
...πππ...
Visha kembali ke rumah sakit bersama Rocky. Sepanjang jalan Rocky terus menggenggam tangan Visha.
Hati Rocky begitu bahagia saat ini. Setibanya didepan kamar Ali, mereka berdua masuk dan melihat Ali masih bermain PSPnya.
"Sudah dulu dong, jagoan! Waktunya istirahat." Ucap Rocky sambil mengambil PSP dari tangan Ali.
Ali merengut. Tangannya dilipat didepan dada. Anak sekecil itu sudah bisa marah ternyata.
"Sekarang waktunya makan buah." Rocky mengambil buah pisang dari nampan makan rumah sakit.
"Eh?" Visha terkejut melihat Rocky akan menyuapi buah pisang ke mulut Ali.
"Maaf, Om. Ali tidak bisa memakannya."
"Eh? Kenapa?"
"Ali alergi, Om." jawab Ali ragu sambil melirik Visha. "Biasanya kalau ada Om Galang, dia yang akan memakan buah pisangnya karena dia sangat menyukai pisang. Karena Om Galang tidak ada, bagaimana kalau Om Rocky saja yang makan?" tutur Ali.
"Eh?" Visha dan Rocky kaget bersama.
"Maaf Ali, Om juga tidak bisa memakannya. Om juga alergi."
"Benarkah? Jadi kita sama dong! Iya 'kan Ma?"
Visha mengangguk ragu, lalu memaksakan senyumnya. Hatinya sudah bergemuruh. Tidak bisa jika semuanya harus terbongkar sekarang. Rasanya masih berat memberitahu yang sebenarnya pada Ali maupun Rocky.
Rocky mengusap pelan rambut Ali hingga bocah itu tertidur. Rocky meraih tangan Visha dan membawanya keluar kamar.
"Mau kemana, Rocky?"
Rocky membawa Visha ke kamar sebelah yang kosong alias tak berpasien.
"Rocky apa yang kamu lakukan?" Rocky menghimpit tubuh Visha di dinding.
"Hari ini aku sangat bahagia."
Visha tersenyum. "Ini sudah sore, kau tidak kembali ke kantor?"
"Benar, aku harus kembali ke kantor. Tapi rasanya sangat malas. Aku ingin terus bersamamu."
Visha memukul dada Rocky. "Pergilah! Kau juga harus bersiap pulang ke rumah untuk makan malam."
"Benar juga. Berikan aku satu pelukan."
'peluk'
"Sudah!" jawab Visha.
"One kiss?" Rocky menepuk bibirnya.
"Apa sih? Sudah sana pergi!"
Rocky meraih tengkuk Visha dan mencium keningnya lama dan dalam.
"Aku akan kembali lagi nanti malam. Kau mau menungguku 'kan?"
Visha mengangguk. Rocky mengusap wajah Visha lembut.
"Aku mencintaimu, Visha..."
Entah kenapa jantung Visha berdetak tak beraturan mendengar kalimat itu dari Rocky.
"Aku juga..." Jawab Visha tertunduk malu.
"Juga apa?" goda Rocky.
"Rocky...!!" Visha mulai kesal.
__ADS_1
Rocky mencium bibir Visha sekilas sebelum ia akhirnya keluar dari kamar itu.
Visha memegangi dadanya dan mengatur nafas.
"Dia memang selalu manis... Dari dulu selalu begitu..." gumam Visha.
...***...
Malam harinya,
"Pak Galang yakin tidak mau saya temani?" tawar Ari.
"Tidak perlu! Lagipula Papa tidak mengundang tamu, hanya untuk keluarga saja."
Ari cemas akan terjadi sesuatu antara bosnya dan juga adiknya. Sudah sangat jelas jika Galang mengetahui tentang kedekatan adik dan mantan kekasihnya itu.
"Baiklah. Semoga makan malamnya lancar, Pak."
Galang hanya mengangguk dan segera pergi setelah ia selesai mengganti jasnya dengan kaos polo berkerah warna navy dan celana jeans. Ia sedang malas untuk terlalu rapi.
Galang berangkat dari rumahnya, sedangkan Rocky berangkat dari kantornya.
Sesampainya di rumah kediaman Abraham, Rocky melihat mobil kakaknya sudah terparkir di halaman rumah. Itu artinya Galang sudah lebih dulu datang. Ia tersenyum menyeringai dan segera memasuki rumah.
"Bi...!!! Bi Iroh!!!" panggil Rocky.
"Eh, Mas Rocky. Sudah datang juga."
"Kak Galang mana, Bi?"
"Sepertinya sedang di teras belakang, Mas."
"Oke, aku akan kesana."
Dengan langkah panjangnya Rocky mendatangi Galang yang sedang menyesap wine di tangannya.
BUGH!
Satu pukulan Rocky daratkan ke wajah Galang. Galang tersungkur dan segera bangkit.
Rocky menarik kerah baju Galang. "Sejak kapan kakak jadi pengecut begini? Kenapa tidak datang untuk menjenguk Ali? Apa salahnya menyenangkan hati anak kecil? Dia sedang sakit, Kak!"
Galang segera menepis tangan Rocky . "Bukan urusanmu! Kau pasti senang bukan karena hubunganku dan Visha sudah berakhir."
"Apa maksud kakak?"
"Kau mencintai Visha, 'kan? Tidak perlu menyangkal. Kalian sudah mengkhianatiku!"
"Bukan salahku jika Visha juga mencintaiku!" Rocky tak mau kalah.
"Tapi kakak harusnya memikirkan perasaan Ali. Dia masih anak-anak. Dia sangat mengharapkan kakak bisa datang menjenguknya."
"Dia bukan anakku, Rocky."
BUGH!
Rocky kembali menghantam Galang. Hubungan kakak beradik ini rasanya sudah hancur.
"Dia anakmu, Rocky!" ucap Galang yang sudah jatuh tersungkur.
"Apa?!"
"Kau tidak dengar?! Kau ingin mendengarnya lagi?" teriak Galang.
Sementara itu, Elena dan Leonard yang sedang bersiap, mendengar ribut-ribut dari arah teras belakang.
Mereka segera menuju kesana, bersama dengan Bi Iroh juga.
Elena histeris melihat kedua putranya saling baku hantam.
__ADS_1
"Galang, Rocky! Hentikan!! Apa yang kalian lakukan? Apa ini cara kalian untuk merayakan ulang tahun Papa?" Leonard sudah naik pitam sekarang. Ia memanggil satpam dan meminta kedua putranya di bawa ke ruang keluarga untuk bicara.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kalian berkelahi? Apa tidak malu dengan usia kalian, huh?" Tanya Leonard.
Tak ada yang menjawab pertanyaan Leonard.
"Maaf, Pa. Rocky khilaf..." ucap Rocky akhirnya.
"Maafkan Galang juga..."
"Bisa jelaskan ini karena apa?"
Galang menyerahkan sebuah kertas pada Leonard.
"Aku sudah berpisah dengan Visha. Tidak akan ada pernikahan diantara kami." terang Galang.
"Lalu surat ini?" tanya Leon dengan mengibaskan kertas yang diberi Galang.
"Papa baca saja. Papa akan tahu alasannya kenapa aku membatalkan pernikahan."
Mata Leon kini merah padam membaca lembaran yang ada ditangannya. Ia menghampiri Rocky dan langsung menamparnya.
PLAAAKKK!!!
Elena tak menyangka jika suaminya akan menampar putra kesayangannya. "Pa... Kenapa memukul Rocky?"
"Kau benar-benar brengsek, Rocky!" ujar Leonard yang akhirnya duduk di sofa dan mengatur nafasnya.
Elena penasaran dengan apa isi kertas yang dibaca suaminya.
"Hasil tes DNA antara Rocky Abraham dan Aliando?" Elena mengernyit.
Elena menghampiri Rocky dan memukul dada Rocky. Rocky hanya pasrah menerima amukan dari keluarganya.
Elena tak percaya jika putra kebanggaannya memiliki anak diluar nikah.
"Tidak, ini tidak mungkin. Pasti wanita itu yang sudah menggoda Rocky. Iya 'kan, sayang?" Elena terus meronta namun Rocky hanya diam. Hingga akhirnya Elena jatuh dan tak sadarkan diri.
.
.
.
Sementara itu, Visha sedang menunggu seseorang yang katanya akan datang setelah makan malam. Ini sudah pukul sembilan malam dan tak ada tanda-tanda kehadiran orang yang ditunggunya datang.
Hingga satu jam berlalu, masih belum ada tanda-tanda kehadiran Rocky. Visha makin cemas. Ia memegangi liontin kalung yang ia pakai.
Visha duduk sendiri di bangku panjang lobi rumah sakit. Ia mulai kedinginan karena tak memakai jaket.
Apa mungkin dia tidak akan datang? Sama seperti dulu saat aku menantinya untuk datang. Tapi nyatanya, bertahun-tahun pun ia tak pernah datang...
Tak terasa buliran bening jatuh membasahi pipi Visha.
Ini seperti... membuka luka lama, Rocky... Kau kembali melukaiku...
Visha tertunduk dan menangis dalam diam sambil menggenggam erat liontin yang dipakainya.
Tak lama, Visha tersadar. Ia harus kembali ke alam nyata. Dilepasnya kalung pemberian Rocky dan ia letakkan di kursi panjang itu.
Visha kembali masuk ke dalam lorong rumah sakit. Dalam hati ia bergumam, "Selamat tinggal, Rocky..."
...πππ...
bersambung,,,,
πππcant talk anymore
How about you?
__ADS_1