Labuhan Cinta Sang Playboy

Labuhan Cinta Sang Playboy
Calon Kakak Ipar


__ADS_3

"Kau bahkan mendapat panggilan telepon darinya. Bagaimana kalian bisa saling mengenal?" Mata Rocky menatap tajam pada Visha.


Giliran Visha yang mulai panik sekarang. Ia tak tahu harus menjawab apa pada Rocky.


"I-itu---?"


"Itu apa?"


"A-aku dan Mas Galang----?"


Dan disaat Visha dalam kebingungan merangkai kata yang tepat untuk Rocky, pintu lift akhirnya terbuka. Terlihat Galang berdiri di depan pintu.


"Visha!!!" pekik Galang.


Visha langsung berdiri dan menghampiri Galang.


"Visha, kau tidak apa-apa? Apa kau terluka?" tanya Galang dengan memeriksa keadaan Visha.


"Tidak, Mas. Aku tidak apa-apa. Tapi itu----" Visha menunjuk ke arah Rocky yang sudah berwajah pucat pasi dan penuh keringat.


BRUUUKKK!!!


Tubuh Rocky ambruk. Galang segera menghampiri Rocky dan meminta pertolongan. Galang segera membawa Rocky ke klinik terdekat.


.


.


.


Untuk memastikan jika Visha dalam keadaan baik, Galang juga memeriksakan Visha ke klinik.


"Kondisinya baik, tidak ada tanda-tanda trauma dan juga kepanikan." jelas Dokter.


"Terima kasih, Dok. Kami permisi dulu."


Galang dan Visha keluar dari ruang periksa.


"Aku sudah bilang kalau aku baik-baik saja." ucap Visha diiringi senyum manisnya.


"Aku hanya memastikan saja." Galang membelai lembut rambut Visha.


Visha melihat sekeliling dan belum melihat Rocky. Rocky masih ada di ruang pemeriksaan.


"Rocky mengidap fobia terhadap ruang sempit dan gelap. Jadi selama terkunci dalam lift, dia pasti bertingkah tak seperti biasanya. Aku harap kau bisa mengerti." terang Galang.


"Iya, Mas. Aku mengerti."


"Syukurlah karena dia bersama denganmu didalam lift. Apa jadinya jika ada yang melihat fobianya kambuh seperti tadi? Aku tidak suka jika ada yang memandang sebelah mata pada adikku. Tidak ada manusia yang sempurna. Karena kekurangannya itulah, maka manusia bisa disebut sempurna."


Visha hanya bisa menanggapi dengan senyuman di bibirnya.


Tak lama kemudian, Rocky keluar dari ruang pemeriksaan dengan bugar. Tak nampak jika dia baru saja pingsan dan mengalami kepanikan yang cukup parah.


"Rocky? Kau baik-baik saja? Apa Dokter memperbolehkanmu pulang?"


"Kakak! Jangan berlebihan. Aku baik-baik saja."


"Sudah waktunya makan siang. Kalau begitu mari kita makan!" Galang merangkul bahu Rocky dan membawanya keluar klinik.


.


.


.


Galang, Visha, dan Rocky duduk bersama dalam satu meja. Belum ada yang memulai perbincangan. Suasana canggung mulai menyelimuti.


Seorang pelayan mengantarkan pesanan makanan mereka bertiga.

__ADS_1


"Terima kasih."ucap Galang pada si pelayan.


"Apa tidak ada yang ingin kalian jelaskan?" tanya Rocky memecah kesunyian.


"Rocky, sebenarnya hari ini kakak ingin mengajakmu makan siang dan berkenalan dengan seseorang. Tapi, karena insiden hari ini, rencana kakak jadi gagal."


"Sekarang kakak sudah mengajakku makan siang. Cepat katakan apa maksud kakak mengajakku makan siang?"


"Rocky, kakak ingin kau berkenalan dengan Navisha. Dia adalah kekasih kakak. Calon kakak ipar kamu."


"Apa? Calon kakak ipar? Dia? Gadis pembawa makanan?" Rocky mengarahkan jari telunjuknya pada Navisha.


"Jangan berkata begitu. Navisha wanita yang baik."


"Sejak kapan kakak punya pacar? Kenapa tidak pernah memberitahuku?"


"Maaf kakak tidak sempat cerita padamu. Kakak sudah bersama Navisha selama dua tahun terakhir. Kami berpacaran jarak jauh, karena Navisha tinggal di Semarang."


Rocky menarik nafas dan menghembuskannya kasar. "Apa Papa dan Mama sudah tahu soal ini?"


"Belum. Kakak memilih untuk mengenalkan Visha padamu lebih dulu, karena kakak yakin, kau akan mendukung kakak."


Rocky melirik sekilas ke arah Visha yang sedari tadi hanya diam.


"Aku mau ke toilet dulu." pamit Rocky pada Visha dan Galang.


Galang meraih tangan Visha dan menggenggamnya. "Jangan khawatir. Aku yakin Rocky pasti menerimamu."


Visha membalas dengan seulas senyum.


...***...


Keesokan harinya,


Visha mengantar pesanan makanan ke kantor Brahms Corp seperti biasa. Saat tiba di lantai 13, tak seperti biasanya kantor disana ramai dengan para karyawan RAB Cons. Mereka menyambut kedatangan Visha dengan antusias.


"Ayam bakar madu, Pak."


"Wah, sepertinya enak."


Satu persatu karyawan mengambil jatah makan siang mereka masing-masing, kecuali Rocky yang hanya memperhatikan dari dalam ruangannya sambil menatap tajam ke arah Visha.


Visha tahu ada mata yang memperhatikannya.


"Kenapa dia menatapku seperti itu?" gumam Visha.


Setelah selesai mengantar makanan, Visha keluar dari ruangan RAB Cons. Ia mendorong troli yang sudah kosong menuju ke lift.


"Tunggu!" Sebuah suara menghentikan langkah Visha.


"Pak Rocky?" Visha bingung melihat Rocky menghampirinya.


"Ada apa, Pak?"


"Aku tidak habis pikir kenapa kakakku memilih gadis sepertimu."


"Saya tahu kalau Pak Rocky tidak menyukai saya. Tapi saya harap bapak menghargai keputusan kakak bapak."


Rocky berdecih. "Kau tahu kau sedang berhadapan dengan siapa? Keluarga Abraham bukan keluarga sembarangan. Apa kau siap menjadi bagian keluarga ini?"


Visha hanya terdiam.


"Papa selalu menuntut anak-anaknya untuk jadi sempurna. Bukan tidak mungkin jika Papa juga menginginkan menantu yang sempurna. Semoga saja kau memang sempurna untuk dijadikan menantu."


Rocky melenggang pergi meninggalkan Visha yang masih tertegun. Kini Visha mulai cemas setelah mendengar ucapan Rocky. Apakah dia bisa menjadi menantu yang sempurna untuk Leonard Abraham?


.


.

__ADS_1


.


Rocky masih duduk termenung di ruang kerjanya. Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Tidak biasanya Rocky betah berlama-lama didalam kantornya yang sudah sepi.


"Bos? Bos tidak pulang? Ini sudah malam." tanya Donny.


"Jika kau ingin pulang, pulanglah! Aku masih ingin disini."


"Bos----"


"Don, kau punya banyak anak buah, kan?"


"Eh? Kenapa memangnya bos?"


"Aku punya tugas untukmu."


"Apa itu, bos?"


"Selidiki perempuan bernama Navisha."


"Mbak Visha? Yang dari Karina Catering?"


"Iya. Aku ingin kau dapatkan semua informasi tentangnya. Semuanya!"


"Tapi untuk apa, bos?"


Rocky menggeram. "Jangan banyak tanya! Lakukan dengan hati-hati. Mengerti?"


"Baik, bos."


...***...


Seminggu berlalu sejak Galang mengenalkan Visha pada Rocky. Dan sudah seminggu juga Visha selalu mendapat tatapan tidak enak dari mata Rocky tiap kali dia mengantar makanan ke Brahms Corp.


Visha hanya bisa mengelus dada dengan tatapan tajam Rocky. Ia tahu jika keputusannya bersama Galang akan menimbulkan masalah di kemudian hari. Ditambah jika keluarga Abraham tahu jika Visha sudah memiliki seorang anak. Visha makin cemas jika saat itu akhirnya tiba.


Disaat hatinya sedang tak tenang, Visha memilih untuk datang berkonsultasi pada Dokter Diana.


"Aku tidak tahu harus bagaimana, Dokter. Aku tidak pernah menyangka akan menghadapi masalah sebesar ini."


Dokter Diana justru tertawa kecil mendengar keluh kesah Visha.


"Kau sendiri tidak pernah menceritakan semua dengan detil. Bagaimana saya bisa membantumu, Visha?"


"Eh?"


"Tidak apa. Perlahan saja. Tidak perlu dipaksa."


"Maaf, Dokter."


"Sejujurnya, keputusanmu untuk pergi dari rumah dalam keadaan hamil, itu sudah merupakan keputusan yang salah. Dan pasti akan menimbulkan masalah lebih besar dikemudian hari. Tapi, karena saya tidak tahu bagaimana perasaanmu saat itu, saya tidak akan menghakimimu."


"..............."


"Begini saja. Jika kau masih takut untuk menceritakan masalahmu secara langsung, bagaimana jika kau menulisnya di buku harian?"


"Buku harian?"


"Iya. Kau bisa menulis kisahmu disana. Sedih, bahagia, haru, dan sebagainya. Jika kau bersedia memberi ijin membacanya, pasti akan saya baca."


"............"


"Visha, ijinkan saya juga merasakan apa yang kau rasakan sebagai sesama wanita."


"Iya, Dokter. Terima kasih banyak."


...šŸšŸšŸ...


tobe continued.....

__ADS_1


__ADS_2