Labuhan Cinta Sang Playboy

Labuhan Cinta Sang Playboy
S2 - Serangan Fajar


__ADS_3

...šŸšŸšŸ...


Bian menuju ke markas milik anak buah Donny. Disana mereka menyiapkan berbagai peralatan untuk melacak keberadaan Visha dari video yang dikirim Galang pada Bian.


Tengah malam pun menjelang. Mereka masih sibuk bekerja keras. Bian membuat sebuah rencana indah untuk kakaknya secara rapi dan tak terduga.


Kali ini Bian tak bisa lagi membiarkan kakaknya menang. Donny juga memiliki kenalan di kepolisian yang segera ia hubungi agar bersiap mengepung klinik Magnolia.


Semua bukti-bukti sudah ia serahkan pada pihak kepolisian agar mempermudah proses penyelidikan.


Pukul satu dini hari, kelompok Donny siap mengepung klinik Magnolia. Tak pernah ada yang menyangka akan ada penyerbuan di tengah malam yang tenang.


Anak buah Galang pun bisa dilumpuhkan. Dan mereka dipaksa untuk menunjukkan dimana mereka menyandera Leonard dan Elena.


Bian sangat gembira karena bisa bertemu dengan papanya. Meski kondisi Leonard masih koma. Bian segera meminta orang suruhannya agar membawa papanya ke rumah sakit terbaik agar mendapatkan perawatan yang terbaik pula.


Lalu bersama pihak kepolisian, Bian juga menyusuri kamar demi kamar untuk mencari keberadaan Elena.


Bian sangat syok karena melihat keadaan mamanya terlihat depresi dan seperti kehilangan kewarasannya.


Bian mengepalkan tangannya kuat. Ia sangat membenci kakaknya yang sudah melakukan semua ini pada kedua orang tuanya. Meski Elena tak pernah memperlakukan Galang dengan baik, bukan berarti ia berhak menyakiti Elena seperti ini.


Elena di bawa ke rumah sakit dengan kondisi meronta-ronta dan membuat hati Bian sesak.


Donny mengusap bahu Bian untuk menenangkannya. "Bos, tenang saja. Malam ini semua akan berakhir. Kita tinggal menunggu kabar tentang Visha." ucap Donny.


"Aku tidak percaya Kak Galang bisa melakukan ini padaku. Aku memang bersalah padanya. Aku sudah.... membuatnya kehilangan banyak hal." Bian sangat sedih dan air matanya tak terbendung lagi.


"Tapi melakukan kejahatan tidak bisa dibenarkan, bos. Galang tetap bersalah. Dan dia harus mendapat hukuman yang setimpal atas perbuatannya."


"Kau benar, Don. Ayo kita pergi dari sini. Kita harus mencari Visha dan juga menangkap penjahatnya." Bian merangkul Donny dan pergi dari lokasi klinik Magnolia.


Dalam perjalanan, anak buah Donny menelepon jika lokasi Visha dalam video yang dikirim Galang ada di Royale Hotel.


Bian segera melajukan mobilnya kesana bersama Donny dengan membawa beberapa petugas kepolisian. Bian sudah tak sabar ingin menemui Visha.


Pukul tiga dini hari, Bian sampai di Royale Hotel dan segera menemui manajer hotel. Pihak hotel menghubungi Alexander Royale, dan tak lama Alex pun sampai.


"Tolonglah, Lex. Aku tidak akan membuat keributan jika kau mau bekerja sama. Berapa nomor kamar yang dipesan Kak Galang?" Pinta Bian dengan wajah panik.


Alex pun memberitahu dimana kamar yang disewa Galang. Bian dengan secepat yang ia bisa berlarian ke kamar itu. Alex memberinya kunci cadangan kamar itu.

__ADS_1


Bian masuk tanpa permisi dan mencari keberadaan Visha. Dilihatnya Visha sedang tertidur dengan pakaian yang masih lengkap. Galang ternyata hanya mengerjainya saja. Namun karena itulah semua rencana serangan fajar ini berjalan lancar.


"Visha! Bangun sayang!" ucap Bian mengelus rambut Visha.


Visha yang merasa ada suara ribut-ribut segera bangun. Ia sangat terkejut karena melihat Bian ada didepannya.


"Mas Bian!!" Visha segera memeluk Bian dengan erat. Visha menangis haru karena akhirnya Bian menemukannya.


"Aku disini, jangan takut! Kau sudah aman." Bian mendekap erat tubuh Visha.


"Kau baik-baik saja?" tanya Bian.


"Iya, Mas."


Bian menciumi wajah Visha dengan penuh haru dan juga rindu yang mendalam.


"Bos!" Donny menginterupsi.


Bian berdecak kesal. Baru saja ia ingin menyalurkan rasa rindunya pada istrinya, tapi harus terganggu karena Donny.


"Kita harus segera pergi dari sini. Kita harus menangkap penjahatnya."


.


.


.


Galang yang masih tertidur pulas di kamarnya yang nyaman, tiba-tiba terbangun karena mendengar suara berisik di rumahnya. Ia sangat kaget karena petugas polisi masuk ke kamarnya dan langsung memborgolnya.


Galang ingin menolak namun sebagai warga negara yang baik, ia akan mengikuti prosedur dulu saja. Ia akan urus sisanya nanti.


Saat tiba di depan rumahnya, ia bertemu dengan Bian dan Visha.


"Cih, jadi kau berhasil, Rocky?"


"Apakah kau tahu, Kak. Jika kejahatan tidak akan pernah menang melawan kebaikan. Bukankah itu yang selalu kakak katakan padaku. Kenapa sekarang kakak malah menjadi orang jahat?" ucap Bian lirih dengan mata mengembun.


"Bukankah ada juga yang mengatakan, jika orang jahat tercipta dari orang baik yang tersakiti? Mungkin itulah diriku, Rocky..."


Hanya itu kalimat terakhir Galang sebelum akhirnya polisi membawanya ke kantor.

__ADS_1


Visha menenangkan suaminya yang nampak syok dengan apa yang terjadi dalam keluarganya.


Pukul lima pagi, Bian mendatangi rumah Sania dengan membawa petugas polisi juga tentunya.


Sania yang baru saja bangun dari tidurnya, merasa tidak paham dengan situasi yang terjadi dirumahnya.


"Alisa masih tidur. Tolong jangan ganggu dia!" pinta Sania saat kedua tangannya sudah terborgol.


"Kau tenang saja. Aku akan mengurus Alisa dengan baik. Dia sudah kuanggap seperti putriku sendiri." balas Bian.


Tanpa bisa berkata apapun lagi, polisi segera membawa Sania untuk dilkaukan penyidikan lebih lanjut.


Bian mendatangi asisten rumah tangga Sania bernama Bibi Mina.


"Tolong jaga Alisa sampai saya datang menjemputnya. Jika Alisa bertanya tentang Mamanya, bilang saja mamanya ada urusan bisnis di luar kota." jelas Bian.


"Baik, Tuan."


Bian masuk ke dalam kamar pribadi Sania dan ikut menggeledah kamar itu mencari apa-apa saja yang bisa dijadikan barang bukti.


Sedangkan Visha, ia berkeliling rumah itu dan melihat beberapa foto terpasang di dinding rumah itu. Foto Bian dan Sania juga Alisa yang nampak seperti keluarga bahagia.


Visha tersenyum miris melihat foto itu. Andai saja mereka benar-benar menjadi keluarga tanpa embel-embel kebohongan diantara mereka.


Tapi itu tidak mungkin. Karena Bian bukanlah suami Sania, juga bukan ayah kandung Alisa. Visha hanya.bis menggeleng pelan.


Langkahnya kini menuju ke lantai dua dimana kamar Alisa berada. Visha membuka pintu kamar itu dan melihat seorang gadis kecil tengah tertidur lelap. Wajah polosnya terlihat damai saat matanya terpejam. Entah apa yang terjadi saat ia membuka mata dan mendapati kenyataan pahit tentang orang tuanya.


"Visha!" suara Bian memanggil Visha. Visha segera keluar dari kamar Alisa dan menuju ke bawah.


"Ada apa, Mas? Apa sudah selesai?"


"Iya, mari kita pulang. Aku merasa lelah sekali." ucap Bian.


"Setelah ini kau harus istirahat." jawab Visha dengan memeluk pinggang Bian.


...šŸšŸšŸ...


#bersambung,,,


Finally...😩😩😩😩

__ADS_1


__ADS_2