Labuhan Cinta Sang Playboy

Labuhan Cinta Sang Playboy
S2 - Aku Percaya Padamu (18+)


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


Visha tiba di kosnya dan langsung membersihkan diri. Usai membersihkan diri, Visha merebahkan tubuhnya ke ranjang miliknya. Rasanya lelah seharian berada di lokasi proyek.


Visha ingin memejamkan mata dan masuk ke alam mimpi, namun tiba-tiba matanya tertuju pada sebuah amplop coklat besar yang ada di atas meja. Visha beranjak bangun dan menuju meja.


Visha ingat jika Bian memintanya membuka amplop setelah sampai di rumah. Kini ia tengah berada di kos, itu artinya ia bisa mengetahui isi didalam amplop.


Visha membuka amplop dan melihat beberapa lembar dokumen.


"Apa ini? Kenapa ia memberiku dokumen seperti ini?" gumam Visha.


Visha menutup mulutnya tak percaya dengan apa yang ia baca.


"Ini... Tidak mungkin!!!" Air matanya kembali lolos setelah ia berusaha untuk menahan kesedihannya.


Ia berlari keluar kos dengan masih memakai baju tidur, dan membawa amplop itu di tangannya.


Ia memanggil ojek dan meminta abang ojek segera melaju ke sebuah hotel berbintang di kawasan Simpang Lima.


Visha masih terisak, namun ia segera menyeka air matanya. Ia tak mau abang ojek berpikir macam-macam tentangnya.


Sesampainya di hotel yang dimaksud, Visha berlari menuju lift dan menekan angka 5. Ia menuju ke kamar yang tertulis di sebuah kertas diantara lembaran kertas didalam amplop.


Visha mengatur nafasnya. Lagi-lagi ia harus mengalami hal ini. Baru saja kemarin ia berlarian menuju kamar apartemen Rocky, lalu sekarang ia berlarian di hotel yang entah kamar siapa yang akan ia tuju.


TOK


TOK


TOK


Visha mengetuk pintu. Sesosok pria membukakan pintu untuk Visha.


"Kau sudah datang rupanya! Mari masuk!"


Visha pun masuk lalu mengikuti langkah pria yang tak lain adalah Bian.


Tak ada air mata yang menggenang di pelupuk mata Visha. Kini ia hanya mengamati pria yang sudah memberinya amplop siang tadi.


Bian duduk di sofa, sementara Visha masih berdiri dengan memegang amplop di tangannya. Bian melirik.ke arah amplop yang dipegang Visha.


"Kau sudah membukanya?" tanya Bian.


Dengan terus menatap Bian, Visha menjawab dengan sebuah anggukan. Karena Visha masih terus berdiri menatapnya, Bian pun menghampiri Visha dan berdiri di depannya.


Lama mata mereka beradu, dan pikiran mereka berkelana entah kemana.


"Apa semua yang didalam sini adalah benar?" tanya Visha pada akhirnya.


Bian menghembuskan nafasnya pelan.


"Iya, Visha. Seperti yang kau dengar kemarin, maka kubawakan bukti-bukti untuk membuktikan ucapanku."


Kini Visha lebih tenang mendengar semua penjelasan Bian. Visha hanya menatap Bian dengan seksama.


"Apa kau tidak percaya padaku?" tanya Bian karena melihat Visha tak memberikan respon apapun.


"Aku... Percaya... Padamu..." Bibir Visha mengucap tiga kata yang membuat mata Bian berbinar gembira.


Tanpa basa basi lagi, Bian langsung meraih tubuh Visha dan mendekapnya erat. Visha yang berada diantara sadar dan tidak hanya bisa diam saat Bian memeluknya.


Karena Visha lagi-lagi tak merespon, Bian melepas pelukannya dan membawa Visha duduk di atas sofa.


"Kau pasti ingin menanyakan banyak hal. Akan kujawab! Tanyakanlah!"

__ADS_1


Visha menatap manik Bian dalam.


"Bagaimana bisa?" hanya itu kata yang mampu ia tanyakan.


"Aku masih belum menemukan titik terangnya, tapi aku janji aku akan menemukan siapa dalang dari semua ini."


"Lalu wajahmu?" Visha kembali bertanya dengan datar. Ia pasti masih syok karena mengetahui orang yang ia cintai ternyata masih hidup.


"Aku juga tidak tahu. Ada kemungkinan aku menjalani operasi plastik. Tapi aku juga masih belum tahu siapa pemilik wajahku ini."


"Dan pernikahanmu?" Visha masih tetap menatap ke arah Bian dengan ekpsresi datar.


"Seperti yang tertulis di lembar kertas itu, jika aku dan Sania tidak pernah menikah. Kami tidak terdaftar sebagai pasangan suami istri. Di mata hukum maupun negara."


Bian menggenggam kedua tangan Visha. "Dengar! Aku tahu kau pasti merasa aneh karena wajahku yang telah berubah, tapi percayalah, aku tidak berhenti mencintaimu. Bahkan di saat ingatanku belum kembali, aku selalu mengingatmu."


Visha mengangguk. "Iya, aku percaya. Itulah kenapa kau selalu mengingatkanku pada Rocky. Karena kau memang Rocky!"


Kali ini air mata Visha tak lagi tertahan. Ia kembali terisak setelah mendapati jika perasaannya selama ini tidaklah salah.


Bian menghapus air mata di pipi Visha. "Jangan menangis lagi. Setelah ini kita pasti bisa bersama lagi. Bersama anak kita."


Visha mengangguk. Visha menghambur memeluk Bian. Dan Bian pun mengeratkan pelukannya.


"Malam ini, menginaplah disini bersamaku..." ucap Bian ketika mereka sudah berbaring di tempat tidur dan saling berhadapan.


"Tapi... besok aku harus berangkat bekerja..."


"Aku akan mengantarmu pagi nanti. Kau bahkan kemari memakai baju tidur. Itu artinya kau memang memang berniat tidur disini, benar 'kan?"


"Kau ini! Masih menyebalkan seperti dulu!" Visha merengut. "Memangnya kau hapal jalanan sini?"


"Tidak! Aku punya supir."


"Cih, kau ini!"


"Aku juga..." Visha mendekatkan tubuhnya merapat ke tubuh Bian. Mereka berpelukan di tempat tidur.


"Tidurlah! Besok kita harus bangun pagi." Ucap Bian.


Visha mengangguk dalam dekapan Bian.


"Sha, bagaimana hubunganmu dengan Zayn?" tanya Bian tiba-tiba.


Visha mendongak dan menatap wajah Bian.


"Lalu bagaimana hubunganmu dengan Sania?" tanya Visha balik.


"Ah, sudahlah. Aku tidak mau memikirkan soal itu dulu. Yang penting aku sudah kembali menemukanmu." ucap Bian kemudian. "Akan kupikirkan cara untuk menyelesaikan permasalahan ini." Bian mengecup pelan puncak kepala Visha.


Tak berhenti sampai disitu, Bian membelai wajah Visha yang teramat dirindukannya. Mengecup kedua pipi Visha dengan lembut.


"Bian..." Visha memukul pelan dada Bian.


"Benar. Kau harus tetap memanggilku Bian. Sebelum semuanya tuntas, kita akan memainkan sandiwara ini."


"Berjanjilah kau tidak akan melakukan hal apapun dengan Sania..." ada nada cemburu di suara Visha.


"Kenapa? Kami 'kan suami istri."


Visha melepas pelukannya dan berbalik memunggungi Bian.


"Hei, jangan marah. Selama ini aku bahkan tidak menyentuh Sania." Bian kembali meraih tubuh Visha dan memeluknya dari belakang. "Itu benar! Aku tidak melakukan apa yang suami istri biasa lakukan. Entahlah, aku juga tidak mengerti kenapa aku bahkan tidak menginginkannya seperti aku sangat menginginkanmu..."


Hembusan nafas Bian terasa menggelitik di ceruk leher Visha. Visha melepas tangan Bian dan memposisikan dirinya duduk. Ia berbalik dan menatap Bian yang masih berbaring.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Bian.


"Apa aku bermimpi?"


"Tidak!"


"Apa ini nyata?"


"Iya!"


"Kau benar-benar Rocky?"


Bian pun akhirnya memposisikan dirinya duduk berhadapan dengan Visha.


"Mungkin masih sulit untukmu menerimaku sebagai Rocky. Tanyakanlah pada hatimu..." Bian meraih wajah Visha dan membelainya lembut.


"Kau ingat, aku mengutarakan perasaanku padamu lewat sebuah ciuman. Jadi, sekarang aku juga akan melakukan hal yang sama untuk mengembalikan memori itu."


Visha membulatkan mata. Ia masih ingat ketika dengan paksa Bian merampas ciuman darinya.


"Aku minta maaf karena waktu itu aku... memaksamu... Aku benar-benar tidak bisa mengontrol diriku saat itu."


Visha menatap manik Bian yang memang menyiratkan sebuah cinta untuknya.


"Kali ini aku akan melakukannya dengan lembut..." Bian menarik tubuh Visha dan membaringkannya di tempat tidur. Bian meraih bibir Visha dan bermain disana dengan lembut.


Visha membalas perlakuan Bian karena ia memang menginginkan Rocky nya saat ini. Bahkan semua yang berawal dari kelembutan berubah menjadi makin menuntut kala kabut gairah menyelimuti kedua insan yang tengah beradu di atas tempat tidur.


Visha menatap Bian yang kini juga menatapnya dengan penuh cinta. Bian kembali meraih bibir yang selalu di rindunya itu dan menjelajahi setiap jengkal manisnya.


Tangan Bian mulai menelusup masuk ke baju tidur Visha, dan menemukan sesuatu yang kenyal disana.


Visha berusaha menahan tangan Bian namun Bian tak mau berhenti. Bian menelusup ke belakang tubuh Visha dan membuka pengait bra milik Visha. Mata Visha membulat sempurna. Namun ia juga menikmati setiap sentuhan yang diberikan Bian. Sama seperti dulu ia menikmati setiap sentuhan Rocky.


Tangan Bian terus menjelajah dengan bibirnya yang tetap membungkam bibir Visha, dan memainkannya dengan lembut.


Ketika semua hal yang dilakukan Bian membuat Visha melayang, Visha mulai tersadar lalu mendorong tubuh Bian, dan memintanya berhenti.


"Kita tidak boleh melakukannya lagi." ucap Visha dengan nafas terengah karena ulah Bian.


Bian terhenti dan menatap Visha. "Kau benar! Aku sudah pernah melakukan kesalahan padamu, dan aku tak mau mengulanginya lagi."


Bian meraih tubuh Visha dan memeluknya. "Aku akan mengurus semuanya dan secepatnya menikahimu."


"Heh?"


"Iya, sayangku. Aku akan menikahimu secepatnya."


"Lamaran macam apa ini? Sungguh tidak romantis!" Visha memanyunkan bibirnya. Membuat Bian ingin melahap kembali bibir manis itu.


"Baiklah, aku akan melamarmu dengan sangat romantis. Tapi sebaiknya sekarang kita tidur dulu. Karena kalau tidak... Kau akan membangunkan singa yang tertidur, nona."


"Hah?"


Secepat kilat Visha memejamkan matanya dan menuju alam mimpi. Bian hanya tertawa kecil melihat tingkah Visha yang lucu.


...🍁🍁🍁...


bersambung,,,


.


.


.

__ADS_1


*Jangan lupa tinggalkan jejak kalianπŸ‘£πŸ˜πŸ˜˜


...~thank you~...


__ADS_2