
...πππ...
Bian dan Donny duduk berdua di balkon apartemen. Mereka saling bercerita tentang apa yang terjadi selama tiga tahun ini.
"Jadi, Bos mengalami koma selama dua tahun? Dan selama itu juga nona Sania menyembunyikan bos dari dunia luar dan mengganti identitas bos menjadi Biantara Adiguna karena bos mengalami amnesia." Donny mencoba mengurutkan satu demi satu peristiwa yang sudah terjadi.
"Lantas bagaimana dengan pernikahan bos dan nona Sania? Bos benar-benar menikahinya? Atau..." Donny tak mampu melanjutkan.
"Entahlah... Selama aku bersamanya aku tidak merasakan apapun padanya."
"Jangan bohong, bos!" Donny menyenggol lengan Bian.
"Apa maksudmu?" Bian mendelik ke arah Donny.
"Kalian adalah pasangan suami istri, mana mungkin kalian tidak..." Donny terkekeh tak mampu melanjutkan kalimatnya.
"Kau mau kupukul, huh?"
"Aku hanya bertanya, bos..."
"Sania memang cantik dan sangat menggoda, tapi... entah kenapa aku bahkan tak ingin berdekatan dengannya."
Donny terkesiap. "Benarkah? Jadi bos tidak... melakukan yang biasa suami istri lakukan?"
Bian memukul lengan Donny. "Jangan bertanya tentang hal-hal seperti itu!"
"Baik, bos! Lalu, apa rencana bos setelah bos mengingat semuanya?"
"Aku ingin menemui Visha... Aku sangat merindukannya..."
"Bos... Kau sudah melihat postingan Zayn Ibrahim?"
"Kau melihatnya juga?"
"Dia sedang jadi trending topic di grup pengusaha muda. Dia sudah lama menduda dan kini dia..."
"Jangan melanjutkannya! Aku sangat yakin Visha menerima Zayn karena kontrak kerja yang kulakukan dengan Zayn. Ditambah lagi... Ini adalah kesalahanku karena sudah menciumnya di depan Zayn..."
"Ya ampun, bos! Bahkan kau tetap tertarik pada Visha meski kau sudah memiliki Sania di sampingmu! Aku benar-benar tidak percaya!"
"Don, tolong periksa semuanya! Aku tidak bisa terus-terusan menjadi Biantara."
"Bos tenang saja! Kita pasti akan menemukan siapa pelakunya. Bos... Apa bos tidak curiga dengan...?"
"Apa?"
"Pak Galang. Apa pernah terbersit dipikiran bos jika semua ini ada campur tangannya?"
Bian tampak terdiam. Ia tidak mau percaya jika kakak yang sangat ia sayangi tega melakukan hal seperti ini padanya.
"Tidak, Don! Kurasa Kak Galang tidak akan melakukan semua ini."
"Jadi, bos akan mengatakan padanya jika bos adalah Rocky?"
"Tidak. Untuk saat ini lebih baik hanya kau saja yang tahu soal ini, dan juga... Visha. Aku sangat berharap dia bisa percaya jika aku adalah Rocky. Aku sangat tertekan karena selalu memikirkan tentangnya. Bahkan saat menjadi Bian pun, aku selalu menginginkannya. Aku sangat mencintainya, Don..."
Donny menatap iba bos sekaligus sahabatnya itu. "Bersabarlah, bos. Bos pasti bisa bersatu lagi dengan Visha."
"Terima kasih, Don. Kau adalah teman terbaik yang pernah kumiliki. Aku senang kau masih percaya padaku..."
"Senang rasanya kau kembali, bos..." Donny memberikan pelukan seorang teman pada Bian.
__ADS_1
...β’ β’ β’ β’ β’...
Visha mendapat tatapan tidak menyenangkan dari beberapa karyawan Zayn Building. Sangat mengherankan kenapa orang-orang suka sekali bergosip tanpa mengetahui kenyataan yang sebenarnya. Visha berusaha cuek dan tak mau ambil pusing dengan pemikiran mereka terhadapnya. Yang Visha yakini adalah dia melakukan semua ini demi mereka, wahai karyawan Zayn Building.
"Sudah, Sha. Jangan dengarkan mereka! Mereka hanya iri kepadamu yang bisa mendapatkan hati Pak Zayn." ucap Lala mencoba menenangkan Visha.
Visha hanya tersenyum kecil menanggapi ucapan Lala. Tidak ada yang tahu bagaimana perasaannya yang sebenarnya. Sudah berhari-hari ini ia menangis karena sudah mengambil keputusan ini. Jujur Visha masih menyesali keputusannya ini.
Dilihatnya cincin berlian yang Zayn berikan padanya. Cincin itu melingkar di jari manis Visha. Namun kalung dari Rocky juga masih setia bertengger di leher jenjangnya. Ia tak bisa melepaskan itu.
Saat asyik melamun dengan berbagai kemungkinan yang akan terjadi pada hidupnya, tiba-tiba ponsel Visha berdering. Ibunya menelepon.
"Halo, bu. Ada apa?"
"Nduk, apa kau sudah dengar kabar?"
"Kabar apa bu?"
"Pak Leonard sakit. Dia di rawat di rumah sakit."
"Hah? Papa sakit?"
"Iya, nduk. Bapak dan ibu rencananya akan pergi menjenguk kesana. Kamu sebaiknya ikut juga karena mereka sudah sangat baik pada Ali."
"Iya, bu. Visha akan ikut kesana. Kapan ibu dan bapak akan kesana? Biar Visha pesankan tiketnya."
"Akhir pekan ini saja, nduk. Nunggu Ali libur sekolah."
"Baiklah, Visha akan pesankan tiketnya."
Panggilan berakhir. Visha langsung membuka aplikasi pembelian tiket online dari ponselnya. Ia tak menyadari jika Zayn sudah berada di sampingnya dan melihat jika Visha sedang memesan tiket ke Jakarta.
"Astaga! Bapak?! Kenapa mengagetkanku?"
"Kau saja yang terlalu fokus hingga tak melihatku masuk."
"Pak, aku minta maaf, sepertinya aku tidak bisa ikut bapak ke Surabaya untuk bertemu Lyra. Akhir pekan ini aku akan menjenguk Pak Leonard."
"Aku tahu, aku sudah dengar semua pembicaraanmu di telepon."
"Eh?"
"Tidak apa. Bertemu Lyra bisa lain kali." Zayn meraih wajah Visha. Dan itu membuat Visha tidak nyaman.
"Pak... Ini di kantor..."
"Kenapa? Ini kantorku.."
"Eh?"
"Terserah aku dong mau melakukan apa saja..." Zayn mendorong tubuh Visha hingga menempel dinding.
"Pak... Tolong jangan begini..." Visha mulai takut jika Zayn melakukan hal yang seperti dalam pikirannya.
Dan benar saja, Zayn benar-benar mendekatkan wajahnya dengan sangat dekat ke wajah Visha, dan menatap bibir Visha dengan mata penuh hasrat.
Visha buru-buru memalingkan wajah saat bibir Zayn ingin meraih bibirnya.
Zayn tersenyum menyeringai. Ia pun mundur. Ia tahu jika Visha tak mencintainya.
"Kau bahkan tak menolak saat Bian menciummu..." sarkas Zayn.
__ADS_1
"Pak..."
"Aku tahu, Bian yang memaksamu. Bukan keinginanmu untuk menerima ciuman darinya. Benar begitu 'kan?"
Visha hanya diam. Ia tak ingin berdebat dengan Zayn mengenai hal ini.
"Tapi sekarang akulah kekasihmu. Jadi, kuharap kau tidak menolaknya jika aku menginginkannya." Zayn pun pergi dari ruangan Visha.
Visha memegangi dadanya yang kian sesak. Ia pun berkaca-kaca dan tak mampu menahan air matanya.
Aku benar-benar sudah membuat kesalahan dengan menerima perasaan Zayn. Aku harus bagaimana lagi untuk menghadapinya?
...~β’~β’~β’~...
Akhir pekan ini, Visha, Ali dan kedua orang tuanya tiba di Jakarta dan langsung menuju ke rumah sakit dimana Leonard di rawat.
Leonard masih belum sadarkan diri alias dalam kondisi koma. Elena sangat sedih melihat kondisi suaminya. Ia tak henti menangis. Namun Galang selalu mendampingi mama tirinya itu.
Visha menghampiri Elena dan memeluknya. Visha berusaha menguatkan Elena.
"Terima kasih sudah mau datang." ucap Elena sambil menyeka air matanya.
"Mama bicara apa sih? Bukankah mama sudah menganggapku seperti anak mama? Mama tidak perlu sungkan."
"Iya. Kami turut sedih atas sakitnya Pak Leonard. Semoga ibu tabah menghadapi ini." tambah Yanti, ibu Visha.
"Terima kasih. Kalian menginap dimana? Di rumah kami saja ya?" bujuk Elena.
"Ma, mama sebaiknya istirahat. Biar Galang yang ganti menjaga Papa." ucap Galang.
"Iya, mama ikut kami pulang ke rumah. Nanti malam kita kesini lagi untuk menjenguk Papa." Visha ikut membujuk Elena.
Elena memandangi wajah suaminya yang masih terpejam dari kaca di ruang ICU. Hanya satu orang yang boleh masuk karena harus bergantian. Kini ayah Visha yang sedang menemui Leonard.
Elena akhirnya mengangguk setuju. Yanti memapah Elena menuju keluar rumah sakit. Ali pun mengikuti langkah kedua neneknya.
Sementara Visha masih menunggu ayahnya. Dia duduk didepan ruang ICU bersama Galang.
"Terima kasih sudah datang menjenguk Papa." ucap Galang untuk mengusir kecanggungan.
"Ah, iya. Sama-sama, Mas."
Tak jauh dari mereka duduk, ada sepasang mata yang memperhatikan gerak gerik mereka berdua.
Orang itu mengambil ponselnya, lalu menghubungi seseorang.
"Halo, bos... Visha ada disini. Dia ada di Jakarta."
...πππ...
bersambung,,,
.
.
*jangan lupa tinggalkan jempol kalian π karena kalian adalah semangatkuhπͺπͺ
*silahkan katakan apa yg ingin kalian katakan di kolom komentar π
...*terima kasih*...
__ADS_1