Labuhan Cinta Sang Playboy

Labuhan Cinta Sang Playboy
Rindu di Masa Lalu


__ADS_3

...šŸšŸšŸ...


"..........Tapi----"


"Tapi apa, Bu?"


Visha tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.


"Ada kemungkinan kalau kamu merindukannya----"


"Heh? A-apa maksud Ibu?"


"Sejak hari pertama kamu mengirim pesanan ke gedung Brahms Corp, kamu tidak pernah lagi berteriak dalam tidurmu. Itu artinya kondisimu makin membaik. Berkat pertemuan kalian, kondisimu membaik."


"Ti-tidak mungkin----"


Visha mencoba mencerna tiap kata yang dijelaskan oleh Ibu Karina. Ia masih tak percaya dengan semua yang terjadi.


"Nduk----Apa kamu merindukannya?"


"Eh?"


Visha menatap lekat pada Ibu Karina. Air mata Visha sudah tak mampu ia tahan. Ia segera berhambur kedalam pelukan Ibu Karina. Ia menangis disana.


...***...


Rocky kembali menemui Sania di panti asuhan. Sania tetap menghindari Rocky dan tak menggubrisnya.


"Mau apa lagi kamu datang kesini?"


"Aku kan sudah bilang. Aku tidak akan menyerah untuk bisa dapat maaf dari kamu, Sania."


Sania membuang muka.


"Kenapa baru sekarang kamu meminta maaf? Sudah enam tahun, Rocky! Dan aku rasa itu sudah tak ada gunanya."


"Aku tahu. Aku memang brengsek! Aku benar-benar menyesali apa yang sudah kuperbuat padamu. Tolong, Sania! Aku mohon maafkan aku!"


Rocky menunjukkan penyesalannya.


"Dengar, Rocky. Aku tidak pernah mengutukmu. Meski dulu aku pernah sangat tersakiti olehmu, tapi----aku sudah melupakannya."


"Jadi----kamu memaafkan aku?"


"Tidak ada yang perlu di maafkan. Kita sudah menjalani kehidupan kita masing-masing. Aku senang karena kamu sudah banyak berubah. Tetaplah menjadi Rocky yang baik seperti sekarang. Jangan kembali pada Rocky yang dulu. Hanya itu saja yang ingin kukatakan."


"Terima kasih, Sania."


"Setelah ini, jangan menemuiku lagi. Aku sudah menikah. Aku tidak mau suamiku salah sangka soal hubungan kita."


"Terima kasih, Sania. Sekali lagi terima kasih."


Rocky berpamitan pada Sania dengan wajah sumringah. Ia merasa kalau tujuannya untuk mengusir kesialan sudah berhasil.


Sania menatap Rocky sambil tersenyum. Ia mengingat bagaimana dulu ia meninggalkan Rocky karena desakan dari orang tuanya.


.


.


*Flashback*


"Bagaimana hubunganmu dengan Rocky?" Tanya Papa Sania.


"Baik, Pa. Ada apa memangnya?"

__ADS_1


"Jangan terus menutupinya. Kamu pikir Papa tidak tahu soal kelakukan pacarmu diluaran sana?"


"Pa, Rocky tidak seperti itu!"


"Jangan terus membelanya! Dia itu bukan lelaki baik, Sania. Dia hanya anak manja yang suka menghamburkan uang orang tuanya. Dan lagi, dia tidak serius denganmu."


"Pa----"


"Kapan dia akan melamarmu secara resmi? Usiamu sudah hampir 25 tahun. Mau sampai kapan kalian pacaran tanpa ada kejelasan?"


"............"


"Seharusnya kamu dulu bersama dengan kakaknya saja. Galang itu lebih bertanggung jawab dari pada Rocky. Kenapa kamu malah memilih bajingan itu, huh? Apa kelebihan dia dibanding Galang?"


"Pa----Jangan berkata buruk soal Rocky."


"Sebaiknya kamu tinggalkan saja dia! Papa akan mengenalkanmu dengan anak teman Papa. Namanya Yogi Pratama, pemilik YP Cons. Kamu sudah bertemu dengannya beberapa kali. Jika kamu tidak bisa bersama dengan Galang, maka kamu akan Papa jodohkan dengan Yogi."


.


.


Ingatan Sania membuatnya merindukan masa-masa lalu bersama Rocky dan Galang.


Sebenarnya Sania mengenal Galang lebih dulu. Dia adalah kakak tingkat yang jadi idola para mahasiswa baru dikampusnya. Sania tak sengaja memberanikan diri berkenalan dengan Galang. Dan tak lama mereka jadi dekat sebagai teman. Lalu Galang mengenalkan Rocky pada Sania saat Rocky pulang ke Indonesia ketika libur semester.


Dan entah kenapa Sania malah lebih tertarik pada Rocky yang agresif ketimbang Galang yang pendiam. Saat Rocky akhirnya menyatakan perasaannya pada Sania. Dengan senang hati Sania menerima perasaan Rocky, meski mereka harus pacaran jarak jauh alias LDR, karena Rocky kuliah di luar negeri.


Sania tak pernah tahu kelakuan Rocky selama tinggal di luar negeri. Sania sempat meragukan Rocky namun Sania selalu luluh jika Rocky pulang menemuinya dan kembali mendapatkan hatinya.


Hingga akhirnya Rocky menyelesaikan pendidikannya dan kembali ke tanah air, Sania mulai menyelidiki Rocky yang ternyata sering datang ke klab malam dan meminum alkohol.


Sania bisa dikatakan sebagai wanita yang sabar, karena dia selalu memaafkan Rocky atas perbuatannya. Sania yakin kalau Rocky hanya bermain-main saja dengan perempuan-perempuan di klab malam itu. Dan cintanya hanya untuk Sania seorang. Sania masih mempercayai itu, hingga Papanya akhirnya bisa meyakinkan Sania agar meninggalkan Rocky dan menikah dengan orang lain.


.


.


"Sania? Apa yang kamu lakukan disini?"


"Aku ingin bertemu denganmu. Sudah lama tidak berjumpa, Galang---"


"Kita bicara di cafe saja, bagaimana?"


Sania mengangguk.


.


.


"Bagaimana kabarmu?" tanya Galang.


"Aku baik. Kamu sendiri? Sepertinya usahamu makin lancar."


"Ya begitulah."


"Rocky menemuiku akhir-akhir ini."


"Eh? Apa dia mengganggumu?"


"Tidak. Tapi----dia hanya merasa kalau dia harus meminta maaf padaku."


"Kenapa?"


"Dia mengira kalau kesialannya selama ini, adalah karena aku mengutuknya."

__ADS_1


Galang tersenyum kecil. "Apa maksudnya itu?"


"Sepertinya dia menemui paranormal. Dan paranormal itu berkata begitu."


"Hmmm, padahal aku sudah bilang padanya untuk tidak percaya dengan hal-hal semacam itu."


"Kamu sudah punya pacar?"


"Eh? Pacar? Aku sedang dekat dengan seorang wanita."


"Oh, benarkah? Apa aku mengenalnya?"


"Tidak. Kamu tidak mengenalnya. Aku bertemu dengannya saat ada acara di Semarang."


"Oh, begitu."


"Sania---Aku minta maaf jika Rocky masih mengganggumu. Jangan hiraukan dia. Usahanya memang sedang tidak bagus akhir-akhir ini. Jadi, dia bersikap agak diluar nalar."


"Tidak apa. Aku bisa paham. Ini pasti sulit untuknya."


"Aku harus segera pergi, San. Ada meeting dengan klien. Sampai bertemu lagi."


"Iya. Terimakasih atas waktunya."


Sania melihat Galang yang berjalan menjauh. Ada sedikit rasa kecewa karena dulu ia tak memilih Galang.


Jika saja dulu aku memilih bersamamu, pasti aku akan bahagia. Itu hanya----seandainya... Batin Sania sambil tersenyum simpul.


...šŸšŸ...


-Kediaman Pratama-


Sania sampai di rumahnya dan langsung disambut oleh suaminya yang ternyata sudah lebih dulu sampai.


"Kamu baru pulang? Dari mana saja kamu?"


"Aku bertemu kawan lama, Mas. Mas sudah makan malam?"


"Kawan lama? Siapa? Kenapa tidak ijin dulu denganku?"


"Maaf, Mas. Aku takut Mas sibuk jadi----"


"Aku dengar mantan kekasihmu sering mencarimu. Apa itu benar?"


"Eh?"


"Rocky Abraham, putra pemilik Brahms Corp, dia adalah mantan kekasihmu bukan? Untuk apa dia terus mencarimu? Apa kamu baru saja bertemu dengannya?"


"Tidak, Mas. Bukan begitu----"


"Perusahaannya berusaha untuk bersaing dengan YP Cons. Tapi dia selalu gagal. Apa karena itu dia menemuimu?"


"Bukan, Mas." Sania mulai ketakutan dengan perubahan suasana hati suaminya.


"Baiklah. Aku anggap kamu jujur. Tapi jika kamu menemuinya lagi, maka kamu akan tahu akibatnya."


Yogi melangkah pergi meninggalkan Sania yang masih berdiri gemetaran karena di cecar olehnya. Sania mencoba menahan air matanya agar tidak jatuh.


Disaat beginilah Sania mulai menyadari sesuatu.


Harusnya aku tetap bertahan disisi Rocky. Aku harus lebih sabar menghadapinya karena ternyata dia bisa berubah. Aku terlalu cepat mengambil keputusan. Dan ternyata sekarang aku menyesalinya.


...šŸšŸšŸ...


tobe continued-------______

__ADS_1


__ADS_2