
...πππ...
Bian dan Visha keluar dari kamar namun tak menemukan satu orang pun di rumah itu.
"Mereka kemana, Mas?"
"Entahlah..."
"Ya sudah, aku akan menyiapkan makan siang. Jadi saat mereka datang makanan sudah siap."
"Bagaimana kalau aku bantu?"
"Heh? Memangnya Mas bisa masak?"
"Sedikit-sedikit bisa sih, hehe."
"Ayo kita ke dapur." Visha meraih tangan Bian dan membawanya ke dapur.
Sedangkan Donny yang diajak ke sebuah pasar grosir oleh Yanti kini tengah kebingungan. Ia bingung ingin membelikan oleh-oleh untuk siapa.
"Ternyata tempatnya sangat luas ya, Bu. Saya bingung, hehe." Donny menggaruk kepalanya.
"Semua kualitas batik disini masing-masing Nak Donny. Tergantung selera Nak Donny. Memangnya Nak Donny ingin membelikan untuk siapa?"
"Entahlah, Bu. Saya akan berkeliling dulu saja..." Donny berjalan melihat-lihat koleksi aneka baju batik dan berbagai kerajinan yang berbahan kain batik.
Tiba-tiba matanya tertuju pada dress batik selutut yang menurutnya sangat cantik. Donny teringat pada Siska yang kemarin terlihat sangat tertekan karena pekerjaannya. Entah kenapa Donny ingin membeli dress itu untuk Siska.
"Bu, saya mau beli yang ini..." ucap Donny sambil tersenyum.
Kemudian ia juga membeli beberapa kemeja batik untuk pegawainya dikantor. Donny menenteng tas belanjaan yang cukup banyak.
"Weleh, Nak Donny ternyata hobi belanja juga." ucap Yanti.
"Hehe, tidak juga, Bu. Ini untuk orang-orang kantor. Bapak mana, Bu?"
"Tadi sih katanya sedang memesankan tiket kereta untuk Nak Donny."
"Ooh, terima kasih banyak. Saya jadi merepotkan."
"Tidak repot kok. Oh ya, apa Nak Bian itu tidak punya keluarga?"
"Eh? Kenapa ibu bertanya? Memangnya Bian tidak cerita apapun pada Ibu dan Bapak?" Donny mulai canggung menghadapi pertanyaan Yanti. Ia takut penyamaran Rocky terbongkar.
"Dia bilang dia punya keluarga tapi tinggal di luar kota."
"Oh, iya memang begitu Bu. Dia tinggal sendiri di Jakarta." bohong Donny. Tidak mungkin juga ia bilang jika Bian tinggal bersama anak dan istri palsunya.
.
.
.
Visha sudah selesai menyiapkan makan siang dan menatanya di meja makan ketika orang tuanya datang bersama Ali.
"Wah, baunya harum sekali. Kamu sudah masak, Nduk?" ucap Yanti.
"Iya, Bu. Kalian dari mana saja? Donny mana?"
"Nak Donny sudah kembali ke Jakarta naik kereta." balas Haryono.
"Kamu sih, asyik di kamar dengan Nak Bian sampai siang begini..." goda Yanti.
"Ibu..." Visha merajuk.
Sementara Bian hanya menggaruk tengkuknya karena merasa malu.
"Lalu kalian kapan berangkat lagi?" Tanya Yanti.
"Saya akan mengantar Visha ke Semarang dulu sore ini, baru nanti saya kembali ke Jakarta." jelas Bian.
"Lho, jadi kalian akan berjauhan?" tanya Yanti lagi.
__ADS_1
"Iya, Bu. Saya masih harus mengurus perusahaan saya di Jakarta. Tapi saya akan sering mengunjungi Visha di Semarang." lanjut Bian.
Entah kenapa wajah Visha berubah murung ketika mendengar Bian harus tinggal berjauhan darinya. Kegundahan mulai menyelimuti hatinya.
Sore itu, Bian dan Visha berpamitan pada kedua orang tua Visha dan juga Ali, putra mereka. Bian mendekap Ali dengan erat. Ia pasti akan merindukan putranya itu.
Perjalanan menuju kota Semarang pun dimulai. Visha masih terdiam sejak makan siang tadi. Bian sesekali melirik ke arah Visha yang masih tak mengeluarkan suaranya.
"Sayang... Kau kenapa? Apa aku melakukan kesalahan lagi?" tanya Bian dengan meraih tangan Visha dan mengecupnya lembut.
Visha hanya menjawab dengan gelengan kepala.
"Ya sudah. Jika ada sesuatu yang ingin kau ceritakan, maka katakanlah. Kau bahkan memiliki agenda bersama teman kosmu yang kau sebut sister's talk. Maka kau harus punya agenda juga denganku. Kita sebut love story's talk. Bagaimana?"
Visha terkekeh kecil mendengar penuturan Bian.
"Nah, begitu 'kan cantik. Kau sudah menjadi istriku, dan aku tidak akan membiarkanmu menangis seperti dulu lagi..."
"Mas..." Visha menatap haru suaminya itu.
Ia bergelayut manja di lengan kiri Bian. "Maafkan aku, Mas..."
Bian tersenyum simpul melihat tingkah manja Visha.
:
:
:
"Kenapa tidak membawaku pulang ke rumah kos?" gerutu Visha karena ternyata Bian membawanya ke hotel tempatnya menginap.
"Kenapa? Kau masih bertanya? Di rumah kosmu tentu saja kau tidak boleh memasukkan pria. Jadi kita menginap disini saja." jelas Bian.
"Tapi bukankah kau harus kembali ke Jakarta?"
"Aku akan kembali besok, setelah mengantarmu berangkat ke kantor."
"Reza sudah kembali kesana, semua bisa ia tangani. Kau tenang saja!"
"Baiklah, Mas sebaiknya mandi dulu saja. Aku akan siapkan makan malam."
Kamar hotel Bian memang cukup luas, karena memang ia memesan kamar terbaik agar Visha nyaman tinggal bersamanya.
Usai membersihkan diri, Bian menghampiri Visha yang masih sibuk di dapur. Bian memeluk Visha dari belakang dan mengecupi leher jenjang Visha.
"Mas... Lepaskan! Aku sedang memasak. Ditambah aku belum mandi, pasti aroma tubuhku campur aduk tidak enak."
"Haha, kau ini. Aku menyukai semua hal dalam dirimu. Jadi jangan coba-coba mengelak."
"Aku sudah menyiapkan baju ganti untukmu. Berpakaianlah dulu, lalu kita makan malam besama."
Bian menghela nafas. "Baiklah, istriku sayang..."
*
*
Makan malam pun telah usai. Visha membersihkan meja makan dan mencuci piring. Sementara Bian, sedang duduk bersandar di tempat tidur sambil mengecek pekerjaan di komputer tabletnya.
"Mas, aku mau mandi dulu." ucap Visha.
"Hmmm." Bian hanya menjawab dengan dehaman.
Lima belas menit kemudian, Visha keluar kamar mandi dengan memakai dress tidur selutut dan membuat Bian tersenyum penuh arti padanya.
"Kemarilah, sayangku..." panggil Bian.
Visha memposisikan duduk bersandar juga dan menarik selimut.
"Kau sengaja ingin menggodaku ya?"
"Apa sih, Mas? Aku tidak menggodamu..." Visha menunduk malu.
__ADS_1
"Kau ini!" Bian meletakkan tabnya dan meraih wajah Visha yang bersemu merah itu.
Ketika permainan mereka semakin panas, dan nafas mereka tengah sama-sama terengah, bunyi dering keras dari ponsel Bian menghentikan aktifitas mereka.
"Angkat dulu saja, Mas." ucap Visha.
Bian meraih ponselnya yang berada diatas nakas dan melihat siapa yang menghubunginya.
"Alisa? Aku angkat dulu ya!" Bian segera menjauhkan diri karena Alisa menghubungi dengan panggilan video.
Hati Visha kembali bergemuruh ketika melihat Bian berinteraksi lewat panggilan video bersama Alisa dan Sania.
Kenapa hatiku jadi tak tenang melihat kedekatan mereka? Mungkin karena mereka sudah lama bersama Mas Bian. Sedangkan aku... Aku seperti tiba-tiba datang di tengah-tengah mereka.
Visha segera menghapus air mata yang entah sejak kapan lolos dari matanya.
Usai mengakhiri panggilan bersama Alisa, Bian kembali ke tempat tidur dan melihat Visha sudah terlelap.
Bian hanya tersenyum. "Dia pasti menungguku sampai ia tertidur. Maafkan aku, istriku..." gumam Bian lalu mengecup singkat puncak kepala Visha.
*
*
*
Keesokan paginya, Visha kembali berkutat dengan pekerjaannya. Ia mendapat pesan dari Bian jika pesawatnya akan berangkat.
Visha hanya bisa menghela nafas. Ia merasa berat melepas Bian hingga berjarak ratusan kilometer jauhnya.
Visha memutuskan untuk pergi ke lokasi proyek agar ia tak lagi memikirkan Bian. Namun tetap saja pikirannya tak bisa fokus.
Zayn yang merasa ada keanehan dalam sikap Visha segera menegurnya.
"Ada apa Visha? Kulihat kau tidak fokus dalam bekerja."
"Maaf, Pak. Mungkin saya hanya lelah saja."
"Apa karena Bian?"
"Eh? Tidak, kok Pak..."
"Jangan berbohong padaku. Aku sudah lama mengenalmu, Visha."
"Maaf, Pak. Saya tidak akan mengulanginya lagi. Besok ada klien baru 'kan? Saya akan siapkan presentasinya dengan baik."
"Visha..." Zayn menatap Visha dengan tatapan yang tak bisa diartikan.
"Jika kau merasa gundah, sebaiknya kau terima saja tawaran Bian untuk bekerja padanya."
"Eh? Maksud bapak?"
"Aku tahu kalian saling mencintai. Pikirkanlah dulu! Aku akan... melepasmu jika kau memang ingin bersama Bian..."
Setelah mengatakan apa yang perlu diucapkan, Zayn berlalu pergi.
Sedangkan Visha... Ia masih memikirkan apa yang diucapkan Zayn barusan.
Apa aku...harus menerima tawaran Rocky untuk pindah? Aku ingin tetap bekerja disini, tapi...hatiku benar-benar tidak tenang membiarkan Rocky berjuang sendiri menghadapi musuh-musuh yang tidak tahu siapa saja mereka.
...πππ...
...bersambung,,,...
...*...
...*...
...*keputusan apa yang akan diambil Visha? Apa kalian setuju gaess jika Visha ikut pindah bersama Bian/Rocky?...
...*jangan lupa tinggalkan jejak cinta kalian π£ππkarena itu adalah semangat untukku πͺπͺ...
...#terima kasih#...
__ADS_1