Labuhan Cinta Sang Playboy

Labuhan Cinta Sang Playboy
Proyek Baru Rocky


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


Rocky kembali menuju ke ruangannya setelah berpisah dengan Visha. Rocky merasa sakit di tubuhnya akibat pukulan preman-preman kemarin sudah tak dirasakannya lagi. Rocky tersenyum selama perjalanan menuju kantornya.


Sementara Visha masih membersihkan diri di toilet. Ia menatap dirinya di cermin. Ia mengelus bibirnya. Ia menutup mata seakan tak percaya jika ia menerima ciuman dari Rocky untuk kedua kalinya.


Visha memandangi cincin pertunangannya dari Galang. Apa yang sebenarnya ia rasakan pada Galang?


Bahkan ia selalu menolak saat Galang ingin menciumnya. Tapi kenapa ia tak bisa menolak saat Rocky yang melakukannya?


Visha memegangi dadanya. Ia merasa melakukan kesalahan bertubi-tubi. Tak bisa di pungkiri jika pesona Rocky sangat memikat hatinya, meski kadang sikap Rocky sinis terhadap Visha.


Visha keluar dari toilet dan berpapasan dengan seseorang.


"Visha?"


"Bu Sania?"


Sania memandangi Visha yang memakai kemeja bertuliskan Karina Catering.


"Apa yang kau lakukan disini?"


"Saya mengantar makanan kesini."


"Oh, begitu. Apa kau tahu dimana kantor Rocky? Sedari tadi aku menghubungi ponselnya tapi tidak dijawab."


"Kantor Pak Rocky ada dilantai 13, Bu." terang Visha.


"Oh, terima kasih. Aku permisi dulu."


Sania melangkah pergi menuju kantor Rocky. Namun baru beberapa langkah, ia berhenti.


Sania memandangi Visha yang nampak menuju ke sebuah mobil kontainer bertuliskan Karina Catering.


Gadis itu ternyata ada disini juga. Pantas saja dia terlihat dekat dengan Rocky. Suatu kebetulan atau ... memang disengaja?


Sania tak ambil pusing dan kembali melangkahkan kakinya menuju lift.


...***...


Sesampainya di depan kantor RAB Cons, Sania disambut oleh Donny.


"Nona Sania! Silahkan masuk! Bos Rocky ada diruangannya."


Rocky terlihat sedang menatap layar komputernya saat Sania memasuki ruangannya.


"Kau sedang sibuk?"


"Sania? Tidak begitu sibuk. Duduklah!"


"Aku sudah dengar apa yang menimpamu semalam. Aku benar-benar minta maaf."


"Kenapa kau yang meminta maaf? Aku baik-baik saja. Hanya luka memar tidak masalah."


"Yogi yang mengirim orang-orang itu untuk memberimu pelajaran."


"Apa?!" Rocky mengepalkan tangannya.


"Aku akan berpisah dengannya. Aku sudah tidak tahan lagi hidup bersamanya."


"Dasar brengsek!!! Bisanya hanya membayar preman!!" Umpat Rocky.


"Rocky, sebagai tanda permintaan maaf dariku, aku ingin kau menerima proyek dariku."


"Proyek apa?"


"Aku punya rencana untuk merenovasi panti asuhan sekaligus panti jompo. Apa kau bisa menerima tawaran dariku ini?"

__ADS_1


Rocky berbinar gembira. "Tentu saja! Aku akan menerimanya."


"Terima kasih."


"Aku yang harus berterimakasih. Karena kau memberiku proyek baru."


"Bagaimana kalau kita makan siang bersama?"


"Boleh. Eh tapi, aku sudah punya nasi kotak untuk makan siang nanti."


"Sejak kapan kau memakai jasa katering untuk makan siang?"


"Beberapa bulan lalu setelah pindah kemari. Brahms Corp juga memakai jasa katering yang sama."


"Oh, begitu ya. Ya sudah, mungkin lain kali saja kita makan siang bersama. Untuk konsep panti yang baru, aku serahkan semuanya padamu."


"Baiklah, aku siap. Sekali lagi terima kasih Sania."


Usai berbincang sebentar, kemudian Sania pamit undur diri dari kantor Rocky.


Rocky memberitahu karyawannya dan mereka semua bersorak gembira menyambut proyek baru mereka.


...***...


Keesokan harinya, Rocky mengadakan rapat bersama timnya untuk membahas konsep renovasi panti asuhan yang baru.


"Baiklah, karena Sania menginginkan konsep yang bagus untuk proyek kita ini. Mari kita lakukan yang terbaik."


"Siap, Pak."


"Saya sudah membuat sketsanya. Kita akan membangun sebuah panti asuhan yang cukup elegan dan mewah dengan fasilitas yang paling bagus. Saya sangat tahu selera Sania. Dia menyukai keindahan dan kemewahan. Kita harus pastikan kita menggunakan bahan-bahan yang berkualitas. Kemudian ... "


"Tunggu sebentar, Pak Rocky!!"


Sebuah suara menginterupsi presentasi Rocky.


Rocky membulatkan mata sempurna.


Itu adalah Navisha yang dengan berani menghentikan presentasi Rocky.


"Silahkan!"


"Menurut saya, konsep yang bapak jelaskan tidak sesuai dengan konsep bangunan yang akan bapak renovasi. Panti asuhan sejatinya bisa menjadi tempat yang nyaman untuk anak-anak yang tinggal disana. Ditambah lagi, gedung mereka bersebelahan dengan panti jompo. Kita tidak bisa menggunakan konsep serba mewah dan elegan karena mereka tidak terbiasa dengan semua itu. Menurut saya, akan lebih cocok jika panti asuhan dikonsepkan sebagai rumah impian untuk penghuninya. Meski pada kenyataannya, tak ada yang bermimpi tinggal di panti asuhan."


Rocky menatap lekat pada Visha yang sedang menjelaskan tentang pendapatnya. Rocky tersenyum menyeringai. Ia merasa kalah dengan wanita yang berdiri di depannya itu.


Ternyata dia pintar juga. Aku tidak menyangka jika dia memiliki ide yang bagus.


.


.


.


"Tunggu, Visha!" Rocky mencegat Visha yang akan beranjak pergi dari gedung Brahms Corp.


"Ada apa?" Tanya Visha dingin.


"Setelah aku berdiskusi dengan timku ... " Rocky terhenti.


"Apa?"


"Sepertinya mereka menyukai konsep yang kau buat. Bisakah kau ... ikut bekerja dalam timku?"


Visha mengerutkan dahi. "Aku tidak mengerti."


"Donny bilang, kau pernah kuliah arsitektur. Pantas saja kau terlihat sangat menguasai bidang ini."

__ADS_1


Visha tersenyum kecil. "Lantas?"


"Bergabunglah denganku! Tidak, maksudku bergabunglah dengan RAB Cons. Bagaimana?"


"Kau serius? Tapi aku bukan seorang sarjana. Aku belum menyelesaikan kuliahku."


"Tidak masalah. Dan kau jangan berpikir aku mengajakmu bergabung karena aku peduli padamu. Aku hanya mengikuti saran dari timku."


Visha nampak berpikir sejenak. "Aku harus membicarakan ini dengan Mas Galang terlebih dulu."


"Baiklah. Kau harus meminta ijin pada calon suamimu lebih dulu." Tutur Rocky tanpa ekspresi.


Rocky melenggang pergi usai bicara dengan Visha. Sejak insiden ciuman beberapa waktu lalu, Visha mulai menjaga jarak dari Rocky. Begitupun juga Rocky. Sikapnya pada Visha kembali dingin, meski dalam hati ia terpaksa melakukannya karena keinginan Visha.


.


.


.


*Flashback*


Rocky menemui Visha di panti jompo usai insiden siang tadi di pantry. Rocky merasa mendapat lampu hijau, maka ia akan terang-terangan mendekati Visha, tak peduli jika Visha adalah calon istri kakaknya.


Visha sedang bersama dengan Nenek Aminah di taman panti. Rocky menghampirinya.


Namun Visha menghindarinya. Rocky terus menampakkan dirinya di depan Visha.


"Apa yang kau lakukan? Aku sedang bekerja!" Ujar Visha kesal dengan tingkah Rocky.


"Aku ingin menatap wajahmu. Apa tidak boleh?"


Visha mendelik. "Berhenti bermain-main, Rocky!"


"Bisa kita bicara?"


Visha menghela nafas. "Baiklah. Kita bicara disana." Tunjuk Visha pada sebuah kursi panjang yang agak jauh dari area panti.


"Apa yang ingin kau bicarakan?" Tanya Visha dengan melipat tangannya didepan dada.


"Tentang kita ... "


"Rocky, aku mohon! Tidak ada apapun diantara kita. Dan asal kau tahu, aku tidak merasakan apapun terhadapmu. Kau yang sudah memaksa menciumku. Aku sudah memaafkanmu. Dan kuanggap semua itu tidak pernah terjadi. Setelah ini, aku ingin kita bersikap seperti tidak ada yang terjadi."


Rocky menatap Visha tak percaya. "Kau yakin dengan ucapanmu?"


"Iya, aku yakin. Aku tidak mungkin mengkhianati Mas Galang! Dia sudah terlalu baik padaku dan Ali."


"Jadi kau bersedia menikah dengan Kak Galang hanya untuk membalas budi?"


".............."


"Kau tidak mencintainya?"


"..............."


"Baiklah. Lakukan hal yang menurutmu benar. Dan aku juga akan melakukan apa yang menurutku benar."


Rocky berbalik badan dan meninggalkan Visha. Tangan Rocky mengepal kuat.


Kau lihat saja, Visha! Sampai kapan kau bertahan menyembunyikan perasaanmu sendiri!


...🍁🍁🍁...


tobe continued,,,,,


*jangan lupa tinggalkan jejak 🐾🐾

__ADS_1


Terima kasih 😘


#selamat berpuasa bagi kalian yang menjalankannya πŸ™πŸ™


__ADS_2