
...ššš...
Zayn mengantarkan Visha pulang ke rumah kosnya usai makan malam bersama. Seakan ada rasa tak biasa yang ia rasa saat bersama Zayn.
Zayn adalah pria baik dengan satu putri. Istrinya telah lama meninggal, dan putrinya tinggal bersama keluarga mendiang istrinya.
Visha memegangi dadanya. Terasa sesak karena ia selalu menyimpan satu nama disana. Dan terasa sulit jika harus menghapus namanya. Visha tak mau terus memikirkan perlakuan manis Zayn. Ia memilih membersihkan diri lalu menuju ranjangnya untuk memejamkan mata.
Esok pagi, Visha berangkat ke kantor dengan mengendarai ojek online seperti biasa. Hari ini ia tidak terlambat datang. Ia segera memasuki gedung Zayn Building yang megah itu dan masuk ke dalam lift.
Ketika pintu lift akan tertutup, sebuah tangan mencegahnya dan membuat pintu lift kembali terbuka. Visha cukup terkejut siapa yang akan memasuki lift. Ia segera menyapa pria yang adalah kawan atasannya itu.
"Selamat pagi, Pak Bian," sapa Visha.
"Pagi. Tumben kamu tidak terlambat."
"Eh?" Visha mengerutkan dahi.
Dia jarang bicara, kenapa sekali bicara langsung menyakitkan hati?
"Saya minta maaf atas kejadian kemarin, Pak." Visha merasa perlu meminta maaf atas apa yang terjadi kemarin.
"Mereka berdua adalah sahabatku. Aku tidak mau jika kamu sampai menyakiti hati mereka berdua."
"Heh? Maksud bapak?"
"Reza menyukaimu. Dan Zayn juga menyukaimu. Kamu jangan sampai menyakiti mereka."
"Lalu apakah saya harus menerima mereka berdua atau menolak mereka berdua?"
"Apa ada diantara mereka yang masuk ke dalam hatimu?" Bian menatap tajam ke arah Visha.
"Eh?"
"Jika kamu tidak bisa menerima salah satu dari mereka sebaiknya jangan memberikan harapan pada mereka."
Apa maksud ucapannya barusan?
TING. Pintu lift terbuka. Bian keluar dari lift. Sementara Visha masih terdiam di dalam lift.
"Sha, apa yang kau lakukan didalam lift? Cepat keluar!" Lala memergoki Visha yang terdiam di dalam lift.
Visha segera keluar dan menuju ke ruang pantry untuk membuat kopi.
"Jadi, Pak Bian bicara begitu padamu?" tanya Lala.
"Iya. Lagi pula siapa juga yang memberikan harapan pada mereka. Mereka saja yang selalu mendekatiku. Aku malah selalu menghindari mereka. Tapi kenapa malah jadi terlihat aku memberikan harapan. Huft! Menyebalkan!"
"Bersemangatlah kawan! Kau pasti bisa menghadapi mereka. Kudengar besok Pak Bian sudah kembali ke Jakarta. Itu berarti Reza juga akan pergi dong!"
"Oh ya? Kau dengar dari mana?"
"Aku mendengar pembicaraan Pak Zayn dengan seseorang di telepon, hehe."
"Kau menguping, La?"
"Hehehe, hanya sedikit."
"Ya sudah, aku akan kembali ke ruanganku." Visha pamit dari ruang pantry.
.
.
.
Tanpa diketahui siapapun, Visha menuju ke lokasi proyek. Ucapan Bian membuatnya jadi ingin menghindari semuanya.
__ADS_1
Visha memilih untuk bersibuk ria dari pada mengurusi Reza ataupun Zayn. Visha nampak antusias untuk memimpin proyek ini. Ia menjelaskan dengan detil kepada mandor proyek tentang konsep bangunan yang ia buat.
"Ternyata kau disini!" Sebuah suara membuat Visha membelalakkan mata.
"Pak Bian?" Visha segera menghindari Bian.
"Zayn kelimpungan mencarimu dan ternyata kau ada disini. Baiklah, aku akan segera menghubungi Zayn." Bian mengambil ponselnya dari dalam saku. Ia mencari nama Zayn di kontaknya.
Visha segera berbalik menghadap Bian dan spontan merebut ponsel Bian.
"Hei, apa yang kau lakukan? Kembalikan ponselku!"
"Kenapa bapak ingin menghubungi Pak Zayn?"
"Karena dia sangat mengkhawatirkanmu."
"Bapak bilang saya harus menghindarinya dan jangan memberinya harapan. Kenapa bapak malah ingin memberitahu jika saya disini?"
"Hahaha, kau ini lucu sekali! Jadi, kau datang kesini karena ingin menghindari Zayn?"
Visha tak menjawab. Sudah sangat jelas itu memang benar.
"Baiklah, saya akan kembali ke kantor. Jadi, bapak tidak perlu memberitahu Pak Zayn. Ini ponsel bapak. Permisi!" Visha pergi dari lokasi proyek dengan kesal.
Ditengah jalan ia bertemu Reza yang akan menghampiri Bian.
"Visha? Kau mau kemana?" tanya Reza.
Visha tak menjawab dan terus melanjutkan langkahnya. Ia sangat kesal hari ini.
...~~~...
Visha kembali ke kantor dan mengerjakan apapun yang bisa ia kerjakan di ruangannya. Namun otaknya tetap tak bisa bekerja dengan tenang.
"Aaarrrggghhhh!!! Ini semua gara-gara si Bian menyebalkan itu!!!" Visha berteriak tak jelas di ruangannya.
Belum sampai di toilet, Visha bertemu Zayn yang terlihat sangat gembira melihat sosok Visha.
"Visha!! Kau sudah disini!" seru Zayn.
Visha tak menanggapi Zayn.
"Kau pergi kemana tadi?"
"Ke lokasi proyek, pak." jawab Visha malas.
"Syukurlah kau baik-baik saja." tanpa mempedulikan jika dia sedang ada di kantor. Zayn memeluk Visha.
"Pak... apa yang bapak lakukan? Kita sedang di kantor." Visha berusaha melepaskan pelukan Zayn namun ia malah mengeratkan pelukannya.
Beberapa karyawan melihat kejadian itu, termasuk juga Reza dan Bian yang sudah kembali ke kantor.
Reza mengepalkan tangannya melihat Zayn yang terang-terangan menunjukkan perasaannya pada Visha.
Sedang Bian, ada sesuatu yang ikut sesak didalam dadanya. Ia segera pergi dari melihat pemandangan itu. Ia memegangi dadanya yang sesak.
"Ada apa denganku? Kenapa hatiku sangat sesak melihat Zayn memeluk wanita itu?" ucap batin Bian.
"Siapa sebenarnya dia? Sejak pertama aku bertemu dengannya, ada sesuatu yang mengganjal di hatiku..." Bian mengusap wajahnya dan pergi ke toilet pria.
.
.
.
Visha membasuh wajahnya dengan air. Ia benar-benar tak mengerti dengan sikap Zayn. Sekarang semua orang akan berpikir jika ia dan Zayn memiliki hubungan khusus.
__ADS_1
Visha memandangi dirinya di depan cermin.
"Apa aku harus menerima perasaan Pak Zayn?" tanyanya dalam hati.
"Tidak! Tidak! Aku tidak bisa begitu. Aku tidak mau menerima perasaan Pak Zayn hanya karena kasihan." Visha menggeleng cepat.
"Lalu sekarang aku harus bagaimana?" Visha mengacak rambutnya frustasi.
Usai merapikan diri, Visha keluar dari toilet dengan terus mengatur nafasnya.
Tanpa sengaja ia berpapasan dengan Bian yang juga baru keluar dari toilet pria yang letaknya bersebelahan dengan toilet wanita.
"Kau!" ucap Bian melihat Visha.
Visha menatap Bian dengan tak suka. Ia merasa semua ini terjadi karena ucapan Bian tadi pagi padanya.
Visha tak menanggapi Bian dan segera pergi dari sana.
GREB!!
Bian meraih tangan Visha.
"Apa yang bapak lakukan? Lepaskan tangan saya!" berontak Visha.
Namun Bian tak menggubris Visha dan membawanya ke tangga darurat.
"Bapak mau bawa saya kemana?" Visha berusaha melepaskan cengkeraman tangan Bian.
Usai menutup pintu tangga darurat, Bian menghimpitkan tubuh Visha ke dinding.
"Apa yang akan bapak lakukan?" tanya Visha sedikit takut.
"Siapa kau sebenarnya?" tanya Bian dengan menatap dalam ke kedua manik Visha.
"Apa maksud bapak?"
Bian melirik ke arah kalung yang Visha pakai. Ia meraih kalung itu dan melihat liontinnya. Visha tak berkutik saat Bian melihat liontin miliknya.
Secara tiba-tiba, Bian kembali mengalami sakit kepala yang hebat.
"Aaarrgggghhh!!!!" Bian memegangi kepalanya yang sakit.
"Pak... Bapak kenapa?!" Visha panik. Ia segera memapah tubuh besar Bian ke luar tangga darurat.
"Tolong antarkan aku ke hotel!" pinta Bian.
"Hah? Iya, baiklah. Saya akan hubungi Reza dulu."
"Tidak! Tolong kamu saja yang antar saya!"
Visha membulatkan matanya. "Apa?!"
...ššš...
...bersambung,,,,...
.......
.......
...Hmmm, ada satu lagi nih yang ingin merebut hati Visha ššš...
...Kira2 siapa yang berhasil?...
...Jangan lupa tinggalkan jejak kalian š£š£...
...terima kasih šš...
__ADS_1