
...πππ...
Pukul sembilan pagi, Visha tiba di gedung Brahms Corp. Ia celingukan mencari keberadaan Zayn, bosnya.
"Cari siapa, nona?"
Lagi-lagi Donny mengagetkan Visha.
"Kau ini! Selalu saja mengagetkanku!"
"Kau mencari Zayn?"
"Iya. Apa kau tahu dimana dia?"
"Dia sedang bersama Biantara. Disebelah sana." Tunjuk Donny ke arah Zayn yang sedang berbincang dengan seseorang yang tak dikenalnya.
"Oh, oke. Terima kasih. Aku pergi dulu ya."
"Visha!"
"Iya, kenapa?"
"Berbahagialah! Kau pantas mendapat kebahagiaan."
"Terima kasih," jawab Visha diiringi senyum.
Visha menghampiri Zayn yang ternyata sudah sendiri.
"Pak..."
Zayn hafal suara itu. Zayn berbalik dan menunjukkan senyum terbaiknya.
Visha sempat terhipnotis dengan senyum maskulin ala Zayn.
"Maaf ya, Pak. Saya lagi-lagi meninggalkan bapak. Saya..."
"Sudahlah. Tidak perlu membahasnya. Ayo kita duduk!" Tanpa ragu Zayn meraih tangan Visha dan menggenggamnya. Mereka berjalan melewati beberapa orang yang melihat ke arah mereka.
"Pak, bisa lepaskan tangan saya?" Pinta Visha karena merasa tak enak dengan pandangan sekitarnya.
Zayn tak merespon dan terus membawa Visha ke meja mereka. Tanpa diketahui Visha, Zayn tersenyum penuh arti melihat ke arah Galang.
Galang membuang muka melihat pemandangan yang menyesakkan hatinya.
.
.
Acara demi acara pun akhirnya telah dilewati. Visha menghela nafas lega. Selama berjam-jam Zayn tak mengijinkan Visha untuk beranjak dari kursinya.
Usai acarapun, Zayn kembali meraih tangan Visha dan tetap menggenggamnya. Visha merasa risih dengan pandangan orang-orang.
"Pak, tolong jangan lakukan ini! Mereka pasti mengira saya adalah sekretaris yang menggoda bosnya."
"Hahaha, kau ini! Apa sih yang ada diotakmu? Biarkan saja mereka bicara apapun."
"Kita mau kemana lagi, Pak?"
"Aku tidak ingin kau pergi lagi seperti kemarin, jadi kau harus menuruti perintahku."
Visha pasrah dengan semua keinginan bosnya itu. Entah sudah berapa orang yang mereka sapa di sore itu. Visha mulai merasa lelah.
"Pak, apa masih banyak orang yang ingin bapak sapa?" Tanya Visha lesu.
"Kau lelah? Kalau begitu kita segera pergi dari sini. Kita istirahat dulu di hotel."
__ADS_1
Visha mengangguk pasrah.
Sesampainya di Royale Hotel, Visha merebahkan tubuhnya ke ranjang empuk hotel.
Sebenarnya ia ingin segera mandi, namun rasa kantuk yang menyerang lebih dominan. Ia melihat tangan kanannya yang sedari tadi digenggam oleh Zayn.
"Cih, apa sih maunya dia? Tanganku sampai merah begini gara-gara dia."
Sekitar dua jam Visha terlelap dalam tidur nyenyaknya. Entah sudah berapa kali ponselnya berdering panggilan dari Zayn.
Zayn mulai kesal karena tak satupun panggilannya di respon oleh Visha. Berkali-kali menekan bel kamarnya pun tak ada respon. Zayn khawatir terjadi sesuatu dengan Visha. Ia memutuskan memanggil petugas hotel untuk membuka paksa pintu kamar Visha.
Zayn terkejut karena mendapati Visha tertidur dengan masih memakai pakaian kerjanya.
Zayn memberi tanda kepada petugas hotel untuk segera keluar. Ia tak mau tidur Visha terganggu.
"Dia pasti kelelahan. Sampai tak mempan dibangunkan dengan cara apapun."
Zayn duduk di tepi ranjang Visha. Memperhatikan wanita yang sedang terlelap itu.
Tangannya terulur untuk membelai rambut Visha. Pelan Zayn membelai kepala Visha.
Dan tak butuh waktu lama, tiba-tiba Visha terbangun dari tidurnya.
"Astaga!!" seru Zayn terkejut.
"Pak Zayn? Bagaimana bisa bapak ada di kamarku?"
"Tenanglah, jangan berpikir macam-macam. Aku tak ada maksud buruk kepadamu."
"Maaf, Pak. Saya ketiduran. Mungkin karena terlalu lelah." cengir Visha.
"Ya sudah, sekarang bersiaplah. Saya tunggu kamu di resto bawah."
"Baik, Pak."
"Ya ampun!!! Pantas saja dia sampai mendobrak pintu kamarku. Ternyata dia menghubungiku sebanyak 50 kali."
Visha merutuki dirinya sendiri.
Beberapa menit kemudian, Visha telah mengganti baju kantornya dengan dress selutut berwarna army berlengan tiga perempat. Tak lupa sedikit lipbalm warna nude ia oleskan dibibirnya. Diliriknya jam tangan, ternyata sudah waktunya makan malam.
Hotel Royale terkenal dengan restonya yang menyajikan makanan enak. Visha berjalan masuk ke dalam resto mencari keberadaan Zayn.
Zayn melambaikan tangannya ke arah Visha. Kemudian Visha melangkah ke meja pesanan Zayn.
"Maaf, Pak jika menunggu lama."
"Tidak apa. Silahkan duduk. Kamu ingin pesan apa?"
"Apa saja terserah bapak."
"Kenapa terus bicara formal padaku? Ini bukan di kantor, Visha. Panggil namaku saja."
"Heh? Tapi Pak ... "
"Tak ada tapi, Visha. Bisa tidak sekali saja kau mengabulkan permintaanku."
Visha mengangguk.
Tak lama pesanan mereka pun datang. Visha sibuk memandang ke arah piringnya. Sedang Zayn, malah sibuk memandangi Visha.
"Zayn, berhenti menatapku begitu!"
Zayn tersenyum penuh arti. "Baiklah. Aku hanya ingin membuatmu menyerah saja."
__ADS_1
"Menyerah atas apa?" Visha mulai jengah.
"Menyerah dari... kegigihan hatimu."
Visha menghentikan makannya. Ia letakkan sendok dan garpu di atas meja.
"Aku ingin kau memberiku satu ... saja .... kesempatan untuk bisa singgah dihatimu." ungkap Zayn tanpa berbasa-basi.
DEG
"Apa tidak ada lagi permintaan selain hal itu?" tanya Visha dengan menatap ke arah lain. Saat ini ia tak bisa jika matanya harus beradu dengan manik milik Zayn.
"Visha..." Zayn meraih jemari Visha.
Visha terkejut dengan sentuhan tangan Zayn.
"Aku ingin membuatmu bahagia..." Dan kini Visha berani menatap kedua manik indah milik Zayn.
Sejenak semuanya sangat membuai. Visha sadar jika ia tak pantas mendapat semua perhatian indah ini. Ia segera melepas tangannya dari Zayn.
Visha kembali memandang ke segala arah. Degup jantungnya sudah tak terkontrol lagi sepertinya.
"Bisakah kau memberiku kesempatan untuk bisa membuatmu bahagia?" Zayn seakan mengulang kalimatnya.
"Aku sudah cukup bahagia. Dengan memiliki perkerjaan yang bagus, dan kuliahku selesai dengan baik. Aku sudah merasa bahagia, Zayn. Kebahagiaan apa lagi yang ingin kau tawarkan padaku?"
"............."
"Ketika klien menyukai desain yang kubuat, ketika aku berhasil dalam setiap rapat yang kita lalui, ketika aku telah membuat orang disekelilingku tertawa, itu adalah kebahagiaan untukku. Kebahagiaan yang berarti." lanjut Visha.
"Baiklah, aku mengerti. Kita lanjutkan makan kita setelah itu istirahat."
Dan mereka berdua melanjutkan makan malam mereka dalam diam. Visha merasa tidak enak sudah berkata banyak hal pada Zayn.
Apa dia marah? Kenapa sekarang dia hanya diam? Apa aku terlalu banyak bicara tadi? Duh, kenapa jadi serba salah gini sih?
.
.
Usai makan malam, mereka berjalan beriringan menuju kamar mereka. Kini tangan Zayn tak meraih tangan Visha.
Mereka menaiki lift menuju lantai 10. Begitu pintu lift terbuka, Zayn keluar lebih dulu. Visha makin merasa canggung berdua dengan Zayn seperti ini.
"Pak..." panggil Visha ketika Zayn akan masuk ke dalam kamarnya.
"Eh, maksudku ... Zayn ... "
"Ada apa?" tanya Zayn datar.
"Emm, aku ... aku ... minta maaf. Bukan maksudku untuk ... "
Tanpa babibu lagi alias berbasa basi lagi, Zayn segera meraih tubuh Visha dalam dekapannya. Visha membulatkan matanya sempurna.
"Pak ... "
"Biarkan aku seperti ini sebentar saja..." bisik Zayn lirih.
...πππ...
^^^bersambung^^^
...*Hayoooo tim Zayn atau tim Galang? π¬π¬...
...Atau tim yang lainnya? π...
__ADS_1
...*Tunjukkan dukungan anda dgn mengklik tanda πlike, mengetik komen, dan klik favorit cerita ini....
...*terima kasih*...