerima pesan itu adalah Mbak Visha, istri bapak. Setelah mendapat pesan, Mbak Visha turun ke lantai bawah dan bertemu dengan wanita yang memberikan pesan. Mbak Visha... Dimaki habis-habisan oleh wanita itu. Dikatai wanita simpanan, pelakor, dan lain-lain."


Bian sudah tidak tahan lagi mendengar cerita Edi. Ia mengepalkan tangannya kuat.


"Seperti apa wanita yang memberikan pesan itu?" tanya Bian dengan menggertakkan giginya.


"Ummm, dia sangat cantik, dan penampilannya sangat anggun. Namun sayang, sifatnya kurang baik. Dia bahkan ingin menampar Mbak Visha, tapi tiba-tiba ada seorang pria yang menolong Mbak Visha dan membawanya pergi dari sini. Sekali lagi saya minta maaf, Pak."


"Mas Edi tidak salah. Mas 'kan hanya menjalankan perintah. Ya sudah, kalau begitu saya permisi dulu." Bian berbalik dan akan keluar dari apartemen.


Namun tiba-tiba berbalik dan kembali mendatangi Edi lalu berkata,


"Oh ya, tolong berikan bunga ini pada Visha ya. Bilang padanya kalau saya hanya pergi sebentar. Ini imbalan untuk Mas Edi."


"Eh? Terima kasih banyak, Pak."

__ADS_1


Edi tersenyum sumringah dan langsung menuju ke kamar Visha di lantai 20.


.


.


.


Bian melajukan mobilnya dengan cukup kencang. Sudah bisa dipastikan jika wanita yang mendatangi Visha adalah Sania. Tapi Bian masih belum mendapat ide dari mana Sania tahu soal Visha.


Ia berpikir sejenak dan menemukan satu nama. "Kak Galang!!! Pasti dia yang sudah memberitahu Sania. Mereka selama ini bersekongkol untuk menghancurkanku! Kurang ajar!!! Akan kubalas kalian berdua!!" ucap Galang marah dengan memukul kemudinya.


Bian makin menginjak pedal gas dalam dan tak lama ia tiba di rumah Sania.


Bian berjalan cepat masuk ke dalam rumah dan meneriakkan nama Sania.


Sania yang sedang menyiapkan makan malam sangat syok mendengar Bian berteriak memanggil namanya.


"Bee, ada apa? Kenapa berteriak?"


"Kau!!!" Bian mengarahkan jari telunjuknya ke arah Sania. "Apa yang sudah kau lakukan pada Visha?!" tanya Bian yang sudah dikuasai amarah.


Sania membulatkan matanya. Ia tak percaya jika Bian semarah ini hanya karena Visha.


"Bee, kenapa kau semarah ini hanya karena wanita simpanan itu?" Sania tak terima jika harus di salahkan.


"Apa wanita itu mengadu padamu? Sudah bisa kutebak jika dia pasti akan mengadu dan melimpahkan kesalahan padaku."


Bian tak bisa berdebat lagi dengan Sania. Karena itu hanya akan membuang tenaganya saja.


Si kecil Alisa yang melihat pertengkaran papa dan mamanya hanya bisa menangis histeris.


Sania segera mendekap putri kecilnya itu. "Jika kau ingin marah padaku, jangan didepan Alisa. Dia masih terlalu kecil untuk melihat hal ini."


"Baiklah. Kau juga ingat ini baik-baik."


Bian menjeda kalimatnya.


"Jika kau masih ingin aku bertahan denganmu dan Alisa, maka... Jangan pernah mendatangi Visha lagi ataupun menyakitinya. Kalau aku menemukan kejadian seperti hari ini, maka aku akan selamanya pergi dari kehidupanmu dan Alisa. Kau mengerti?!"


Mau tak mau Sania menganggukkan kepalanya. Kemudian Bian pergi dari rumah itu dan kembali melajukan mobilnya.


...šŸšŸšŸ...


#bersambung


*Halooo readers ter-sayank šŸ‘‹šŸ‘‹šŸ‘‹ mampir yuks ke story author yg lain ya, ada "The Broken Leaf" yg masih ongoing dan "99 Cinta Untukmu" yg sudah tamat.


*Jangan lupa tinggalkan jejak kalian utk Bian dan Visha (Bisha 😬😬) Karena kalian adalah semangatku šŸ˜ššŸ˜ššŸ’ŖšŸ’Ŗ


...~Thank You~...

__ADS_1


__ADS_2