Labuhan Cinta Sang Playboy

Labuhan Cinta Sang Playboy
S2 - Mengenangmu


__ADS_3

biarlah kusimpan sampai nanti aku


kan ada disana, tenanglah dirimu dalam kedamaian,


ingatlah cintaku, kau tak terlihat lagi


namun cintamu abadi,,,


(Mengenangmu - Kerispatih)


.


.


...šŸšŸšŸ...


Visha berjalan menuju teras depan rumah. Hatinya sesak setelah mendengar kalimat dari ibunya. Air matanya kini tumpah. Ia menggengga liontin kalung yang masih terus setia dipakainya selama dua tahun ini.


Visha duduk sambil menatap langit malam. Tak lama ayahnya ikut bergabung bersamanya.


"Jangan didengarkan apa yang ibumu katakan. Ibumu hanya merasa khawatir denganmu saja," ucap Haryono.


"Iya, Pak," jawab Visha singkat.


"Ya sudah, jangan lama-lama duduk diluarnya. Udaranya makin malam makin dingin, Nduk."


"Iya, Pak. Sebentar lagi aku masuk. Bapak masuklah dulu!"


"Iya, bapak masuk dulu ya."


.


.


.


"Ibu, kenapa bicara begitu dengan Visha? Tidak seharusnya ibu mengungkit tentang Rocky didepan Visha."


"Memangnya kenapa? Ibu hanya khawatir, Pak, dia akan terus sendiri seperti itu. Kasihan Ali. Dia butuh sosok seorang ayah."


"Bapak yakin, suatu saat Visha bisa membuka hatinya untuk orang lain. Kita hanya harus bersabar saja."


.


.


.


Sementara itu, di kediaman keluarga Abraham.


"Eh, Mas Galang? Akhirnya Mas Galang pulang juga," sambut Bi Iroh.


"Iya, Bi. Maaf ya, aku jarang pulang karena aku sangat sibuk. Papa dan Mama mana, bi?"


"Kasihan tuan dan nyonya, Mas. Mereka kesepian. Mereka seperti biasa sedang ada di teras belakang. Mas Galang harus sering mampir kemari."


"Iya, bi. Akan kuusahakan."


Galang menemui Papa dan Mamanya yang sedang bercengkerama ditemani sinar rembulan.


"Pa, Ma..." sapa Galang.


"Galang? Kamu datang, nak?" Sapa Leonard.


"Iya, Pa. Bagaimana kabar Papa dan Mama?"


"Kami baik. Kamu sendiri? Kamu sangat sibuk sampai jarang mampir kemari," kini Elena yang menjawab.


Setelah kepergian Rocky, hubungan Galang dan Elena mulai mencair. Kini Elena menganggap Galang seperti putranya sendiri.


"Iya, Ma. Maaf ya. Papa dan Mama sedang apa disini? Sudah malam, udara malam kurang bagus untuk kesehatan."


"Hanya ingin mengobrol santai saja. Oh ya, kamu besok ikut 'kan ke Pekalongan?" tanya Elena.


"Eh?"


"Ali besok ulang tahun. Rencananya Mama dan Papa mau kesana." Jelas Elena.


Galang memalingkan wajahnya. Elena tahu jika Galang masih merasa sakit hati dengan Visha dan Rocky.


Leonard memberi kode untuk tidak membahas soal Ali di depan Galang.

__ADS_1


"Kamu menginap disini 'kan?" Elena mengalihkan pembicaraan.


Galang hanya menjawab dengan sebuah anggukan.


"Sebaiknya Mama jangan membahas soal Visha atau Ali di depan Galang. Papa merasa dia masih tersakiti dengan yang terjadi," tutur Leonard ketika sudah didalam kamar.


"Iya, Pa. Mama minta maaf. Bagaimanapun juga, Ali adalah keponakan Galang. Dulu dia sangat dekat dengan Ali. Makanya Mama pikir dia juga ingin ikut bertemu Ali."


Leonard meraih tubuh istrinya itu dan memeluknya. "Tidak terasa ya, Ma. Sudah dua tahun Rocky meninggalkan kita. Apa kita beritahu saja pada Visha jika jantung yang didonorkan ke tubuh Ali adalah milik Rocky."


"Bukankah akan lebih baik jika Visha tidak tahu soal ini? Dia pasti akan lebih sedih jika tahu."


"Tapi Papa merasa jika dia perlu tahu, Ma. Agar dia bisa melangkah maju menjalani hidupnya. Jangan terus memikirkan Rocky."


"Terserah Papa saja. Mama hanya ingin yang terbaik untuk mereka." Elena makin merapatkan tubuhnya ke tubuh suaminya.


...***...


Keesokan harinya, Ali mendapat kejutan dari Visha dan kakek neneknya. Ditambah lagi kedatangan Leonard dan Elena ke rumah, membuat suasana di rumah makin ramai dan ceria.


Visha juga tak lupa memberikan kado dari Zayn, atasannya.


"Ini dari siapa, Ma?" Tanya Ali mengernyit.


"Dari atasan Mama di kantor. Namanya Om Zayn."


Sontak jawaban Visha membuat semua orang terkejut. Ibu dan Bapak Visha langsung saling pandang, begitu juga dengan Papa dan Mama Rocky.


"Ayo coba dibuka!" titah Visha pada putranya.


Sebuah mainan mobil remote keluaran terbaru, kado dari Zayn. Visha menutup mulutnya tak percaya. Dia tahu jika harga mobil mainan itu cukup mahal.


Visha jadi merasa tak enak pada Zayn. Ia mulai berpikir, jika putri Zayn ulang tahun ia akan memberi apa. Mengingat dia adalah putri orang kaya. Pasti seleranya juga tinggi. Visha menghembuskan nafasnya kasar.


...***...


"Siapa Zayn?" Selidik Ibu Visha.


"Ibu? Kok nanya begitu? Dia atasan aku di kantor. Memangnya aku belum pernah cerita ya?"


"Apa pernah kamu cerita soal masalah pribadimu? Bahkan saat mengandung Ali pun kamu tidak mau bilang siapa ayahnya."


"Ibu... Maaf." Visha memeluk ibunya.


DEG.


"Iya, Ma. Tidak apa. Mas Galang pasti sibuk."


"Iya, dia mengurus dua perusahaan sekaligus. Umm, Visha, ada yang ingin Mama sampaikan."


"Apa itu, Ma?"


"Biar Papa saja yang jelaskan." Elena mengundang suaminya.


"Maaf, Visha. Jika kami harus bicara begini."


Visha bingung dengan situasi ini.


"Apa kamu tahu siapa yang sudah mendonorkan jantungnya untuk Ali?" tanya Leonard.


"Tidak, Pa. Pihak rumah sakit bilang mereka menjaga privasi pendonor. Memang kenapa, Pa?"


Elena meraih kedua tangan Visha dan menggenggamnya. "Berjanjilah kamu akan hidup dengan baik setelah mendengar ini."


"Hidup dengan baik?"


"Belajarlah untuk melupakan Rocky dan membuka hatimu untuk pria lain."


Visha cukup terkejut dengan ucapan Elena. Kenapa semua orang menginginkan dirinya melupakan Rocky? Bukankah orang yang telah tiada masih bisa tetap dikenang?


"Yang mendonorkan jantung untuk Ali adalah ... Rocky," terang Leonard tanpa jeda.


"Eh?"


.


.


.


Malam itu setelah semua orang telah terlelap, Visha masih menatap langit dengan bintang yang berkelip disana.

__ADS_1


Ia memikirkan bagaimana semua orang ingin ia kembali menata hatinya dan mencari orang lain.


Aku hanya ingin mengenangmu saja... Hanya itu. Aku mungkin bisa menemukan orang lain. Tapi aku akan tetap mengenangmu.


Kemudian Visha tersenyum.


"Ternyata benar jika kau memang sangat dekat. Itu karena kau masih ada disini..." gumam Visha.


.


.


.


.


Disuatu tempat yang jauh dari keramaian kota besar, seorang pasien masih terbaring lemah di ranjang di temani berbagai alat yang menempel pada tubuhnya.


Tangannya bergerak sedikit menandakan jika ia mulai terbangun dari tidur panjangnya.


Seorang perawat yang sedang memeriksanya, tiba-tiba berseru dan memanggil seorang dokter.


"Dokter, sepertinya pasien mulai sadar," ucap si perawat.


"Coba saya cek dulu."


Dokter segera memeriksa segala organ vital pasien yang nampaknya baik. Si pasien mulai membuka matanya perlahan.


Dokter dan perawat saling pandang dan mengerutkan dahi.


"Sepertinya pasien mulai bangun, dok.," ujar perawat.


"Vi ... sha ... " si pasien mulai menggumamkan sesuatu.


"Dokter, sepertinya dia bicara."


"Vi ... sha ... " ucapnya lirih sehingga dokter dan perawat tak mendengarnya dengan jelas.


Tiba-tiba seorang wanita muda datang dan melihat bahwa pasien sudah membuka matanya.


Wanita itu menutup mulutnya tak percaya.


"Nyonya, sepertinya dia mengucapkan sesuatu. Coba nyonya dengarkan apa yang di ucapkan."


Wanita itu mulai mendekati ranjang pasien dan mendekatkan telinganya ke arah bibir pasien.


"Vi ... sha ... "


Wanita itu mundur perlahan kemudian pergi dari ruang pasien.


Ia mengusap wajahnya seakan tak percaya dengan apa yang didengarnya.


Dokter menemui wanita itu.


"Apa yang terjadi, dokter?"


"Sepertinya pasien mulai bangun, nyonya."


"Apa dia akan bisa mengingat semuanya?"


"Saya belum tahu pasti, nyonya."


"Kenapa belum tahu? Dengan jelas dia mengucapkan nama perempuan itu. Kenapa setelah dua tahun dan dia masih ingat dengan perempuan itu?"


"Tenanglah, nyonya. Kami masih harus mengobservasinya. Kami belum bisa mengambil kesimpulan. Tapi yang jelas, dia akan mulai sadar dan bangun."


"APA?!"


...šŸšŸšŸ...


^^^bersambung^^^


.


.


.


.


"Bisa tebak apa yang sebenarnya terjadi?"

__ADS_1


Jangan lupa berikan jempol kalian šŸ‘šŸ’Ÿ


...terima kasih šŸ’ž...


__ADS_2