Labuhan Cinta Sang Playboy

Labuhan Cinta Sang Playboy
Lebih Baik Berpisah


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


Karina memandangi buku harian Visha yang kini ditangannya. Ia merasa semua harus terungkap sekarang. Ia berpikir sejenak. Ia tak tega jika Visha harus mengalami hal buruk bertubi-tubi. Ali yang sedang sakit, dan kini Galang juga meminta penjelasan.


Apa yang harus aku lakukan? Apa Visha bisa menghadapi ini semua?


Karina mengelus dadanya yang terasa sesak. Visha sudah seperti putrinya sendiri. Ia tak ingin Visha terluka. Hampir saja ia bahagia namun semua kebahagiaan harus ia kubur sekarang.


Malam itu juga Karina memutuskan untuk menemui Visha di rumah sakit.


Karina menatap iba pada Visha sambil menyerahkan buku hariannya.


"Ibu..." Visha menatap Karina dengan mata berkaca-kaca.


"Mungkin memang sudah saatnya semuanya jelas, Nduk. Temuilah Nak Galang dan ceritakan semua. Ibu juga kasihan melihat Nak Galang begitu menderita."


Visha memeluk Karina. Ia harus menguatkan hati sebelum menemui Galang.


"Aku titip Ali ya, Bu."


Karina mengangguk.


.


.


.


Visha sudah berdiri di depan rumah Galang. Ia memantapkan hati untuk menemui Galang.


Di tekannya bel rumah Galang, dan muncullah Bi Onah dari balik pintu.


"Mbak Visha?" Bi Onah seperti mendapat angin segar melihat Visha datang.


"Bi, Mas Galang ada?"


"Ada, Mbak. Mas Galang sedang duduk di teras belakang. Dia sepertinya sedang ada masalah."


"Aku akan menemuinya sekarang."


Visha melangkahkan kakinya menuju teras belakang. Dilihatnya Galang sedang menenggak minuman keras.


Visha menutup mulutnya tak percaya. Ia tak pernah melihat Galang sekacau ini.


"Mas..." panggil Visha lirih namun masih bisa didengar oleh Galang.


Galang tak menggubrisnya yang berdiri di depannya.


"Mas... tolong jangan begini..." Visha tak mampu lagi menyembunyikan kesedihannya.


"Kau sudah menemukan buku harianmu yang hilang?"


DEG.


"Mas... Aku bisa jelaskan semuanya."


"Tidak perlu!!!" Galang berteriak. "Aku tidak butuh penjelasanmu. Aku hanya butuh jawabanmu."


GLEK. Visha menelan ludah. Ia akan bersiap dengan apapun pertanyaan Galang.


"Apa benar semua yang kau tulis di buku harianmu itu?"


"Mas..."


"Jawab!!!" Galang berteriak lagi.


Visha hanya bisa mengangguk pasrah dengan air mata yang sudah membasahi wajahnya.


Galang mengumpat. Dia mengatakan banyak hal yang tak pernah Visha dengar sebelumnya. Galang yang hangat sudah hilang. Dan ini karena Visha.


"Maafkan aku, Mas..."


"Kalian!!! Tega sekali kalian melakukan ini padaku!" Galang kembali menenggak minumannya.


"Mas, berhenti. Jangan minum lagi."

__ADS_1


"Apa pedulimu?! Kau yang sudah membuatmu hancur seperti ini."


"Maafkan aku, Mas..."


"Berapa banyak kebohongan yang kau sembunyikan dariku, huh? Kalian bahkan tidak menikah, bagaimana bisa kalian..."


Galang menjambak rambutnya dan mengacaknya.


Sementara Visha hanya tertunduk lesu. Ia tak bisa menyakiti Galang lebih dari ini.


Visha melepas cincin yang melingkar di jari manisnya. Ia letakkan di atas meja.


"Karena Mas sudah tahu semuanya. Maka aku tidak bisa melanjutkan semua ini. Kita... berpisah saja."


PRAANG!!!


Galang melempar botol minumannya tepat di samping Visha berdiri, dan membuat Visha berjingkat kaget juga syok.


"Kau tahu, ini menggelikan sekali, Navisha. Sungguh menggelikan." Galang mengambil botol baru dan kembali meminumnya.


"Kau menyerahkan dirimu disaat dulu Rocky masih jadi seorang playboy. Dan sekarang? Kau menginginkan dia kembali ke pangkuanmu? Begitu?"


Galang menatap Visha dengan tatapan menindas.


"Aku yakin Rocky bahkan tak mengingat wanita mana saja yang sudah dia kencani, apalagi mengingatmu!" Teriak Galang.


Semua kalimat Galang membuat hati Visha sangat sakit. Meski semua itu benar. Tapi tak seharusnya Galang mengatakan itu didepan Visha.


"Maaf... Aku benar-benar minta maaf. Aku tidak tahu jika kamu dan Rocky bersaudara. Aku bahkan sempat ingin pergi darimu karena aku tidak mau menyakitimu."


"Aku ingin menanyakan satu hal, Visha. Apa kau mencintai Rocky? Kau mencintainya? Jawab!!!"


Visha makin mengeraskan tangisannya. Ia tak bisa menjawab apapun pada Galang.


"Pergilah! Aku tidak akan menahanmu lebih lama lagi. Aku muak melihat wajahmu!"


Visha menatap Galang dengan penuh rasa menyesal. "Maafkan aku, Mas..."


Kemudian Visha berlari keluar dari rumah Galang dengan deraian air mata.


Visha tersungkur di tepi jalan. Ia menangis sekencangnya. Ia sudah jadi orang jahat untuk yang kesekian kalinya.


...***...


Karina menanti kedatangan Visha dengan harap-harap cemas. Sudah hampir dua jam Visha pergi namun belum kembali.


"Apa terjadi sesuatu dengannya?" gumam Karina.


Tak lama Karina melihat Visha yang berjalan tertunduk lesu. Bagai tak memiliki gairah hidup.


"Visha!"


"Ibu..."


"Ada apa, Nduk?"


"Sudah selesai, Bu. Semua sudah selesai..."


Visha memeluk Karina. Dan kembali menangis di dekapan Karina. Tangisnya terdengar pilu. Ia sedang menghadapi ujian yang cukup berat.


Karina hanya bisa mengelus punggung Visha pelan, dan tak mau berkomentar apapun. Lebih baik ia diam dulu agar Visha lebih tenang.


.


.


.


-Kantor Galang-


Hari ini Galang sudah kembali berangkat ke kantornya setelah kemarin drama memecahkan barang-barang seisi rumahnya telah usai.


Ari menemui Galang dan membawa sebuah amplop untuk Galang.


"Ada kiriman dari laboratorium rumah sakit, Pak," ucap Ari.

__ADS_1


"Ah, iya, letakkan saja disitu." jawab Galang dengan tetap fokus pada layar komputernya.


"Apa bapak baik-baik saja?"


"Iya aku baik-baik saja." jawab Galang datar.


"Lalu apa isi dari surat itu? Itu hasil pemeriksaan..."


Galang melirik tajam ke arah Ari. Tak biasanya Galang sensitif seperti hari ini.


"Maaf, Pak. Kalau begitu, saya permisi."


Setelah Ari benar-benar keluar dari ruangannya, barulah Galang membuka isi amplop putih yang bertuliskan hasil laboratorium tes DNA antara Rocky Abraham dan Aliando.


Galang menyiapkan hati untuk membaca isinya. Ia tahu jika kemarin Visha tak berbohong. Maka hasil tes ini akan menjadi bukti lebih dari pernyataan Visha kemarin.


Galang sudah tahu akan hasilnya. Untuk apa membacanya lagi. Ia hanya memastikan.


Seketika itu wajahnya merah padam. Ia marah. Namun tak bisa melakukan apapun.


Ditengah menahan amarah, ponsel Galang berbunyi, nama mama tirinya tertera di ponsel.


"Halo, Ma..." sapa Galang malas.


"Halo, Galang, jangan lupa nanti malam ada acara ulang tahun Papa kamu. Dia ingin anak-anaknya kumpul untuk makan malam."


"Iya, Ma. Aku masih ingat."


"Ya sudah." Telepon terputus.


Galang menggenggam erat ponselnya. Ingatannya kembali ke masa-masa dirinya masih berusia belasan tahun.


.


.


.


*Flashback*


"Mama, aku mau mainan yang sama seperti punya Kak Galang..." rengek Rocky kecil pada Elena.


"Galang! Cepat berikan pada adikmu. Kau 'kan punya banyak mainan yang lain."


"Tidak, Ma. Ini adalah mainan kesayanganku dari mendiang Mama."


"Galang!! Cepat berikan!" bentak Elena.


Galang mengalah dan memberikan mainannya pada Rocky.


"Nah begitu dong! Mulai sekarang, apapun yang menjadi milikmu akan menjadi milik Rocky juga. Kau mengerti?!" ucap Elena.


.


.


.


"ARRGHHHH!!!" Galang berteriak dan membanting ponsel yang dipegangnya.


PRAANG!!


Galang menutup telinganya. Ia masih mengingat apa yang dulu Elena katakan. Semua terasa berputar-putar di pikirannya.


"Apa yang menjadi milikmu adalah milik Rocky juga..."


...🍁🍁🍁...


bersambung,,,


😩😩😩how's your feeling anyway?


Jgn lupa tinggalkan jejak 👣👣


thank you

__ADS_1


__ADS_2