
...πππ...
Bian terbangun lebih dulu dan melihat Visha masih terbuai dalam mimpinya. Ia memandangi wajah Visha yang terlihat damai dalam tidurnya.
Aku harus segera menikahimu, Visha. Aku tidak mau ada orang lain yang mendekatimu, terlebih lagi Zayn...
Bian menuju kamar mandi dan membersihkan diri. Tak lama Visha terbangun dan tak mendapati Bian ada di sampingnya.
Bian keluar dari kamar mandi dengan sudah memakai setelan kemeja dan celana kerjanya. "Kau sudah bangun?"
"Pak Bian?" Visha mengerjapkan matanya.
Bian memutar bola matanya. "Kau masih memanggilku dengan formal." Bian menghampiri Visha yang sudah duduk di tepi ranjang.
"Selamat pagi, sayang..." ucap Bian sambil mengelus rambut Visha.
Wajah Visha memanas. Ia menunduk karena sangat malu. Wajah bangun tidurnya sudah terekspos oleh Bian.
Bian duduk di samping Visha. "Jangan menundukkan kepalamu. Aku malah suka dengan wajah bangun tidurmu..."
"Eh? Apa?"
"Bersiaplah, aku akan mengantarmu ke rumah kosmu, lalu kita berangkat bersama."
Visha mengangguk dan bergegas menuju kamar mandi. Namun tiba-tiba tangannya di tarik oleh Bian dan membuatnya duduk di pangkuan Bian.
"Pak... Apa yang bapak lakukan? Bukankah tadi menyuruhku bersiap-siap?"
Bian memeluk erat tubuh Visha di pangkuannya. "Berikan aku satu kecupan." ucapnya.
"Ish, apaan sih!"
"Ayo, cepat! Atau kita akan begini terus sampai siang."
CUP
Satu kecupan mendarat di pipi Bian.
"Bukan disitu! Tapi disini!" Bian menunjuk ke arah bibirnya.
"Tidak! Cepat lepaskan, aku harus segera ke kamar mandi."
"Tidak akan kulepas juga!"
Visha mendengus sebal dengan tingkah Bian. Namun ia tak akan menang melawan Bian.
"Baiklah..." Visha menjawab pasrah.
Visha mendekatkan wajahnya ke arah Bian yang memang sudah sangat dekat karena posisinya ada dipangkuan Bian.
Mendapat respon lambat dari Visha, Bian dengan cepat meraih tengkuk Visha dan menyesap habis bibir Visha. Visha mengalungkan tangannya di leher Bian. Ciuman panas kembali terjadi, ditambah tangan Bian yang sudah bergerilya masuk ke dalam baju tidur Visha.
"Pak..." Visha mendorong dada Bian.
__ADS_1
"Kenapa?"
"Kita harus berangkat kerja."
"Kau sendiri yang memulainya."
Visha memutar bola matanya, "Ini karena permintaan aneh bapak..."
Bian akan kembali meraih bibir Visha namun terinterupsi karena ponselnya berdering. Visha buru-buru menghambur ke kamar mandi karena tahu Bian harus mengangkat panggilan teleponnya.
.
.
.
Bian memutuskan untuk tidak mengantar Visha ke kantor namun ke lokasi proyek. Ia tak mau Visha harus bertemu dengan Zayn.
Bian meminta Pak Burhan, supirnya untuk keluar dari mobil karena ada hal yang ingin ia bicarakan dengan Visha.
"Eh? Kenapa mengantarku kesini? Aku harus ke kantor, Pak. Ada berkas yang harus kuberikan pada Pak Zayn." Visha terlihat kesal.
"Aku tidak suka kau berlama-lama bersama Zayn. Dan itu? Apa itu? Cincin apa yang ada di jarimu? Itu pasti pemberian dari Zayn 'kan?"
"Oh ini..." Tiba-tiba Visha memiliki ide jahil di otaknya.
"Bagus 'kan Pak? Ini cincin berlian asli lho!" Visha menunjukkan jari manisnya di depan Bian sambil menggodanya.
"Wah, benarkah?" Visha makin menggoda Bian dengan cincin di jarinya. "Itu berarti cincin ini sangat berharga dong! Dan aku tidak boleh melepasnya..."
"Hentikan, Visha!" Bian menaikkan nada suaranya. Membuat Visha terdiam dan menutup rapat bibirnya.
"Aku tidak akan membiarkan Zayn merebutmu dariku. Kau sebaiknya cepat kembalikan cincin itu padanya dan akhiri hubungan kalian. Kalau tidak, aku sendiri yang akan mengembalikkan itu padanya dan akan kukatakan yang sebenarnya tentang diriku."
Visha mengerutkan dahinya heran. Ia sungguh tak mengerti dengan sikap Bian. "Baiklah, akan kupikirkan cara untuk mengembalikannya dan memutuskan hubungan kami." jawab Visha pasrah.
"Bagus... Itu baru sayangku..." Bian mengelus lembut rambut Visha yang terurai. "Tumben kau mengurai rambutmu? Biasanya kau selalu menguncirnya ke belakang. Jangan bilang kau ingin menggoda Zayn dengan menyibakkan rambutmu."
"Astaga! Kenapa bapak berpikiran seperti itu?"
"Aku benar-benar tak suka kau bekerja bersama Zayn. Keluarlah dari Zayn Building dan bekerjalah padaku."
"Lho, kok begitu? Aku tidak bisa keluar begitu saja dari sana, karena aku sedang menangani proyekmu juga."
"Proyek ini bisa di kerjakan oleh siapa saja. Dan tidak harus kau yang memimpin proyek ini."
Kini mereka malah berdebat. Visha dengan argumennya, dan Bian dengan sejuta alasannya agar Visha tak berdekatan lagi dengan Zayn.
"Jadi, sebenarnya bapak datang kesini karena ingin menjauhkan aku dari Pak Zayn? Bukan untuk mengawasi proyek, apa benar begitu?" Visha bertanya ketus saking kesalnya.
"Kau sudah tahu untuk apa bertanya!" jawab Bian tak kalah ketus.
"Astaga! Memang harusnya aku tidak datang ke kamar hotelmu semalam. Aku benar-benar menyesal sekarang." Visha akan bergegas membuka pintu mobil. Ia ingin segera keluar dari mobil dan mengakhiri perdebatan ini.
__ADS_1
"Mau kemana kau?"
"Aku akan bekerja. Malas meladeni bapak yang cemburu tingkat akut!"
"Kau ini!" Bian menarik tangan Visha dan membuat tubuh Visha terjerembab ke pelukan Bian. Bian mengunci tubuh Visha dengan tangannya.
"Lepaskan, Pak! Aku harus bekerja!"
"Tidak akan! Aku tidak akan melepaskanmu sebelum kau berjanji akan memutuskan hubunganmu dengan Zayn hari ini juga!"
"Kalau begitu bapak juga harus memutuskan hubungan bapak dengan Sania hari ini juga!" Visha tak mau kalah.
"Kalau itu... Aku tidak bisa. Aku harus menjadikan Sania saksi kunci atas apa yang menimpa diriku sebelum aku menceraikannya."
"Cerai? Bahkan pernikahan kalian tidak pernah ada!" Visha makin sarkastik.
"Baiklah, akan kupikirkan cara agar aku bisa lepas dari Sania. Tapi untuk Zayn... Aku benar-benar tidak bisa melihatmu bekerja dengannya. Kumohon mengertilah..." Bian mulai menurunkan suaranya.
"Aku akan mengakhiri hubungan kami, tapi aku tidak bisa berhenti begitu saja dari pekerjaanku. Itu sangat tidak profesional!"
"Kau janji?"
"Iya! Sekarang lepaskan aku! Pak Heru pasti sudah menungguku."
Bian melepaskan tangannya dari tubuh Visha. Namun ia meraih wajah Visha dengan cepat.
Lanjutan dari morning kiss yang terjadi di hotel kembali berlanjut di dalam mobil. Bian tak bisa melepas Visha barang sedetikpun. Visha yang harus menghentikan Bian.
"Pak... Kita harus bekerja." Ucap Visha saat tautan bibirnya telah lepas.
"Huft! Baiklah. Malam ini menginaplah lagi di kamarku. Dan tak ada penolakan!"
Visha yang tadinya akan menolak, tak bisa menyuarakan suaranya karena Bian telah memberi peringatan. Ia hanya bisa menjawab pasrah. "Iya, baiklah. Aku akan menginap di tempatmu. Sudah puas?"
Bian tersenyum lebar. "Selamat bekerja, sayangku..."
"Hmmm," Visha hanya menjawab dengan berdehem. Lalu turun dari mobil dan merapikan kemeja juga rambutnya yang dibuat berantakan oleh Bian.
...πππ...
bersambung,,,
.
.
.
*Meski Bian adalah Rocky, tapi disini dia tetap dipanggil Bian, karena memang ceritanya kan wajahnya sudah berubah. Tapi dia akan kembali dipanggil Rocky saat semua hal sudah terbongkar. Mari nantikan saat itu tiba yaπ
*Jangan lupa tinggalkan jejak kalianπ£karena itu adalah satu kekuatan tersendiri untukku πͺπͺ
...~thank you~...
__ADS_1