
...ššš...
Galang bergegas menuju ke kantornya dengan tergesa. Kejadian di klinik tadi cukup menyita waktunya. Namun semua bisa di atasi karena ia menyuruh anak buahnya untuk mengamankan Visha di suatu tempat.
Sesampainya di kantor Brahms Corp, Galang berjalan menuju ruangannya. Banyak rapat yang tertunda karena waktunya banyak tersita karena masalah pribadinya.
Saat melewati meja Siska, Galang hanya berjalan cepat dan Meminta Siska menyiapkan dokumen untuk rapat. Siska yang ingin mengatakan jika di ruangan Galang ada Sania, tak sempat berucap karena Galang keburu masuk ke dalam ruangannya.
.
.
.
Tak lama Siska sudah selesai menyiapkan dokumen untuk rapat. Saat berdiri di depan ruangan Galang, Siska ragu karena terakhir kali ia akan masuk, ia malah mendengar hal yang sangat mengejutkan.
Namun ia segera menepis pikiran buruk dari otaknya. Ia mengetuk pintu dan masuk sambil memanggil nama Galang.
Tak ada sahutan dari Galang, bahkan sosoknya pun tak ada di kursi kebesarannya.
"Kemana Pak Galang?" Batin Siska.
Ia pun memberanikan diri masuk lebih dalam ke ruangan Galang, dan melihat pintu kamar pribadinya terbuka. Ternyata Galang dan Sania ada disana.
Siska tak berniat untuk menguping, namun rasa ingin tahunya lebih besar dari rasa takutnya. Ia mengendap-endap mendekati pintu kamar itu. Dan kembali mendengar hal yang sangat tak terduga.
Pak Galang menculik Visha?!
Siska langsung menutup mulutnya tak percaya dengan apa yang ia dengar. Siska makin memajukan tubuhnya ingin mengetahui lebih lanjut apa yang mereka bicarakan karena tak mendengar ada suara lagi.
Lagi-lagi Siska di suguhi pemandangan yang membuat hatinya sesak.
Pak Galang? Dan Bu Sania? Apa yang mereka lakukan?
Siska menggeleng cepat dan segera pergi dari ruangan Galang dan meletakkan dokumen yang ia bawa di atas meja Galang sebelum ia keluar.
Siska mengatur nafasnya yang memburu. Ia meneteskan air mata. Tak percaya jika orang yang sudah mengisi hatinya selama bertahun-tahun malah melakukan hal tak senonoh dengan istri pria lain.
Donny yang baru datang ke kantornya melihat Siska menyendiri di dekat toilet lantai 13. Ia pun menghampiri Siska.
"Siska? Ada apa? Kenapa kau menangis?" tanya Donny panik. Entah kenapa hatinya sakit melihat Siska menangis terisak seperti itu.
Donny segera Membawa Siska kedalam dekapannya. Ia memeluk Siska erat dan mengusap bahunya pelan.
.
.
.
Galang yang mulai terbuai dengan permainan Sania, segera menghentikan tindakan Sania terhadapnya. Ia mendorong tubuh Sania.
"Maaf..." ucap Galang sambil membuang muka.
"Kenapa minta maaf? Kita melakukannya secara sadar." balas Sania sambil mengusap bibirnya yang basah dan sedikit bengkak.
Galang membenahi pakaiannya yang sedikit berantakan karena ulah Sania.
__ADS_1
"Aku ada rapat dengan klien. Sebaiknya kau pergi. Tak ada lagi yang perlu kita bahas, bukan?"
"Dimana kau menyembunyikan Visha?"
Galang menyeringai. "Jadi kau datang kesini karena ingin mencari tahu soal itu? Apa Rocky yang menyuruhmu?"
"Tidak! Aku hanya tidak suka kau menyembunyikan wanita itu. Sudah cukup aku bersaing dengannya karena Bian. Apa aku masih bersaing dengannya untuk mendapatkanmu?"
Galang berdecih. "Kau menginginkanku? Yang benar saja! Kau tidak menyukaiku. Kau hanya memanfaatkanku saja, Sania."
Sania menaikkan sebelah alisnya. "Sial! Galang sudah tahu rencanaku! Aku harus bagaimana?" batin Sania.
"Rapikan penampilanmu dan segera pergi dari sini. Aku tidak mau saat aku kembali nanti kau masih ada disini." Galang pun berlalu pergi dari kamar itu.
Galang melihat berkas yang ia minta sudah ada dimejanya. Tanpa curiga sedikitpun, ia mengambil berkas itu dan keluar dari ruangannya.
Sementara Sania, masih berdecak kesal dengan sikap Galang padanya.
Kemana Galang yang dulu begitu sopan dan lemah lembut? Sejak kapan dia berubah jadi pria dingin yang menyebalkan seperti ini? Ini pasti karena perempuan itu! Wanita simpanan itu!!! Awas saja jika aku bisa menemukanmu.
Sania mengepalkan tangannya.
.
.
.
Donny membawa Siska ke kafe dekat kantor mereka. Siska sudah mulai tenang sekarang.
"Kau bisa cerita denganku. Aku orang yang sangat bisa dipercaya." ucap Donny dengan senyum manisnya.
"Terima kasih, Donny. Aku... Aku bingung bagaimana cara mengatakannya padamu..."
"Katakan saja perlahan..."
Siska menatap mata Donny yang juga sedang menatapnya.
"Apa ini tentang Galang?" tanya Donny yang membuat Siska membulatkan matanya.
"Bagaimana kau..."
"Iya. Aku juga sedang menyelidikinya. Siska, jika kau punya informasi mengenai kejahatan yang dilakukan Galang, tolong beritahukan padaku." Donny memohon.
"Pak Galang menculik Visha..."
"Iya. Jadi kau tahu?"
"Iya, makanya aku... sangat syok tadi. Bagaimana bisa Pak Galang melakukan hal ini?"
"Saat ini kami sudah menemukan lokasi Visha. Tapi, sedikit saja informasi darimu, itu sangat membantu. Kumohon! Kau mengenal Visha bukan?"
"Iya, dia adalah temanku."
"Terima kasih, Siska. Pulang kerja nanti, aku akan antarkan kau pulang."
Wajah Siska merona karena lagi-lagi Donny memperlakukannya dengan manis.
__ADS_1
"Baiklah. Aku akan menunggumu di lobi. Kalau begitu aku permisi dulu. Aku takut Pak Galang sudah kembali dari rapatnya."
Siska melangkah pergi meninggalkan Donny. Donny mengernyit heran kenapa Siska tersipu malu begitu. Padahal apa yang dilakukannya bukanlah hal besar.
.
.
.
Jam pulang kantor, Donny mengendarai mobilnya dan menuju lobi. Benar saja, Siska sudah menunggu disana. Donny pun turun dan membukakan pintu mobil untuk Siska.
"Terima kasih," ucap Siska.
Mobil Donny pun melaju. Suasana masih hening dan tak ada perbincangan di antara mereka.
Hingga akhirnya Siska bingung kenapa Donny menuju ke apartemen Prince Town.
"Don, kenapa kita kesini?" tanya Siska.
"Kumohon turunlah dulu. Nanti akan kujelaskan." jawab Donny.
Siska pun turun dan menuju lobi. Disana ia bertemu Bian yang langsung menyapanya.
"Siska?"
"Eh? Pak Bian?" Siska terkejut karena Bian ada disana.
"Mari ikut denganku! Donny akan menyusul."
Meski sempat ragu, namun akhirnya Siska mengikuti langkah Bian menuju ke sebuah kamar yang sudah dipesan oleh Bian lebih dulu.
Setelah Donny datang, Bian menjelaskan detil permasalahannya, mulai dari dirinya yang adslah Rocky, lalu pernikahannya dengan Visha, dan hilangnya kedua orang tuanya. Terakhir adalah penculikan Visha.
Siska masih tak mengerti dengan situasi ini. Tapi ia juga berusaha membantu karena tidak suka dengan sikap Galang yang berubah jahat.
Siska berjanji jika ia memiliki informasi mengenai Visha ataupun orang tua Rocky, ia akan segera melapor pada Donny.
Dan malam itu, sebelum mengantar Siska pulang, Donny mengajaknya makan malam berdua.
Siska lagi-lagi tersipu malu karena perhatian yang diberikan Donny.
"Apa aku boleh menanyakan sesuatu?" tanya Donny.
"Boleh, mau tanya apa?"
"Apa kau sudah memiliki kekasih?"
"Eh?!"
...ššš...
#Bersambung...
Hai hai, Mamak punya story baru nih di NT, judulnya RaKhania. Masih baru banget dan masih anget š¬š¬š¬
Silahkan mampir dan kepoin yaak. Klik favorit aja dulu biar kalo ada UP bisa langsung baca šš
__ADS_1
Terima kasih š