Labuhan Cinta Sang Playboy

Labuhan Cinta Sang Playboy
Ayah untuk Ali


__ADS_3

...šŸšŸšŸ...


Visha keluar dari butik dengan langkah gontai. Ia seakan tak bernyawa. Setelah tangisannya terhenti, ia tak mendapati Rocky duduk disampingnya. Entah pergi kemana pria itu.


Visha berjalan menuju halte. Ia akan naik bus umum saja menuju panti asuhan. Hari ini ia tak membawa sepeda motornya karena pikirannya memang sedang tak jernih.


Sesampainya di panti asuhan, disana sudah ada Rocky yang sedang berbincang dengan kepala pekerja.


Rocky yang mengetahui kedatangan Visha segera menatap kearah Visha. Namun Visha hanya menyapanya dengan menundukkan kepala didepan Rocky dan berjalan melewatinya.


Sore hari ketika semua para pekerja bangunan telah pulang, Visha masih bergelut dengan pekerjaannya menata kamar anak-anak perempuan.


Visha menempel beberapa gambar Cinderella dan Putri Salju kesukaan anak-anak panti di dinding kamar mereka.


Visha menatap gambar Cinderella. Ia membelai gambar itu. Sungguh ia tak pernah bermimpi menjadi Cinderella.


Ia bahkan tak ingin seperti Cinderella yang mendapatkan cinta seorang pangeran tampan. Ia hanya ingin menjadi wanita yang dicintai dengan sepenuh hati.


Air matanya kembali mengalir. Dengan segera ia hapus karena tak mau terus bersedih. Hari bahagia akan dia dapatkan. Jadi tak seharusnya ia menangis.


Hari mulai gelap ketika ia keluar dari panti asuhan. Ia mendengar suara bergemuruh dari arah luar panti. Lebih tepatnya di lapangan olahraga.


Visha menghela nafas. Ia melihat Rocky memainkan bola basket di tangannya. Ternyata selain pandai bermain sepak bola, ia juga lihai memainkan bola basket.


Lapangan basket yang baru selesai dibangun beberapa hari lalu, menjadi saksi bisu bahwa Rocky sedang gelisah dan terus memainkan bola ditangannya.


Visha tak mau menatap Rocky lebih lama lagi. Ia melanjutkan langkah kakinya.


"Visha!"


Suara yang tak asing ditelinga Visha. Suara berat milik Rocky. Ia tak menggubris suara itu dan tetap melangkah.


GREB!!!


Rocky meraih lengan Visha. Visha terkejut karena Rocky sudah berada didekatnya. Setahunya tadi Rocky masih memainkan bola basket.


"Lepas!" Pinta Visha pada Rocky.


"Apa belum cukup semua air mata yang kau keluarkan tadi pagi?"


Visha membulatkan matanya.


"Aku tahu kau sudah mengakuinya dihatimu. Kau hanya belum mau mengakuinya lewat bibirmu."


"Apa maksudmu?" Visha memalingkan wajah.


"Kau mencintaiku. Itu benar 'kan?"


Visha tak mau mendengar apapun lagi dari Rocky. Ia kembali melangkah.


"Setelah kau menikah..."


Visha terhenti. Ia menunggu lanjutan kalimat yang akan dikatakan Rocky.

__ADS_1


"Aku bersedia jadi pria selingkuhanmu."


Mata Visha membulat sempurna. Ia berbalik badan dan menatap Rocky. Ia tak percaya dengan yang Rocky katakan.


"Kau sudah gila!" Ucap Visha kesal dan kembali melangkah. Kali ini ia benar-benar tak akan menghentikan langkahnya lagi.


Pikiran Rocky benar-benar sedang kacau, Visha tak mau berlama-lama dengannya, jika tidak... Hal yang tak diinginkan bisa saja kembali terjadi.


Rocky hanya menatap nanar wanita di depannya. Rocky mengacak rambutnya frustasi.


...***...


Di lain tempat,


"Bagaimana? Apa kau sudah bicara pada Rocky?" Lagi-lagi Sania datang menemui Galang di kantornya.


"Belum. Lagipula aku sedang sibuk mengurus pernikahanku."


"Pernikahan? Kau serius? Kau akan menikahi Visha?"


"Iya. Aku akan menikah dua minggu lagi."


"Kenapa terburu-buru?"


"Bukan urusanmu."


"Ah, aku tahu. Jadi kau sudah melihatnya sendiri?Kedekatan diantara... Rocky dan Visha..."


"Tenang saja! Setelah kau menikah, aku pastikan Rocky tak akan dekat-dekat lagi dengan Visha. Asal kau juga membantuku meyakinkan Rocky untuk mau menjadi ayah bayiku." Sania tersenyum menyeringai.


"Akan kucari waktu yang tepat untuk bicara dengan Rocky. Kau tahu 'kan, Rocky seperti apa. Ia suka memberontak. Jadi, kau harus bersabar menghadapinya."


"Mmm, baiklah. Aku sudah pernah bersabar menghadapi Rocky beberapa tahun lalu. Tidak masalah jika aku harus bersabar lagi. Terima kasih banyak, Galang." Sania hendak melangkah pergi.


Namun ia berbalik badan dan berkata,


"Omong-omong, selamat atas pernikahanmu..."


Setelahnya, Galang tak melihat sosok Sania lagi. Ia sudah pergi dari ruang kerja Galang.


...šŸ...


Visha tiba di rumahnya pukul tujuh malam. Jalannya masih gontai seperti pagi tadi ia keluar dari butik.


Ia melihat mobil Galang ada dihalaman rumah. Ia menatap Galang yang sedang duduk di kursi teras rumah bersama Ibu Karina dan Ali.


Mereka sedang melihat sesuatu yang seperti sebuah album foto.


"Mama!" Suara Ali memanggil Visha yang mulai berjalan ke teras rumah.


"Ma, lihat ini! Mama cantik sekali. Mama memakai baju pengantin," cerita Ali dengan gaya lucunya.


Itu adalah foto yang diambil pagi tadi, saat Visha mencoba gaun pengantinnya. Orang butik memberikan foto-foto Visha pada Galang.

__ADS_1


"Maaf ya, aku tadi pagi belum sempat ke butik. Aku sangat sibuk."


"Tidak apa, Mas."


"Jadi kau sudah memantapkan pilihanmu pada gaun ini?"


"Iya, aku suka karena modelnya yang tertutup. Aku...tidak suka memakai baju yang terbuka. Tidak apa 'kan?"


"Tentu saja."


"Kamu cantik sekali, Nduk. Pasti nanti akan lebih cantik saat hari pernikahan," ucap Karina.


"Apa itu pernikahan, Nek?" Tanya Ali polos.


"Om dan Mama akan menikah. Boleh 'kan, Ali?" Kini Galang mencoba mengkonfirmasi tentang restu Ali.


"Lalu apa yang terjadi jika Mama dan Om Galang menikah?" Tanya Ali lagi.


"Itu artinya kamu bisa memanggil Om dengan panggilan Papa." Galang menjelaskan dengan menyesuaikan usia Ali agar Ali lebih paham. Galang memang pandai mengambil hati Ali.


"Hah? Benarkah? Jadi nanti Ali punya Papa? Seperti teman-teman Ali yang lain?" Ali terlihat berbinar bahagia.


"Iya, sayang..." Tambah Karina.


"Hore!!! Yeay yeay!!!" Ali berteriak gembira dan meloncat-loncat kegirangan.


Visha tersenyum melihat kegembiraan putranya.


Dari kejauhan ada sepasang mata yang melihat dan mendengar tawa riang di keluarga itu. Ia mulai mengerti kenapa Visha kekeh dengan pendiriannya. Ia tak bisa menyakiti hati orang-orang yang sedang tertawa disana.


Lalu sosok itupun kembali melajukan mobilnya dan pulang ke apartemennya.


...šŸ...


Visha membelai lembut puncak kepala Alif yang sudah tertidur lelap. Dipandanginya wajah sang putra yang tidur dengan tenang.


Visha mengeluarkan buku hariannya dan menulis sesuatu disana, seperti biasa.


"Aku tidak bisa mematahkan kebahagiaan mereka. Terutama anakku. Aku tidak bisa bersikap egois dengan hanya mementingkan perasaanku dan tidak merasakan kebahagiaan putraku. Dia adalah hidupku. Aku hidup hanya untuknya. Dan maka akan kulalukan apapun hanya untuknya."


Visha menatap menerawang jauh. Ia memantapkan hati untuk melangkah ke jenjang selanjutnya bersama Galang.


Dipandanginya cincin berlian pemberian Galang. Itu bukan hanya sebuah cincin. Tapi itu adalah sebuah komitmen dan janji.


Visha memejamkan matanya, kemudian berucap, "Semoga ini adalah yang terbaik..."


...šŸšŸšŸ...


tobe continued,,,,


jangan lupa tinggalkan jejak šŸ‘£šŸ‘£


thank you

__ADS_1


__ADS_2