Labuhan Cinta Sang Playboy

Labuhan Cinta Sang Playboy
Kebenaran dan Kejujuran


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


Rocky mengusap wajahnya. Ia merasa dadanya sesak mendengar kenyataan tentang Navisha.


Perempuan yang sudah bersarang dihatinya entah sejak kapan itu, selalu sukses membuatnya kalang kabut dan membuatnya bersimpati.


Rocky keluar dari toilet dan dia bertemu Visha.


"Pak Rocky!" Visha menunduk memberi hormat.


"Kau ... " Rocky memandang Visha dengan tatapan yang tak biasa.


Rocky meraih tangan Visha dan membawanya ke atap gedung.


"Rocky, ada apa? Kenapa membawaku kesini?"


Rocky tak menjawab dan malah memeluk Visha.


"Rocky ... "


"Biarkan aku sejenak memelukmu."


Dan seperti biasa, Visha tak bisa menolak perlakuan Rocky.


"Maaf karena aku pernah meragukanmu." Ucap Rocky setelah melepas pelukannya.


"Minta maaf?"


"Kau sudah mengalami hal yang berat selama ini."


"Apa maksudmu?"


Rocky meraih wajah Visha. "Tidak bisakah kau berbagi kesedihanmu denganku?"


DEG.


Visha merasa tak bisa mengontrol detak jantungnya. Jarak Rocky yang begitu dekat dengannya, membuat ia berpasrah diri dengan yang akan Rocky lakukan.


"Boleh aku bertanya sesuatu padamu?"


"Apa?"


"Apa kau mencintai Kak Galang?"


"Kenapa kau bertanya tentang ini?"


"Karena aku tidak bisa menyembunyikan hatiku. Aku ... sudah pernah mengatakannya padamu. Kau sudah mencuri hatiku."


"Rocky ... "


"Meski kau adalah kekasih Kak Galang. Tapi entah kenapa, aku merasa kau tidak mencintai Kak Galang dengan tulus. Kau mencintaiku, benar 'kan?"


Visha menepis tangan Rocky yang membingkai wajahnya.


Matanya mulai berkaca-kaca. Rocky kembali meraih wajah Visha.


"Jujurlah! Tidak ada yang salah dengan jatuh cinta." Ujar Rocky.


"Aku tidak bisa, Rocky. Mas Galang sudah banyak menolongku. Kau adalah adiknya, apa kau tega menyakitinya?"


"Aku tidak bisa menyakiti Kak Galang. Tapi jika kau meneruskan hubunganmu dengannya, itu akan lebih menyakiti dirinya. Lebih baik kau jujur sekarang. Maka dia tidak akan terlalu tersakiti."


Visha menghela nafas. Kini air mata mengalir di pipinya. Rocky mengusapnya pelan. Mantan playboy memang selalu bisa membuat hati wanita luluh di hadapannya.


Rocky mengecup pelan kening Visha. Visha tak menolak.


Ketika Rocky hampir mencapai bibir Visha, Visha tersadar dan ia segera menghindar.


"Maaf ... " Visha melangkah pergi meninggalkan Rocky.


...***...


-Kantor Galang-


"Ini berkas yang harus bapak tandatangani."


"Letakkan dimeja saya saja, Siska. Terima kasih."


"Kalau begitu saya permisi."


"Tunggu, Siska!"


"Iya, Pak, ada apa?"

__ADS_1


"Aku sudah menyampaikan salammu kepada Visha."


"Terima kasih, Pak."


"Omong-omong, bagaimana kamu bisa mengenal Visha?"


Akhirnya, kamu menanyakan ini juga, Galang.


"Kami teman satu kos."


"Oh, begitu. Itu berarti ... sekitar enam tahun lalu?"


"Iya, Pak."


"Kau sempat kuliah?"


"Tidak, Pak. Saya bekerja saat itu."


"Ah, Angels and Demon Club?"


"Iya, benar sekali, Pak."


"Ya sudah. Kamu boleh keluar."


Siska melangkah keluar kemudian berhenti.


Hanya segitu saja kau bertanya? Aku yakin kau pasti penasaran tentang tunanganmu itu. Bagaimana bisa kau tak tahu apapun tentang dia. Sungguh malang kau Galang.


...***...


"Apa? Sudah meninggal? Kau yakin, Ari?" Kali ini Siska mencoba menguak fakta tentang Visha dari tangan kanan Galang, yaitu Ari.


"Iya, yakinlah. Keluarga Abraham tahu tentang itu."


"Kapan tepatnya Visha menikah? Aku pernah mengenalnya enam tahun lalu. Dan kurasa dia ... tidak mungkin menikah."


"Apa sebenarnya maksudmu? Kau ingin membuat Visha terlihat buruk di mata Pak Galang, huh?"


"Bukan begitu. Aku hanya menyayangkan saja jika Pak Galang sampai mendapatkan istri yang salah."


Ari menatap tajam ke arah Siska. Lelaki yang jarang tersenyum ini tidak akan mentah-mentah menerima informasi dari Siska sebelum dia sendiri yang menyelidikinya.


"Jika kau tidak percaya, aku bisa membuktikannya padamu. Bagaimana?"


.


.


.


Siska meminta Visha untuk menemuinya di sebuah kafe. Visha setuju karena ia ingin penjelasan dari Siska.


Visha menghampiri Siska yang sudah lebih dulu tiba di kafe.


"Mbak Siska.." panggil Visha.


"Halo, Visha, silahkan duduk."


"Ada apa Mbak ingin bertemu denganku?"


"Apa tidak ada yang ingin kau tanyakan padaku?"


"Eh?"


"Tanyakan saja! Aku akan menjawabnya."


Visha mulai ragu. Tapi dari pada menyimpannya terus dalam hati, lebih baik ia ungkapkan kegelisahannya mengenai Siska.


"Apa maksud Mbak Siska menitip salam pada Mas Galang?"


Siska tertawa. "Jadi kau khawatir jika aku bicara macam-macam pada tunanganmu?"


Visha membulatkan matanya. "Apa yang sebenarnya Mbak Siska inginkan dariku?"


"Kejujuran darimu."


"Apa?"


"Jujurlah pada kekasihmu, Visha. Tentang masa lalumu."


"Itu bukan urusan Mbak Siska!" Visha mencoba memberanikan diri. Siska yang dulu ia kenal sudah berubah.


"Kalau begitu aku yang akan mengatakannya pada Pak Galang."

__ADS_1


Visha makin tak bisa mengontrol dirinya. Ia marah, tapi satu amukanpun tak bisa ia lakukan.


"Jadi selama ini Pak Galang tidak tahu tentang masa lalumu?"


".............."


"Bahwa kau pernah bekerja di Miracle Club. Kau adalah pekerja malam sama sepertiku, Visha. Akui saja itu."


"............"


"Apa susahnya mengakui itu?"


"Tolong, Mbak. Jangan katakan apapun pada Mas Galang." Visha memohon.


"Kenapa? Apa salahnya pernah bekerja di klab malam? Toh itu adalah masa lalu. Jangan selalu merasa suci, Visha."


Visha hanya menjawab dengan isakan tangisnya. "Karena aku sudah menutup lembaran masa laluku, Mbak. Aku tidak mau mengingatnya lagi."


"Lalu putramu? Siapa sebenarnya ayah dari putramu itu?"


DEG.


"Kenapa Mbak bertanya tentang Ali?"


"Kau tidak pernah menikah, Visha. Maksudku, kau belum pernah menikah. Bagaimana bisa kau memiliki seorang putra?"


Visha merasa Siska sudah keterlaluan padanya. "Jika Mbak sampai menyakiti anakku, aku tidak segan untuk menyakiti Mbak Siska kembali."


"Tenang, Visha! Aku hanya bertanya. Kenapa kau malah mengancam?"


"Jika tidak ada lagi yang ingin Mbak Siska bicarakan, aku permisi!"


"Silahkan!"


Lalu Vishapun tak ingin berlama-lama bersama Siska. Ia pergi dengan pikiran kalut dan kekhawatiran.


Seseorang mendatangi meja Siska. Itu adalah Ari.


"Bagaimana? Kau sudah dengar sendiri 'kan? Aku tidak berbohong."


"Baiklah. Kali ini aku percaya. Tapi sebaiknya kau tidak mengatakan apapun pada Pak Galang."


Dan Ari juga ikut pergi meninggalkan Siska yang tersenyum puas dan merasa telah menang.


...***...


Malam itu, Galang datang berkunjung ke rumah Visha. Seperti biasa, kehadiran Galang membuat suasana di rumah itu menjadi hidup.


Ali dan Galang bermain bersama layaknya ayah dan anak.


"Adiknya Om Galang juga jago lho main playstation," ucap Ali saat sedang beradu balap dengan Galang lewat playstation.


"Eh? Adik Om? Siapa?"


"Masa Om lupa sama adik sendiri? Om Rocky lah siapa lagi."


"Dari mana kamu tahu soal Om Rocky?"


"Waktu itu Om Rocky pernah berkunjung ke rumah. Lalu dia bermain playstation bersamaku."


Visha yang mendengar celotehan Ali langsung membulatkan matanya.


"Ali, sudah waktunya tidur. Ayo cepat cuci kaki lalu ke kamar," perintah Visha pada Ali.


"Yah, Mama. 'Kan lagi seru, Ma." rengek Ali


"Besok lagi 'kan masih bisa main."


Dengan malas Ali beranjak dari depan televisi dan menuju ke kamarnya.


"Mas..."


"Iya, Nav."


"Ada yang ingin kubicarakan denganmu."


...🍁🍁🍁...


tobe continued,,,,,,


jangan lupa tinggalkan jejak 🐾🐾


terima kasih πŸ™πŸ™

__ADS_1


__ADS_2