Labuhan Cinta Sang Playboy

Labuhan Cinta Sang Playboy
S2 - R A H A S I A


__ADS_3

...šŸšŸšŸ...


"Masuklah!" ucap Galang.


Galang menunjuk sebuah ruangan kamar tertutup yang tidak tahu apa yang ada didalamnya. Visha menatap Galang tajam sebelum akhirnya ia memegang knop pintu dan membukanya perlahan.


Visha melihat seorang wanita paruh baya sedang duduk di ranjang rumah sakit dan terlihat menggumam sendiri.


Visha mendekati ranjang itu. Dan betapa terkejutnya Visha saat tahu jika yang ada disana adalah Elena.


"Mama Elena!!" seru Visha dan langsung memeluknya.


Elena hanya diam dan tak merespon pelukan Visha. Visha merasa ada yang aneh dengan sikap Elena.


"Mama!!! Ini aku, Visha!!" Visha memegangi kedua bahu Elena namun tetap saja Elena tak merespon.


Visha menghampiri Galang yang sudah masuk ke kamar itu.


"Apa yang terjadi dengan Mama Elena?!" tanya Visha terlihat marah.


Galang hanya diam dan menatap ke arah Elena.


"Tidak ada. Bukankah kau ingin bertemu dengannya? Sekarang kau sudah menemukannya." jawab Galang enteng tanpa rasa bersalah sedikitpun.


Visha mencengkeram kerah baju Galang. "Apa yang kau lakukan? Kenapa kau sampai berbuat begini? Apa salah mereka hingga kau melakukan ini?!" Visha berteriak.


Galang melepas tangan Visha dan membanting tubuh Visha hingga ia terjerembab ke lantai.


"Kau tidak tahu apapun! Jadi jangan ikut campur urusanku! Sekarang kau lebih baik temani dia saja. Wanita itu harus menebus segala dosa-dosanya." Galang pun meninggalkan Visha berdua dengan Elena.


Kamar ruangan itu pun dikunci dari luar. Visha kembali berdiri dan menghampiri Elena.


"Mama? Apa yang terjadi dengan Mama? Apa yang sudah Mas Galang lakukan pada Mama?" Visha mulai terisak.


Visha meraih tangan Elena dan diusapnya lembut. "Mama... Ini Visha, Ma. Apa mama tidak mengingatku?"


Visha menyeka air matanya. Elena yang ia kenal dulu sudah hilang. Elena yang sekarang dilihatnya bagai wanita yang tertekan dan depresi.


Visha kembali memeluk Elena dan mencoba menyadarkannya. Visha bercerita sedikit tentang Rocky, putranya. Siapa tahu itu bisa membangkitkan memori Elena.


Dan reaksi yang Visha dapat sangatlah luar biasa. Elena menjerit histeris ketika mendengar Nama Rocky. Elena mendorong tubuh Visha hingga Visha jatuh di lantai.


Visha berusaha menenangkan Elena namun hasilnya sia-sia. Hingga akhirnya beberapa perawat datang dan memberi suntikan obat penenang pada Elena.


Visha yang merasa ibu mertuanya diperlakukan kasar ingin menepis tangan-tangan perawat yang memegangi tubuh Elena. Namun dengan sigap beberapa perawat juga datang dan memegangi lengan Visha.


Galang kembali masuk ke dalam kamar karena mendengar kegaduhan.

__ADS_1


Saat obat penenang telah masuk ke tubuh Elena, secara cepat tubuhnya melemas dan ambruk.


Visha menjerit melihat Elena yang jatuh pingsan tak sadarkan diri.


"Apa yang kau lakukan pada Mama Elena, Mas? Kenapa dia jadi begini?!" Visha berteriak dan meronta agar bisa lepas dari cengkeraman kedua perawat.


Secara tak terduga, Galang menatap ke arah Visha tajam. "Lakukan juga padanya!" Titah Galang pada si perawat.


Visha menggeleng cepat. "Tidak! Jangan lakukan! Lepaskan aku!!!" teriak Visha.


"Jika kau terus bersikap seperti ini, maka hanya ini yang bisa kulakukan Visha." ucap Galang yang melihat Visha mulai disuntik obat penenang.


Tubuh Visha mulai melemas. Matanya mulai berat. Dalam hitungan menit, tubuhnya pun ambruk tak sadarkan diri.


"Bawa dia ke tempat yang sudah kusiapkan!" perintah Galang.


"Baik, Tuan." jawab si perawat.


.


.


.


"Pak, kita berhasil menemukan lokasinya." ucap anak buah Donny si ahli IT.


"Titiknya berada jauh dari kota. Ini adalah sebuah tempat."


Bian memandangi arah jalan menuju tempat itu.


"Don, ini 'kan..."


"Magnolia!!!" seru Bian dan Donny serempak.


"Jadi, Kak Galang ada disana? Tapi kemarin kita sudah memeriksanya dan tak ada apapun. Apa ada suatu rahasia dibalik tempat itu, Don?"


"Bos, sepertinya Galang mengelabui kita. Dia pasti sudah menyiapkan anak buahnya disana. Dengar, karena kita sudah tahu dimana Visha berada. Sebaiknya kita siapkan strategi dulu saja, bos. Jangan terburu-buru seperti kemarin. Sebaiknya bos berangkat ke kantor dulu saja. Aku juga akan mengurus masalah kantor lebih dulu. Dan mata-mata ini, bawa dia ke markas kita!"


Bian menyetujui usulan Donny. Ia sedikit lega karena sudah tahu dimana posisi Visha.


.


.


.


Sania berjalan anggun memasuki gedung Brahms Corp. Ia ingin bertemu Galang hari ini. Sania bertemu dengan Siska, sekretaris Galang.

__ADS_1


Siska menyampaikan jika Galang belum ada ditempatnya, namun Sania tetap masuk ke dalam ruangan Galang dan akan menunggu disana. Siska pun hanya pasrah dengan sikap Sania.


Sania mengedarkan pandangan di ruangan yang cukup luas itu. Galang merubah semua tampilan interior ruangan yang dulu milik Leonard itu. Warna yang dulu di dominasi warna putih, sekarang berubah menjadi abu-abu muda dan juga beberapa bagian yang berwarna dark grey.


"Sangat menunjukkan suasana hati si pemilik ruangan." batin Sania.


Tiba-tiba matanya tertuju pada sebuah pintu yang tidak tahu pintu menuju kemana itu. Setahunya ia tak pernah melihat pintu itu sebelumnya.


"Apa Galang baru membuatnya?" gumam Sania.


Sania pun membuka pintu itu yang ternyata tidak terkunci. Dilihatnya sebuah kamar dengan ranjang besar yang nyaman dan sebuah walk in closet tak terlalu besar disana.


"Wah!" Sania berdecak kagum. "Selera pria itu lumayan juga." puji Sania dengan sedikit menarik bibirnnya.


Tak lama seseorang memasuki ruangan itu dan yang datang adalah si empunya ruang.


Melihat pintu menuju kamar pribadinya terbuka, Galang pun segera masuk kesana.


"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Galang sinis. "Sudah kubilang jangan datang kemari jika aku tak mengijinkanmu!"


"Kenapa? Kita adalah rekan kerja, dan juga teman." Sania berjalan ke arah Galang dan mengusap dada bidangnya.


"Apa maumu?" Galang menepis tangan Sania.


"Cih, kakak dan adik sama saja. Kalian terlalu munafik berpura-pura menolakku."


"Katakan apa maumu!! Aku sedang pusing karena banyak hal terjadi karena ulahmu. Kau tidak becus mengurus Bian." Galang mengusap wajahnya.


"Kau sendiri malah menambah masalah dengan menculik Visha. Apa kau sudah tidak waras?! Apa kau sangat menginginkannya hingga kau harus menculiknya?"


Galang hanya terdiam.


"Apa bagusnya perempuan itu?! Perempuan sok lugu dan polos! Padahal aslinya sangat..."


"Cukup!!! Jika kau datang kesini hanya untuk bicara omong kosong, maka keluarlah!" Galang mulai marah.


Sania tak terima dengan sikap Galang. Ia kembali mendekati Galang dengan gerakan yang cukup menggoda.


"Ini adalah rahasia kita, kau jangan pura-pura menolak lagi!" bisik Sania tepat di telinga Galang. "Aku tahu dulu kau pernah menyukaiku, tapi kau kalah dari Rocky. Dan sekarang kau kembali kalah dari dia untuk mendapatkan Visha. Malang sekali nasibmu, Galang..."


Sania menatap wajah Galang yang memerah menahan marah. Jarak mereka terlalu dekat. Sania sedikit berjinjit untuk bisa meraih bibir Galang dan menciumnya lembut.


...šŸšŸšŸ...


#Bersambung,,,


😵😵😵😵

__ADS_1


__ADS_2