Labuhan Cinta Sang Playboy

Labuhan Cinta Sang Playboy
S2 - Tak Lebih dari Teman


__ADS_3

...šŸšŸšŸ...


"Biarkan aku seperti ini sebentar saja..." bisik Zayn lirih.


Visha tak dapat menolak. Ia hanya diam menerima pelukan dari Zayn. Bisa ia rasakan jika Zayn sangat berharap jika perasaannya suatu saat bisa terbalas.


Zayn melepas pelukannya kemudian berbalik dan masuk ke dalam kamarnya. Visha hanya menatap punggung Zayn.


Visha menghela nafas. "Maaf aku harus berkata begitu padamu. Karena aku tidak mau membuatmu terluka. Aku tidak bisa melangkah lebih jauh dari ini. Kita tak boleh lebih dari teman," lirih Visha sebelum akhirnya ia pun masuk kedalam kamarnya.


Keesokan harinya, mereka berdua kembali ke Semarang. Zayn masih diam pada Visha. Visha pun tak mau terlalu banyak bicara didepan Zayn.


Biarlah waktu yang akan menyembuhkan luka di hati Zayn.


...***...


Visha mendapat kabar jika tugas akhirnya telah selesai dan ia bisa segera di wisuda. Ia sangat senang akhirnya ia lulus juga.


Ia menangis haru dipelukan ayah dan ibunya. Harusnya ijazah ini bisa ia bawa tujuh tahun lalu. Namun banyak hal yang sudah ia alami selama sembilan tahun ini.


Banyak pelajaran juga yang ia dapat dari semua yang terjadi. Kesakitan dan rasa cinta, semua melebur jadi satu.


Beberapa bulan berlalu sejak ia telah mendapat gelar arsiteknya. Ia bekerja lebih giat dari biasanya.


Hubungannya dan Zayn sudah mencair layaknya gunung es yang terkena panas. Mereka jadi teman baik sekarang.


Zayn memaklumi sikap Visha yang masih menjaga jarak pada pria yang berusaha mendekatinya.


Tidak mudah melupakan orang yang pernah singgah di hati kita. Zayn mulai memahami itu.


"Sha, seorang temanku akan membuka cabang di kota ini, ia ingin menyerahkan proyek pembangunannya pada perusahaan kita. Bagaimana? Kau siap?"


"Tentu saja. Kalau boleh tahu, konsep seperti apa yang dia suka?"


"Ini ada beberapa gambar dari beberapa kantor cabang yang sudah dibangun selama ini. Kuserahkan semua padamu, apakah akan mengikuti sketsa yang sama atau kau akan berinovasi dengan hal yang baru."


Visha mengangguk. "Baiklah, Pak. Saya akan pelajari dulu. Tenang saja, saya tidak akan mengecewakan bapak."


"Aku tahu."


"Kalau begitu saya permisi, Pak."


"Sha!"


"Iya, Pak."


"Makan siang bersama?"


Visha tersenyum. "Iya, bapak yang traktir 'kan?"


"Cih, kau ini..."


"Jika sketsaku di setujui, maka aku akan mentraktir bapak. Bagaimana?"


"Oke, deal!!"


"Oh ya, kira-kira kapan kita akan meeting dengan pihak mereka?"


"Kemungkinan sekitar tiga hari lagi."


"Baiklah, saya permisi."

__ADS_1


Zayn mengangguk.


...***...


"Akhir-akhir ini kesehatan Papa menurun. Beristirahatlah, jangan terlalu memaksakan diri mengurus perusahaan. Bukankah sudah ada Galang yang menghandle semuanya?"


"Galang juga harus mengurus perusahaannya sendiri. Papa tetap harus ada di kantor meski hanya beberapa jam saja. Jangan membebankan semua padanya. Dia juga harus mengurus dirinya. Terutama tentang masalah jodoh."


"Huh! Anak itu sangat susah, Pa. Mama sudah beberapa kali mengenalkan anak teman Mama padanya. Tapi tak ada yang berhasil. Mama menyerah deh!"


"Kita harus sabar. Dia sepertinya masih mengharapkan Visha. Tapi Visha tidak bisa melupakan Rocky."


"Pesona putra kita sangat melekat dihatinya ya, Pa."


"Siapa dulu dong papanya!"


"Dih, kok Papa narsis? Mama 'kan juga yang sudah melahirkannya."


"Iya deh iya. Semoga dia bahagia disana ya Ma."


"Iya, Pa. Ya sudah, ini minum obatnya dulu. Jangan terlalu banyak pikiran, Pa."


"Terima kasih, Ma."


Dan begitulah obrolan suami istri yang sudah menikah selama puluhan tahun di sore hari ini.


Galang yang sudah mendengar semuanya tak mau mengganggu obrolan mereka.


"Mas Galang dengar sendiri 'kan, Mama dan Papa Mas Galang ingin Mas segera menikah. Coba cari wanita yang baik lalu menikah." Bi Iroh ikut menimpali.


Galang hanya geleng-geleng kepala.


"Memangnya cari istri semudah beli tahu goreng? Kalau semudah itu tentu aku sudah dapat dari dulu."


"Doakan saja, Bi. Sudah ya, aku harus segera ke kantor lagi."


"Lho? Tidak menemui papa dan mama dulu, Mas?"


"Tidak. Yang penting aku tahu Papa baik-baik saja. Tadi aku dengar dari sekretarisnya katanya papa mengeluh sakit di dadanya, makanya aku kesini untuk mengecek keadaan papa."


"Ya sudah. Mas Galang hati-hati di jalan ya."


"Iya, bi."


...***...


"Bee, kamu berapa lama di Semarang?" tanya Sania sambil merapikan baju-baju Bian kedalam tas.


"Entahlah. Mungkin sekitar tiga hari. Kenapa? Kamu bisa 'kan mengurus urusan disini?"


"Tentu saja! Jangan khawatir tentang perusahaan. Aku sudah biasa menangani semuanya."


"Baiklah. Aku berangkat sekarang ya. Reza juga akan ikut denganku. Jadi kau jangan khawatir berlebihan."


"Iya, aku sudah pesan padanya tentang apa saja yang boleh kau makan selama disana."


"Aku akan berpamitan pada Alisa lebih dulu."


"Iya, dia sangat sedih karena ditinggal Papanya."


"Alisa...! Anak Papa..." Bian merentangkan tangannya menyambut pelukan hangat dari putri kecilnya.

__ADS_1


"Papa...!!! Papa mau kemana? Kok bawa tas besar?"


"Sayang, Papa ada urusan sebentar di luar kota. Kamu disini sama Mama ya. Tidak boleh rewel. Mengerti?"


"Iya, Pa. Tapi pulangnya Alisa dibelikan mainan ya Pa." ucap Alisa dengan lucunya.


"Iya, nanti Papa belikan. Papa pergi dulu ya."


"Dah, sayang..." Sania mencium pipi suaminya itu.


...***...


Pukul delapan pagi, Zayn sudah mondar mandir tak jelas karena karyawan terbaiknya masih belum menampakkan batang hidungnya.


"Pak, apa Visha belum datang juga?" tanya Lala.


"Iya. Kenapa dia selalu terlambat jika ada rapat penting seperti ini?"


"Justru itu adalah keberuntungannya, Pak. Bapak tenang saja. Dia akan datang tepat pada waktunya. Lagipula kliennya juga belum datang 'kan ya?"


Telepon di ruangan Zayn berdering. Ia mengangkatnya. Itu adalah panggilan dari security lantai bawah yang mengatakan kalau tamu pentingnya sudah datang.


"Mereka datang, La."


"Hah?! Kalau begitu saya akan menghubungi Visha." Lala segera berlari ke meja kerjanya dan meraih ponselnya.


Seperti biasa, Visha tak mengangkat panggilan di ponselnya. Ia sedang meminta abang ojol agar melajukan sepeda motornya lebih cepat.


Sementara, Zayn dan kliennya sudah menunggu di ruang rapat. Zayn sebisa mungkin mengajak klien berbincang santai dulu, karena mengingat dia adalah kawan lama Zayn.


Lala menunggu kedatangan Visha di lobi kantor. Dan saat Visha akhirnya datang dengan ojolnya, Lala segera berlari membantu Visha.


"Sha, kebiasaan deh. Di meeting penting kau selalu terlambat." rutuk Lala.


"Bukan salahku, La. Siapa yang suruh meeting sepagi ini."


"Mereka sudah menunggu di ruang rapat. Good luck ya!" Lala memeluk Visha.


Tok


Tok


Visha masuk setelah mengetuk pintu. Zayn tersenyum lebar melihat kedatangan Visha. Visha langsung memposisikan diri di depan layar proyektor.


Visha menjelaskan tentang konsep yang sudah ia buat. Zayn tercengang karena konsepnya berbeda dengan yang pernah ia contohkan pada Visha.


NGIIIIIIIIIIINNNGGGGGGG


NGIIIIIIIIINNNGGGGGGGG


Sebuah suara berdengung di telinga klien Zayn yang tak lain adalah Bian. Bian mendadak merasa kepalanya sakit saat mendengar presentasi dari Visha.


Visha yang mendapati kliennya tengah kesakitan, mendadak bingung dan menghentikan presentasinya ketika tubuh Bian telah ambruk.


...šŸšŸšŸ...


...bersambung,,,...


...*semua serba mendadak!...


...jangan lupa tinggalkan jejak ya shay 😘...

__ADS_1


...terima kasih šŸ’žšŸ’ž...


__ADS_2