
...πππ...
-Dua Tahun Kemudian-
"Baiklah, sampai disini dulu pelajaran hari ini. Sampai bertemu minggu depan." ucap seorang dosen bernama Anton.
Visha yang mengetahui kelas telah usai, segera berlari menuju kamar mandi wanita untuk mengganti baju.
"Harus gerak cepat ini! Kalau tidak Pak Zayn akan marah padaku."
Tok Tok Tok
"Visha, kau ada didalam?" teriak Nania.
"Iya, aku harus segera berangkat ke kantor." jawab Visha.
"Tumben Pak Anton tiba-tiba minta kelas pagi." tutur Sitha.
"Iya, itu lah. Itu yang membuatku panik di pagi ini. Sudah tahu kalau aku harus bekerja pagi, makanya aku ambil kuliah sore. Eh, ini malah tukar kelas. Bikin kesal 'kan." gerutu Visha.
"Ya sudah santai saja. Bukankah bos kamu itu baik? Dan kamu sudah ijin sama bos kamu sebelum ke kampus." sahut Nania.
"Baik dan tampan pula," tambah Sitha.
"Sudahlah, aku sudah terlambat." Jawab Visha sambil menguncir rambutnya ala ekor kuda.
"Aku berangkat dulu ya, dah." ucap Visha melambaikan tangan pada kedua sahabatnya.
Sudah dua tahun ini Visha melanjutkan kuliahnya di kota Semarang, dan juga bekerja di perusahaan bergengsi Zayn Building.
Ia mengambil kuliah sore atau malam karena pagi ia harus pergi bekerja. Lalu Ali, ia titipkan kepada bapak dan ibunya di Pekalongan. Setiap akhir pekan ia pulang ke rumah orang tuanya.
Visha menunggu ojol yang tadi dipesannya. Dan akhirnya sampai juga abang ojol di depannya.
"Bang, Zayn Building ya. Cepat ya, bang! Aku sudah terlambat."
"Baik, Mbak."
Dan sepeda motor pun melaju.
.
.
.
"Halo, Mas, apa kelasnya sudah selesai?"
"Hahaha, kamu ini Zayn. Khawatir sebegitunya hanya ditinggal Visha sebentar."
"Bukan begitu, Mas. Dia adalah pegawai terbaikku di kantor. Hari ini ada rapat pagi dengan klien. Tapi dia tiba-tiba bilang kalau ada kelas kuliah pagi bersama Mas Anton."
"Iya, aku ada urusan nanti sore. Jadi kumajukan kelasnya. Dan perlu kamu tahu, dia juga mahasiswiku paling pandai."
"Ya sudah, sekarang dimana Visha? Apa sudah berangkat kemari?"
"Kelasku selesai 10 menit yang lalu. Aku yakin dia sudah menuju kesana."
"Huft! Syukurlah."
"Zayn, kalau Mas boleh kasih saran. Carilah istri. Sudah lama kamu menduda. Berkenalan lah dengan teman wanitamu. Aku dengar Visha juga punya anak seumuran dengan Lyra anakmu."
"Maksud Mas Anton?"
"Sepertinya kamu dekat dengan Visha. Apa tidak sebaiknya kamu lakukan pendekatan lebih intens kepadanya."
"Aku dan dia hanya sebatas atasan dan karyawannya. Tidak lebih, Mas."
"Kamu yakin tidak ada sedikitpun rasa terhadapnya? Dia cantik dan juga mandiri. Dia juga sudah lama sendiri."
"............."
__ADS_1
"Ya sudah. Kamu pikirkan saja dulu."
Sambungan telepon berakhir.
Zayn Ibrahim, pemilik Zayn Building, pria matang berusia 33 tahun dan telah lama menduda karena istrinya meninggal dunia. Dia adalah atasan Visha di kantor.
Zayn menatap jauh menerawang ke luar ruangan kantornya. Dilihatnya Visha baru turun dari motor ojol dan sedang menyeberang jalan.
"Dia cantik, dan otaknya cemerlang. Tapi... aku menganggapnya hanya sebagai bawahanku saja. Lagi pula dia... terlihat memberi jarak kepada pria yang mendekatinya." Gumam Zayn.
"Pak, Visha sudah datang. Bisa kita mulai rapatnya?" Ucap Lala memecahkan keheningan di ruangan Zayn.
Zayn mengangguk dan segera keluar dari ruangannya.
...***...
Seperti biasa, presentasi yang dilakukan Visha sangat memuaskan pihak klien. Zayn berterimakasih padanya.
"Saya yakin kalau kamu pasti memenangkan proyek ini." ucap Zayn bangga.
"Terima kasih, Pak. Maaf kalau tadi saya hampir saja terlambat."
"Iya tidak apa-apa. Yang terpenting kamu datang disaat yang tepat."
"Kalau begitu saya permisi."
.
.
.
"Oh ya, jam makan siang mau kemana, Sha?" tanya Lala.
"Ikut aku ke mall yuk. Aku mau cari kado buat Ali. Besok dia ulang tahun."
"Oh iya ya. Coba saja aku tidak ada janji dengan pacarku, aku pasti ikut kamu mudik ke Pekalongan."
"Tidak apa. Tidak harus pas Ali ulang tahun juga 'kan. Aku tiap minggu kan pulang kesana."
Lala adalah sahabat Visha di kantor. Usianya lebih muda dari Visha, namun Visha tak mau Lala segan terhadapnya. Jadi mereka hanya saling memanggil nama saja tanpa embel-embel apapun.
.
.
.
Saat jam makan siang, Zayn melihat Visha sedang menyambangi toko mainan di salah satu mall. Zayn yang saat itu juga ada disana untuk makan siang dengan klien, hanya tersenyum melihat tingkah Visha yang sedang kebingungan memilih diantara dua barang ditangannya.
Dia sepertinya sangat menyayangi anaknya. Ada hari spesial apa kenapa dia membeli mainan anak?
Zayn menelepon Lala, sekretarisnya yang juga sedang bersama Visha. Ia beralasan mencari Lala. Dan akhirnya ia tahu jika Visha membeli kado ulang tahun untuk putranya. Zayn tersenyum penuh arti.
...***...
Pukul lima sore, Visha bersiap untuk pulang dan langsung menuju ke stasiun. Di depan kantor, Visha bertemu Zayn yang juga sedang menunggu supirnya mengambil mobil.
"Kamu mau langsung pulang Visha?"
"Eh, iya Pak. Saya langsung ke Pekalongan naik kereta."
Ojol yang Visha pesanpun akhirnya datang. Ia berpamitan pada Zayn.
"Tunggu, Visha!"
"Iya, Pak."
"Ini..." Zayn memberikan sebuah paper bag pada Visha.
"Apa ini, Pak?"
__ADS_1
"Kado untuk anakmu."
Visha tersenyum. "Wah, terima kasih banyak Pak. Nanti saya akan kirim kado juga untuk Lyra jika dia ulang tahun."
"Iya, jangan terlalu dipikirkan."
"Kalau begitu, saya permisi Pak."
Visha segera naik ke motor abang ojol yang sudah setia menantinya.
.
.
.
Pukul delapan malam, Visha tiba di stasiun Pekalongan dan dijemput oleh Haryono.
"Pak, bagaimana kabarnya?" tanya Visha setelahnya ia mencium punggung tangan ayahnya itu.
"Baik, Nduk. Bagaimana kerjaan kamu? Lancar?"
"Lancar kok, Pak. Yuk ah, aku sudah kangen berat dengan Ali."
Visha menggandeng lengan bapaknya menuju ke tempat parkir.
Perjalanan ke rumah Visha hanya memakan waktu 15 menit saja. Saat tiba dirumah, ia disambut oleh Ali yang sekarang sudah berusia 8 tahun.
"Mama!!! Mama bawa apa?" tanya Ali dengan senangnya.
"Mama bawa kejutan buat kamu. Kamu belum tidur sayang jam segini? Sudah malam, lho."
"Ali menunggu Mama pulang. Sebentar lagi Ali tidur."
"Ya sudah, kamu cuci kaki lalu tidur ya."
"Iya, Ma." Ali segera berlari menuju kamar mandi.
"Nduk, kamu pasti lelah. Ganti bajumu dulu lalu makan malam," ucap Yanti.
"Iya, bu. Visha ke kamar dulu ya bu."
Usai makan malam, Visha kembali bercengkerama dengan ibunya. Ia merasa rindu dengan ibunya meski tiap akhir pekan ia pulang ke rumah.
"Ali ndak nakal 'kan, Bu?" (tidak)
"Tidak. Dia anak yang baik. Besok dia ulang tahun, kamu sudah belikan dia kado?"
"Sudah, bu. Tadi siang mampir ke mall."
"Nduk, apa kamu ndak ingin menikah?"
Pertanyaan Yanti mampu menohok hati Visha.
"Apa kamu tidak ingin memberi Ali sebuah keluarga yang utuh? Sudah dua tahun, Nduk. Apa kamu masih mengingat dia terus? Apa kamu tidak bisa melupakan dia? Dia sudah tiada, Nduk..."
Mata Visha tiba-tiba terasa panas. Entah kenapa setiap ditanya tentang pernikahan, hatinya selalu sakit.
Dengan menahan air matanya, Visha pamit undur diri dari obrolan bersama ibunya.
"Aku permisi dulu, bu. Mau cari angin sebentar."
Visha pun meninggalkan ibunya yang dengan berat menghela nafasnya.
...πππ...
^^^bersambung,,,^^^
"apakah hanya aku yang merasa nyesek saat ibunya Visha bertanya tentang pernikahan dan mengingatkan hal tentang Rocky? π₯π₯π₯
jangan lupa tekan jempol kalianπ
__ADS_1
Kasih komen juga bole buanget π
...terima kasihπ...