Labuhan Cinta Sang Playboy

Labuhan Cinta Sang Playboy
S2 - Keputusan yang Sulit


__ADS_3

...๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ...


Keesokan paginya, Zayn membawa serta Visha menemui Bian di kantor Adiguna Grup. Bian dan Reza cukup terkejut karena mendapati Visha bersama Zayn. Dan terasa sekali jika Zayn ingin menunjukkan pada mereka jika Visha adalah miliknya.


"Maaf, Bi, jika kemarin aku sempat terbawa emosi dan ingin membatalkan kontrak dengan Adiguna Grup." ucap Zayn.


Bian mendengarkan penjelasan Zayn dengan seksama sambil sesekali melirik ke arah Visha yang terus menundukkan kepalanya.


"Aku tarik kembali semua ucapanku kemarin padamu. Aku minta maaf karena sudah membuatmu kecewa."


"Jadi..."


"Kita akan tetap melanjutkan proyek kerjasama kita." Zayn mengulurkan tangannya ke arah Bian.


Bian membelalakkan mata namun tetap menerima uluran tangan Zayn. Mereka sudah berteman sekitar tiga tahun lalu saat bertemu di Surabaya. Dan persahabatan tak boleh berakhir hanya karena ada satu wanita diantara mereka.


"Terima kasih karena sudah melanjutkan proyek ini." ucap Bian diiringi senyum.


Usai berbincang-bincang, Zayn pamit undur diri dari kantor Bian. Ia meraih bahu Visha dan merangkulnya mesra, seakan ia memberi isyarat jika Visha benar-benar telah jadi miliknya.


Bian dan Reza hanya menatap mereka dalam diam. Sepertinya pikiran mereka menanyakan pertanyaan yang sama.


Apa Zayn dan Visha memiliki hubungan yang lebih dari sekedar bawahan dan atasan?


...~~~~...


Zayn dan Visha kembali ke Semarang sore harinya. Hari mulai gelap ketika mereka sampai di tanah Jawa Tengah itu. Zayn mengantarkan Visha ke rumah kosnya.


"Terima kasih bapak sudah mengantarkan saya kembali ke kos." ucap Visha.


"Ini bukan di kantor, Sha. Jangan memanggilku bapak."


"Maaf. Kalau boleh saya ingin meminta sesuatu."


"Apa? Katakan saja!"


"Saya tidak mau jika orang-orang kantor tahu mengenai hubungan kita. Saya harap kamu mengerti."


"Baiklah. Kita akan merahasiakannya. Termasuk pada Lala sahabatmu?"


"Iya, Lala sebaiknya juga tidak tahu."


Zayn mengelus lembut rambut Visha. "Aku akan melakukan apapun asal kamu bahagia, Sha..."


"Terima kasih. Kalau begitu, aku turun dulu. Kamu hati-hati menyetirnya."


"Iya."


Zayn menahan tangan Visha yang akan membuka pintu mobil.


"Ada apa?" tanya Visha bingung.


"Terima kasih karena sudah menerima perasaanku."


Visha hanya membalas dengan senyuman. Visha turun dari mobil dan baru masuk ke rumah kos ketika mobil Zayn sudah tak terlihat lagi.


Visha segera masuk ke kamarnya. Keisya melihat Visha yang baru datang dan penasaran dengan apa yang terjadi.

__ADS_1


Visha langsung merebahkan diri ke tempat tidur dan menangis disana.


Keisya menghampiri Visha. "Apa yang terjadi, Sha? Kamu dari mana?"


Visha tak menjawab dan hanya menangis. Visha memeluk tubuh Keisya erat dan kembali menangis dalam pelukan Keisya.


Keisya hanya mengelus lembut punggung Visha yang bergetar hebat.


"Menangislah sepuasmu. Mungkin dengan begitu hatimu akan lebih tenang..." ucap Keisya dengan terus mengelus Visha.


...~~~~...


Pagi itu, Visha berangkat lebih pagi ke kantor. Ia segera menuju ke lokasi proyek dan akan menyibukkan diri disana seharian.


Air matanya memang sudah kering. Tapi hatinya masih terasa sakit mengingat apa yang harus ia korbankan agar proyek ini tetap berjalan. Sebuah keputusan yang sulit untuk bisa menerima perasaan Zayn dimana Visha tidak memiliki rasa apapun terhadap Zayn.


Visha menghela nafas dan berusaha tegar menerima semua ini. Ini demi seluruh teman-temannya yang bekerja di Zayn Building. Mereka akan dapat kompensasi yang bagus jika proyek ini lancar sampai selesai. Visha tak bisa egois dengan hanya memikirkan dirinya sendiri.


Entah kenapa matanya terasa panas dan air matanya telah lolos ke pipinya. Dengan cepat Visha menyeka air matanya karena tak mau para pekerja melihatnya menangis.


Dari kejauhan, Zayn memperhatikan Visha yang nampak menghapus air matanya. Ia tahu jika Visha terpaksa menerima perasaannya karena proyek ini. Namun Zayn juga tidak mau jika Visha makin dekat dengan Bian jika ia tidak mengambil langkah ini. Zayn tahu jika perasaan Visha terhadap Rocky sangatlah kuat, dan itu bisa saja berpindah pada Bian karena Bian mengingatkannya pada Rocky.


"Maafkan aku, Visha. Aku memang egois. Tapi aku tidak mau kamu disebut merebut suami orang. Bian sudah memiliki Sania di sisinya. Jadi, sebaiknya kamu lupakan saja memorimu tentang Rocky yang ada pada diri Bian." lirih Zayn.


.


.


.


.


"Kita mau apa datang kesini, Pak?"


"Sudah kubilang jangan panggil aku pak jika sudah lewat jam kantor." Zayn nampak sedikit kesal.


"Maaf, Zayn. Aku belum terbiasa." jawab Visha dengan menunduk.


"Ayo masuk!" Zayn meraih tangan Visha mengajaknya masuk ke sebuah toko perhiasan.


Visha terkejut karena tiba-tiba Zayn membawanya ke toko perhiasan.


"Untuk apa kita kesini?"


"Aku ingin membelikan cincin untukmu." jawab Zayn santai sambil melihat-lihat beberapa model cincin berlian.


"Eh? Apa?" Visha memutar otaknya. Ia tak mungkin secepat ini menerima sebuah cincin dari Zayn. Baru saja kemarin mereka jadian.


"Zayn... Aku rasa ini tidak perlu. Kita pergi saja dari sini." Visha berusaha menarik tangan Zayn.


"Ssstttt!!! Diamlah! Coba ini!" Zayn meminta Visha untuk mencoba sebuah cincin yang ia pilih.


"Tidak, Zayn!" Visha menggeleng pelan dengan wajah memelas. Ia tak mau Zayn terlalu dalam mencintainya karena ia tak bisa membalas perasaan Zayn.


"Cobalah! Aku mohon!" Zayn berucap dengan nada tegas.


Visha akhirnya pasrah dan mencoba cincin pilihan Zayn di jari manisnya.

__ADS_1


Zayn memandangi jari Visha yang dihiasi cincin berlian pilihannya.


"So beautiful. Saya ambil yang ini." ucap Zayn pada karyawan toko.


"Zayn..." Visha tetap memohon agar Zayn tidak melakukan ini. Ini membuat hatinya semakin sakit.


Mata Visha mulai berkaca-kaca. Ia sudah tak bisa mengubah keputusan Zayn. Visha memegangi dadanya yang sesak. Ia melakukan kesalahan yang sama seperti dulu. Ia kembali membohongi dirinya. Membohongi hatinya.


Zayn mendekati Visha yang berdiri menjauh darinya. Ia raih wajah Visha yang sudah dipenuhi air mata. Zayn menghapus air mata Visha.


Maaf jika harus begini. Tapi aku benar-benar tidak mau kehilanganmu. Apalagi aku harus bersaing dengan sahabatku sendiri. Aku tidak bisa melakukannya.


Zayn meraih tubuh Visha dan memeluknya erat. Tangis Visha makin pilu dalam dekapannya. Zayn menutup mata seakan tak ingin mendengar tangisan Visha.


...~~~~...


Bian menyendiri di sebuah vila yang sengaja ia beli tanpa sepengetahuan Sania. Ia ingin banyak menyendiri ketika mulai mengingat kenyataan tentang dirinya dan Visha.


Memori di masa lalunya satu persatu mulai jelas terlintas di otaknya.


Visha. Navisha Rahma. Wanita itu memang benar adalah dari masa lalu Bian.


Bian membuka ponselnya dan mencari sosial media milik Visha. Dilihatnya banyak foto anak kecil yang menghiasi halaman sosial media Visha.


Bian tersenyum melihat foto anak Visha. Ia mencoba mengingat apakah ia pernah bertemu dengan anak Visha atau tidak. Ia terlalu keras mengingat hingga kepalanya terasa berdengung dan sakit.


Bian mengambil obat yang diberikan oleh dokter Fahri dan meminumnya. Ia mengatur nafasnya. Dan tak lama ia mulai kembali tenang.


Ia kembali melihat beberapa postingan Visha namun tiba-tiba ia mendapat notifikasi jika Zayn baru saja mengunggah sebuah foto.


Bian penasaran dan membuka postingan Zayn. Bian menggertakan giginya dan tangannya mengepal kuat melihat postingan baru Zayn.


Itu adalah sebuah foto cincin berlian dalam sebuah kotak kecil. Yang membuat Bian geram adalah isi caption dalam foto itu.


"Akhirnya, setelah sekian lama, ia bersedia mengatakan 'iya'. Terima kasih, Cintaku... Navisha Rahma..."


Bian membanting ponselnya. Dan berteriak keras. Hatinya sangat teriris hanya karena membaca isi tulisan pada postingan Zayn.


Ia memegangi kepalanya yang kini berdenyut kencang. Ia merasakan sakit yang luar biasa.


Bian tak lagi mampu menahan bobot tubuhnya yang mulai terhuyung dan berjalan sempoyongan. Bian akhirnya ambruk ke lantai tanpa ada seorang pun yang mengetahuinya.


...๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ...


.


.


...tobe continued,,,,...


...*๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ mewek pas bikin part ini......


...*hatiku ikutan merasa sesak. How about you?...


...*Jangan lupa tinggalkan jejak ๐Ÿ‘ฃ๐Ÿ‘ฃ...


...*Kalian adalah semangat untukku๐Ÿ˜˜...

__ADS_1


__ADS_2