
...πππ...
"Ayo ikut! Kita perlu merias wajahmu!"
"Heh?"
Lagi-lagi Visha tak bisa menolak sikap Rocky padanya. Rocky membawa Visha ke store kosmetik.
Rocky menyerahkan Visha pada Lia yang ahli merias wajah.
"Dandani dia agar nampak berbeda. Tapi jangan terlalu tebal, yang natural saja."
Visha mendengus sebal. Tapi ia tak bisa melawan.
"Baik, Pak." Jawab Lia dengan membawa Visha ke ruang make-up.
Tak butuh waktu lama untuk merias wajah ala natural. Visha keluar dari ruang makeup dan menemui Rocky.
Rocky terpana melihat penampilan Visha yang berbeda.
"Apa ada yang salah dengan diriku?" Tanya Visha karena risih atas tatapan Rocky.
"Tidak! Kau lebih baik begini. Sebaiknya setiap hari kau merias wajahmu dulu sebelum berangkat ke kantor."
"Mana sempat! Aku harus mengantar Ali ke sekolah. Dan paling tidak aku harus tetap membantu Ibu."
"Kau ini! Selalu saja membantah."
"Baiklah, akan aku usahakan. Tapi aku tidak berjanji. Lagipula pekerjaan kita tidak menuntut untuk tampil cantik."
Visha melenggang pergi. Ia malas jika harus mendengar omelan Rocky lebih lama lagi.
.
.
.
Sore harinya, Visha mendatangi rumah singgah milik keluarga Sania dimana penghuni panti sementara tinggal disana hingga proses renovasi selesai.
Visha nampak asyik bergumul dengan anak-anak panti. Sesekali ia berceloteh ria dan membuat anak-anak tertawa.
Rocky memandangi Visha dengan senyum tersungging di bibirnya.
"Jadi, sejak kapan dia ikut bekerja di perusahaanmu?" Suara Sania membuyarkan Rocky.
"Sejak hari ini."
"Benarkah? Aku tidak menyangka jika dia pandai dalam hal arsitektur."
"Dia pernah berkuliah di jurusan arsitek. Kak Galang bilang dia akan membuat Visha kembali melanjutkan kuliahnya yang sempat tertunda."
"Kalau boleh tahu, kenapa dia tiba-tiba berhenti kuliah?"
"Entahlah. Kudengar ia menikah muda, makanya dia gagal lanjut kuliah."
"Oh, begitu."
Sania tak bertanya lagi. Ia memperhatikan Rocky yang sedari tadi tatapannya tak berpaling dari sosok Visha. Sania merasa ada yang aneh dengan hubungan Rocky dan Visha.
...***...
"Sudah malam, Nduk. Sebaiknya kau beristirahat."Karina berujar pada Visha yang tak berhenti bekerja sejak pulang tadi.
"Sebentar lagi, Bu."
"Kau membuat apa?"
"Sketsa kamar anak-anak panti. Mereka memiliki impian masing-masing."
"Lalu apa yang akan kau lakukan?"
__ADS_1
"Aku akan mewujudkan impian mereka." Visha tersenyum lebar.
"Lalu, apa impianmu? Kau pasti memiliki impian bukan?"
Visha menerawang jauh. "Entahlah, Bu. Sampai sekarang aku tidak tahu apa tujuan hidupku. Yang jelas, aku akan hidup untuk putraku."
Karina membelai lembut kepala Visha. "Ibu selalu mendo'akan yang terbaik untukmu."
"Terima kasih, Bu."
.
.
.
Pagi harinya, Visha mengunjungi klinik Dokter Diana terlebih dahulu. Ia sudah meminta ijin pada Rocky jika ia akan terlambat datang ke kantor.
Sudah dua bulan Visha menjalani sesi hipnoterapi. Ia merasa rileks saat Dokter Diana menghipnotisnya agar bisa bercerita tentang masa lalunya.
"Apa kau senang akan bekerja dengannya?"
"Entahlah, Dok. Aku tidak tahu apa yang dirasakan hatiku."
"Bagaimana perasaanmu terhadapnya? Apa kau membencinya?"
"Tidak, aku tidak membencinya. Dari awal aku tak bisa membencinya. Dia adalah orang dari masa laluku."
"Kau merindukannya selama ini?"
"Iya. Aku merindukannya. Meski dia tak tahu siapa diriku."
"Lalu bagaimana dengan Galang? Apa kau mencintainya?"
"Mas Galang orang yang sangat baik. Aku berhutang budi padanya."
"Bukankah menikah harus dengan cinta?"
"Ya sudah. Jangan katakan jika kau tak bisa katakan. Kita sudahi dulu sesi kali ini."
Dokter Diana kembali membawa Visha ke alam sadarnya.
Visha mulai membuka mata.
"Bagaimana perasaanmu?"
"Lebih baik. Terima kasih, Dokter.
...***...
Pukul sembilan pagi, Visha langsung mendatangi panti asuhan yang akan direnovasi.
Sudah ada beberapa pekerja disana. Visha langsung ikut bergabung dan membuka lembaran sketsanya.
Tembok-tembok yang dirasa sudah rapuh segera dirobohkan oleh beberapa pekerja bangunan.
"Mbak Visha, pakai dulu helmnya." Ucap Eman sembari memberikan helm proyek pada Visha.
Mereka berdiskusi tentang seperti apa konsep yang Visha inginkan untuk anak-anak panti.
"Ide yang bagus, Mbak. Aku yakin Pak Rocky setuju."
"Ada apa menyebut namaku?"
Visha terkejut karena Rocky tiba-tiba ada di belakangnya.
Visha merasa aneh berada di dekat Rocky.
"Aku permisi dulu! Aku akan memeriksa pekerja di sebelah sana." Visha pamit undur diri.
Ada apa dengannya? Apa dia mulai grogi berada di dekatku?
__ADS_1
Rocky tersenyum kecil melihat tingkah Visha.
Visha membantu para pekerja mengaduk semen dan pasir. Rocky mengamati Visha dari jauh. Ia tak habis pikir kenapa ia harus repot ikut menambal dinding.
"Apa yang kau lakukan? Seorang arsitek tak harus turun tangan mengaduk semen dan pasir."
"Tidak apa. Aku sudah terbiasa melakukannya."
"Kau berbakat juga ya jadi pekerja bangunan." Rocky terkekeh.
Visha kesal melihat Rocky menertawakannya.
"Pergilah jika tidak mau setelan jasmu kotor terkena adukan semen."
Rocky merasa harga dirinya telah diejek oleh Visha. Ia segera melepas jasnya, dan menggulung kemeja panjangnya. Ia mengikuti Visha mengambil campuran semen dan pasir dan mulai membuat pondasi dinding yang dipadukan dengan batu bata.
"Apa yang kau lakukan?"
"Kau terlalu meremehkanku! Kau pikir aku tidak bisa melakukan apa yang pekerja bangunan lakukan?"
"Cih, begitu saja langsung terprovokasi," gumam Visha.
Kemudian mereka berdua bekerja sama membuat dinding yang kokoh untuk panti asuhan. Sesekali mereka tertawa bersama.
Dari jauh, Sania memperhatikan tingkah Rocky dan Visha. Ia mengepalkan tangannya melihat kedekatan antara Rocky dan Visha.
...***...
Sementara itu, Siska mendapat panggilan telepon dari Erna, orang yang pernah ia mintai tolong untuk mencari tahu tentang Navisha.
Secara tak terduga, Erna sedang berada di Jakarta karena suatu urusan. Erna menemui Siska di sebuah kafe yang tak jauh dari kantornya.
"Erna? Lama tidak berjumpa!" Siska memeluk Erna dan Erna menyambutnya.
"Iya, Sis. Bagaimana kabarmu?"
"Aku baik. Kau sendiri? Sepertinya sudah sukses jadi istri pengusaha batik."
"Ah, kamu bisa saja. Apa kau sudah menikah?"
"Belum, Erna. Aku masih ... menunggu seseorang."
"Jangan terlalu lama sendiri. Jika pria yang kau tunggu tak menunjukkan kemajuan, apa salahnya jika kau yang maju duluan. Jaman sekarang, wanita bisa dengan leluasa menunjukkan perasaannya."
"Iya juga. Mungkin nanti aku akan maju lebih dulu. Setelah aku mengetahui tentang masa lalu Visha."
"Oh ya, apa kabar dengannya? Dia ternyata tinggal di Jakarta? Sejak kapan?"
"Itulah yang ingin aku tanyakan padamu. Apa kau dapat informasi tentang dia? Suamimu adalah pengusaha asal Pekalongan. Pasti kau mengenal keluarga Visha."
"Ayah Visha merupakan pengusaha batik terkenal di kotanya. Suamiku mengenalnya dengan baik. Apa yang ingin kau ketahui tentang Visha?"
"Apa kau tahu, jika Visha sudah memiliki seorang anak?"
"Eh? Anak? Kau yakin?"
"Iya, aku pernah bertemu dengannya bersama dengan putranya."
"Tapi ... setahuku Pak Haryono tidak pernah menikahkan Visha. Dan ... Visha sudah pergi dari rumahnya sejak enam tahun lalu."
"Aku juga curiga! Apa jangan-jangan Visha pergi dari rumah dan melakukan kawin lari?"
"Heh?" Erna sangat terkejut mendengar spekulasi Siska.
"Atau bisa jadi ... Visha hamil diluar nikah?!"
...πππ...
...Tobe continued,,,,,,,...
...Jangan lupa tinggalkan jejak πΎπΎ...
__ADS_1
...terima kasihπ...