
...🍁🍁🍁...
Rocky tiba di rumah Visha. Rumah itu nampak sepi. Rocky ragu apakah harus masuk atau tidak.
Tok Tok Tok
Akhirnya Rocky mengetuk pintu. Muncul Rara dari balik pintu.
"Eh? Mas Rocky?"
"Ah, hai," sapa Rocky kikuk.
"Mas Rocky cari siapa?"
"Umm, begini, aku dengar kalau Ali..."
"Oh, iya Mas. Ali sedang di rumah sakit. Mbak Visha dan Ibu Karina juga ada disana."
"Di rumah sakit mana?"
"Harapan Kita."
"Terima kasih. Kalau begitu saya permisi."
Rocky kembali melajukan mobilnya menuju rumah sakit. Ia mengusap wajahnya kasar. Ia mengerti bagaimana perasaan Visha sekarang. Dan ia datang untuk menghiburnya.
Sesampainya di rumah sakit, Rocky bertanya pada meja resepsionis. Setelah mengetahui dimana kamar Ali, Rocky berjalan menuju kesana.
Langkah kaki Rocky terhenti ketika melihat seseorang yang dikenalnya.
"Rocky?" Mata Visha membulat sempurna.
Rocky menghampiri Visha. "Bagaimana kondisi Ali?"
Visha memalingkan wajah. "Dari mana kau tahu jika Ali di rumah sakit?"
"Hanya tahu saja," jawab Rocky asal.
Visha menghela nafas.
"Kau dari mana?" Tanya Rocky.
"Dari apotek."
"Aku ingin bertemu Ali. Bolehkah aku menjenguknya?"
"Ya sudah, ayo ikut denganku!" Ajak Visha.
Mereka berjalan beriringan tanpa ada sepatah katapun keluar dari bibir mereka berdua. Terasa canggung setelah insiden perpisahan mengharukan beberapa hari lalu.
"Silahkan masuk!" Visha mempersilahkan Rocky masuk ke dalam kamar Ali.
Dilihatnya Ali sedang bermain dengan Karina.
"Halo Ali..." sapa Rocky.
"Om Rocky?"
"Jagoan!! Kau sakit apa? Cepatlah sembuh ya! Nanti kita main playstation lagi."
"Oke, Om! Om Rocky kesini dengan siapa? Apa dengan Om Galang?"
"Eh?" Rocky cukup terkejut karena Ali justru mencari kakaknya.
"Om datang sendiri. Mungkin lain kali Om akan ajak Om Galang kemari. Oke?" Ujar Rocky sambil mengacungkan tangannya untuk ber'tos ria dengan Ali.
Ali menyambut ajakan 'tos' dari Rocky. Visha hanya tersenyum melihat Ali bersemangat.
...***...
"Nduk, malam ini biar ibu saja yang menjaga Ali ya," ucap Karina saat menghampiri Visha yang sedang duduk di bangku depan kamar Ali.
"Eh?"
"Kamu pulanglah dengan Nak Rocky."
"Eh? Tapi bu..."
__ADS_1
"Kamu pasti lelah dari kemarin menjaga Ali. Nanti kamu tolong urus masalah katering. Ya?"
Visha nampak berpikir. Ia menatap ke arah Rocky dan Ali yang masih asyik bermain.
"Baiklah, Bu."
"Nak Galang belum berkunjung lagi?"
"Belum, Bu. Pasti Mas Galang sangat sibuk. Aku tak mau mengganggunya jika dia sedang sibuk."
"Ya sudah, Ibu akan bicara dengan Nak Rocky agar mengantarmu pulang." Karina kembali masuk ke kamar Ali.
Visha salah tingkah selama menunggu Rocky dan Karina yang sedang berbincang. Rasanya sangat canggung tiba-tiba bertemu Rocky setelah banyak insiden terjadi diantara mereka.
"Umm, Visha..." panggil Rocky ketika membuka pintu.
"Iya."
"Ibu Karina memintaku untuk mengantarmu pulang."
"Hu'um. Malam ini gantian ibu yang menginap disini. Aku akan mengurus katering."
"Oh. Kalau begitu ayo jalan." Ajak Rocky.
.
.
.
Hening. Tak ada satupun yang bersuara selama perjalanan kembali ke rumah.
Visha menatap jalanan lewat kaca mobil. Hati dan pikirannya kini terkuras hanya untuk Ali.
"Kau sudah makan?" Rocky menyerah dan akhirnya bersuara.
"Eh?"
"Aku tanya apa kau sudah makan? Badanmu terlihat kurus."
"Tapi kau harus tetap makan. Kau harus kuat agar Ali juga kuat. Kita makan dulu."
Rocky menghentikan mobilnya di warung tenda kaki lima. Mereka berdua turun dan duduk berhadapan.
"Kau ingin makan apa?" Tanya Rocky.
"Nasi goreng saja," jawab Visha.
"Bang, nasi goreng dua ya!"
"Siap, Bos Rocky!"
Visha terkejut pak penjual nasi goreng mengenali Rocky.
"Kau sering kesini?" Tanya Visha penasaran.
"Tidak sering. Biasanya aku kesini bersama Donny. Karena aku tidak suka suasana restoran ataupun kafe. Apa kata orang jika dua pria makan bersama di kafe atau restoran?"
Visha terkekeh kecil.
"Nah, begitu dong! Kau harus banyak tersenyum. Tak peduli seberapa beratnya beban yang sedang kau pikul. Tetaplah tersenyum, Navisha..."
Entah ada angin apa, tapi Visha merasakan desiran aneh ketika Rocky mengatakan hal itu kepadanya.
Secara tak disengaja terjadi kontak mata yang cukup lama antara Visha dan Rocky. Mereka saling menatap seakan sedang saling berbicara. Mengutarakan apa yang ada di hati mereka.
"Ini nasi gorengnya, Bos!" Suara penjual nasi goreng membuyarkan semua tatapan mereka.
"Terima kasih, bang."
Visha makan dengan lahap. Entah ia merasa lapar atau karena ditemani oleh Rocky.
Rocky menyunggingkan senyumnya melihat Visha yang makan dengan lahapnya.
"Mulai sekarang kau harus makan teratur. Jangan sampai terlambat makan. Kau mengerti?!"
Visha mengangguk, kemudian tersenyum.
__ADS_1
"Aku akan selalu ada bersamamu..."
Visha sontak menatap Rocky. Kalimat macam apa itu? Apa kini mereka saling mengakui perasaan masing-masing?
"Terima kasih," balas Visha.
"Hanya terima kasih?" Rocky terlihat kecewa.
"Memang apa lagi?"
"Baiklah. Tidak masalah." Jawab Rocky pasrah.
...***...
Keesokan harinya,
"Ra, kamu lihat buku harianku tidak?" Visha mengobrak abrik tasnya mencari buku harian yang selalu dia bawa.
"Buku harian apa, Mbak? Semacam buku diary gitu?"
"Iya, warna soft pink. Aku selalu membawanya di tasku. Tapi ini kok tidak ada?"
"Mungkin Mbak Visha lupa menaruhnya. Coba di cari lagi, Mbak."
"Ya sudah. Tak ada waktu untuk mencari. Lain kali saja akan kucari. Ayo kita siapkan makanan untuk katering."
.
.
.
Di lain tempat,
Galang memandangi buku harian Visha yang tak sengaja jatuh di mobilnya.
Galang tak yakin ingin menanyakan ini pada Visha atau tidak. Didalam buku itu terdapat beberapa lembar artikel yang diambil dari koran dan majalah. Dan itu adalah gambar Rocky, adiknya.
Tangan Galang mengepal kuat.
Kenapa Visha menyimpan lembaran gambar Rocky yang diambil dari majalah? Ada hubungan apa mereka? Apa kecurigaan Sania benar? Jika ada sesuatu diantara mereka?
Galang mengacak rambutnya frustasi. Disaat ia akan menikahi Visha, ia harus mendapati kenyataan yang berbalik arah dengan jalan takdirnya.
Galang kembali menatap buku harian berwarna soft pink itu. Ingin sekali rasanya mengetahui apa yang Visha tulis didalamnya.
Batinnya mulai mengalami perang. Tidaklah sopan jika membaca buku harian milik orang lain. Tapi rasa penasaran yang teramat sangat sudah sepenuhnya memenuhi hati Galang. Ia takut jika selama ini adik dan kekasihnya itu bermain hati dibelakangnya.
Dan dengan berat hati, Galang membuka buku harian Visha yang isinya adalah kegiatan sehari-hari Visha dan juga curahan hatinya.
DEG. Tangan Galang bergetar membaca lembar demi lembar kisah hidup Visha.
"Brengsek!!!" Tiba-tiba Galang berteriak.
Bi Onah, asisten rumah tangganya segera menghampiri Galang.
"Mas Galang, ada apa?"
"Tidak ada apa-apa, Bi. Tolong hubungi Ari, dan katakan padanya hari ini pegang semua kerjaanku. Aku tidak akan pergi ke kantor."
"Heh?"
"Cepat!!!" Galang berteriak lagi. Tak biasanya Galang bersikap kasar.
"I-iya, Mas. Akan bibi laksanakan," jawab Bi Onah sedikit takut.
...🍁🍁🍁...
tobe continued,,,
😥😥😥 apakah gerangan yang sedang terjadi?
stay tuned terus yah 😘
jangan lupa tinggalkan jejak👣👣
thank you
__ADS_1