Labuhan Cinta Sang Playboy

Labuhan Cinta Sang Playboy
S2 - Aku Mencintaimu, Navisha


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


Bian terbangun karena bunyi ponselnya berdering cukup keras. Sebuah panggilan masuk, dan itu dari Sania.


"Halo..." sapa Bian dengan suara khas bangun tidur.


"Sayang... Kau baru bangun?"


"Hmmm, ada apa?"


"Kau jadi 'kan pulang hari ini? Kau bilang hanya tiga hari disana."


Bian melirik ke arah Visha yang masih terlelap.


"Entahlah. Mungkin jika urusannya belum selesai, aku akan memperpanjang masa tinggalku."


"Hah?"


"Jangan khawatir! Aku baik-baik saja disini. Reza menjagaku dengan baik."


"Hmm, baiklah." jawab Sania terdengar pasrah.


"Bagaimana kabar Alisa? Dia pasti merindukan Papanya ya..."


"Iya, dia terus menanyakan kepulanganmu."


"Bilang padanya, jika Papa sangat merindukannya. Kirimkan fotonya padaku."


"Dia masih tidur."


"Ya sudah, nanti saat dia bangun aku akan meneleponnya via video call."


"Hmm, bye Bee..."


Panggilan berakhir.


"Sania ya?"


"Astaga! Kau sudah bangun, Sha? Maaf jika suaraku membangunkanmu..."


"Siapa Alisa?"


Bian membelai lembut wajah Visha. Masih nampak raut kesedihan di wajahnya. "Dia adalah anak Sania. Kau ingat, kita pernah mengantarnya ke rumah sakit saat dia hamil muda. Ketika dia pingsan di panti asuhan."


"Itu bukan anakmu?"


"Haish, tentu saja bukan. Alisa anak Yogi. Aku sudah melakukan tes DNA."


"Oh, begitu."


Entah kenapa Bian merasa, Visha tak seperti biasanya.


"Aku mencintaimu, Navisha."


"Apaan sih? Pagi-pagi sudah menggombal."


"Ini bukan gombalan. Ini fakta!"


"Cepat bangun, dan antarkan aku pulang ke kos!" Ucap Visha kemudian berlalu dan menuju kamar mandi.


Ada apa dengannya? Apa dia cemburu dengan Sania? Atau dia sedang menghukumku karena semalam aku memintanya untuk menghukumku?


Bian mengacak rambutnya frustasi.


Aku tidak bisa hidup jika kau memperlakukanku seperti ini, Visha.


Usai bersiap, Bian mengantar Visha kembali ke kosnya untuk berganti baju.


"Bapak tunggu di mobil saja, aku tidak akan lama..." Visha membuka pintu dan turun dari mobil.


Bian mengernyit heran. Ia tak akan membiarkan Visha terus mengacuhkannya. Ia pun ikut turun dari mobil dan mengikuti Visha dibelakang.


Visha bertemu Keisya saat akan masuk ke dalam rumah kos.


"Visha! Kau pulang!" Keisya memeluk Visha saking gembiranya. Dilihatnya Visha terlihat baik-baik saja.

__ADS_1


"Dia siapa, Sha?" tunjuk Keisya pada Bian.


Visha terkejut mendapati Bian yang berdiri di belakangnya. "Pak Bian?"


Visha bingung harus menjelaskan apa pada Keisya. "Dia..."


"Hai, aku Bian. Rekan bisnis Visha." Bian mengulurkan tangannya ke arah Keisya.


"Ah, aku Keisya. Teman kos Visha." Keisya menyambut uluran tangan Bian.


Rekan bisnis katanya? Visha tersenyum miring.


"Bapak tunggu disini saja. Aku tidak akan lama." tunjuk Visha pada bangku yang ada di teras rumah kos.


"Baiklah." jawab Bian.


Visha masuk ke kamarnya dan Keisya masih mengikutinya.


"Siapa dia, Sha? Apa dia..."


"Mbak... Jangan berpikir yang aneh-aneh deh."


"Jadi selama dua malam ini kau bersama dengannya?" Keisya masih penasaran dengan hubungan Visha dan Bian.


Visha menatap tajam ke arah Keisya.


"Oke! Aku tidak akan bertanya lagi. Aku akan siap mendengar ceritamu kapan saja, adikku sayang..."


Visha tersenyum dan memeluk Keisya. "Terima kasih, Mbak..."


"Kulihat wajahmu berbeda saat bersama dengannya. Itu artinya kau lebih bahagia bersamanya."


Mendengar kalimat Keisya, membuat Visha tersenyum malu.


"Berbahagialah! Karena kau berhak mendapatkan itu!"


"Terima kasih, kakakku sayang... Tuhan telah begitu baik padaku karena selalu mengirimkan malaikatNya untukku."


"Ya sudah, kau sudah ditunggu. Aku juga harus berangkat ke kampus. Ada kelas mengajar pagi."


Keisya pun berlalu dari kamar Visha. Ia bekerja sebagai dosen di salah satu kampus ternama di kota Semarang. Kehidupan asmaranya tak seberuntung karirnya. Ia masih sendiri di usianya yang tak lagi muda. Karena saat muda ia hanya memikirkan karir, maka saat usianya sudah matang, justru ia malah belum mendapatkan jodoh yang ditunggunya. Namun ia tak mempermasalahkan hal itu. Ia tetap menikmati masa sendirinya dengan teman-teman terdekat dan keluarganya yang tinggal di kota yang sama dengan Visha, Pekalongan.


Bian terpesona melihat penampilan Visha. Ia yak berhenti berkedip saat Visha menyisir rambutnya dengan tangan.


"Ayo, berangkat Pak." ucap Visha.


"Aku mencintaimu, Visha..."


"Heh?"


Bian segera meraih tubuh Visha dan memeluknya.


"Eh, eh! Apa yang bapak lakukan? Ini tempat umum!" Visha mendorong tubuh Bian agar menjauh.


"Maaf, aku hanya..."


"Sudahlah, cepat kita berangkat, ini sudah siang." Visha berjalan menuju mobil dan langsung masuk kedalam mobil. Bian pun mengikuti Visha.


"Kenapa sejak bersama bapak aku selalu terlambat berangkat ke kantor?"


"Hei! Kenapa menyalahkanku? Kau sendiri bukankah sudah langganan berangkat telat, huh!"


Visha memalingkan wajah, dan tak mau berdebat.


Di tengah perjalanan, hanya hening yang tercipta. Mereka seakan sibuk dengan pikiran masing-masing.


"Aku lapar! Kita pesan drive-thru di Wac'D saja!" ucap Visha pada akhirnya karena perutnya mulai dangdutan minta di isi.


"Wac'D? Bukankah itu junk-food? Tidak baik makan junk-food sepagi ini!" nasihat Bian.


"Bukankah kau juga sangat menyukai ayam goreng Wac'D? Apa kau masih lupa ingatan?" sarkas Visha.


Bian mendengus sebal namun tak bisa melawan keinginan Visha.


"Iya, iya, baiklah. Kita drive-thru ke Wac'D!"

__ADS_1


Tak lama pesanan mereka datang dan Visha langsung melahap burger di tangannya. Bian hanya menggeleng pelan melihat kekasihnya itu. Kekasih? Apa mereka kini sepasang kekasih? Atau masih hubungan tanpa status? Atau calon pengantin? Hmm, masih misteri.


"Bapak tidak makan?" tanya Visha dengan mulut penuh burger.


"Tidak. Aku makan di kantor saja."


.


.


.


Di kantor, Visha tak menemukan sosok Zayn di ruangannya. Ia ingin meminta tanda tangan Zayn untuk beberapa berkas. Visha sudah menduga jika Zayn pasti tidak akan masuk kantor hari ini.


"Apa kau tahu dia kenapa, La?"


"Tidak. Ponselnya juga tidak aktif. Apa terjadi sesuatu dengan kalian, Sha?"


Visha mengedikkan bahunya. Belum saatnya Visha bercerita tentang hubungannya dan Bian pada Lala.


Visha menerawang jauh di dalam ruangannya. Ia merasa sangat bersalah pada Zayn. Saat sedang melamun, tiba-tiba ponsel Visha berdering. Sebuah panggilan masuk dari nomor tak dikenal.


"Halo..." sapa Visha.


"Halo, Mbak Visha. Ini Ani, mbak. Asisten rumah tangga Tuan Zayn."


"Oh, iya Bi Ani, ada apa?"


"Tolong saya, Mbak, Tuan Zayn pingsan."


"Apa?! Ya sudah, bibi tenang dulu ya. Saya akan segera kesana."


Visha keluar dari ruangannya dan mencari Bian. Beruntung dia bertemu dengan Bian yang baru datang dari lokasi proyek.


"Pak Bian, bisa ikut saya?"


"Ada apa, Visha?"


"Ayo ikut saja!" Visha menarik tangan Bian tanpa mempedulikan Reza yang mengerutkan keningnya.


Visha menarik tangan Bian hingga ke tempat parkir.


"Ada apa, Visha? Kenapa kau membawaku kemari?"


"Kita harus segera ke rumah Pak Zayn. Asisten rumah tangganya menghubungiku dan bilang jika Pak Zayn pingsan. Kita harus menolongnya."


"Apa? Kau begitu peduli dengan Zayn sampai begini? Biarkan saja dia, Visha. Jika kau masih peduli dengannya itu akan semakin memberinya harapan jika kau membuka hatimu untuknya. Lagipula dia memiliki banyak asisten di rumahnya, pasti mereka akan menolong Zayn."


Visha berdecak kesal. "Susah sekali bicara denganmu. Kalau begitu aku akan pergi sendiri kesana." Visha melangkah pergi dari tempat parkir dan akan memanggil taksi saja untuk ke rumah Zayn.


Bian masih tak habis pikir dengan pemikiran Visha. Bian tahu jika ini pasti akal-akalan Zayn agar Visha mau menemuinya. Ia tak bisa membiarkan Visha kesana sendiri dan malah menemani Zayn.


Bian menyusul langkah Visha dan meraih tangannya. "Aku akan mengantarmu ke rumah Zayn. Ayo masuklah!"


Visha tak bisa menolak Bian karena tangannya di tarik paksa oleh Bian untuk masuk ke dalam mobil.


"Kenapa tidak dari tadi saja? Kenapa harus membuatku kesal lebih dulu baru kau mau mengantarku? Zayn adalah temanmu, apa sedikitpun kau tidak punya rasa khawatir padanya?" Visha mengomel saat mobil mulai melaju.


"Iya, iya, aku salah. Aku minta maaf..."


Visha menatap Bian dengan amat kesal.


"Aku mencintaimu, Navisha..." ucap Bian sambil tersenyum untuk meredam amarah Visha.


Visha memalingkan wajah dan menyilangkan tangannya kedepan dada. Ia sedikit tersenyum mendengar rayuan Bian yang diakuinya sebagai fakta.


...🍁🍁🍁...


bersambung,,,


.


.


*Haluh, jangan lupa klik jempol ya gaes πŸ‘πŸ˜šπŸ˜š

__ADS_1


*yang pengen ketik komen juga boleh banget 😁😁karena itu sangat berarti untukkuh...😘😘


...~thank you~...


__ADS_2