Labuhan Cinta Sang Playboy

Labuhan Cinta Sang Playboy
S2 - Bagai Wanita Simpanan


__ADS_3

...šŸšŸšŸ...


Visha terus menggenggam tangan Bian dalam perjalanan mereka menuju Jakarta dengan kereta api. Nampak raut kekhawatiran di wajah Bian.


Visha sendiri masih tak habis pikir bagaimana Galang bisa melakukan ini pada keluarganya sendiri.


Visha mulai merasa bersalah. Ia berpikir jika Galang melakukan ini karena dirinya yang sudah melukai hati Galang.


Ya Tuhan... Semoga Papa Leon dan Mama Elena baik-baik saja. Mas Galang... Kenapa kau sampai tega melakukan ini pada kami?


Visha memeluk lengan Bian dalam diam. Hatinya berkecamuk antara sedih dan merasa bersalah.


Sore itu mereka tiba di stasiun kota. Donny menjemput Bian.


"Jangan khawatir. Aku bisa ke apartemen sendiri naik taksi. Mas pergilah dengan Donny." ucap Visha.


"Baiklah. Kau hati-hati ya." Bian mencium puncak kepala Visha sebelum akhirnya ia berlalu bersama Donny.


Visha memanggil taksi dan menuju apartemen. Tapi sebelum ke apartemen, Visha mampir ke swalayan untuk membeli beberapa bahan makanan untuk di masaknya malam ini dan beberapa hari kedepan.


Reza yang kebetulan sedang berbelanja juga, melihat sosok Visha sedang memilah sayuran di swalayan itu.


"Hah? Itu 'kan Visha? Untuk apa dia ada disini?" gumam Reza sambil mengerutkan dahi.


Usai berbelanja, Visha kembali memanggil taksi. Reza yang penasaran dengan kemana Visha pergi, segera mengikuti taksi yang membawa Visha.


Visha tiba di apartemen Prince Town dan menenteng tas besar juga barang belanjaannya masuk ke dalam lift.


"Visha tinggal di apartemen mewah ini?" Reza masih bertanya-tanya dalam hati.


Ia pun mengikuti langkah Visha. Ia menunggu lift yang membawa Visha terhenti.


"Lantai 20?" Reza memasuki lift lain dan menekan angka 20.


Ketika Reza sampai di lantai 20, sudah tak nampak sosok Visha disana.


"Ah, sial!! Kamar di lantai ini ada beberapa. Yang mana kamar milik Visha?"


Karena tak memiliki ide lagi dimana Visha tinggal, akhirnya Reza pergi dari sana.


.


.


.


Bian bersama Donny memeriksa rekaman CCTV rumah sakit dimana Leonard di rawat. Terlihat disana jika Galang memindahkan papanya ke sebuah mobil ambulans dan membawanya pergi.


"Apa kau tahu kemana ambulans itu pergi, Don?"


"Tidak, bos. Karena plat nomor ambulans itu palsu. Sudah kuselidiki dan tak ada mobil ambulans dengan plat nomor itu."


"Brengsek!!! Jadi, Kak Galang sudah menyiapkan semuanya! Lalu bagaimana dengan Mama? Apa kau tahu kemana Kak Galang membawa Mama?"


"Maaf, bos. Itu juga belum bisa kulacak. Bersabarlah, bos! Kita pasti bisa menemukan mereka."


"Dimana Jemmy? Bukankah Jemmy adalah asisten papa! Dia orang kepercayaan papa."


Donny menunduk. "Maaf, bos. Sejak Pak Leon masuk rumah sakit, Pak Galang memecat Jemmy. Entah sekarang dia ada dimana."


"Apa?! Yang benar saja! Kenapa Kak Galang sampai melakukan hal ini? Cepat kau cari tahu dimana Jemmy tinggal dan dimana dia bekerja sekarang!"


"Baik, bos! Sebaiknya bos pulang. Bos terlihat lelah. Visha pasti sudah menunggu bos."


Bian mengangguk.


"Aku akan mengantarkan bos ke apartemen."


.


.


.


Visha masih sibuk di dapur ketika pintu apartemen terbuka dan sosok Bian masuk. Bian melihat istrinya itu sedang sibuk memasak. Aroma harum masakan Visha membuat Bian ingin segera memakan masakan istrinya itu. Rasa lelah yang tadi mendera segera hilang kala melihat orang tercinta menyiapkan makanan untuknya.

__ADS_1


Bian mendekati Visha dan memeluknya. "Sayang, kau masak apa?"


"Mas? Kau sudah pulang?"


"He'em."


"Aku masak gulai ikan kakap kesukaanmu."


"Benarkah?" Mata Bian berbinar.


"Tapi kau mandi dulu sana! Nanti baru makan!"


"Okey, baiklah."


Usai membersihkan diri, Bian makan dengan lahap makanan kesukaannya.


"Hmm, ini sangat enak. Aku sangat merindukan masakanmu, sayang..."


"Jangan bicara jika sedang makan! Kalau begitu habiskan! Aku akan mandi dulu, rasanya badanku lengket sekali."


"Kau tidak ikut makan?"


"Aku membuatkan semua itu untukmu, jadi habiskanlah!" Visha tersenyum lalu berlalu dan masuk ke kamar mandi.


Visha keluar dari kamar mandi dan dikejutkan dengan sosok Bian yang berdiri di depan kamar mandi.


"Astaga, Mas!!! Kau mengangetkan saja! Apa yang kau lakukan didepan kamar mandi?"


Bian tersenyum. "Aku menunggumu."


"Heh?" Visha mengangkat sebelah alisnya.


Tanpa basa-basi Bian langsung mendekap tubuh Visha dan menghirup aroma sabun mandi yang masih melekat di tubuh Visha.


"Mas..."


"Aku merindukanmu, Visha..."


"Iya, aku tahu. Aku juga merindukanmu..."


Dan seperti biasa, ciuman panjang dilakukan oleh kedua insan yang sedang di mabuk asmara itu.


Hingga ciuman itu berubah kian menuntut, Bian membawa Visha ke atas tempat tidur yang penuh dengan kenangan itu.


Bunyi dering ponsel Bian lagi-lagi menginterupsi kegiatan asyik mereka.


Bian tak menghiraukan bunyi itu dan terus bergerilya menelisik tiap inci tubuh Visha.


"Mas... Angkat dulu saja!" ucap Visha yang merasa terganggu dengan bunyi ponsel Bian.


Tertera nama Sania disana. Dengan malas Bian mengangkat panggilan dari Sania.


Raut wajahnya berubah usai menerima panggilan dari Sania.


"Maaf, aku harus pulang!" ucap Bian dengan raut wajah menyesal.


"Tidak apa! Mas 'kan memang punya tanggung jawab juga pada Sania dan Alisa." Visha berusaha tersenyum di depan Bian meski hatinya teriris melihat suaminya harus kembali menjadi suami palsu Sania.


"Aku akan kembali besok."


Visha mengangguk. Ia melihat punggung Bian yang kian menghilang. Visha menghembuskan nafas kasar.


Kenapa aku merasa seperti menjadi wanita simpanan? Huft! Padahal aku adalah istri sahnya. Ya Tuhan! Semoga semua ini cepat berlalu dan aku bisa menjadi istri yang benar-benar sah di depan semua orang.


.


.


.


"Papa!!!" Seru Alisa kala melihat kedatangan Bian. Gadis kecil itu langsung berlari ke arah papanya dan minta untuk digendong.


Sania tersenyum puas karena bisa membuat Bian kembali pulang dengan Alisa sebagai alasan.


Sania tahu jika Bian sangat menyayangi Alisa meski ia bukanlah ayah biologis Alisa.

__ADS_1


"Sayang... Ayo makan malam dulu, aku sudah memasak makanan kesukaanmu..." Ucap Sania.


Bian menelan salivanya. Ia baru saja makan malam, dan kini ia harus makan lagi. Menolak pun tidak mungkin, karena nanti Sania akan curiga.


Lalu, Bian juga sedikit heran kenapa Sania tidak bertanya soal kemana ia kemarin malam hingga pagi ini.


Apa Sania sudah tahu tentang Visha? Kenapa dia bersikap seolah tak ada apapun yang terjadi? Aku harus lebih berhati-hati. Jika Sania mengetahui Visha ada disini juga, maka itu bisa membuat Visha dalam bahaya. Sania yang sekarang kukenal, benar-benar penuh dengan misteri. Entah kemana perginya Sania yang kukenal dulu.


Bian duduk di meja makan dan melihat gulai ikan kakap tersaji di atas meja makan. Bian menghela nafas sebelum akhirnya ia benar-benar kembali makan malam dan perutnya benar-benar terisi penuh sekarang.


Aku tidak bisa membayangkan dengan pria diluaran sana yang memiliki dua istri atau bahkan lebih. Baru segini saja aku sudah merasa kerepotan dengan hadirnya dua wanita dalam hidupku...


.


.


.


Pagi itu Visha bangun dari tidurnya dan mendapati Bian tertidur disampingnya.


Hah?! Sejak kapan Mas Bian ada disini? Bukankah seharusnya ia bersama Sania?


Visha tak ingin mengganggu tidur Bian dan turun dengan hati-hati dari tempat tidur.


Visha membersihkan diri lalu bersiap memasak sarapan pagi. Saat sedang memasak, bunyi bel apartemen menginterupsi aktifitasnya. Ia pun bergegas menuju pintu.


Dengan ekspresi terkejut sang tamu membulatkan mata dan mulutnya tak percaya jika yang membuka pintu adalah...


"Visha?" gumam si tamu.


"Reza?" Visha mengerutkan dahinya.


Reza mematung tak percaya jika wanita yang kemarin ia ikuti ternyata dengan mudah ia temukan.


"Kau mencari Mas Bian? Sebentar ya, dia masih tertidur."


Visha terlihat biasa saja ketika berbincang dengan Reza. Sedangkan Reza, ia masih tak percaya jika Visha tinggal bersama bosnya.


"Siapa yang datang, sayang?"


Suara Bian membuat Reza makin tak karuan. Wajahnya menunjukkan banyak pertanyaan.


"Oh, Reza, kau sudah datang? Masuklah. Sayang, kau buatkan minum untuk Reza." Bian mempersilahkan Reza duduk di sofa. Lalu Bian kembali ke kamar untuk membersihkan diri.


Sedangkan Visha kembali ke dapur dan membuatkan secangkir teh untuk Reza.


Visha kembali dengan membawa secangkir teh dan menaruhnya di meja.


"Silahkan diminum!" Visha hendak melangkah ke dapur namun lengannya di cekal oleh Reza.


"Apa yang kau lakukan disini? Kau tinggal bersama Pak Bian? Apa kau sekarang jadi wanita simpanan untuknya?" Ucap Reza berbisik dengan nada penekanan didalamnya.


Visha segera menepis tangan Reza. "Jika kau tidak tahu apapun, maka jangan bicara sembarangan!" balas Visha tak kalah sengit.


"Apa yang tidak aku tahu? Aku melihat semua ini dengan mata kepalaku sendiri. Apa yang akan terjadi jika Bu Sania sampai tahu kalau suaminya memiliki wanita simpanan...?"


"Kau!!!" Visha mengacungkan jari telunjuknya ke arah Reza.


"Ada apa ini?" Bian sudah rapi dengan setelan jasnya dan melihat seperti ada ketegangan diantar Visha dan Reza.


...šŸšŸšŸ...


bersambung,,,


Hai hai šŸ‘‹šŸ‘‹ jangan lupa mampir juga ke story author yg lain ya, ada "The Broken Leaf" yg masih ongoing dan "99 Cinta Untukmu" yg sudah tamat.


*Jangan lupa tinggalkan jejak kalian utk Bian dan Visha (Bisha 😬😬)


Karena kalian adalah semangatku šŸ˜ššŸ˜ššŸ’ŖšŸ’Ŗ


...~Thank You~...



__ADS_1


__ADS_2