
...ššš...
Sania tiba dirumahnya dan langsung disambut dengan tatapan membunuh milik suaminya, Yogi.
"Dari mana saja kau?! Kau sudah mulai berani melanggar aturanku, huh?"
"Aku tidak pergi kemanapun, aku hanya pergi ke panti seperti biasa." jawab Sania dengan bibir bergetar.
"Bohong! Kau pasti menemui pecundang itu 'kan?"
"Ti-tidak. Aku tidak ... "
"Ah sudahlah! Kita perlu bicara!" Yogi menatap satu persatu para pengawalnya. Dan tanpa diperintah mereka tahu jika tuannya meminta mereka untuk pergi.
"Ada apa Mas? Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Sania dengan gugup.
"Adakah yang ingin kau sampaikan padaku?" Yogi balik bertanya.
"Eh? Apa maksudmu?"
"Jangan berpura-pura lagi, Sania!" Yogi mulai naik pitam.
"Kau hamil, 'kan?"
DEG. Jantung Sania berdegup sangat kencang sekarang.
"A-apa yang kau bicarakan, Mas?" Sania mulai terbata.
"Kemari kau!" Yogi menyeret Sania dan menunjukkan bukti foto USG kepada Sania.
"Kau pikir aku tidak tahu apa yang kau lakukan diluar sana? Kau pergi ke dokter kandungan, 'kan? Kau hamil! Dan itu adalah anakku!" teriak Yogi tepat di telinga Sania.
Sania tak bisa lagi mentolerir perlakuan kasar Yogi padanya.
"Tidak!!!" Sania berteriak tak kalah keras dari Yogi. "Aku tidak hamil! Dan tidak akan pernah!!"
"Hahaha, kau masih ingin berbohong?"
"Aku tidak sudi mengandung anakmu!"
PLAAAKKKK!!!
Sebuah tamparan diberikan Yogi pada Sania. Sania jatuh tersungkur dan memegangi wajahnya. Air matanya tak sanggup lagi ia bendung.
"Ini bukan anakmu!!!" Dengan masih merasakan sakit akibat tamparan Yogi, Sania tetap bersuara dalam tangisnya.
"Apa katamu?!"
"Anak ini bukanlah anakmu!"
Yogi menjambak rambut Sania dan memukulinya. "Lancang sekali kau! Jika anak diperutmu bukanlah anakku, lalu anak siapa?!"
"Anak ini adalah anak Rocky!!!" Ucap Sania dengan lantang yang akhirnya membuat Yogi makin murka.
Sania merasakan sakit disekujur tubuhnya namun berusaha ia tahan. Hingga akhirnya sebuah suara menghentikan perbuatan Yogi.
"Hentikan!!!"
__ADS_1
Yogi mengalihkan pandangan ke arah sumber suara.
"Jadi ini yang kau lakukan pada putriku?"
"Papa ... " ucap Sania lirih.
Yogi yang merasa sudah tertangkap basah, segera melangkah mundur.
"Papa tidak menyangka kau akan berbuat kasar pada putri kesayangan Papa! Lima tahun lalu Papa menitipkan Sania padamu untuk kau jaga, tapi apa hasilnya? Kau malah memukulinya seperti ini?"
Papa Sania menghampiri Sania dan membantu putrinya berdiri. Pak Hartawan memeluk putrinya yang sudah berlinang air mata.
"Papa akan membawa Sania pergi dari sini. Dan kau? Papa pastikan kau akan mendapatkan balasan yang setimpal." Sania melangkah keluar bersama Papanya.
"Sania sedang mengandung!" ucap Yogi kembali.
Ia yang sedari tadi diam karena sudah dikepung oleh anak buah Pak Hartawan, kembali menyuarakan suaranya.
"Janin yang ada diperut Sania adalah anakku!"
Langkah Sania terhenti. "Tidak, Pa! Aku tidak akan sudi mengandung anaknya. Pa, bawa aku pergi dari sini! Aku mohon!!!"
"Masalah itu akan kami urus nanti," balas Pak Hartawan singkat dan setelahnya ia melangkah pergi dari rumah mewah Yogi.
Dalam hati, Sania merasa lega. Hubungannya dengan Yogi bisa dipastikan akan berakhir dengan perceraian.
"Waktunya sangat tepat! Sekarang saatnya aku mulai menjauh darimu, Yogi. Aku tidak akan sudi kembali menjadi istrimu. Aku akan merebut kembali hati Rocky. Dan akan kujadikan ia sebagai ayah dari bayiku ini." batin Sania diiringi senyum menyeringai.
...***...
Visha menemukan cara yang bagus agar bisa bicara dengan Rocky seperti biasanya. Sudah dua minggu dan Rocky tak pernah bisa ia temui.
"Apa dia sangat membenciku karena aku sudah membuat alerginya kambuh?" gumam Visha.
Visha tak kehabisan akal. Ia akan mencoba cara terakhir yang menurutnya cukup efektif.
Siang itu, Visha memasak gulai ikan kakap kesukaan Rocky. Lalu ia membungkusnya kedalam kotak makan yang tentunya berbeda dengan makanan katering.
Visha akan mencegat Rocky saat dia baru turun dari mobilnya.
Dan benar saja, siang itu Rocky yang baru saja pergi rapat dengan kliennya sungguh terkejut dengan kehadiran Visha ditempat parkir. Kali ini Donny tak ikut rapat dengannya, sehingga kini Rocky hanya berdua saja dengan Visha.
"Kau? Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Rocky tegas untuk menutupi kegugupannya. Degup jantungnya sudah tak beraturan lagi sekarang.
"Aku sengaja menunggumu disini."
Jawaban Visha membuat Rocky membulatkan matanya.
"U-untuk apa kau menungguku disini?"
"Aku rasa ada yang perlu kita bicarakan," ucap Visha tepat di depan wajah Rocky.
Rocky tak bisa menatap mata Visha lebih lama lagi. Bisa-bisa debaran jantungnya akan didengar oleh Visha.
Rocky melengos pergi melewati tubuh mungil Visha. Namun Visha tak mau kalah. Ia menyusul langkah panjang Rocky dan menghentikannya.
"Berhenti!! Bisakah kita bicara baik-baik?" Visha merentangkan tangannya.
__ADS_1
Rocky mulai kesal dengan sikap Visha. Ingin rasanya tubuhnya melakukan apa yang hatinya bisikkan.
"Kenapa kau menghindariku?"
"Tidak! Siapa yang menghindarimu?"
"Kamu lah! Siapa lagi?"
"Tidak! Aku tidak melakukannya."
"Jika aku punya salah padamu, sebaiknya jelaskan sekarang padaku!"
"Tidak! Kau tidak punya salah apapun padaku."
"Tapi kenapa kau menghindariku? Kau menjauhiku seolah-olah aku adalah hantu."
Ya Tuhan!!! Kenapa dia terus bicara? Apa aku harus membungkam bibirnya dengan bibirku?
Batin Rocky mulai meronta. Jiwa kebrengsekkannya mulai menyeruak kembali. Tapi ia menahan diri. Wanita didepannya ini adalah calon kakak iparnya. Ia tak bisa mengkhianati kakak kesayangannya.
"Rocky!!! Katakan sesuatu!!!"
Rocky mulai tersadar. "Baiklah. Kau ingin tahu alasannya?"
"Iya."
Rocky menarik nafas dan menghembuskannya kasar.
"Karena kau adalah pembawa sial untukku."
"Eh?" Visha terperangah. "Pembawa sial? Apa maksudmu?"
"Sejak pertama bertemu denganmu, hidupku dipenuhi kesialan. Kau menyiramku dengan kuah rendangmu. Dan dihari itu juga, Papa menyuruhku untuk memindahkan kantorku ke lantai 13. Lalu didalam lift, gara-gara aku disana bersamamu, lift tiba-tiba mati dan rusak."
Rocky mencoba mengatur nafasnya. Dilihatnya Visha hanya diam menunduk dan mendengarkan.
"Semua proyekku gagal setelah bertemu denganmu. Lalu terakhir ... kau membuat alergiku kambuh dan harus dilarikan ke rumah sakit. Kau sudah paham sekarang?"
Visha masih diam. Rocky merasa iba karena sudah mengatakan semua hal buruk itu pada Visha.
"Baiklah. Lalu apa maumu sekarang? Apa dengan menjauhiku bisa membuat kesialanmu hilang? Begitukah?"
Rocky menatap manik hitam Visha yang mulai berkaca-kaca. Ia tidak tega mengatakan semua itu padanya. Namun ia harus melakukannya.
"Iya! Dengan menjauh darimu maka kesialanku akan berakhir."
"Benarkah?" Tanya Visha seakan tak percaya dengan hal-hal diluar nalar semacam itu.
"Itu semua benar! Bahkan aku sudah mendatangi seorang paranormal. Jadi mulai sekarang, aku akan menjauh darimu. Berpura-puralah tidak melihatku saat kita bertemu."
Rocky melangkahkan kakinya meninggalkan Visha setelah mengatakan apa yang harus dia katakan.
Air mata yang sedari tadi Visha tahan, akhirnya jatuh juga. Ia mengusap cepat buliran bening yang mengenai pipinya.
Visha berbalik badan dan melihat Rocky pergi menjauh darinya. Ia berharap Rocky akan berbalik badan dan menatapnya. Namun semua tak terjadi.
...ššš...
__ADS_1
-------tobe continued-------------
*Hiks hiks hiks, syediiiih Visha....