
...πππ...
Sudah hampir satu minggu Rocky mengurung diri di kamar apartemennya. Banyak hal terlintas dalam benaknya terutama tentang Visha. Bagaimana ia sudah sangat menyakiti Visha dan Ali selama bertahun-tahun.
Rasa bersalah mulai menggelayuti hatinya. Ia adalah penyebab kemalangan Visha selama ini. Dan ia tiba-tiba ingat, apa yang pernah dikatakan oleh Ki Damar.
Rocky mulai menata kepingan-kepingan memori yang sudah terjadi dalam hidupnya.
"Jangan-jangan... wanita yang dimaksud oleh Ki Damar adalah... Visha?" gumam Rocky.
Rocky kembali merutuki dirinya. Ia memandang dirinya di cermin.
"Inilah wajah yang sudah membuatmu terluka, Visha. Akulah orang jahat dalam hidupmu... Dan kau tidak pernah mengatakan apapun padaku. Kau lebih memilih menjalani kesakitanmu sendirian..." Rocky meneteskan air matanya.
Dalam isakan tangisnya, ia kembali menatap dirinya di cermin. Dan tiba-tiba ia mengambil kunci mobilnya dan segera keluar dari apartemen.
Ia menghubungi ponsel Visha namun tak diangkat. Ia segera melajukan mobilnya. Ia akan menemui Visha.
Akhirnya ia sadar, jika yang harus dilakukannya adalah meminta maaf. Bukan malah menghindar.
Rocky melajukan mobilnya dengan perasaan bersalah pada Visha. Ia menginjak pedal gas lebih dalam karena ia ingin segera bertemu Visha.
Namun tiba-tiba,
CKIIIIIIIIIIITTTTTTTT!!!
^^^BRAAAAAAKKKKKKK^^^
BRAAAAAKKKKKKKK
^^^DUAAAAAAARRRRRRRR!!!^^^
"Hei, lihat!!! Ada kecelakaan!! Cepat tolong mereka!!!"
"Sepertinya dia masih hidup, cepat tolong mereka!! Mobilnya meledak!!"
.
.
.
.
P R A A N N G G ! !
"Mama? Ada apa?"
"Entahlah, Pa. Tiba-tiba saja gelasnya terlepas dari tangan Mama lalu terjatuh."
"Ya sudah, yang penting Mama tidak terluka."
"Kenapa perasaan Mama tidak enak ya, Pa. Seperti ada sesuatu yang buruk terjadi."
"Mama ini, jangan memikirkan hal yang tidak-tidak."
"Iya, Pa. Semoga hanya perasaan Mama saja."
.
.
.
"Sabar ya, Nduk. Ali pasti baik-baik saja."
"Iya, Bu..."
Visha tak henti menangis. Kondisi Ali kian memburuk. Ia sangat takut jika harus kehilangan putranya.
Jangan ambil dia, ya Tuhan! Aku mohon! Dia adalah hidupku. Dialah segalanya bagiku.
.
.
.
"Bawa saja ke rumah sakit terdekat! Harapan Kita! Cepat! Cepat! Ayo bantu!"
"Ada berapa orang yang ada didalam mobil?" tanya seorang petugas polisi.
"Satu orang, Pak!" jawab seorang saksi.
.
.
.
"Suster! Dokter! Tolong cepat ditangani. Ini korban kecelakaan mobil tunggal. Dan mobilnya meledak."
"Cepat bawa ke ruang operasi!"
.
__ADS_1
.
.
.
"Dok...ter..."
"Eh? Pasiennya masih sadar..."
GREB! (memegang tangan si dokter)
"Dok...ter..." (terbata, menahan sakit.)
"Ada apa? Ada yang ingin anda katakan?"
"Ji..ka.. terjadi se..su..atu... denganku... Tolong... ban..tu.. anak..ini... Di...a... bu...tuh.. do..nor... jan..tung... to..long..lah.."
"............" (dokter berpikir sejenak)
"Baiklah, Pak."
.
.
.
.
"Bu Visha!!! Selamat! Akhirnya Ali mendapatkan donor jantung!"
"Heh?" kaget Visha dan Karina.
"Operasinya akan segera dilakukan. Do'akan semoga lancar."
Visha memeluk Karina dan menangis.
"Tuhan menjawab doa kita, Nduk. Kamu tenanglah! Ali akan segera baik-baik saja."
.
.
.
.
"Mohon maaf... Pasien tidak dapat kami selamatkan. Semoga keluarga tabah!"
"Tidaaaaaakkkk!!! Putraku!!! Rocky!!! Tidaaakkk, Pa, ini mimpi 'kan? Ini pasti mimpi!!!"
"Tidak!!! Itu tidak mungkin!!!"
BRUUUUKKK!!! Elena ambruk.
"Mama!!! Bangun, Ma!!!"
.
.
.
"Selamat ya Bu Visha, operasinya berjalan lancar. Tapi kami harus melakukan observasi lebih dulu, apakah tubuh Ali menerima jantung barunya atau tidak. Sebentar lagi Ali akan dipindahkan ke ruang perawatan."
"Terima kasih banyak, Dokter..."
...***...
Hari ini semua orang tertunduk bersedih. Ada seorang anak manusia yang harus kembali kepada Sang Pencipta.
Awan gelap seakan menyelimuti hati semua orang, termasuk hatiku.
Sungguh aku tak bisa menangis lagi. Semua tangisan itu telah usai. Telah pergi bersama dia yang akhirnya kembali ke tanah.
Aku mematung disini. Memandangi tubuhnya yang tak lagi ada berdiri di sampingku.
Kisah cinta kami... Benar telah usai. Selamat tinggal, Rocky... Selamat tinggal, Cintaku...
Mungkin kita akan bertemu lagi dikehidupan selanjutnya...
Kamu percaya itu, 'kan?
Aku mencintaimu... Selalu mencintaimu... Maaf karena aku tidak sempat mengatakannya...
...***...
-Tempat Pemakaman-
"Pergi kamu!!! Untuk apa kamu datang kesini? Puas kamu sekarang, huh?" Elena mendorong tubuh Visha.
"Sudah, Ma. Jangan salahkan Visha. Ini semua sudah jadi suratan takdir."
"Kamu sudah membunuh putraku!!!"
__ADS_1
"Maaf... Maafkan saya..." Visha tertunduk dengan air mata yang akhirnya mengalir deras.
"Sudah, Ma. Ayo kita pulang!!" Leonard memapah tubuh istrinya untuk segera pergi dari pemakaman.
Galang yang melihat Visha dipermalukan mama tirinya hanya terdiam. Ia pun ikut melangkah pergi dari area pemakaman.
"Nduk..." panggil Karina.
Visha masih berdiri mematung memandangi batu nisan bertuliskan 'Rocky Abraham'.
"Ayo kita pulang! Ali pasti sudah menunggu..."
Visha mengangguk kemudian berusaha menunjukkan senyumnya.
.
.
.
------Satu minggu kemudian,,,
Visha berdiri di depan kamar apartemen Rocky bersama Donny.
"Mbak, jika Mbak tidak bisa melakukannya maka..."
"Tidak apa. Aku bisa kok."
Visha menekan kode kunci kamar Rocky. Pintu pun terbuka. Visha mulai berjalan memasuki ruangan kosong itu. Ruangan yang sudah tak berpenghuni.
Terasa dingin saat memasukinya. Visha menyapu matanya memandangi seluruh ruangan. Ia menuju kamar tidur dan menuju ke walk in closet yang berisi baju-baju milik Rocky. Dibelainya baju yang tertata rapi. Visha tersenyum.
Donny menuju ke meja kerja Rocky. Ia menemukan sebuah kotak perhiasan dan sebuah surat.
"Siapapun yang menemukan ini... Tolong kembalikan kepada pemiliknya..."
Donny menutup mulutnya tak percaya. Ia mencari Visha yang tadi dilihatnya pergi ke kamar tidur.
"Mbak..."
Visha menoleh. Donny memberikan kotak itu kepada Visha.
Visha membukanya. Kemudian tangisnya pecah. Itu adalah kalung yang ia tinggalkan di depan rumah sakit.
Donny merasa iba mendengar tangis Visha. Ia pun membiarkan Visha tetap di kamar Rocky.
Visha menuju ke tempat tidur Rocky. Ia merebahkan tubuhnya disana dengan tetap menggenggam kalung pemberian Rocky.
Visha mengelus tempat tidur. Masih tercium aroma tubuh Rocky disana.
"Disinilah sayangku tidur..." ucap Visha dengan berlinang air mata.
Visha meringkuk dan menangis dalam diam. Hingga akhirnya ia lelah menangis dan akhirnya tertidur.
.
.
.
Saat Donny sedang merapikan barang-barang Rocky, pintu apartemen tiba-tiba terbuka.
"Terima kasih, Pak." Itu adalah Jemmy yang datang bersama karyawan apartemen.
"Donny?" Jemmy mengerutkan dahi. "Kamu ada disini? Bagaimana kamu bisa masuk?"
"Aku bersama Navisha. Dia yang membuka pintunya."
"Jadi hubungan mereka memang sudah sejauh itu."
Donny mulai kesal. "Mau apa kau datang kesini?"
"Pak Leonard memintaku untuk membereskan apartemen dan membawa barang-barang milik Rocky. Cepat bereskan semuanya!" perintah Jemmy kepada orang-orang suruhannya.
"Tunggu dulu! Masih ada Visha di kamar Bos Rocky."
"Dia sudah bukan bosmu lagi."
Donny mengepalkan tangannya kesal.
Visha yang mendengar keributan dari luar kamar Rocky, akhirnya terbangun. Ia segera menemui Donny.
Jemmy melihat Visha keluar dari kamar Rocky dan menyapanya. "Adakah barang yang ingin kamu ambil, Visha?" tanya Jemmy.
Visha mengerjapkan matanya beberapa kali agar tak lagi menangis.
"Tidak ada. Aku cukup memiliki hatinya saja..." jawab Visha dengan air mata yang tertahan di pelupuk matanya.
...πππ...
bersambung lagi yaa....
πππaku tidak kuaaattttπ₯π₯π₯
part ini terlalu nyesek buatkuhhhπ©
__ADS_1
how about you?
Jangan lupa tinggalkan jejak π£π£