Labuhan Cinta Sang Playboy

Labuhan Cinta Sang Playboy
Melamar Navisha


__ADS_3

...šŸšŸšŸ...


Visha tak berhenti menghubungi ponsel Rara. Ia tetap berharap jika Ali sudah berada di rumah bersama Ibu Karina.


Visha juga menghubungi ponsel Ibu Karina. Namun tetap tak ada jawaban. Hal-hal buruk mulai menggelayuti pikiran Visha.


Sementara Edo sebisa mungkin berkendara cukup kencang agar sampai di rumah dengan cepat.


"Mbak, tenanglah! Aku yakin Ali baik-baik saja."


Visha meremas tangannya yang bergetar sedari tadi. Ia sangat takut. Sungguh sangat takut.


Saat semua menjadi hening, tiba-tiba ponsel Visha berdering. Panggilan masuk dari Rara. Visha segera mengangkatnya.


"Halo, Ra---"


"Mbak, ada apa meneleponku berulang kali?"


"Rara, apa Ali sudah pulang sekolah? Dia sudah di rumah kan?"


"Sebentar, Mbak. Aku cek dulu. Maaf dari tadi aku di dapur dan ponselku ada di kamar."


Visha menunggu jawaban dari Rara. Terdengar suara langkah kaki Rara menuju ke depan rumah.


"Ada sebuah mobil masuk ke rumah, Mbak. Sepertinya mobil Mas Galang. Oh, iya benar. Itu mobil Mas Galang, Mbak."


"Apa? Mas Galang? Lalu Ali?"


"Eh itu dia! Ali turun dari mobil Mas Galang."


Visha mematikan sambungan telepon. Ia mengatur nafasnya. Dan sekarang ia bernafas dengan lega.


"Bagaimana, Mbak?" tanya Edo.


"Ali bersama Mas Galang, Do."


"Ya ampun! Syukurlah kalau begitu. Jadi yang menjemput Ali adalah Mas Galang?"


"Iya. Aku sudah sangat khawatir tak karuan. Tak terpikirkan olehku jika Mas Galang akan menjemput Ali ke sekolahnya."


"Yang penting sekarang Ali baik-baik saja, Mbak."


.


.


.


Sementara itu,


Rocky terus memandangi selembar kertas cek yang di kembalikan Visha. Memang tak ada apapun disana. Visha tak menuliskan apapun disana.


Rocky tak menyangka jika Visha akan seberani itu mengatakan banyak hal didepannya.


"Bos?" Donny datang ke ruangan Rocky.


"Bos, ini makan siangnya." Donny meletakkan nasi kotak di meja Rocky.


Rocky masih terdiam tak menjawab Donny. "Bos, aku permisi!" Donny meninggalkan ruangan Rocky.


...***...


"Mas tidak kembali ke kantor?" tanya Visha pada Galang di sore hari dengan membawa secangkir teh untuk Galang.


"Tidak. Hari ini tidak ada agenda yang penting, jadi aku bebas ingin kemana saja."

__ADS_1


"Enaknya jadi bos, ya! Ali, kau harus rajin belajar agar bisa sukses seperti Om Galang." sahut Ibu Karina.


"Bos itu apa, Nek?" tanya Ali dengan polosnya.


"Bos itu adalah orang yang sukses. Kamu bisa dapat apapun yang kamu mau jika jadi bos."


"Benarkah, Nek? Kalau begitu, Ali akan rajin belajar. Biar jadi bos."


Semua tertawa mendengar celotehan lugu Ali.


"Sudah yuk! Kita masuk saja! Biarkan Mamamu berbincang dengan Om Galang."


"Sebentar, Nek! Ada yang mau Ali bicarakan dengan Om Galang."


"Eh?" Semua orang mengernyitkan dahi.


"Maafkan Ali, Om. Tadi Ali panggil Om dengan panggilan 'Papa'."


Visha terkejut mendengar pengakuan Ali.


"Ali tadi tidak sengaja. Ali hanya ingin seperti teman-teman Ali yang lain. Mereka memiliki Mama dan Papa. Sedangkan Ali----" Raut wajah Ali berubah sedih.


"Ali hanya memiliki Mama dan Nenek. Ali tidak memiliki Papa. Jadi, tolong maafkan Ali ya, Om."


"Sayang, Om senang Ali memanggil Om dengan panggilan Papa. Jika Ali berkenan, apa Om boleh menjadi Papanya Ali?"


Secercah senyum kembali hadir di wajah Ali.


"Tentu saja boleh. Iya kan, Ma?" Ali bertanya pada Visha sekarang.


"Eh?" Visha nampak bingung harus menjawab apa.


"Sudah Ali! Biarkan Mama dan Om Galang bicara dulu. Nenek yakin akan ada kabar baik dari mereka. Ayo!" Ibu Karina melirik ke arah Galang dan membawa Ali pergi dari ruang tamu.


Suasana canggung mulai tercipta setelah Ibu Karina dan Ali meninggalkan Visha dan Galang berdua saja.


"Maaf ya, Mas. Ali bersikap begitu pada Mas. Aku jadi tidak enak." ucap Visha pada akhirnya.


"Visha, kenapa kau bicara begitu? Aku sangat senang saat Ali memanggilku Papa. Itu artinya dia menerimaku sebagai Papanya."


"............"


"Jadi, sekarang tidak ada lagi alasan bagiku untuk menunda menyatakan hal ini padamu. Visha----menikahlah denganku---"


"Heh?" Visha cukup terkejut dengan pernyataan Galang yang tiba-tiba.


Galang mengubah posisi duduknya menjadi di sebelah Visha. Ia mengambil sesuatu dari saku jasnya. Sebuah kotak berisi cincin berlian.


"Navisha Rahma, maukah kau menjadi istriku?"


Mata Visha berkaca-kaca mendengar pertanyaan itu dari bibir Galang.


Dengan air mata yang hampir tumpah, Visha menganggukkan kepalanya. "Iya, Mas. Aku mau."


Galang tersenyum lebar mendengar jawaban Visha. Ia segera memeluk wanita yang duduk disampingnya dengan erat.


"Terima kasih, Visha. Terima kasih."


Ibu Karina dan Ali yang melihat Visha dan Galang berpelukan ikut bertepuk tangan dengan kebahagiaan mereka berdua.


Ali berjingkat gembira karena ia akan segera memiliki seorang ayah.


Usai makan malam, Galang berpamitan pada Visha dan keluarga kecilnya.


Visha mengantar Galang hingga ke depan rumah.

__ADS_1


"Aku kenyang sekali, Visha. Masakan kamu memang tak ada duanya."


"Terima kasih, Mas."


"Ada apa?" Galang melihat ada sesuatu yang berbeda dengan raut wajah Visha.


"Mas, ada hal yang ingin kukatakan padamu. Ini soal----masa laluku."


"..............." Galang mendengarkan dengan seksama apa yang ingin Visha katakan.


"Aku---ini bukan pertama kalinya aku datang ke Jakarta. Aku---- aku pernah tinggal disini beberapa tahun lalu. Aku----"


"Aku tahu."


"Eh? Mas sudah tahu?"


"Kau pernah menuntut ilmu disini. Kau pernah kuliah di jurusan arsitektur. Aku tahu itu."


"Mas mencari tahu tentang diriku?"


"Tidak. Ibu Karina yang menceritakannya padaku."


"Eh? Ibu?"


"Iya. Kau jangan marah padanya. Dia hanya ingin aku sedikit tahu tentangmu. Tapi sekarang, aku tidak ingin tahu apapun lagi tentangmu, kecuali kau sendiri yang menceritakannya padaku."


".............."


Galang menggenggam tangan Visha.


"Visha, aku tahu kamu melewati masa-masa yang sulit bersama Ali. Jadi, aku tidak akan memaksamu untuk menceritakannya padaku. Kita lakukan perlahan saja. Ya?"


Visha mengangguk. "Terima kasih karena Mas mau mengerti."


Galang membalas dengan senyuman dan sebuah pelukan hangat untuk Visha.


.


.


.


Malam itu, Visha memandangi cincin berlian yang berkilau indah di jari manis kirinya. Hatinya masih tak percaya jika Galang melamarnya secara tiba-tiba di hari ini.


"Nduk---" Ibu Karina menghampiri Visha.


"Maaf Ibu sudah bercerita sedikit pada Nak Galang. Ibu hanya merasa, tidak baik jika kamu terus menyembunyikannya dari Nak Galang."


"Iya, Bu. Tidak apa."


"Ibu ikut senang karena kamu menerima lamaran Nak Galang. Dia adalah pria yang baik. Dan dia pasti bisa jadi ayah yang baik juga untuk Ali."


" Iya, Bu. Tapi---- ada banyak hal yang masih kutakutkan."


"Ceritakan pada Ibu jika kau bersedia."


"Aku masih takut jika akhirnya Mas Galang mengetahui semuanya tentang Ali."


"Kalau begitu jangan sampai dia mengetahui semuanya."


"Eh?"


"Kubur semua kenyataan itu. Dan jangan pernah mengungkitnya lagi. Kebahagiaan yang baru sudah siap menantimu. Jadi jangan pernah melihat ke belakang lagi. Apa kau mengerti?"


"..............." Visha hanya diam dan memeluk Ibu Karina.

__ADS_1


...šŸšŸšŸ...


tobe continued,,,,,,,


__ADS_2